in , , ,

Depresi Karena Putus Cinta, 5 Tips Ini Akan Menuntunmu Mengatasinya

Depresi Karena Cinta

Kehilangan nafsu makan, insomnia alias kesulitan tidur selama berhari-hari dan sulit berkonsentrasi pada tugas. Bisa jadi ini merupakan salah satu gejala depresi karena putus cinta.

Tahukah kamu?

Tubuh kita adalah sekumpulan bahan kimia yang mempengaruhi setiap perasaan yang kita rasakan. Terkadang terasa menyenangkan dan terkadang terasa menyedihkan.

Di awal menjalin hubungan dengan seseorang hidup akan terasa lebih indah, hal itu disebabkan karena tubuh mengeluarkan beberapa bahan kimia terutama hormon oksitosin alias hormon cinta.

Namun hormon tersebut memiliki durasi dan ketika efeknya reda maka tubuh akan terasa tidak enak sehingga kita berusaha untuk mendapatkan cinta lagi agar bisa merasa senang.

Hal inilah yang menyebabkan seseorang menjadi candu pada cinta, terlalu terobsesi, depresi dan lainnya.

Lantas mengapa semua ini bisa terjadi dan bagaimana cara mengatasi rasa depresi karena putus cinta ini?. Coba pahami beberapa poin berikut menuntunmu melakukan healing secara mandiri dan lebih cepat.

Broken Heart Syndrom alias Sindrom Patah Hati

Jika kamu penasaran mengapa seseorang bisa depresi setelah putus cinta, maka sekarang juga kamu akan mengetahui jawabannya.

Menurut para ahli, kesedihan yang mendalam tidak hanya membebani pikiran tetapi juga membawa dampak yang jelas pada fisik.

Alasan utamanya adalah patah hati bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh dan ketika pikiran kita tertekan maka secara bersamaan tubuh akan mengeluarkan kortisol alias hormon stress.

Efek dari hormon kortisol yang membanjiri tubuh kita adalah stress, tidak enak badan dan nyeri dibagian dada. Dan faktanya, sudah banyak penelitian membuktikan bahwa seseorang yang patah hati karena cinta cenderung mengalami sakit jantung dan besar kemungkinan meninggal.

Satu hal yang lebih mengejutkan lagi adalah wanita lebih mudah terserang sindrom patah hati ini ketimbang pria!

Solusi:

Mengekspresikan perasaan yang kamu alami dengan cara menangis atau menuliskannya diatas kertas mampu mengurangi rasa sakit dan mempercepat kesembuhan.

Depresimu Adalah Depresi Pasanganmu Juga dan Sebaliknya

Ketika dua orang sudah menemukan belahan jiwanya, bersama dalam suka duka dan sudah terkoneksi dengan kuat satu sama lain maka itulah yang disebut cinta sejati.

Dan ironisnya hal ini membuat kamu menjadi benar-benar terikat dengan pasangan. Kamu juga benar menjadi cerminan pasangan atau saling mencerminkan ekspresi satu sama lain.

Jika kamu melihat ke arah kanan, lalu pasangan ikut melihat ke kanan maka kita masih menyebut hal itu sebagai gerakan refleks.

Jika pasanganmu batuk, lalu tak lama kemudian kamu tertular maka kita masih menganggap hal itu sebuah kewajaran.

Namun bagaimana jika pasanganmu depresi lalu tak lama kemudian kamu juga ikut depresi? Apakah ini sesuatu yang wajar? Tentu saja tidak namun begitulah kenyataannya.

Maka jika hal ini yang menyebabkan kamu depresi, maka segeralah mencari bantuan untuk pasanganmu. Setelah pasanganmu membaik, maka kamu juga akan membaik.

Coba Baca Dulu : Ini Hal yang Harus Dilakukan Ketika Pasangan Merasa Depresi

Cinta Tak Terbalas, Kenyataan Jauh Dari Apa yang Diharapkan

Cinta yang tak terbalas ini lebih mengarah pada mereka yang diberi harapan palsu. Ketika kita tertarik pada seseorang dan ia memberikan respon yang baik, maka harapan pun dengan mudah melambung tinggi.

Namun seperti yang sudah-sudah, di awal hubungan tubuh kita akan mengeluarkan hormon dopamin dan oksitosin yang membuat hati serasa manis, serasa berbunga-bunga.

