in

9 Tips Menjadi Caregiver Bagi Orang Gangguan Jiwa

Cargiver Bagi Orang Gangguan Jiwa

Di dalam sebuah perkumpulan penyandang gangguan kesehatan mental yang saya ikuti di kota Bandung, saya banyak menemukan anak-anak muda mengikuti perkumpulan ini dengan berbagai macam alasan. Ada yang mengikuti perkumpulan ini berdasarkan panggilan jiwa mereka, ada yang ikut karena mereka sudah terdiagnosis gangguan kesehatan mental, ada pula yang ikut karena salah satu anggota keluarganya, yakni ibunya menderita gangguan kesehatan mental.

Dari berbagai alasan yang mereka paparkan, alasan yang paling terakhirlah yang paling membuat saya terharu. Bagaimana tidak, melihat setiap pertemuan yang diadakan, ia selalu semangat membawa ibunya menghadiri pertemuan tersebut.

Apa sih Caregiver itu?

Secara umum caregiver merupakan sebutan bagi orang-orang yang membantu aktivitas sehari-hari individu yang membutuhkan bantuan perawatan seperti orang sakit, lansia, maupun anak-anak (Alifudin, M. R & Ediati, A, 2019). Sedangkan dalam (Awad & Voruganti, 2008) menjelaskan bahwa seseorang yang mau menaruh banyak perhatian serta memberikan dukungan penuh terhadap seseorang yang membutuhkan juga merupakan definisi dari caregiver.

Sedangkan caregiver pada kasus gangguan jiwa merupakan seseorang baik itu anak, ibu, istri/suami, atau keluarga yang merawat klien yang terdiagnosis suatu gangguan kejiwaan.

Caregiver sendiri terbagi ke dalam 2 kategori :

  • Primarry caregiver : Merupakan orang yang memiliki posisi terdekat dengan penderita/orang yang paling dipercaya oleh penderitanya. Biasanya antar pasangan, seperti suami yang merawat istrinya atau sebaliknya. Orang yang sering membantu menyiapkan kebutuhan kesehariannya. Ex : Membantu menyiapkan makan, minum, memakai baju, pergi membuat janji dengan dokter, konselor/psikolog, menemani pergi berbelanja, mengurusin izin kerja atau sekolah ketika tidak masuk sekolah.
  • Secondary caregiver : Merupakan orang terdekat kedua, misalnya anak, ibu, keluarga, ibu mertua. dll.

Menjadi Caregiver bagi yang Menghadapi Gangguan Kesehatan Mental

Sama halnya dengan caregiver yang memiliki gangguan kesehatan fisik, caregiver dengan ODGJ juga memiliki beberapa tantangan yang bervariasi. Oleh karena itu seorang caregiver memerlukan persiapan untuk menerima segala resiko yang ada. Salah satu resiko menjadi caregiver adalah rentan mengalami stres dan burnout karena emosi negatif serta banyaknya beban dan kegiatan yang harus mereka lakukan.

Seorang peneliti bernama Buckley yang dikutip dalam (Farkhah dkk., 1970), mengungkapkan bahwa kekambuhan pasien gangguan jiwa dapat berkurang signifikan dari 65% menjadi 25% jika mendapatkan perawatan maksimal, sebaliknya bila tidak mendapatkan perawatan yang tepat maka akan memicu pasien gangguan jiwa untuk mudah kambuh.

Senada dalam temuan (Gibranamar Giandatenaya & Rudangta Arianti Sembiring, 2021), ketika orang yang merawat penderita gangguan jiwa mengalami emosi negatif maka hal tersebut mempengaruhi kondisi emosi serta kognitif yang memicu munculnya gangguan pada kedua aspek tersebut. Oleh karena itu hal tersebut perlu menjadi perhatian agar dapat segera ditemukan penyelesaian masalahnya.

Baca Juga : Mengenal Stigma Terhadap ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa)

Apa saja yang perlu diperhatikan ketika menjadi Caregiver ODGJ?

