in

5 Fakta Tentang Psikologi Klinis Yang Harus Kamu Tahu

Fakta Psikologi Klinis

Pernahkah anda mendengar mengenai psikolog klinis? Mungkin anda pernah melihat beberapa psikolog yang berseliweran di televisi atau di media-media yang tersedia. Banyak dari psikolog yang bermunculan adalag seorang psikolog klinis. Namun ada pula psikolog dari bidang lain misalnya pendidikan, sosial hingga psikolog klinis forensik.

Agaknya masyarakat masih banyak yang belum mengetahui peran dan tugas penting seorang psikolog klinis masih banyak sekali yang menganggap bahwa menemui psikolog itu tabu. Mengapa tabu? Karena anggapan masyarakat akan label “gila” jika pergi menemui ahli psikologi yang satu ini.

Namun apakah benar jika pergi menemui psikolog sudah dipastikan gila? Belum tentu semua orang yang pergi menemui psikolog ini gila. Gila yang dimaksud dalam artian adanya kecenderungan gangguan pada diri yang mengarah pada kejiwaan sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Bahkan cenderung dapat melukai diri sendiri maupun orang lain.

Padahal jika anda merasa sedang stres, atau memerlukan tenaga professional untuk membantu anda mengatasi permasalahan hidup tanpa harus mengalami kejiwaan bisa dilakukan oleh seorang psikolog. Lalu bagaimana dengan psikolog klinis? Jika anda ingin melakukan sesi yang di dalamnya termasuk konseling hingga terapi tanpa perlu obat-obatan, anda bisa menemui psikolog klinis.

Jika memang memerlukan obat-obatan seperti anti-anxiety psikolog anda akan merefer ke psikiater sehingga dapat dilakukan terapi konseling dan obat secara bersamaan. Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa anda ketahui mengenai psikolog klinis.

1. Sejarah dan Teori Klinis

Sejarah Psikologi Klinis
Sejarah Psikologi Klinis

 

Kata klinis sendiri berasal dari bahasa Yunani yakni kline yang berarti perawat medis yang ada pada sisi tempat tidur pasien. Sedangkan penerapan klinis dalam psikologi berada dalam ranah gangguan mental individu hingga sesi terapi yang dilakukan secara berkelompok.

Secara teori yang disebutkan oleh APA (American Psychological Association) pada bagian klinis adalah suatu bentuk psikologi terapan untuk memahami kapasitas perilaku dan karakteristik individu dengan melalui serangkaian metode pengukuran, analisis, rekomendai agar individu mampu menyesuaikan diri dengan baik.

Psikologi klinis juga bisa dikatakan adalah bidang yang mengkaji, mendiagnosis hingga menyembuhkan masalah psikologi pada individu yang memiliki gangguan atau perilaku abnormal. Jadi tugas seorang psikolog klinis tidak jauh dari definisi di atas.

Tentu bagi orang yang berkecimpung dalam dunia psikologi sudah tidak asing lagi dengan Sigmund Freud (baca: sigmun froyd). Di mana beliau adalah seorang neurologist yang menemukan teknik psikoanalisis pada terapi psikologi.

Jadi dapat dikatakan bahwa ilmu psikologi sudah berkembang dari zaman dahulu hingga sekarang sangat pesat.

Baca Dulu : Psikologi Klinis, Profesi Yang Menarik Untuk Masa Depanmu

2. Menjadi Psikolog Klinis

Profesi Psikologi Klinis

Untuk menjadi seorang psikolog klinis anda diwajibkan untuk melalui perkuliahan psikolog pada jenjang Strata-1 atau S1 dan menyelesaikannya kemudian melanjutkan pada jenjang S2. Namun anda tidak bisa sembarangan memilih S2 psikologi untuk menjadi seorang clinical psychologist.

Anda harus memilih jurusan magister psikologi profesi dengan peminatan klinis. Peminatan ini terbagi menjadi dua yakni peminatan mayor dan peminatan minor. Peminatan mayor adalah peminatan utama sedangkan peminatan minor adalah peminatan sekunder.

Contohnya penulis memilih peminatan mayor psikologi klinis dewasa dengan peminatan minor psikologi klinis anak. Nantinya dua peminatan ini akan diwajibkan untuk menangani kasus pada masa praktek kerja psikologi profesi guna mendapatkan SIPP atau surat izin praktek psikolog.

Selain psikologi klinis dewasa dan anak, anda bisa memilih peminatan minor lainnya seperti pendidikan atau psikologi industri dan organisasi.

Tetapi untuk menjadi seorang psikolog klinis anda tetap harus memilih peminatan mayor klinis, baik itu klinis dewasa atau klinis anak.