Dan setelahnya, ini adalah efek dari hormon oksitosin dan dopamin dalam tubuh yang sudah mulai habis sehingga membuat kita menjadi candu. Ironisnya, ketika sudah mulai candu kita malah ditinggal.

Coba bayangkan sejenak.

Sekarang kenyataan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan dan inilah penyebab kita menjadi depresi karena cinta.

Pada akhirnya ini juga menjawab bahwa sakit yang kita dapat adalah hasil dari ekspektasi kita sendiri yang terlalu tinggi. Namun ini bukan berarti kita harus menyalahkan diri sendiri, justru kita perlu mengakui kesalahan itu dan memaafkan diri sendiri.

Cinta Memang Penuh Penderitaan, Tapi Terlalu Berat Untuk Menerimanya

Saat kamu mencintai seseorang, otomatis kamu telah memberikan sekitar 60% hatimu atau lebih. Bukankah begitu?

Lebih jelasnya mencintai seseorang membuat kita rela menggantikan prioritas utama dalam hidup dan kita memberikan perhatian kepadanya lebih dari memperhatikan diri sendiri.

Namun orang yang kita cinta ada diluar kendali. Hari ini bisa saja ia membuat kita senang, tapi esok bisa jadi ia membuat kita menangis. Maka jelas saja mencintai seseorang dengan berlebihan akan membawa penderitaan.

Seandainya kita menyimpan cinta itu untuk diri sendiri saja dan hanya mencintai orang lain sekedarnya, maka tak ada resiko yang cukup membahayakan. Cukup sederhana tetapi kita juga kesulitan melakukan hal ini seolah menodai cinta yang tulus dan tanpa syarat.

Namun jika kamu sudah terlanjur memberikan cinta yang utuh kepada seseorang lalu hubunganmu kandas, maka alangkah baiknya untuk fokus memperbaiki hatimu yang hancur.

Kenapa?

Sebab depresi sebenarnya adalah tekanan dari dalam dirimu yang memberi isyarat untuk lebih memperbaiki diri. Depresi adalah bahasa perasaan dari dalam dirimu yang tak ingin kamu jatuh dilubang yang sama lagi.

Depresi Bukan Karena Cinta, Tapi Karena Perasaan Campur Aduk

Kita selalu menganggap bahwa kekecewaan, depresi dan patah hati disebabkan oleh cinta. Namun faktanya tidak selalu begitu.

Mungkin kamu sendiri sedang mempertanyakan apakah ini cinta atau bukan? Kamu mencintainya tapi secara bersamaan kamu juga membencinya. Dilema!

Penyebabnya adalah kamu memulai hubungan dengan seseorang yang latar belakangnya tidak sesuai dengan nilai-nilaimu, prinsip hidup dan pola pikirmu.

Sehingga pada akhirnya ketika cinta mulai tumbuh, secara bersamaan kamu juga melihat banyak kesalahan dalam hubungan itu yang tidak akan bisa diperbaiki.

Kita bisa menyentuh hati siapapun yang kita inginkan, tapi bukan berarti kita bisa mengubah mereka menjadi apa yang kita inginkan.

Kamu bisa membuatnya jatuh cinta kepadamu, namun kamu tidak bisa mengubah keyakinannya, cara berpikirnya dan prinsip hidupnya. Lalu kamu benci karena orang yang kamu cintai hidup dengan cara yang tak sesuai dengan cara hidupmu.

Perasaan yang bercampur aduk inilah masalahnya. Solusinya adalah turunkan egomu dan berdamailah untuk hidup dengan pasangan meski berbeda persepsi. Atau, tinggalkan dia dan cari seseorang yang benar-benar sejalan denganmu.

Terkait patah hati, mungkin artikel berikut dapat menambah referensimu:

Akhir Kata, Depresi membuat seseorang menjadi sulit untuk konsentrasi dan berpikir jernih. Maka jika kamu merasa sudah cukup kesulitan mengatasi diri sendiri, segera cari bantuan.

Atau jika kamu benar-benar ingin menyembuhkan diri sendiri, maka cobalah latihan sederhana dengan teknik mindfulness yaitu kesadaran disini-kini.

Artinya kamu hidup untuk menikmati momen saat ini saja, tanpa memikirkan masa lalu dan masa depan. Cari tahu dan pelajari teknik ini agar hidupmu lebih bermakna, ketika kamu melihat hidupmu bermakna maka depresi pelan-pelan hilang dengan sendirinya.