8 Cara Menumbuhkan Rasa Percaya Diri dan Keberanian Pada Anak

Menumbuhkan rasa percaya diri dan mengajarinya menjadi tangguh adalah kunci keberhasilan anak!

Ilham Damanik Ilham Damanik · 4 min read >
Cara Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Pada Anak

Menumbuhkan rasa percaya diri dan mengajarinya menjadi tangguh adalah kunci keberhasilan anak!

Apa cara yang sederhana untuk menumbuhkan kepercayaan diri si kecil? Mungkin itulah sebuah pertanyaan para orang tua yang baru memiliki anak pertama. Lihat saja diri kita masing-masing, jika kita gagal berulang kali dan tak mendapat dukungan dari siapapun, apakah kita akan percaya diri? Tentu saja tidak.

Kehidupan ini tidak selamanya mudah, bahkan sedari kecil kita sudah mengalami berbagai macam kesulitan. Lantas, apakah kita terus pasrah dengan segala kesulitan tersebut? Ilmu pengetahuan telah berperan banyak dalam kehidupan, dan semua masalah tidak ada yang sulit jika kita memiliki cukup pengetahuan.

Media telah banyak memberitakan tentang masalah-masalah yang terjadi pada anak-anak kita. Semua masalah-masalah itu membuat tingkat bunuh diri melonjak pada usia remaja. Lalu, siapa yang salah?

Kita terus menekan anak-anak agar berprestasi dibidang akademis, tetapi tidak memberi cukup bekal yang baik agar mereka menjadi apa yang kita impikan. Jadi, segeralah mencegah anak kita dari kerusakan mental sejak dini. Berikut 10 tips menumbuhkan percaya diri dan ketangguhan pada anak-anak!

1. Berikan Pujian dan Motivasi Disetiap Pencapaian Mereka

Berikan Pujian dan Motivasi Di Setiap Pencapaian Mereka
Berikan Pujian dan Motivasi Di Setiap Pencapaian Mereka

Di usia dewasa mungkin kamu tak peduli lagi dengan pujian atau hinaan, tetapi ini berbeda bagi mereka. Setiap hal yang dilakukan anak-anak, tidak pernah jauh dari mencari pengakuan. Sangat penting memberikan pujian pada anak terutama yang mulai beranjak remaja, sebagai respon positif kita sebagai orang tua.

Tetapi kita juga harus realistis dalam memberikan pujian itu, dengan kata lain jangan terlalu berlebihan. Semisal ketika anak tidak mendapatkan ranking 1 di kelas, namun masih mendapat posisi 10 besar.

Pujilah usahanya, bukan hasilnya. Dalam arti, kita juga harus realistis bahwa 10 besar itu cukup baik namun tidak layak untuk dibangga-banggakan dan tentunya harus ditingkatkan lagi.

Berikan kata-kata motivasi kepada anak, contohnya “Ibu/Ayah salut dengan usahamu, tapi beberapa hal perlu usaha keras dan latihan berulang-ulang. Kalau kamu ingin menjadi yang terbaik, jangan pernah berhenti berusaha.”

Saat itu terjadi lagi, sampaikan juga kata-kata motivasi yang sama. Sehingga kata-kata itu memiliki kekuatan didalam diri anak kita, lalu membentuknya menjadi percaya diri dan tangguh. Kata-kata bisa jadi virus paling berbahaya bagi anak, juga bisa jadi kekuatan yang paling mendorongnya.

Baca Juga : 5 Hal ini Dapat Mengatasi Kesulitan Belajar Pada Anak

2. Ceritakan Keterampilan dan Pencapaian Kamu

Ceritakan Pencapaian Kamu Kepada Anak
Ceritakan Pencapaian Kamu Kepada Anak

Kamu tahu apa yang orang-orang dahulu katakan? Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Banyak ruang-ruang didalam memori otak anak kita yang belum terisi, sehingga mereka sangat mudah dalam hal meniru, mencontoh dan menghafal apa yang mereka dengar, lihat dan rasakan. Seharusnya ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk membentuk mental yang kuat pada mereka.

