Hancur! Inilah Ciri-Ciri Sahabat Munafik yang Harus Kamu Ketahui

Ada sebuah kalimat yang mungkin sering muncul dibenak kita setiap malam, “Aku

Ilham Damanik Ilham Damanik · 3 min read >
Ciri-Ciri Sahabat Munafik

Ada sebuah kalimat yang mungkin sering muncul dibenak kita setiap malam, “Aku seharusnya bisa lebih baik!”

Mungkin terlalu rumit untuk memikirkan semuanya, tapi sangat jelas bahwa ternyata lingkungan atau dengan siapa kita berteman juga dapat menjadi beban pikiran. Sebagian besar dari kita pasti mengetahui bahwa mempercayai naluri itu penting.

Ketika kita berfirasat buruk terkadang ada benarnya, meskipun sangat berbahaya jika ternyata kita hanya berprasangka saja. Mungkin dalam benak kita ada muncul keraguan dalam persahabatan, dimana hal itu sangat menguras pikiran.

Memiliki sahabat sejati tidak semudah yang kita duga. Terkadang kita mengartikan teman yang sudah lama mengenal kita adalah sahabat namun nyatanya tidak juga.

Masih belum jelas sahabat yang sejati itu seperti apa, tapi yang jelas kita bisa mengetahui seperti apa sahabat palsu. Kita perlu berhati-hati dalam hal persahabatan, karena tali persahabatan bisa membuat kita tersandung.

Jadi jangan sampai kamu tertipu, inilah ciri-ciri sahabat palsu!

1. Hanya Datang Ketika Butuh, Dengan Kata Lain Hanya Memanfaatkanmu

Hanya Datang Ketika Butuh
Hanya Datang Ketika Butuh

Tidak ada kata terlambat meskipun mungkin butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk menyadari, bahwa orang-orang yang kita anggap sebagai sahabat ternyata hanya datang disaat butuh saja.

Lucunya setelah rentang waktu yang cukup lama, tidak ada satu pun yang dapat dijadikan patokan bahwa persahabatan itu memiliki arti. Dan kamu baru menyadari, bahwa kamu yang berusaha sendiri dalam pertemanan itu.

Memang benar orang yang baik itu adalah orang yang bermanfaat untuk sesamanya.

Tetapi tampaknya kita perlu memikirkan lagi, untuk beberapa orang dan dengan kurun waktu yang cukup lama, serta tanpa feedback yang  berarti, itu namanya tidak bermanfaat untuk sesama tetapi dimanfaatkan oleh sesama.

Kedatangannya yang dulu kita tunggu-tunggu, sekarang malah jadi beban.

Baca Juga : Cara Membaca Pikiran Orang, Coba 5 Tips Sederhana ini

2. Sering Memonopoli Percakapan, Mereka Hanya Ingin Kamu Mengangguk

Sering Memonopoli Percakapan
Sering Memonopoli Percakapan

Persahabatan yang palsu dapat ditandai dengan keegoisan dalam berdiskusi. Ketika kamu duduk dengannya, tidak ada dialog sebab yang terjadi hanya monolog.

Artinya hanya dirinya sendiri yang berbicara dan kamu cukup sebagai pendengar. Dengan kata lain, mereka hanya ingin mengangguk dan setuju dengan apa yang dikatakannya.

Mereka mungkin membicarakan sudut pandang yang luas, pembahasan politik, sosial dan hal-hal lainnya, tetapi tujuannya adalah menjatuhkan dirimu jika kamu tidak sependapat.

Jika kamu mengatakan ketidaksetujuanmu, maka tidak segan-segan ia mengejek atau melecehkan dirimu. Mereka membangun komunikasi hanya supaya kamu melihat dunia ini dari sudut pandangnya saja, Tidak begitu.

Karena teman sejati berani setuju untuk tidak setuju. Menghormati pendapat bahkan keyakainan yang berbeda. Itulah teman sejati.

3. Mereka Hanya Mengenal Kamu Ditingkat Superfisial

Hanya Melihat Sisi Luar Dirimu
Hanya Melihat Sisi Luar Dirimu

Jika dengan mengenal kita sekadarnya saja sudah dapat disebut sahabat, maka seluruh teman di sosial media juga sahabat. Mereka tahu kegiatanmu sehari-hari, tahu alamatmu,dan tahu tanggal lahirmu.

Sejauh ini juga mereka tahu apa makanan dan minuman kesukaan kamu. Tetapi mereka tidak benar-benar memahami seautentik dan seunik apa dirimu.

Ada hal-hal pada diri kita masing-masing, yang hanya diketahui oleh diri sendiri, dan jika ada orang lain yang memahami hal itu, itulah yang disebut sahabat.

Dalam hal ini lebih mengarah pada ketidak cocokan, atau tidak tertarik untuk mengulas kepribadian masing-masing.

