7 Alasan Mengapa Media Sosial Membuat Kebahagiaan Terancam

Apakah kamu merasa bermasalah karena terlalu banyak menggunakan media sosial? Tenang saja,

Ilham Damanik Ilham Damanik · 4 min read >
Alasan Sosial Media Membuat Kebahagiaan Terancam

Apakah kamu merasa bermasalah karena terlalu banyak menggunakan media sosial? Tenang saja, kamu tidak sendirian karena menurut survey 60% pengguna media sosial mengaku ada perasaan iri dan lebih banyak mengeluh karena terlalu sering membandingkan hidupnya dengan pengguna lain.

Media sosial adalah dunia maya. Sekedar mengingatkan saja siapa tahu kamu lupa tentang hal ini.

Ya sebagaimana dunia maya, orang bebas membagikan apa yang ingin dibagikan, meskipun kita sama-sama tahu bahwa ada beberapa hal yang terkadang berbanding terbalik dengan hidupnya didunia nyata. Jika kamu sudah tidak menyadari bahwa media sosial adalah dunia maya, maka artinya kamu terperangkap dalam membandingkan kehidupanmu dengan orang lain.

Sangat berbahaya!

Membanding-bandingkan hidup kita dengan orang lain sangat mengancam kebahagiaan. Kok bisa ya? Yuk, simak penjelasan berikut ini.

1. Menimbulkan Prasangka Kepada Orang lain Maupun Diri Sendiri

Menimbulkan Prasangka Negatif
Menimbulkan Prasangka Negatif

Hal ini bukanlah masalah eksternal, artinya media sosial tidak sepenuhnya buruk. Para pengguna media sosial lainnya juga tidak bersalah atas masalah yang kamu hadapi. Ini tentang dirimu.

Sejujurnya saja, jika kita melihat orang lain membagikan suatu gambar atau tulisan di media sosial, mau tidak mau kita pasti merespon lewat pikiran maupun tindakan. Respon kita terhadap apa yang kita lihat inilah masalahnya.

“Dia cantik. Aku harus terlihat seperti dia”

“Sepatu dan tasnya keren. Aku harus memiliki itu.”

“Ahhh!! Dasar munafik!”

“Haha pasti dia lagi mencari perhatianku”

“Ih dia meniru gayaku”

Mungkin contoh-contoh diatas terdengar akrab bagi kamu yang hobi menggunakan media sosial. Alasannya, ketika kamu menggunakan media sosial, kamu kehilangan kesadaran atas pemikiranmu sendiri.

Seperti yang kita tahu bahwa otak memiliki respon otomatis terhadap apa yang dilihat oleh mata dan itu memungkinkan kamu berasumsi negatif tentang orang juga dirimu sendiri.

Kamu hanya melihat kekurangan pada dirimu dan melupakan semua kelebihanmu, bahkan kamu pun lupa pada ilmu-ilmu bermanfaat yang selama ini dipelajari. Pikiran kita sangat liar, maka menerapkan teknik mindfulnes setiap saat akan mengurangi prasangka pada orang lain maupun diri sendiri.

2. Kecanduan, Membuat Kamu Terbiasa Bersosial Hanya Lewat Media Sosial

Kamu Akan Kecanduan
Kamu Akan Kecanduan

Mungkin kamu pernah kesal melihat orang lain karena sibuk dengan ponsel pintarnya saja ketika sedang bersama, atau mungkin kamu sendiri adalah orang tersebut.

Tentu banyak hal yang sangat disayangkan pada era informasi saat ini, sebab menurut penelitian, sosial media dapat menjadi sumber yang baik dalam berbagai aspek kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan. Jadi sekali lagi, lebih jelas bahwa masalahnya ada pada diri kita masing-masing.

Kita belum mampu untuk mengambil posisi yang tepat. Bukannya mendapatkan dampak positif tetapi kita malah kecanduan dan tak bisa lepas.

Bersosial di dunia nyata tidak terasa berharga lagi karena kita terlalu asyik dengan orang-orang di dunia maya. Kita tidak lagi menyadari betapa berharganya kehadiran orang-orang yang dekat, karena yang jauh pun terasa dekat.

Pikiran yang dangkal membuat kita susah membedakan mana yang nyata dan tidak nyata.

Jika hal ini terjadi pada dirimu, maka segeralah menonaktifkan media sosialmu untuk sementara waktu, dengan niat menikmati kebahagiaan dalam bersosial di dunia nyata. Sampai candu itu hilang dan pikiran kembali jernih, sehingga kamu bisa menggunakan media sosial untuk hal-hal yang bermanfaat.

Baca Juga: 5 Cara Memanipulasi Pikiran Agar Menjalani Hidup Bahagia

3. Kebahagiaanmu Mulai Tergantung Pada Notifikasi

Kebahagiaanmu Mulai Tergantung Pada Notifikasi
Kebahagiaanmu Mulai Tergantung Pada Notifikasi

Kebahagiaan dan Media Sosial tentu dua hal yang berbeda dan bukan hal yang sederhana untuk mencari dimana letak berhubungannya. Namun menurut penelitian, ada semacam hormon yang aktif dalam otak kita yang bernama dopamin ketika melihat notifikasi pada media sosial, baik itu berupa suka, komentar maupun kotak masuk.

Nah, masalahnya jika dopamin tersebut seketika menghilang maka tubuh kita turut merespon, seperti merasa lelah, pikiran cemas dan mulai merasa kesepian.