Jika kamu mendapatkan promosi ditempat kerja, atau berhasil mencapai suatu titik yang kau impikan dalam hidup, itu sangat penting dibagikan pada anak-anak. Jangan menganggap hal-hal seperti itu tidak penting bagi mereka, karena anak-anak perlu contoh sebelum mereka harus melakukan sesuatu.

Anak-anak akan senang memasuki percakapan yang berkaitan dengan bakat dan keterampilan, namun tidak perlu meminta ataupun memaksa mereka menjadi seperti dirimu. Kamu hanya perlu memberi contoh bagaimana menggunakan dan mengembangkan keterampilan yang dimiliki masing-masing.

3. Jadilah Supporter, Berhentilah Mengendalikan Mereka

Jadilah Supporter Bagi Mereka
Jadilah Supporter Bagi Mereka

Benar jika orang tua lebih pintar daripada anaknya. Namun kamu hanya lebih pintar dan lebih paham pada saat mereka masih anak-anak. Dan yang perlu kita lakukan untuk fokus pada anak saat ini adalah dengan memikirkan bagaimana mereka nantinya.

Mengendalikan mereka pada sesuatu akan membuat anak menjadi tidak kompeten. Biarkan anak memilih bidangnya sendiri, sementara tugas kita adalah menjadi pendukung sekaligus pelatih.

Bahkan jika mereka memilih suatu bidang yang tidak pernah kamu ketahui sebelumnya, setujui saja selama itu positif dan serahkan mereka pada ahlinya.

Sebagai orang tua, kita perlu lebih cerdas dalam mengelola kecemasan dan membangun kepercayaan pada anak. Dengan memberikan mereka kepercayaan serta tanggung jawab, anak-anak akan menjadi lebih tangguh.

4. Jangan Takut Melihat Kegagalannya

Jangan Takut Melihat Kegagalannya
Jangan Takut Melihat Kegagalannya

Tidak dapat dipungkiri bahwa kita memiliki naluri yang cukup besar untuk menyelamatkan anak-anak, dari segala hal yang akan menyulitkan mereka.

Tetapi jika kita terus menerus menyelamatkan mereka dari kegagalannya, kapan anak-anak akan belajar? Ini sama saja menutup kemungkinan bagi mereka untuk mempelajari hal-hal penting dalam kehidupan.

Jangan takut untuk melihat kegagalannya. Ini memang sulit bagi orang tua, tetapi baik untuk anak. Namun berhati-hatilah, ini bukan berarti kamu harus sengaja menjebak mereka masuk kedalam jurang kegagalan. Ini adalah tentang bagaimana cara kita memberikan mereka kepercayaan dan tanggung jawab, agar anak-anak menjadi lebih kompeten.

Dengan kata lain kamu tidak perlu berdiri memperhatikan mereka untuk melihat kegagalannya, tetapi dukunglah tanpa harus takut apakah mereka akan gagal atau berhasil dibidangnya.

5. Ajarkan Mereka Tentang Kontrol Diri

Ajarkan Anak Kontrol Diri
Ajarkan Anak Kontrol Diri

Tidak ada orang yang selalu berhasil sepanjang waktu. Itulah poin penting yang harus kita tanamkan pada mereka. Dalam arti kita tidak melulu memberikan motivasi tentang bagaimana untuk berhasil, tetapi mengajarkan anak tentang keterampilan bertahan dan kontrol diri.

Sesekali kamu perlu memberi saran pada mereka untuk mencoba hal baru, dengan syarat kamu harus membantunya jika mereka kesulitan.

Berikan contoh dan ajarkan strateginya, dengan begitu mereka akan menjadi lebih mampu mengelola diri sendiri. Jika mereka berhasil, setelahnya anak-anak akan menjadi lebih berani serta percaya diri mencoba hal-hal lainnya.

Namun jika ia gagal, kamu perlu bersabar. Ini adalah proses perkembangan anak dan sikapmu bisa saja mengurangi potensi yang ada pada mereka.

Daripada mengatakan “Kamu tidak bisa mencontoh Ibu/Ayah dengan baik!” alangkah indahnya jika kita berempati pada mereka dan berbicara bagaimana untuk melakukan yang lebih baik kedepannya.

