in

Istri Perlu Tahu, Bahaya dan Cara Mencegah Dad Shaming

Pengertian dan Cara Mencegah Dad Shaming
Pengertian dan Cara Mencegah Dad Shaming

Dad-Shaming adalah pemberian komentar negatif pada ayah. Ternyata hal ini juga bisa terjadi pada para ayah lho. Tidak hanya ibu saja yang bisa mendapatkan shaming dari lingkungan.

Ternyata ayah yang cenderung memiliki pribadi yang lebih diam juga bisa merasakan shaming.

Sering kali dad shaming ini tak jarang berasal dari istri sendiri. Meskipun kemungkinan shaming pada ayah sebagai orang tua juga bisa didapatkan dari lingkungan sekitar, faktanya hal ini lebih besar dari lingkup inti keluarga baru.

Ayah memang tidak sering mengutarakan keluh kesahnya apalagi ketika menjadi orang tua khususnya orang tua baru. Sering kali sebagai istri kita juga tidak sadar melakukan dad shaming kepada pasangan.

Dad Shaming

Apa sih dad shaming itu? Dad shaming adalah ketika seorang ayah mendapatkan kritik yang cenderung negatif tentang pola asuh terhadap anak-anaknya. Tidak jauh berbeda dengan mom shaming, dalam kasus dad shaming ini ayah juga dapat merasa tertekan dan tak jarang menyebabkan depresi.

Hal ini akan memiliki pengaruh terhadap self-esteem dan self-confidence ayah sendiri. Dan perilaku ini bisa dikategorikan sebagai bullying secara verbal dan dapat memengaruhi mental orang tua dalam mengasuh anak.

Contoh dari dad shaming juga tidak jauh berbeda dengan mom shaming. Misalnya dengan memberikan komentar seperti “Kok gitu cara gendong anak?” dan kalimat negatif lainnya. Ciri yang paling terlihat dari akibat adanya dad shaming adalah ayah terkesan menarik diri dari anak.

Ayah akan cenderung menghindar dari tugas mengasuh anak meski istri meminta tolong. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor maternal gate keeping. Yakni kondisi di mana peran ibu cukup besar dalam menentukan pola asuh anak dan peran ayah.

Faktor yang memengaruhi maternal gate keeping ini mungkin karena adanya gender historis. Yakni ibu adalah pengasuh anak yang alami karena mengandung dan melahirkan anak. Dan adanya pikiran bahwa ayah memiliki kemampuan mengasuh anak yang terbatas.

Meski peran tersebut bisa menunjukkan adanya support satu sama lain, namun bisa juga memberikan pengaruh buruk pada ayah. Misalnya ketika ayah tidak benar memakaikan popok anak dan istri menunjukkan rasa tidak suka.

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mencegah hal ini terjadi ?

1. Beri Ruang dan Waktu

Memberi Waktu Kepada Ayah Bermain Dengan Anak
Memberi Waktu Kepada Ayah Bermain Dengan Anak

Peran ibu memang tidak bisa dipungkiri cukup besar pada anak sejak dari kandungan hingga ia lahir. Untuk itu, jika ibu menginginkan peran ayah yang muncul sebaiknya berikan waktu khusus untuk ayah dan anak saja.

Berikan kelonggaran waktu untuk anak dan ayah bermain dan belajar bersama tanpa adanya interupsi dari anda sebagai ibu. Biarkan mereka mengeksplor dunia berdua dengan caranya. Umumnya waktu ayah memang tidak sebanyak ibu.

Hal ini akan menjadi kesempatan pada ayah untuk membangun hubungan yang baik dengan anak baik secara mental dan peran ayah akan terasa hadir pada anak.

2. Apresiasi Usaha Ayah

Beri Apresiasi Kepada Suami
Beri Apresiasi Kepada Suami

Siapa yang tidak suka usahanya di apresiasi? Semua orang menyukai apresiasi atas kerja kerasnya meski baru mencoba. Hal ini juga berlaku bagi ayah yang sedang mencoba menjalankan perannya.

Ketika ayah berani untuk mencoba memandikan anak, menyuapi anak, memakaikan baju hingga menemani anak bermain meski sedang lelah berikan apresiasi kepadanya. Ini akan menumbuhkan semangat bagi ayah.

Alih-alih mengomentari kesalahannya dengan kalimat negatif. Berikan apresiasi terlebih dahulu kepada ayah dan betulkan kesalahan yang ia lakukan. Dengan begitu ayah akan lebih paham dan lebih kuat rasa dilibatkan dan diakui sebagai ayah.

