5 Cara Menangani Anak dengan Gangguan Belajar Disleksia

Gangguan disleksia merupakan gangguan belajar yang biasanya terjadi pada anak-anak. Jika anak

Rima Mustika Rima Mustika · 3 min read >
Cara Menangani Anak Disleksia

Gangguan disleksia merupakan gangguan belajar yang biasanya terjadi pada anak-anak. Jika anak mengalami kesulitan membaca, kesulitan membedakan huruf-huruf tertentu, anda perlu mewaspadai terjadinya disleksia pada anak.

Kejadian yang sering muncul umumnya adalah orang tua mengeluhkan bahwa anak terlambat untuk belajar mengeja huruf dan membaca dibandingkan anak lain seusianya. Tidak hanya itu, hal ini juga memengaruhi proses belajar menulis bagi anak.

Betapa tidak, jika anak sudah kesulitan untuk membedakan huruf, bagaimana ia mau menuliskan huruf-huruf tersebut dengan baik. Alih-alih menulis, ia akan kebingungan untuk menuliskan misalnya antara huruf d dan g.

Disleksia
Disleksia

Jika hal ini terus menerus terjadi pada anak anda, maka anda harus segera memeriksakannya ke psikolog anak. Gangguan belajar ini jika tidak ditangani sejak dini akan menghambat proses pembelajaran anak. Selain itu anak juga kesulitan untuk mengingat urutan baik angka, huruf atau nama hari.

Meskipun sudah diajarkan dengan mengikuti ritme anak, ia biasanya membutuhkan proses yang lebih lama daripada biasanya dan masih kesulitan memahami apa yang disampaikan baik secara audio maupun visual.

Tiap anak yang menderita gangguan belajar disleksia ini memiliki cirinya masing-masing. Tidak semua anak disleksia kesulitan membedakan huruf a atau b. Hal ini diperlukan tes lebih lanjut agar mengetahui dengan pasti kondisi si anak.

Umumnya orang tua terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa anak malas belajar, tidak memperhatikan guru di kelas atau mengira anaknya kurang pintar dalam hal akademik. Cobalah untuk melihat penyebabnya terlebih dahulu sebelum memutuskan apa yang sebenarnya dialami oleh anak.

Karena indikasi gangguan belajar disleksia cukup umum sehingga sering dikira hal ini adalah sikap dasar anak. Padahal tidak selalu seperti itu. Penyebab pasti dari gangguan belajar disleksia tidak diketahui secara pasti. Namun disleksia terjadi karena adanya perbedaan cara kerja otak dalam mengolah informasi.

Dilansir adanya pengaruh genetik pada gangguan disleksia. Anak dengan disleksia masih dapat memahami maksud yang disampaikan secara jelas dan rinci. Hanya saja membutuhkan waktu yang lebih banyak daripada anak normal lainnya. Lantas bagaimana cara menangani anak dengan gangguan belajar disleksia ?.

1. Mengenali Dahulu Tipe Gangguan Disleksia yang Terjadi Pada Anak

Tipe Ganggaun Pada Anak Disleksia
Tipe Ganggaun Pada Anak Disleksia

Gangguan belajar disleksia memiliki beberapa tipe yang harus anda ketahui untuk mendapatkan penanganan secara tepat.

  • Fonological dyslexia : Disebut juga dengan disleksia pendengaran. Merupakan gangguan belajar di mana anak kesulitan untuk mengeja dan menguraikan kata-kata menjadi susunan huruf. Mereka juga sulit untuk menuliskan kata yang didengar.
  • Surface dyslexia : Nama lainnya adalah disleksia visual. Merupakan gangguan belajar di mana anak tidak dapat mengenali kata-kata sehingga kesulitan mengingat.
  • Rapid naming deficit : Anak tidak mampu untuk menyebutkan kata atau angka yang dilihatnya.
  • Double deficit disleksia : Anak tidak dapat menyebutkan kata dan angka yang berasal dari suara
  • Visual dyslexia : Anak tidak mampu untuk memahami makna dari kata-kata yang dilihat.

Konsultasikan lebih lanjut mengenai tipe disleksia pada anak kepada psikolog anak. Cari info sebanyak-banyaknya agar anda dapat memilih cara penanganan yang tepat.

2. Pembelajaran

Pembelajaran Dengan Metode Multisensory
Pembelajaran Dengan Metode Multisensory

Anak dengan gangguan belajar disleksia memang belum dapat dinyatakan sembuh secara klinis setelah mendapatkan penanganan. Namun anda dapat memberikan penanganan berupa merubah cara pembelajaran anak.

Metode multisensory merupakan salah satu metode pembelajaran yang umum digunakan kepada anak dengan gangguan belajar disleksia. Metode ini menggunakan kemampuan visual atau penglihatan dan juga auditori atau pendengaran.

