in ,

7 Cara Menghadapi Anak Keras Kepala dan Suka Melawan

Cara Menghadapi Anak Keras Kepala
Anak yang keras kepala kerap membuat para orang tua kewalahan

Keras kepala merupakan salah satu sifat yang ada pada manusia. Hampir semua orang mungkin memiliki bibit-bibit negatif dalam dirinya. Tinggal individu ini sendiri yang bisa mengontrol emosi dan perilakunya agar tidak terbentuk karakteristik dan sifat keras kepala ini. Tidak terkecuali pada anak-anak.

Anda tentu dapat membayangkan jika anak-anak memiliki sifat keras kepala. Pasti sudah merasa pusing tujuh keliling hanya dengan membayangkannya saja.

Lalu bagaimana jika anda harus benar-benar menghadapi anak yang keras kepala secara nyata?

Memang tidak mudah jika memiliki anak yang keras kepala. Misalnya jika anak sulit sekali untuk mandi, tidak mau makan, tidak mau tidur dan masih banyak lagi perilaku anak yang sulit rasanya untuk kita kendalikan.

Karena apabila dipaksakan maka tidak jarang tantrum pada anak datang dengan sendirinya.

Pada usia 6-9 tahun anak mulai memiliki pola pikir sendiri tentang berbagai hal yang ada di sekitarnya. Selain itu keras kepala adalah bagian dari kepribadia seorang anak.

Alih-alih mengendalikan anak, tak jarang justru terjadi pertengkaran antara anak dengan orang tua. Tentu anda sebagai orang tua tidak menginginkan hal ini bukan.

Lalu sebagai orang tua apa saja yang bisa kita lakukan untuk menghadapai anak yang keras kepala?

1. Dengarkan Penjelasan Anak

Mendengarkan Penjelasan Anak
Mendengarkan Penjelasan Anak

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya bahwa anak telah memiliki pola pikir sendiri.

Untuk itu jadilah pendengar yang baik pada anak.

Ketika anak mulai memaksakan pikiran dan pendapatnya sendiri, cobalah untuk mendengarkan alasannya dari anak. Anda harus cukup lihat untuk memancing anak agar bisa menjelaskan alasan kenapa ia telah atau harus melakukan sesuatu tersebut.

Anda bisa menerapkan komunikasi dua arah dengan berdiskusi dengan baik dan memberikan penjelasan atas apa yang dilakukan anak.

Berikan penjelasan mengenai risiko dari suatu tindakan yang ia lakukan. Setelahnya anak akan lebih mudah untuk memahami akibat dari suatu tindakan, sehingga diskusi anda akan lebih didengar dan diikuti oleh anak.

Hindari langsung menyatakan tidak setuju akan pendapat anak karena hanya akan memancing pertengkaran.

2. Hindari Memaksa Anak

Hindari Memaksa Anak
Hindari Memaksa Anak

Ketika anda memiliki pendapat yang berbeda dengan anak, hindari memaksakan keinginan anda pada anak.

Ingat anak memiliki kebebasan berpendapat dalam batasan yang ditetapkan.

Jika anda tetap memaksakan keinginan anda pada anak maka akan cenderung terjadi pemberontakan pada anak.

Misalnya ketika anak sedang menonton televisi pada jam tidur, jika anda memaksa anak untuk berhenti dan memarahinya maka anak justru akan melawan.

Yang bisa anda lakukan adalah dengan menunjukkan perhatian pada apa yang ditonton oleh anak.

Berikan respon agar anak tahu bahwa ia tidak sedang dipaksa berhenti namun dengan sendirinya ia akan sadar bahwa menonton televisi di jam tidur adalah salah.

Dengan demikian anak akan berhenti dengan sendirinya tanpa harus dipaksa atau dimarahi oleh orang tua

3. Hadapi Dengan Tenang

Hadapi Dengan Tenang
Hadapi Dengan Tenang

Menghadapi anak yang keras kepala tentunya dapat memancing emosi kita naik dan marah kepada anak.

Sebaiknya tetaplah tenang agar anda dapat menghadapi anak keras kepala dengan baik.

Anda harus menenangkan diri terlebih dahulu seperti meditasi, mendengarkan musik, berolahraga atau hal lainnya yang membuat anda merasa rileks kembali.

Sehingga anak akan ikut terbawa suasana nyaman dan rileks. Jadi baik anak dan orang tua akan siap untuk masuk berdiskusi atas apa yang anak lakukan.

