in

Cinta Tanpa Syarat, Benarkah Ada atau Hanya Ilusi Belaka?

Cinta Tanpa Syarat
Cinta Tanpa Syarat

Mungkin, cinta tanpa syarat pernah kita dapatkan dari orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita dengan kasih sayang, kesabaran dan penerimaan.

Tapi, adakah selain itu?

Beranjak dewasa, kita cenderung menganggap bahwa mencintai dan dicintai tanpa syarat itu sangat mulia. Kita ingin mencintai apa adanya dan mungkin kita juga ingin memberi tanpa pamrih.

Saat bersedih atau pun senang, kita selalu membuka hati dan berharap seseorang untuk setia kapanpun kita membutuhkannya. Dan berharap, kita juga berada disana saat ia membutuhkan. Namun sayangnya hal itu membuat kita menjadi terlalu naif.

Jika memang cinta itu tanpa syarat, seharusnya kita tak perlu berharap apa-apa bukan?

Kamu Saja Tidak Cukup

Cinta tanpa syarat artinya kamu mencintai seseorang tanpa logika dan berkorban tanpa berharap apa-apa.

Artinya ketika ia tidak menghargai pengorbananmu maka kamu harus terima. Tanpa kecewa, tanpa marah dan tanpa merasa dirugikan. Karena itulah pilihanmu menjadi orang yang mencintai tanpa syarat.

Bukankah begitu?

Nah, ini sangat aneh. Kita seolah yang paling bertanggung jawab atas apapun yang terjadi pada seseorang yang kita cintai. Seolah kita mampu memberikan segalanya. Mencukupi kebutuhan, kebahagiaan, kepuasan dan segalanya.

Dimana pada akhirnya perhatian kita hanya tertuju pada satu orang sepenuhnya.

Ya, dunia ini memang terlalu luas untuk dimiliki. Kita hanya perlu mengambil sekeping saja dan berkata “ini milikku!”

Itulah yang kamu lakukan. Lalu kamu menjaganya seolah itu benar-benar milikmu.

Tapi bagaimana jika orang yang kamu cintai mengambil kepingan lain yang dalam arti ia tidak memilih kamu?

Cinta Tanpa Syarat itu Rumit

Orang-orang yang setuju dengan cinta tanpa syarat merasa bahwa mereka sudah berpikir dengan cara paling sederhana.

Seperti, “Aku mencintainya. Terserah bagaimana dia kepadaku. Sudah. Sesederhana itu saja!”

Ya, sekilas itu terdengar menenangkan dan mudah dipahami.

Tapi jika kita menelusuri secara lebih dalam lagi, ini bisa menjadi sangat rumit bahkan lama kelamaan kata-kata itu hanya akan menjadi omong kosong dan dusta belaka.

Mulai dari “Aku mencintainya”

Cinta tanpa syarat, artinya orang yang kamu cintai tidak harus menikah denganmu bukan?

Jadi begini, bayangkan saja orang yang kamu cintai menikah dengan orang lain, lalu dengan cara apa kamu mencintainya?

Jika kamu mengalami hal ini, coba baca Bersyukurlah, Inilah Pelajaran Hidup dari Kisah Cinta Tak Terbalas.

Ketika Cinta Menjadi Gangguan

Sekarang berbeda cerita. Kali ini orang lain yang mencintaimu tapi kamu tidak.

Seperti yang kita tahu, cinta tanpa syarat artinya hanya mencintai tanpa mengharapkan apa-apa.

Bayangkan, kamu sudah menikah. Lalu, dengan dalih cinta tanpa syarat, seseorang mengirimi kamu bunga setiap pagi dan juga mengirim pesan singkat penuh perhatian setiap hari.

Lantas pasanganmu marah karena melihat hal itu, karena menurutnya itu mengganggu hubungan kalian. Tapi orang yang mencintaimu tanpa syarat itu tidak peduli.

Baginya terserah bagaimana sikapmu atau bagaimana pandangan orang-orang, dia akan tetap mencintaimu.

Pada akhirnya, kamu pun merasa terganggu dan mulai menganggap bahwa orang tersebut mengalami gangguan mental.

Begitulah logikanya, betapa rumitnya cinta tanpa syarat.