Hal ini dibarengi juga dengan kemampuan kinestetik dan perabaan. Anak nantinya akan diminta untuk menulis kata di udara dan di lantai dengan membayangkannya. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya bias antara pendengaran, penglihatan dan sentuhan.

Tujuan lainnya adalah agar memudahkan otak anak mengingat kata-kata tersebut. Pada tahap terakhir metode ini anak akan diminta menuliskan kata-kata yang sudah diberikan selama pembelajaran.

Baca Juga: Gejala Baby Blues, Para Ibu Harus Paham Cara Menyikapinya

3. Dukungan

Dukungan Untuk Anak Disleksia
Dukungan Untuk Anak Disleksia

Anak membutuhkan dukungan yang kuat dari anda sebagai orang tua. Kesabaran ekstra dibutuhkan dalam merawat anak dengan gangguan belajar disleksia ini. Tidak hanya anda yang membutuhkan kesiapan mental untuk merawatnya. Namun anak juga membutuhkan kesiapan mental dan fisik karena bagi mereka proses pembelajarannya akan lebih panjang dan melelahkan.

Berikan semangat kepada anak dan juga diri anda. Anda membutuhkan dukungan dari pasangan dan juga keluarga agar mereka juga turut membantu proses pembelajaran anak. Dukungan yang kuat pada anak akan membangun kepercayaan diri.

Anak yang memiliki percaya diri yang baik akan mampu menjalani kesehariannya dengan baik dan positif. Bantu anak menemukan sisi unggul dari dirinya. Yakinkan anak bahwa ia dapat meraih cita-citanya seperti anak normal dan gangguan ini bukanlah halangan baginya untuk dapat terus berprestasi.

Anda juga dapat mendukungnya dengan memfasilitasi anak untuk dapat membaca berbagai macam buku dan menyediakan media menulis yang baik dengan suasana yang mendukung.

Karena seperti yang diketahui bahwa suasana yang kurang kondusif akan menyebabkan bias antara suara dan apa yang dilihat anak ketika membaca buku sehingga anak akan lebih sukar belajar.

4. Kunjungi Komunitas

Mengunjungi Komunitas Penderita Disleksia
Mengunjungi Komunitas Penderita Disleksia

Selain itu anda dapat mencari komunitas di mana terdapat penderita disleksia lainnya dapat bertemu. Dalam komunitas tersebut anda dapat bertemu dengan sesama orang tua yang memiliki anak dengan disleksia sehingga dapat dengan mudah mencari informasi terbaru terkait dengan gangguan belajar disleksia.

Selain itu dalam komunitas tersebut anda bisa mendapatkan dukungan dari sesama orang tua dan juga para ahli secara langsung. Dengan begitu anda akan merasa tidak sendirian menjalani prosesnya karena banyaknya dukungan yang tersedia.

Hal ini juga dapat membuat anda lebih positif dalam berpikir dan lebih bersemangat karena termotivasi. Jangan ragu meminta bantuan kepada orang lain jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Ini lah gunanya komunitas tersebut, saling berbagi dan saling membantu.

5. Atur Jadwal

Mengatur Jadwal Belajar Untuk Anak Disleksia
Mengatur Jadwal Belajar Untuk Anak Disleksia

Anda dapat mengatur jadwal yang rutin bagi anak. Jadwal tersebut meliputi terapi pembelajaran yang biasanya berlangsung selama satu jam. Anda dapat mencatat hal apa saja yang diperoleh anak selama terapi.

Hal in bisa anda gunakan untuk mengulang kembali di rumah agar anak tetap terstimulasi dengan baik. Stimulasi yang baik akan membantu anak untuk memudahkan pembelajaran yang mereka terima. Sehingga anak dapat belajar secara akademik dan non-akademik dengan lebih lancar dan baik.

Sesekali berikan reward kepada anak untuk lebih memotivasi. Ia akan merasakan dukungan orang tua yang besar terhadapnya berikut kasih sayang. Tanamkan pada anak bahwa gangguan belajar ini bukanlah hal yang patut untuk dibawa pada kesedihan.

Berikan pada anak pengetahuan bahwa ia juga dapat melakukan kegiatan sehari-hari layaknya anak normal lainnya.

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Masalah Anak Susah Makan, Orang Tua Harus Paham

Perlu diingat bahwa setiap anak itu unik. Mereka memiliki keunikan masing-masing sesuai karakternya. Hindari memaksakan anak dengan gangguan belajar disleksia untuk belajar dengan cepat. Pahami porsi kemampuan anak anda dan berikan waktu bagi mereka untuk belajar.

Rima Mustika
Psychology and art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee. Read Full Profile