Untuk bisa mendapatkan SIPP anda harus menjalani ujian sidang HIMPSI di mana anda akan melakukan praktek kerja psikolog profesi. Di dalamnya anda harus menangani beberapa kasus mulai dari individu hingga kelompok.

Ini lah yang nantinya diujikan dalam sidang HIMPSI. Jika telah dinyatakan layak sebagai seorang psikolog dari sidang HIMPSI maka selamat anda telah menjadi seorang psikolog klinis. Namun anda tetap harus menyelesaikan tesis agar surat tersebut dapat keluar.

3. Lingkup Kerja Psikolog Klinis

Ruang Lingkup Psikologi Klinis

Setelah anda menyelesaikan pendidikan S2 psikologi profesi dan telah lulus sidang HIMPSI dan tesis selanjutnya anda bisa langsung mencari pekerjaan. Atau anda bisa membuka praktek sendiri berbekal SIPP yang anda miliki anda bisa mengurus perizinan praktek di lingkungan anda.

Jika anda ingin bekerja di suatu tempat, anda bisa bekerja pada rumah sakit umum, rumah sakit jiwa, biro konsultan psikologi bahkan saat ini sudah ada aplikasi kesehatan yang terdapat psikolog di dalamnya.

Sehingga anda bisa bekerja secara remote dan bisa menjalani dua pekerjaan sekaligus jika memang memungkinkan dan anda mampu.

Lalu apakah psikolog klinis bisa bekerja di tempat lain? Sebenarnya lingkup kerja psikolog klinis ini tergolong luas. Anda bisa bekerja di sekolah, universitas, sebagai saksi ahli di ranah hukum jika memang sudah dinyatakan kompeten hingga bekerja pada perusahaan sekalipun meski berbeda bidang peminatan.

Karena pada dasarnya psikologi klinis dan psikologi industri dan organisasi tidak jauh berbeda. Maka psikolog klinis pun bisa menjadi seorang HRD di sebuah perusahaan sekalipun.

Cukup banyak bukan peluang pekerjaan dari psikolog klinis ini. Tentu perjuangan perkuliahan ini akan terbayar dengan sendirinya jika anda bersungguh-sungguh.

Anda juga bisa menjadi narasumber pada suatu acara yang memang ingin menampilkan pembahasan psikologi di mana anda menguasainya.

4. Karakteristik Psikologi Klinis

Psikologi Klinis
Psikologi Klinis

Untuk dapat menjadi psikolog klinis dibutuhkan kemampuan seperti orientasi ilmiah professional guna memaksimalkan intervensi psikologis paa klien-kliennya sehingga bantuan yang diberikan lebih tepat.

Kemudian dibutuhkan kemampuan komunikasi, analisis, observasi dan kreativitas yang baik untuk menjadi seorang psikolog klinis.

Dengan memiliki kemampuan di atas seorang psikolog klinis akan lebih mudah untuk menentukan diagnosis pada kliennya sehingga terapi yang diberikan pun tepat sasaran. Karena memberikan terapi pada klien seorang psikolog klinis tidak bisa asal-asalan.

Harus melalui proses obervasi pada klien dan tidak keluar dari aturan serta kode etik seorang psikolog.

5. Kode Etik Psikolog

Di dalam psikologi terdapat kode etik yang mengatur seorang psikolog termasuk psikolog klinis yang bekerja. Mulai dari keterjagaan privacy kliennya hingga data yang dimiliki. Seorang psikolog tidak diperbolehkan untuk membocorkan data-data klien dan tes-tes psikologi pada masyarakat umum.

Sayangnya masa sekarang sudah banyak tes psikologi yang beredar di internet sehingga tiap individu dapat melakukan tes untuk dirinya sendiri. Tentu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bukan menjadi tanggung jawab seorang psikolog.

Selain HIMPSI, psikolog klinis juga memiliki organisasi khusus yakni IPK atau Ikatan Psikolog Klinis Indonesia.

Referensi psikolog klinis di Indonesia juga cukup banyak namun tenaga professional dalam bidang ini masih sedikit jumlahnya. Misalnya psikolog klinis forensik A. Kasandra Putranto, psikolog klinis anak, remaja dan keluarga Roslina Verauli M.Psi.,Psikolog, hingga psikolog klinis dengan license art therapy yakni Monty P. Satiadarma, S.Psi,MS/AT,MFCC,DCH,Dr., Psikolog.

Baca Juga : 10 Psikolog di Indonesia yang Terkenal dan Paling Sukses

Rasanya seru sekali ya jika membicarakan mengenai ranah psikologi dan psikolog klinis ini. Apakah anda tertarik untuk menjadi seorang psikolog klinis?

Written by Rima Mustika

Clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.