6. Ajarkan Aturan, Kedisplinan, dan Konsistenlah

Mengajarkan Aturan Disiplin
Mengajarkan Aturan Disiplin

Menjadikan anak tetap berkembang dengan menjadi diri sendiri bukan berarti kita harus memberikan mereka kebebasan sepenuhnya. Disatu sisi kamu memang perlu untuk memberikan mereka pilihan, tetapi jangan lupa mengajarkan mereka untuk menjadi disiplin dan konsisten pada pilihannya.

Anak-anak lebih percaya diri jika mereka sadar siapa yang akan bertanggung jawab, dan manfaatkanlah hal itu agar mereka fokus pada apa yang sudah dilakukannya.

Setiap aturan dalam rumah tangga tentu berbeda-beda, maka disinilah tugas kamu. Ingatlah, aturan dirumah akan membentuk pola pikir mereka. Dan jika kita melihat bagaimana kuatnya pengaruh lingkungan terhadap anak, tentu itulah masalah yang harus kita cegah sebelum terjadi.

Tetapi perkara aturan rumah tangga tetaplah harus kita tentukan sendiri. Jika kamu mengambil langkah yang tepat dalam membuat aturan, maka itu sangat baik bagi mereka. Hingga saat mereka bertemu dengan teman sebaya yang mencoba mempengaruhinya, ia akan percaya diri untuk berkata “Tidak!”

7. Katakan Tidak Untuk Membanding-bandingkan

Berhenti Membandingkan Sesuatu
Berhenti Membandingkan Sesuatu

Apakah kamu berpikir membanding-bandingkan mereka dengan anak lainnya yang lebih berprestasi akan memotivasi?

Jika kamu berpikir mereka akan termotivasi dengan cara itu, maka kembalilah duduk di bangku SMP. Membanding-bandingkan anak akan sangat berpengaruh pada pola pikir dan mentalnya.

Bahkan saat mereka lebih baik, jangan membandingkan mereka dengan anak yang lebih buruk, karena itu akan mensumon sifat sombong dalam dirinya. Dengan kata lain, membanding-bandingkan anak dalam hal apapun tidak ada baiknya sama sekali.

Kecuali, kamu membandingkan dirinya dengan apa yang telah dilaluinya. Sebagai contoh, “Kemarin Ibu/Ayah sudah mengajari kamu caranya. Sekarang kamu coba lakukan sendiri ya?”

Bukankah hal itu lebih baik untuknya?

Namun jika  kamu terlanjur melakukannya, berhentilah mulai saat ini juga dan ubah caramu memperlakukannya.

8. Bangun Hubungan Yang Baik, Ajarkan Dia Cara Menyayangi

Mengajarkan Anak Kasih Sayang
Mengajarkan Anak Kasih Sayang

Kedekatan yang intens antara ibu dan anak laki-laki dalam waktu yang lama tidak mengubahnya menjadi “Keperempuan”, Tetapi malah menumbuhkan sisi maskulin dalam dirinya secara lebih tepat.

Dan tidak dapat dipungkiri juga bahwa anak perempuan cenderung lebih dekat pada sang ayah, maka tanggung jawab ayahnya untuk memberi contoh yang baik serta memberi kasih yang cukup untuk sang putri.

Menurut penelitian hubungan yang baik antara orangtua dengan anak akan mempengaruhi kinerja otak. Seperti yang dikatakan oleh seorang psikiater anak dari Washington, Joan Luby, ” Kasih sayang kepada anak akan mempengaruhi kinerja otaknya. Ini sama pentingnya seperti memberi mereka nutrisi dan vitamin”.

Baca Juga : 5 Cara Sederhana Menggali Minat Dan Bakat Anak Sejak Dini

Hingga ketika lingkungan sosial anak semakin luas, kamu akan melihat bagaimana mereka menyayangi sesama. Anak-anak akan mempengaruhi teman sebayanya untuk berbuat baik dan penuh kasih, seperti yang kamu lakukan kepadanya.

Ilham Damanik
Menulis-Membaca-Bermimpi Read Full Profile