Menerima dan Menghargai Batas

Cinta bukanlah sesuatu yang membawamu pada kerugian. Jika kamu merasa dirugikan, maka itu bukan cinta.

Namun mencintai bukan berarti kita harus selalu menyediakan apa yang orang lain butuhkan, menerima apa adanya dan tidak mengharapkan apa-apa.

Pandangan yang kurang dewasa tentang cinta sangat berbahaya, karena itu bisa membuat harga diri, sikap dan diri kita jatuh ke dalam jurang yang dalamnya tak terbayangkan.

Hubungan yang sehat adalah peka terhadap keinginan pasangan, tetapi juga menegaskan kebutuhan kita sendiri. Dalam arti, kamu memiliki batasan-batasan dimana semua harus sesuai dengan situasi dan kondisi. Kita berhak untuk berkata “Iya” , “Mungkin atau “Tidak” dalam kondisi tertentu terhadap orang yang kita cinta.

Berbeda dengan cinta tanpa syarat yang sekali berkata iya maka iya seterusnya.

Jadi, Cinta tanpa syarat itu hanya ilusi?

Cinta tanpa syarat itu nyata. Itu ada, dan bukan ilusi. Tapi kembali ke rahim ibumu jika kamu menginginkannya.

Mengapa?

Karena di usia dewasa sekarang ini semua orang memiliki dunia masing-masing. Seperti yang kita tahu, setiap orang mengambil sekeping dari dunia ini dan berkata “Ini milikku!”.

Inilah kenyataannya. Kita hidup dengan segala macam kebutuhan, dan hampir semua orang hidup dengan cara yang realistis untuk memenuhi itu semua. Hingga pada akhirnya kita akan memilih mencintai orang lain sewajarnya saja.

Dengan kata lain, kita perlu memberi batas-batas yang tidak boleh dilampaui ketika mencintai.

Memilih Apa Yang Membawa Dampak Lebih Besar

Cinta pada akhirnya menuntun kita pada kedewasaan berpikir dan kebijaksanaan.

Ketika pasangan meminta sesuatu, kita harus pahami apakah itu akan membahagiakan kedua pihak? Jika ada salah satu pihak yang dirugikan, kecewa dan tidak bahagia, maka kita harus menolaknya.

Namun bukan penolakan yang dilakukan secara kasar, melainkan dengan kata-kata lembut dan bijak agar pasangan memberi pengertian. Setelahnya, mencari cara lain dan solusi agar kedua pihak sama-sama bahagia. Itulah cinta, itulah penerimaan dan menghargai satu sama lain.

Lupakan Apakah itu Cinta atau Bukan, Lakukan Yang Terbaik

Sudah jelas bahwa dunia memiliki syarat, hukum dan norma-norma yang tidak bisa dilanggar. Bahkan jika kamu ingin melanggarnya dengan dalih cinta paling mulia, itu tidak akan diterima dunia berserta seisinya.

Lihat berapa banyak orang yang menjadi gila dan tidak bisa berpikir sehat karena berlandaskan cinta. Sangat rumit.

Sekarang, lupakan semuanya tentang cinta. Lupakan apakah yang kamu lakukan itu berlandaskan apa, hanya patuh pada aturan-aturan kehidupan yang sudah ditentukan, itu sudah cukup.

Hanya menerima apa adanya saja seperti apa cara hidup yang sudah ditentukan. Kamu bisa memilih berlandaskan hukum negara, agama, adat, atau budaya. Meskipun kita tidak bisa menjadi sempurna, tetapi kita bisa berusaha untuk melakukan yang terbaik.

Sebab, inti dari semua ini hanyalah berpikir tentang dampak yang lebih besar.

Sebelum memikirkan apakah kamu benar-benar jatuh cinta kepada seseorang, coba pelajari Saat Kamu Jatuh Cinta, Hati-hatilah dengan 6 Dampak Negatif Ini.

Akhir Kata

Demikianlah artikel tentang sebuah pertanyaan benarkah cinta tanpa syarat itu ada. Kembali lagi kepada dirimu, apakah keputusanmu mencintai seseorang itu murni atau hanya merupakan ilusi?

Written by Ilham Damanik

Menyendiri-Merenung-Hening