Dopamin termasuk hormon yang membangkitkan perasaan candu. Sehingga tak heran ketika baru bangun tidur pun kamu langsung membuka ponsel untuk melihat notifikasi yang masuk. Jika kamu tidak mendapatkan notifikasi seperti yang kamu harapkan, kamu akan merasa kecewa. Padahal kenyataannya semua baik-baik saja.

Notifikasi tidak akan mengubah apa-apa dalam hidup kita. Tapi begitulah efek dopamin, terkadang membuat kita menjadikan penting hal-hal yang sebenarnya tidak penting.

4. Kamu Meletakkan Harga Diri Ditempat Yang Tidak Seharusnya

Kamu Meletakkan Harga Diri Ditempat Yang Salah
Kamu Meletakkan Harga Diri Ditempat Yang Salah

Keanehan yang sudah semakin wajar saja akhir-akhir ini kita meletakkan harga diri ditempat yang tidak seharusnya. Didunia nyata mungkin kita merasa baik-baik saja ketika berpakaian sederhana, tapi di media sosial kita merasa akan ada masalah jika tidak menggunakan pakaian yang bagus.

Semuanya harus serba sempurna mulai dari foto sampai caption. Hal tersebut tentu berhubungan dengan harga diri yang sedang kita jaga.

Namun masalahnya adalah kesempurnaan yang kita tunjukkan justru membuat diri semakin tidak autentik. Artinya kita menjadi orang-orang yang palsu. Maka sangat tepat jika dikatakan bahwa media sosial mengancam kebahagiaan kita. Bahagia pada dasarnya adalah sebentuk keaslian dan kemurnian. Hal itu semudah kamu membedakan senyum asli dan senyum palsu dari wajah teman dekatmu.

Jadi bagaimana kita dapat menghentikan efek negatifnya?

“Jika kamu ingin tahu siapa dirimu, maka berkacalah dari apa yang kamu lakukan diwaktu kosong”

5. Pergunakan Waktu Kosongmu Dengan Baik

Pergunakan Waktu Kosongmu Dengan Baik
Pergunakan Waktu Kosongmu Dengan Baik

Kebanyakan kita membuang waktu untuk hal yang sia-sia karena terlalu banyak waktu kosong dan tidak tahu bagaimana cara menikmatinya. Sebagian orang terlalu sibuk pada pekerjaan sampai bingung bagaimana agar memiliki waktu kosong, tapi sebagian lagi memiliki banyak waktu kosong namun tidak memanfaatkannya dengan baik.

Tapi jika kamu dapat menghabiskan waktu kosong dengan baik, secara otomatis kamu juga terhindar dari hal-hal yang tidak berguna.

Tujuan yang kita pikirkan harusnya bukan hanya untuk hal-hal yang penting seperti belajar dan bekerja saja, namun lebih dari itu kita perlu lebih dalam lagi memikirkan dengan apa kita menghabiskan waktu kosong.

Menentukan tujuan harian kita untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan itu terlalu mudah, tapi menentukan tujuan untuk menghabiskan waktu kosong dengan baik itu yang susah. Karena banyak sekali jebakan di zona nyaman kita sendiri.

6. Arahkan Perhatianmu Pada Dunia Nyata

Arahkan Perhatianmu Pada Dunia Nyata
Arahkan Perhatianmu Pada Dunia Nyata

Ketika kamu mengarahkan perhatianmu sepenuhnya pada dunia nyata, secara otomatis kamu juga terhindar dari membanding-bandingkan hidupmu dengan orang lain di sosial media.

Terlepas dari apa yang kamu lakukan, mungkin seperti membaca buku atau berolahraga, hal yang terpenting adalah kamu membenamkan diri untuk tidak terlalu menunjukkan bahwa dirimu lebih baik dari mereka yang sedang sibuk dengan media sosialnya.

Hanya fokus dan sadar sepenuhnya dengan kenyataan yang ada didepan matamu saja. Tidak usah memikirkan apakah orang-orang akan melihatmu atau menyukaimu, karena hal-hal seperti itu hanya ada di sosial media. Di dunia kamu hanya perlu memikirkan bagaimana cara menjadi lebih baik untuk dirimu sendiri, bukan lebih baik untuk disukai orang-orang.

Baca Juga: Ternyata Begini, 6 Alasan Pria Tidak Publikasi Hubungan Di Medsos

7. Kaji Darimana Emosi Negatifmu Berasal

Kaji Darimana Asal Emosi Negatif Itu Berasal
Kaji Darimana Asal Emosi Negatif Itu Berasal

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, media sosial hanyalah suatu aplikasi didalam ponsel kamu saja. Maka sangat perlu bagi kita untuk mengkaji lagi darimana emosi-emosi negatif itu berasal, atau mungkin saja emosi-emosi negatif yang kita rasakan adalah wujud asli dari diri kita sendiri?

Kita tidak perlu menyalahkan siapapun bahkan kita juga tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Karena semua ini tidak lain bisa dianggap sebagai proses pendewasaan dan pengembangan diri saja.

Meskipun mungkin di masa lalu kita adalah orang yang lebih bisa menghargai kehadiran orang lain daripada saat ini, atau di masa lalu kita adalah orang yang lebih bisa menikmati indahnya bersosial di dunia nyata daripada saat ini. Jika benar seperti itu kita di masa lalu, maka cukup mudah untuk kembali menjadi orang yang tidak terancam oleh media sosial.

Ilham Damanik
Menulis-Membaca-Bermimpi Read Full Profile