in ,

6 Langkah Sederhana yang Bikin Konflik Percintaanmu Cepat Kelar

Konflik Percintaan
Konflik Percintaan

Memiliki hubungan percintaan yang sehat, no drama, no ribet-ribet, dsb. mungkin impian dari semua orang ya. Bagian dari relationship goal katanya, meskipun saya tidak sepenuhnya setuju kalau adanya konflik diantara pasangan ini selalu membuat semuanya menjadi sulit.

Kadang juga perlu sih ada bumbu konflik diantara pasangan tapi dengan takaran yang secukupnya saja, hal ini agar pasangan bisa mengenal diri satu sama lain dan mencari kesamaan diantara perbedaan.

Konflik sendiri muncul ketika ada ketidakcocokan antara nilai atau tujuan yang hendak dicapai, konflik ini bisa saja terjadi didalam diri seseorang ataupun diantara hubungan dengan orang lain.

Perlu diingat bahwa munculnya permasalahan antara dua orang atau lebih biasanya terjadi karena adanya benturan antara kebutuhan dengan kepentingan satu orang dengan orang lainnya.

Dalam sebuah hubungan percintaan, konflik yang berkepanjangan antar pasangan tidak jarang bisa mengarah pada munculnya tindak kekerasan yang dilakukan oleh satu pihak pada pihak lainnya. Kalau sudah kayak gini mungkin ada yang memang tidak beres dengan hubungan kalian berdua sejak awal.

Gaya Penyelesai Masalah berdasarkan Pendekatan Resolusi Konflik, Kamu Yang Mana?

Pendekatan Resolusi Konflik
Pendekatan Resolusi Konflik

Memahami kamu maupun pasanganmu termasuk pemilik gaya penyelesai konflik yang mana, bisa membantu menyelesaikan konflik lebih cepat lho.

Karena dengan saling memahami pribadi masing-masing setiap pihak bisa dengan cepat menurunkan egoismenya masing masing karena muncul yang namanya “memaklumi”, namun memaklumi disini bukan satu pihak saja ya, seharusnya dua-duanya juga sama bisa memaklumi kekurangan masing-masing kemudian mencari jalan keluarnya.

Salah satu bahasan yang coba memahami tipe penyelesai masalah seseorang dan banyak digunakan adalah pendekatan resolusi konflik, pada dasarnya ada dua tipe orang dalam  menyelesaikan masalah, yang pertama adalah penyelesaian masalah yang konstruktif adalah cara penyelesaian masalah antara dua orang yang saling berbagi tujuan yang sama meskipun memiliki cara pemikiran yang berbeda untuk mencapai tujuan tersebut. Adapun ciri lebih lanjut dari penyelesaian masalah konstruktif adalah.

  1. Membahas persoalan saat ini (tidak mengungkit yang lalu-lalu)
  2. Saling berbagi perasaan yang dirasakan saat itu
  3. Berbagi informasi secara terbuka
  4. Berani mengakui kesalahan
  5. Mencari kesamaan dalam sebuah perbedaan

Yang kedua adalah penyelesaian masalah yang destruktif adalah kebalikan dari penyelesaian masalah kontruktif dan cenderung negatif, yakni ketika dua orang yang bermasalah tidak mau membagi pemikirannya dengan baik, keduanya tidak mau mengalah, saling bertingkah melindungi dirinya.

Akibat dari hal ini menutup kemungkinan kedua orang ini untuk bisa menemukan kesepemahaman. Adapun ciri lebih lanjut dari penyelesaian masalah destruktif adalah.

  1. Banyak membahas persoalan yang sudah berlalu
  2. Lebih banyak melibatkan emosi-emosi negatif
  3. Tidak semua informasi dibagikan (ada yang ditutup-tutupi)
  4. Berfokus pada personal seseorang dan saling menyalahkan pribadi satu sama lain
  5. Menonjolkan perbedaan yang ada

Perbedaan cara penyelesaian masalah ini seringkali berdampak buruk pada hubungan dua orang yang sedang berkonflik, tidak cuma pada pasangan saja sih tapi hal ini bisa terjadi pada semua jenis hubungan seperti pertemanan hingga keluarga.

Sebagai misal dalam konflik pasangan tiba-tiba pasanganmu marah tanpa sebab yang jelas, karena kamu ingin segera mengakhiri konflik dingin yang disulut oleh pasanganmu, beberapa hari setelahnya kamu segera minta maaf, tapi bukannya mendapatkan penerimaan maaf pasanganmu malah memintamu untuk merefleksikan kesalahan yang kamu perbuat.

Cara yang ditunjukkan oleh pasanganmu ini salah satu cara penyelesaian masalah yang sifatnya destruktif, dikarenakan dia tidak mau membuka diri mengenai apa yang salah dan harus diperbaiki, dia juga terus menyalahkan sesuatu yang bahkan tidak dia jelaskan.

Lalu bagaimana kalau seseorang sudah terlanjur memiliki gaya penyelesaian masalah tertentu?

Sebenarnya bukannya tidak mungkin hal ini untuk diubah, karena pada dasarnya cara penyelesaian masalah yang kita gunakan selama ini adalah bentukan dari kebiasaan, meskipun semua itu butuh waktu dan latihan mengalahkan egoisme diri namun semuanya bisa diubah.

Jika memang permasalahan tersebut bisa dibicarakan dulu maka seharusnya memang dicari penyelesaiannya bersama-sama, jika keduanya sama-sama masih ingin mempertahankan hubungan tersebut.