Karena memarahi dan berteriak pada anak yang keras kepala hanya akan mendatangkan teriakan dari anak kepada orang tua.

Selain itu langsung memarahi anak akan membuatnya menjauh dari kita karena merasa tidak nyaman walau dengan orang tua sendiri sekalipun.

4. Diskusi dan Berikan Pilihan Pada Anak

Diskusi Kepada Anak
Diskusi Kepada Anak

Ajak anak untuk berdiskusi ketika ada pendapat darinya. Dengarkan pendapat anak dan anda dapat menerapkan trik untuk anak. Yakni berikan pilihan atas pendapat anak.

Misalnya anak menonton televisi pada jam tidur dan tidak mau tidur sebelum acara selesai. Sedangkan waktu sudah larut malam.

Anda dapat memberikan pilihan berupa penjelasan.

Misalnya “kalo tetap mau nonton ya gapapa, tapi besok di sekolah bisa ngantuk seharian.” Atau memberikan pilihan “mau mama bacain buku sebelum tidur saja? biar besok tidak mengantuk di sekolah”. Anak kemudian akan mencerna pilihan ini dan memutuskan pilihannya.

Cara ini lebih efektif dibandingkan harus membentak anak dan memaksanya menuruti kemauan orang tua.

Untuk cara ini diharapkan anda tetap tenang dan tidak emosi ketika menawarkan alternatif ini pada anak.

5. Ciptakan Suasana Rumah Yang Nyaman

Suasana Rumah Yang Nyaman
Suasana Rumah Yang Nyaman

Seperti yang kita ketahui anak-anak belajar dengan meniru orang-orang yang ada di sekitarnya. Anak akan melakukan apa yang kita lakukan.

Untuk itu anda dapat menciptakan lingkungan rumah yang nyaman sehingga dapat memengaruhi suasana hati anak. Karena suasana rumah yang nyaman akan memengaruhi perilaku anak nantinya.

Anda bisa mendekorasi rumah sedemikian rupa sehingga nyaman untuk ditempati. Barengi juga dengan kenyamanan dalam berinteraksi.

Jika anda mampu memberikan efek tenang dan rileks di rumah dengan tidak mencampur-campurkan urusan pribadi di dalam rumah, maka anak juga dengan sendirinya akan meniru hal ini.

Sehingga anak akan lebih terbuka dan tidak keras kepala.

6. Reward dan Punishment

Reward Untuk Anak
Reward Untuk Anak

Setelah anda dapat membuat anak menjadi lebih terbuka dan mengetahui apa saja risiko yang bisa didapatkan dari suatu tindakan, anda dapat menerapkan reward dan punishment pada anak.

Tentunya dengan sikap yang konsisten. Jika ia melakukan kesalahan yang telah disepakati sebelumnya, anda bisa menerapkan punishment sesuai dengan kemampuan anak.

Jangan berikan punishment yang dapat memberatkan anak. Kemudian jangan lupa untuk konsisten memberikan reward pada anak yang telah berperilaku baik sesuai dengan kesepakatan bersama.

Dan yang lebih penting lagi anda harus tetap fleksibel pada anak meski mungkin telah terjadi kesepakatan antara anak dan orang tua.

Jika terlalu ketat mengikuti aturan juga dapat memberatkan anak selama di rumah bersama orang tuanya.

7. Dorong Perilaku Positif

Mengajarkan Perilaku Positif Kepada Anak
Mengajarkan Perilaku Positif Kepada Anak

Anda juga bisa menerapkan perilaku positif pada anak yang keras kepala dengan mengurangi penggunaan kata “tidak”, “tidak bisa”, “tidak akan” dan “jangan”.

Karena anak akan menirunya dan menerapkannya pada anda orang tuanya. Anak akan merasa mengapa orang tua boleh demikian dan saya sebagai anak tidak?

Untuk itu hindari melontarkan kalimat tersebut dan anda bisa menggantinya dengan respon “ya” atau “tidak” tanpa embel-embel negatif.

Dengan cara ini anak akan merasa di dengar dan di hargai karena direspon dengan baik oleh orang tuanya.

Akhir Kata

Beberapa poin di atas ini merupakan langkah dasar yang bisa anda lakukan di rumah untuk menghadapi anak yang keras kepala. Jangan lupa bahwa anak adalah individu unik yang tidak sama dengan semua anak lainnya.

Jadi, siapkan diri agar dapat memberikan pola asuh yang tepat bagi anak sehingga anak dapat bahagia dan sehat baik secara fisik maupun mental.

Written by Rima Mustika

Clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.