3. Hindari Ekspektasi

Jangan Terlalu Berharap Lebih
Jangan Terlalu Berharap Lebih

Tidak ada manusia yang sempurna. Begitu pula ketika menjadi orang tua. Mungkin kita bukan orang tua yang sempurna seperti di film-film yang ditonton. Namun bukan berarti kita tidak bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak dengan versinya masing-masing.

Sama halnya dengan ketika ayah menjalankan perannya sebagai ayah. Jika melakukan kesalahan misalnya salah memakaikan baju anak atau memakaikan popok tidak pas hindari memarahi atau memberikan komentar negatif.

Hindari berekspektasi ia bisa menjalankan semuanya dengan benar sesuai dengan pikiran anda. Hal ini justru akan membuat anda sebagai ibu menjadi mudah kecewa dan akhirnya menunjukkan rasa tidak suka pada ayah. Akibatnya anda akan merasa apapun yang dilakukan ayah semuanya tidak becus.

Eits, hindari hal ini ya moms. Melakukan kesalahan bukan berarti mereka tidak berhak belajar.

4. Intonasi

Perhatikan Intonasi Saat Berkomunikasi
Perhatikan Intonasi Saat Berkomunikasi

Ketika melakukan semua poin di atas, ada pula yang harus diperhatikan. Yakni intonasi berbicara anda kepada pasangan.

Ketika memberikan komentar dan mencontohkan sesuatu yang berhubungan dengan mengasuh anak, gunakan intonasi yang tenang.

Ketahui kondisi suami ketika meminta tolong untuk mengurus anak. Hal ini justru akan membuatnya senang ikut dilibatkan dalam mengasuh buah hati.

Sehingga peran ayah dapat tetap muncul pada anak dan ayah juga paham apa yang harus dilakukan dalam kondisi tertentu.

5. Komunikasi

Komunikasi Pasangan Suami Istri
Komunikasi Pasangan Suami Istri

Komunikasi merupakan hal yang penting dalam suatu hubungan rumah tangga. Terlebih lagi ketika anda berdua sudah memiliki anak yang membutuhkan peran dari keduanya. Memang mengurus anak tidaklah mudah.

Untuk itu komunikasikan di awal mulai dari pembagian peran, pembagian pekerjaan sehingga tidak saling tuding satu sama lain. Selain itu komunikasi juga berguna untuk mendiskusikan pola asuh untuk anak dan memberikan dukungan satu sama lain selama menjadi orang tua.

Anda bisa melakukan review ulang atas pengasuhan terhadap anak. Misalnya saja jika suatu metode pengasuhan A ternyata tidak cocok untuk anak, atau pasangan ada kesulitan melakukan satu bagian perannya.

Anda bisa memberikan dukungan pada pasangan sehingga pasangan mengerti dan memahami kondisi masing-masing. Hal ini juga dapat berpengaruh pada perbaikan pola asuh baik pada suami ataupun istri.

Sampaikan apa yang tidak anda suka ataupun yang anda suka mengenai pengasuhan ini. Sehingga anda tetap dapat berdampingan dalam kondisi apapun. Hindari juga membanding-bandingkan antara ayah anak lain dengan pasangan anda sebagai ayah.

Meskipun dad shaming memiliki dampak baik pada beberapa kasus sehingga pola asuhnya menjadi lebih baik, tetapi banyak juga yang justru menjadi dampak yang negatif. Ayah akan menjadi tidak bersemangat sebagai orang tua.

Tak jarang karena self-confidence sebagai orang tua yang menurun akibat dad shaming, para ayah akan berpikir mereka tidak pantas menjadi orang tua dan tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi anak. Berbahaya sekali ya dampak negatif dari dad shaming ini.

Akhir Kata

Jadi apapun alasannya sebaiknya kontrol diri kita untuk berkomentar dengan kalimat yang kurang baik. Kita tidak akan pernah tahu apa yang mereka tangkap dari komentar kita. Baik itu dad shaming atau mom shaming sama-sama tidak baik untuk dilakukan.

Pola pengasuhan tentu berbeda-beda pada tiap orang tua karena danya faktor kemampuan, situasi dan juga kondisi masing-masing. Kritik akan selalu ada, sebaiknya hindari pendapat pribadi untuk komentar pada pola asuh orang lain ya.

Written by Rima Mustika

Adult clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.