  1. Mencari tahu terkait penyakitnya. Sama halnya ketika kita sedang sakit flu atau mengidap penyakit fisik lainnya, kita pasti mencari tahu bagaimana caranya agar lebih baik dan tidak memicu kekambuhan.
  2. Cari tahu Do dan Don’t. Mengetahui penyakit yang diderita seperti apa, hal-hal apa yang dapat jadi pemicunya, hal-hal apa yang bisa dilakukan untuk pencegahannya. Semakin caregiver mengetahui pengetahuan tersebut, semakin dia juga memberikan bantuan yang diharapkan oleh si penderitanya.
  3. Membangun komunikasi yang baik dengan penderita. Kebanyakan klien dengan gangguan kejiwaan masih terbilang sehat secara fisiknya dan masih bisa ingin melakukan hal-halnya dengan sendiri, sehingga sebagai caregiver harus bisa mengkomunikasikan segala halnya dengan baik. Misalnya, mengkomunikasikan jadwal pengobatan dan konsultasi ke psikolog dengan baik dan nyaman.
  4. Ketika kewalahan, carilah orang terdekat untuk bercerita. Biasanya ini terkait banyaknya pekerjaan yang harus dia lakukan (overload). Lakukanlah me time. Semisal mengisi waktu minimal 1 hari untuk meluangkan waktu untuk diri kita sendiri, agar kita bisa memulihkan diri kita (merecharge). Atau dengan mencari yayasan atau support group yang menyediakan layanan konseling untuk para caregiver.
  5. Memberi psikoedukasi kepada seluruh keluarga agar bisa menjadi pendukung baik bagi penderita maupun para caregivernya.
  6. Melakukan rolling dengan kerabat/keluarga lain. Untuk posisi primarry caregiver lakukanlah rolling atau pergantian dengan secondary caregiver. Semisal ibu, dan digantikan oleh anak. Hal ini berguna agar si primarry caregiver ini tidak overload.
  7. Pahami kebutuhan sang penderita, dan komunikasikan kebutuhan kita kepada penderita dan keluarga. Kita bisa meluangkan waktu untuk diri kita sendiri, namun jangan lupa untuk memberikan akses kepada penderita ketika mereka membutuhkan kita.
  8. Untuk primary caregiver perlu mengkomunikasikan terkait pekerjaan/kesibukan, misal sekolah/kuliah. Atau mencari anggota keluarga lain untuk membantu menjaga penderita/menghire profesional caregiver untuk merawat penderita.
  9. Mencari waktu untuk menata ulang kembali terkait rencana yang telah direncanakan. Menjadi seorang caregiver bisa saja terjadi karena sebuah keadaan yang sangat mendadak. Perencanaan yang sebelumnya telah direncanakan dengan baik dan matang, secara tiba-tiba bisa berubah, khususnya dalam hal ekonomi. Banyaknya biaya berobat yang tidak murah, membuat perencanaan ekonomi yang sebelumnya sudah direncanakan jadi terganggu dan habis.

Baca juga : Kenali Jenis Gangguan Kecemasan Dan Cara Penanganannya

Caregiver juga Perlu Diapresiasi!

Memberikan apresiasi kepada caregiver baik dari penderita, keluarga terdekat, atau orang sekitar. Caregiver juga dapat menemukan kekuatan dalam keluarga untuk membangun satu keluarga yang supportif dan hebat.

Sebuah Proses Penerimaan

Banyak yang mengeluhkan terkait sulitnya kita dalam menerima segala kenyataan yang ada, termasuk ketika kita mendengar kabar salah satu orang tercinta kita terdiagnosis suatu penyakit kesehatan jiwa.

Namun, ketika Anda sudah mengetahui bahwa pasangan/orang terdekat Anda mengidap riwayat ini, jangan lelah untuk tetap menjaga komunikasi dengan baik. Jangan lelah dalam mengingatkan jadwal minum obat, konsultasi, dan konsisten dalam berobat.

Penerimaan adalah sebuah proses, prosesnya diawali dengan bagaimana cara menghayati diri kita. Kita bisa melihat ini sebagai suatu tantangan terkait apa yang bisa kita berikan baik untuk diri kita dan juga untuk sang penderita.

Penerimaan juga merupakan sebuah proses yang sangat subjektif bagi tiap individu, tentunya dengan keep connect dan dukungan sosial akan sangat membantu kita dalam menjalani proses yang sedang kita jalani.

Baca Juga : Suka Mencuri Barang Tidak Berharga? Hati-Hati Dengan Gangguan Ini

Rujukan

Alifudin, M. R, & Ediati, A. (2019). Pengalaman Menjadi Caregiver: Studi Fenomenologis Deskriptif pada Istri Penderita Stroke. Empati, 8(1), 111–116.

Awad, A. G., & Voruganti, L. N. P. (2008). The Burden of Schizophrenia on Caregivers: A Review. PharmacoEconomics, 26(2), 149–162. https://doi.org/10.2165/00019053-200826020-00005

Farkhah, L., S, S., & Hernawaty, T. (1970). Faktor Caregiver dan Kekambuhan Klien Skizofrenia. Jurnal Keperawatan Padjadjaran, 5(1). https://doi.org/10.24198/jkp.v5i1.348

Gibranamar Giandatenaya, & Rudangta Arianti Sembiring. (2021). REGULASI EMOSI PADA CAREGIVER ORANG DENGAN GANGGUAN  JIWA. Psycho Idea, 19(1).

Written by Sari Puteri Deta Larasati

Your Psychotherapist, healing you with soul.