6 Langkah Sederhana Agar Kita Memiliki Cara Penyelesaian Masalah yang Positif

Cara Penyelesaian Masalah yang Positif-post
Cara Penyelesaian Masalah yang Positif

Menjadi penyelesai masalah yang positif / kontruktif bukannya tidak mungkin dicapai jika seseorang mau terus merubah dirinya kearah yang lebih baik.

Dengan memiliki cara penyelesaian konflik yang konstruktif seseorang dikatakan memiliki kedewasaan yang sudah matang, karena dirinya tahu harus melakukan apa disaat dirinya sedang terlibat dalam permasalahan bukannya malah lari dari kenyataan tersebut.

Adapun berikut adalah 6 langkah yang bisa dilakukan untuk memiliki cara penyelesaian masalah konstruktif baik dalam hubungan percintaan maupun hubungan sosial yang lain.

1. Identifikasi masalahnya

Langkah pertama adalah mengenali sebenarnya apa masalahnya, tanyakan apa yang jadi masalah dari sudut pandang pasanganmu. Hal ini bisa membantumu dan pasangan / seseorang yang sedang berkonflik denganmu sama-sama memiliki pemahaman atas permasalahan yang sama.

Kemudian ungkapkan masalah itu dalam bentuk kata-kata sehingga bisa jelas. Perlu diingat juga yang harus perhatikan dalam langkah ini adalah fokus pada PERMASALAHAN bukan perasaan.

Seperti misal hindari mengatakan hal-hal seperti “Apa kamu nggak peduli lagi sama aku?”.

Saat berbicara berdua ingat bahwa terlalu melibatkan perasaan membuat permasalahan semakin sulit untuk diselesaikan, jika memang belum siap berbicara maka lebih baik saling menenangkan diri kemudian baru bertemu.

2. Berpikir mengapa hal itu bisa jadi masalah

Langkah selanjutnya adalah mendeskripsikan penyebab munculnya permasalahan dan sebenarnya asal permasalahan itu dari mana.

Pertanyaan yang bisa diajukan seperti “Kenapa ini bisa jadi masalah?”, “Kenapa ini membuatmu marah?”, tapi INGAT fokus ke permasalahan bukan ke perasaan.

Saat seperti ini juga cobalah untuk jadi lebih dewasa dengan menjadi pendengar dari sudut pandang pasanganmu. Kemudian ungkapkan juga permasalahan itu dari sudut pandangmu.

3. Memikirkan kira-kira solusi apa saja yang bisa diusahakan

Setelah melakukan langkah 1 dan 2 selanjutnya adalah membuat daftar solusi yang kiranya bisa coba dilakukan.

Terdengar sedikit ribet mungkin ya, tapi cara ini cukup efektif untuk menyelesaikan konflik yang ruwet dan butuh banyak cara untuk diusahakan.

Jika perlu tulis daftarnya, satu hingga lima solusi mungkin cukup, jangan lupa libatkan pasanganmu agar dia juga bisa memberikan solusi dari sudut pandang dia.

Misalkan dalam sebuah kasus, seorang pasangan membuat perjanjian untuk saling mengabari setiap kali tidak mau diganggu dan menyebutkan apa alasannya.

4. Evaluasi solusi yang akan dilakukan

Kemudian lakukan evaluasi bersama kira-kira cara mana yang paling tepat untuk dilakukan, jika dilihat dari keuntungan dan kerugian.

Jika memang belum menemukan cara yang tepat mungkin bisa kembali ke langkah ketiga dan mengajak orang lain untuk berdiskusi mengenai penyelesaian dari permasalahan tersebut.

5. Eksekusikan solusi tersebut dalam bentuk tindakan

Setelah merencanakannya, saatnya untuk melakukan solusi tersebut. Yang perlu diperhatikan dalam hal ini ada 3 hal,

“Siapa yang akan melakukan tindakan itu?”,

“Kapan tindakan tersebut akan dilakukan?”

dan “Apa saja hal-hal yang diperlukan agar solusi ini bisa benar-benar diwujudkan?”.

6. Mengevaluasi hasil dari solusi yang sudah dilakukan

Setelah melakukan solusi tersebut kemudian refleksikan apakah cara itu berhasil untuk membuat permasalahan yang sama tidak terjadi. Karena tentu goalnya adalah agar permasalahan yang sama tidak terulang lagi dimasa depan.

Rasanya jika ditulis langkah-langkahnya seperti ini serasa sangat rumit, ya. Tapi sebenarnya ketika kita sudah tahu cara melakukannya dan mulai membiasakannya di keseharian, pasti akan tertanam pelan-pelan secara tidak sadar didalam diri kita, sehingga proses penyelesaian masalah ini kesannya jadi lebih sederhana dan spontan.

Permasalahan dalam hubungan percintaan sangat wajar terjadi, ini adalah bagian dari proses dua orang berbeda yang coba saling memahami satu sama lain.

Namun juga harus tahu kadar konfliknya seberapa banyak, terlalu banyak bumbu drama pasti membuat satu sama lain tidak nyaman juga. Kamu juga bisa membaca tentang Ini lho 4 Tanda Awal Kalau Hubunganmu Sudah Nggak Sehat Lagi .

Yang jelas konflik percintaan ini tidak selalu membawa kenegatifan, yang penting pasangan harus mau sama-sama menurunkan egoismenya ketika muncul masalahh, agar hubungan percintaan benar-benar bisa dikatakan sehat dan langgeng.

Written by Novia Kartikasari

An amateur writer who inspired to be a professional writer someday. I love writing about a social phenomenon, education, environmental and lifestyle issue