5 Cara Memanipulasi Pikiran Agar Menjalani Hidup Bahagia

“Tak perlu selalu berusaha membahagiakan orang lain seolah mereka tak bisa bahagia

Ilham Damanik Ilham Damanik · 3 min read >
Cara Memanipulasi Pikiran Agar Menjalani Hidup Bahagia

“Tak perlu selalu berusaha membahagiakan orang lain seolah mereka tak bisa bahagia tanpa usahamu”

Jika ditanya tentang apa yang membuat hidup ini bahagia, kebanyakan dari kita cenderung fokus pada apa yang didambakan dan dirindukan. Kita seperti menggambarkan kebahagiaan sebagai garis akhir dari semuanya, yang dimana semua itu hanyalah ilusi sebab saat kita sudah sampai pada garis akhir tersebut kita akan tetap bergerak maju lagi melewatinya, membuat garis akhir yang baru lagi; berputar-putar disitu saja dan tak akan ada hentinya kita mengejar kebahagiaan.

Sebagian orang berpendapat,saat kita bersedih namun berusaha tersenyum itu adalah suatu tindakan bodoh yang membohongi diri sendiri, dan sebagian lagi berpendapat,saat kita bersedih lalu menangis adalah pertanda bahwa kita lemah dan cengeng. Rasanya ingin sekali kita menutup mulut mereka semua agar tiada pendapat yang membingungkan.

Tapi begitulah permainannya, kita dituntut untuk memilih satu dari beragam macam pendapat yang pada akhirnya menjadi pendapat kita sendiri.

Begitu pun kebahagiaan. Orang-orang mengartikan kebahagiaan dengan definisi yang bermacam-macam, tapi itu tidaklah penting. Sebab yang terpenting adalah memiliki pendapat yang sejalan dengan pikiran kita sendiri dan membuat kita nyaman menjalani kehidupan ini.

Kesalahan yang terus kita ulang-ulangi adalah menggantungkan harapan pada orang lain. Dimana sebenarnya kita tidak siap jika orang yang diharap-harapkan tersebut tak bisa mewujudkan harapan kita. Orang-orang yang kita sukai dan cintai, seringkali menjadi alasan dari kebahagiaan dan kekecewaan.

Seolah-olah hidup ini tidak ada artinya tanpa mereka, dan berbagai macam drama lainnya pun muncul hingga akhirnya kita semua berpisah. Sampai yang kita miliki hanyalah diri sendiri.

Kebanyakan dari kita belajar bagaimana cara mendapatkan tapi kita lupa belajar bagaimana cara melepaskan. Nah, apa saja yang harus kita lepaskan dari diri kita dan bagaimana cara melepaskannya?

1. Kenapa Repot-Repot Mencari Kebahagiaan

Jangan Terlalu Repot Mencari Kebahagiaan
Jangan Terlalu Repot Mencari Kebahagiaan

Kita seringkali salah dalam mengartikan kebahagiaan, tapi itulah sebuah proses untuk mengetahui mana yang benar. Kita repot-repot mencari kebahagiaan dengan membuat standar-standar tertentu, namun rasa bahagia yang didapatkan hanya sebentar saja setelahnya hilang, lalu kita repot-repot mencari kebahagian lagi dan lagi. Kehidupan berputar-putar pada suatu sikus yang itu itu saja.

Pertanyaannya, mengapa kebahagiaan jadi merepotkan? Jika sebegitu merepotkannya maka lebih baik tidak.

Menurut penelitian kebahagiaan yang dirasakan seseorang adalah 90% berasal dari pikiran, dan hanya 10 % yang berasal dari faktor eksternal. Nah, masalahnya saat ini kita menjadi direpotkan oleh faktor-faktor eksternal hingga lupa bahwa pikiran kita ikut terpengaruh menjadi cemas, gelisah, bosan, takut dan sebagainya.

Jadi intinya jangan terlalu fokus pada apa yang tampak saja, tapi lihatlah kedalam diri kita sendiri. Sesuatu yang tak tampak berupa pikiran negatif itulah sebenarnya akar ketidakbahagiaan seseorang.

Baca Juga: 5 Tips Mencapai Keseimbangan Antara Pekerjaan Dan Kehidupan Pribadi

2. Menjauhi Ancaman

Menjauhi Ancaman
Menjauhi Ancaman

Otak kita berfungsi untuk mengatur pikiran menuju keadaan yang nyaman, tenang dan jauh dari ancaman. Jadi jika kita berbicara tentang hasrat dan gairah, seperti itulah hasrat sebenarnya dari semua manusia.