Meskipun sudah lama berteman, dia tidak pernah menanyakan hal-hal yang spesifik tentang dirimu atau setidaknya membawamu pada cerita-cerita yang menarik tentang kehidupannya sehingga membuat kamu tidak sungkan untuk memperkenalkan kehidupanmu juga.

4. Tidak Memposisikan Dirinya Pada Dirimu, Ketika Mengetahui Kamu Sedang Dalam Masalah

Tidak Membantumu Disaat Kamu Butuh
Tidak Membantumu Disaat Kamu Butuh

Adalah sebuah resiko dalam persahabatan, jika kamu harus membela sahabatmu dalam sebuah pertikaian atau setidaknya memposisikan dirinya sebagai kamu untuk memahami apa yang kamu alami.

Sahabat palsu tidak pernah mengambil resiko untuk dirimu. Ketika kamu direndahkan oleh orang-orang, ia berpaling dan malah ikut menertawakan dirimu karena takut mengambil resiko, semisal jika ia membela kamu maka orang-orang juga ikut merendahkannya.

Meskipun jika ada orang lain yang mencoba memposisikan dirinya pada dirimu ketika kamu dalam masalah, bukan jaminan juga bahwa itu seorang sahabat. Mungkin saja itu hanya suatu bentuk kebaikan dan kemanusiaan saja.

Tetapi ada pengecualian untuk orang-orang yang sudah lama berteman dengan kita, jika ia tidak berani melakukan itu maka sudah jelas tandanya bahwa orang tersebut bukan sahabat.

Baca Juga : Patut Dipertahankan, 5 Tanda Kamu Memiliki Persahabatan Yang Kuat

5. Suka Membicarakan Rumor dan Gosip Tentang Dirimu

Suka Membicarakan Gosip Tentang Dirimu
Suka Membicarakan Gosip Tentang Dirimu

Bagaimana rasanya jika rahasiamu tidak dirahasiakan oleh orang yang kamu percaya?

Sangat menyebalkan ketika orang-orang mengetahui rahasia kita pribadi yang mungkin memalukan, tetapi anggaplah hal itu sebagai pelajaran saja.

Memang benar tak ada seorang pun yang sempurna, tapi ada orang-orang yang bisa kita percaya sebagai seorang sahabat.

Namun tak ada jaminan bahwa seseorang benar-benar bisa menjaga apa yang kita ingin kita jaga. Sebab tetap saja orang lain adalah bagian dari eksternal yang ada diluar kendali kita.

Tetapi sahabat sejati, tetap bisa diandalkan meskipun ia ada diluar kendali kita. Dan sebaliknya, sahabat palsu senang membuat gosip dan rumor tentang diri kita.

Beberapa hal mungkin terdengar memalukan tetapi itu baik untuk membuka siapa dirinya sebenarnya.

Saat kamu mengetahui siapa sahabatmu sebenarnya dan siapa sahabatmu yang palsu, maka jangan segan-segan untuk mengambil keputusan yang terbaik.

6. Terlalu Banyak Komplain, Tidak Pernah Mau Kalah Darimu

Sering Komplain
Sering Komplain

Saat kamu berada di puncak kesuksesan, memang benar bahwa semua orang akan mengaku sebagai teman dekat. Tetapi hal itu terlalu biasa.

Sebab hal yang lebih unik lagi adalah ketika seseorang merasa tersakiti atau dirugikan karena melihat kamu berhasil. Hal itu bisa jadi karena ia merasa lebih hebat dari dirimu, atau mungkin ia merasa keberhasilanmu adalah hasil dari usahanya.

Dengan kata lain, mereka tidak ingin kalah darimu. Dalam berbagai hal, sahabat palsu selalu mencoba merendahkan dirimu. Bahkan disaat kamu berada di puncak kesuksesan, ia tidak pernah berlapang dada untuk mengakui itu.

Tetapi sebaliknya, ketika kamu sedang berada dalam kegagalan, ia hadir untuk ucapan-ucapan yang tidak enak ditelinga. Sangat menyedihkan, sebab sahabat sejati seharusnya menjadi pendukung kita dalam kondisi apapun.

Baca Juga : 5 Tanda-Tanda Bahwa Sahabat Sedang Merindukan Kita

Kesimpulannya,

Keberhasilan suatu persahabatan dapat dilihat dari seberapa sedikitnya kekurangan yang terlihat. Kita tidak perlu melihat seberapa banyak kelebihan atau manfaat yang kita dapatkan, cukup dengan mengetahui bahwa hanya ada sedikit kekurangan dalam pertemanan itu sudah bisa jadi patokan yang jelas.

Jangan melihat apa keuntungan yang bisa kamu dapatkan dari orang lain yang kamu sebut sahabat, sebab semakin sedikit kekurangan atau kerugian yang kamu dapat saja sudah membuktikan bahwa persahabatan itu layak dipertahankan.

Ilham Damanik
Aku merasa seperti seorang penulis Read Full Profile