in , ,

5 Aspek Kecerdasan Emosional Yang Perlu Dikembangkan

IQ (Intelligence Quotient) selalu dianggap sebagai penentu utama kesuksesan seseorang. Rosalie Holian dari RMIT University pernah menulis “EQ Versus IQ: What’s the Perfect Management Mix” yang dimuat The Conversation mengatakan bahwa orang dengan IQ tinggi cenderung menjadi pemecah masalah yang baik.

Mereka juga pintar menemukan solusi terbaik ketikaa dihadapkan pada sebuah situasi baru.

Namun, pembicaraan tentang kecerdasan emosional juga mengemukakan; intinya menunjukkan bahwa inteligensi saja tidak cukup. Anda harus bisa mengelola emosi dengan baik.
Sebelum kita membahas mengenai apa saja aspek-aspek kecerdasan emosional itu, kita harus mengetahui dahulu apa sih kecerdasan emosional itu?

Menurut Goleman, Kecerdasan emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali dan merasakan emosi yang dialami (kesadaran emosi), mengelola emosi, bisa melakukan empati (membaca emosi), membina hubungan dengan orang lain dan memanfaatkan secara produktif sebagai penunjang performa seseorang.

Ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional pada diri seseorang:

1. Lingkungan Keluarga

Lingkungan Keluarga
Lingkungan Keluarga

Kehidupan keluarga merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi. Peran serta orang tua sangat dibutuhkan karena orang tua adalah subjek pertama yang perilakunya diidentifikasi, diinternalisasi, yang pada akhirnya akan menjadi bagaian dari kepribadian anak.

Kecerdasan emosi ini dapat diajarkan pada saat anak masih bayi dengan contoh-contoh ekspersi. Kehidupan emosi yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi anak dikemudian hari.

Contohnya seperti,  melatih kebiasaan hidup disiplin dan bertanggung jawab, kemampuan berempati, kepedulian dan sebagainya dan menenangkan diri dalam menghadapi permasalahan, sehingga anak-anak dapat berkonsentrasi dengan baik dan tidk memiliki banyak masalah tingkah laku seperti tingkah laku kasar dan negatif.

2. Lingkungan Non Keluarga

Lingkungan Non-Keluarga
Lingkungan Non-Keluarga

Lingkungan masyarakat dan lingkungan penduduk. Kecerdasan emosi ini berkembang sejalan dengan perkembangan fisik dan mental anak. Pembelajaran ini biasanya ditunjukkan dalam aktivitas bermain anak seperti bermain peran.

Anak berperan sebagai seseorang diluar dirinya dengan emosi yang menyertainya sehingga anak akan mulai belajar mengerti keadaan orang lain. pengembangan kecerdasan emosi dapat ditingkatkan melalui berbagai macam bentuk pelatihan asertivitas, empati dan masih banyak lagi bentuk pelatihan yang lainnya.

Lalu, apa saja aspek-aspek kecerdasan emosional itu sendiri? Goleman mengadaptasi lima hal yang tercakup dalam kecerdasan emosional yaitu:

1. Kecerdasan Diri (Mengenali emosi diri)

Kesadaran diri adalah kemampuan merasakan emosi tepat pada waktunya dan kemampuan dalam memahami kecenderungan dalam situasi tersebut.

Kesadaran diri menyatakan kemampuan seseorang menguasai reaksi pada berbagai peristiwa, tantangan, bahkan orang-orang tertentu.

2. Pengaturan Emosi (Mengelola emosi)

Mengelola emosi berarti memahaminya, lalu menggunakan pemahaman tersebut untuk menghadapi situasi secara produktif, bukannya menekan emosi dan menghilangkan informasi berharga yang disampaikan oleh emosi kepada diri sendiri.

Mengelola emosi berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kesadaran diri.

Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila: mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu.

3. Motivasi (Motivasi diri sendiri)

Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian dan keterampilan tenaga dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menunaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.

Motivasi dapat bersumber dari dalam diri seseorang (motivasi internal atau motivasi instrinsik), akan tetapi dapat pula bersumber dari luar diri orang yang bersangkutan (motivasi eksternal atau motivasi ekstrinsik).

4. Empati (mengenali emosi orang lain)

Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca perasaan orang lain. Sebaliknya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain.

5. Keterampilan Sosial (membina hubungan)

Keterampilan sosial merupakan aspek penting dalam kecerdasan emosional. Keterampilan sosial bisa diperoleh dengan banyak berlatih. Salah satu kunci keterampilan sosial adalah seberapa baik atau buruk seseorang mengungkapkan perasaannya sendiri.

Oleh sebab itu, untuk dapat menguasai keterampilan untuk berhubungan dengan orang lain (keterampilan sosial) dibutuhkan kematangan emosional yang lain, yaitu pengendalian diri dan empati.

Orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi atau baik adalah orrang yang selalu optimal dan selalu berfikiran positif, terampil dalam membina emosinya, optimal pada kecakapan kecerdasan emosi, optimal pada nilai-nilai empati dan optimal pada kesehatan secara umum.

Kecerdasan emosinal erat berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk dapat mengolah emosi diri sendiri maupun orang lain, karena individu yang mampu mengelola emosinya dengan baik, mereka mampu mengungkapkan kemarahan tanpa harus bertengkar, tidak menjadi agresif, memiliki perasaan positif tentang diri sendiri, dan mampu meningkatkan relasi dengan orang lain.

Baca Juga : 

Dengan mengetahui beberap aspek yang dapat mempengaruhi tingkat kecerdasan emosional, kita akan menyadari sisi kelemahan dan kekurangan kita yang perlu dikembangkan.

Kecerdasan emosi sangat membantu kita dalam mengenali, memahami, merasakan, mengelola, dan memotivasi baik diri sendiri maupun orang lain serta dapat mengaplikasikan kemampuan tersebut dalam kehidupan pribadi dan sosial.

Written by Dya Adis Putri Rahmadanti

Clinical Psychologist