Tujuan dari semua yang kita kerjakan juga adalah agar kita merasa nyaman dan mungkin juga agar orang lain merasa nyaman, tetapi tetap saja kata kuncinya adalah mengejar kenyamanan yang kita salah mengatikannya menjadi mengejar kebahagiaan.

Orang-orang terlihat repot dan terus melakukan rutinitas sebenarnya bukan untuk kebahagiaan tetapi untuk menghindari ancaman.

Kita merasa terancam jika tidak memiliki uang, merasa terancam jika tidak memiliki pasangan, dan merasa terancam dengan pandangan sosial, maka otak kita bereaksi mengatur pikiran untuk segera melakukan sesuatu yang akan membawa kita pada kenyamanan.

3. Hidup Bukan Tujuan tetapi Perjalanan

Hidup Bukan Tujuan Tapi Perjalanan
Hidup Bukan Tujuan Tapi Perjalanan

Mungkin kita sering menyadari seberapa besar ancaman tentang kehidupan, dan bangkit dari kasur dengan rasa khawatir yang menggila. Namun uniknya sebagian orang berpikir “Hidup bukan tujuan tetapi perjalanan, jadi berbahagialah setiap saat dan jangan pernah cemas” dan kalimat tersebut sangat berbahaya.

Jika benar hidup adalah perjalanan maka masing-masing kita adalah pengemudi. Layaknya seorang pengemudi banyak aturan-aturan yang harus kita ikuti. Pertama kita harus fokus, melihat kedepan, memperhatikan semuanya dengan benar, atau jatuh terperosok kedalam jurang. Terasa benar jika memang aturan hidup seperti itu.

Tapi beberapa orang lupa pada tujuannya, tersasar dan kehilangan arah. Hidup memang perjalanan tapi bukan berarti kita melupakan tujuan, sebab melakukan perjalanan tanpa ada yang dituju sama saja buang-buang waktu, jadi sia-sia hidup ini.

4. Kejujuran Pada Diri Sendiri

Kejujuran Pada Diri Sendiri
Kejujuran Pada Diri Sendiri

Penyesalan terbesar dalam hidup adalah kegagalan yang disebabkan mengikuti kemauan orang lain. Jika saja kita tahu seberapa berharganya waktu yang kita miliki, mungkin tidak akan ada penyesalan dan jika pun ada itu hanya penyesalan kecil yang mudah diperbaiki.

Saat kita berusaha memberikan yang terbaik untuk orang lain belum tentu mereka menerima itu dengan baik, tapi jika kita berusaha dengan jujur melakukan yang terbaik dari hati sudah tentu kita akan merasa lebih baik.

Dan semua orang tampaknya selalu berusaha memperbaiki diri. Bukan karena cacat tetapi kita hanya merasa saat ini harus lebih baik dari sebelumnya.

Membuat diri dan pemikiran menjadi lebih berkembang tampaknya lebih penting daripada mengejar kebahagiaan yang berupa faktor eksternal semata. Sebab jika kita jujur pada diri sendiri, hasrat terdalam dijiwa hanya inginkan kita menjadi lebih berkembang.

Baca Juga: Agar Tetap Semangat Menjalani Hidup, Jaga Hubunganmu dengan Orang Seperti Ini

5. Merangkul Pikiran Negatif dengan Lembut

Merangkul Pikiran Negatif
Merangkul Pikiran Negatif

Otak kita memang selalu otomatis mengarahkan pikiran untuk menuju zona nyaman. Tapi apakah dengan begitu pikiran negatif itu hilang?

Kita kesulitan mengartikan rasa cemas, marah, takut dan negativitas lainnya karena kita berpikir bahwa semua itu buruk dan akhirnya kita hanya melarikan diri dari ketidaknyamanan bukan memperbaikinya.

Seharusnya kita sadar, saat pikiran cemas maka ada sesuatu yang tidak beres. Maka tugas kita adalah merangkul pikiran negatif tersebut dengan lembut, menerimanya dengan baik lalu mencari tahu mengapa perasaan itu datang.

Sehingga kita tidak selalu stress saat kekacauan dan ancaman datang lagi, sebab saat kita menerima semuanya dengan baik maka lebih mudah mengatasinya.

Ilham Damanik
Aku merasa seperti seorang penulis Read Full Profile