Fenomena Diagnosa Dokter Google Sedang Trend, Apakah Tepat?

Rata-rata orang yang sudah melakukan diagnosa pada dirinya sendiri malah semakin takut pergi ke layanan kesehatan

Novia Kartikasari Novia Kartikasari · 4 min read >
Diagnosa Dokter Google

“Cari aja di mbah google”

Mungkin kalimat ini sudah sangat familiar di telinga kita ya, tiap kali kita bingung tentang istilah atau sesuatu hal tertentu pasti kita akan mencoba mencarinya di mesin pencari nomor 1 di dunia ini.

Kalau dulu ibarat kata buku adalah jendela dunia mungkin kalau di konteks jaman sekarang google adalah jendela dunia yang lain, saking canggihnya si mesin pencari nomor 1 di dunia ini.

Nah tapi kecanggihan dari mesin pencari ini tidak selalu membawa manusia ke arah yang benar-benar positif, ada banyak akibat negatif dari kecepatan penyampaian informasi ini, salah satunya adalah dalam hal  penyebaran informasi mengenai gangguan kesehatan yang ternyata memberikan dampak negatif yang tidak kita sadari.

“Cuma ketik informasi gejala apa yang kamu mau cari langsung deh keluar itu sakit apa dalam beberapa detik”

Mendiagnosa diri sendiri, mungkin diantara kalian ada yang pernah melakukannya. Biasanya ketika kita merasa tidak enak badan kita langsung mencoba cari informasi kita sakit apa di google dengan berpatokan dari satu hingga dua gejala yang muncul.

Kemudian ketika muncul informasi sakit apa seseorang langsung menyimpulkan dia sakit X meskipun tidak pernah benar-benar ke dokter atau tenaga medis ahli lainnya. Apa yang dilakukan seseorang ini termasuk kedalam aktivitas mendiagnosa diri sendiri (self-diagnosed).

A. Bahaya Melakukan Diagnosa Sendiri ( Self-Diagnosed )

Self Diagnosed
Self Diagnosed

Sekilas melakukan diagnosa sendiri seperti tidak ada dampak negatifnya, bahkan mungkin ada yang beranggapan tidak masalah karena dianggap self-diagnosed membantu seseorang menciptakan kesadaran untuk segera mencari bantuan medis diluar dirinya. Namun apakah benar tidak ada dampak negatifnya?

Dibanding menganggap self-diagnosed mempercepat penyembuhan yang ada malah sebaliknya, rata-rata orang yang sudah melakukan diagnosa pada dirinya sendiri malah semakin takut pergi ke layanan kesehatan, ada yang malah menjadi semakin takut kalau asumsinya itu benar-benar terbukti.

Seperti misal seseorang  merasa kesehatan mentalnya tidak baik-baik saja, dia merasa sering mood swing akhir-akhir itu, ketika mencari di internet, informasi menunjukkan bahwa dia  mungkin menderita bipolar.

Akibatnya dia merasa semakin cemas dan takut mengecekkan kesehatan mentalnya ke profesional karena takut kalau asumsi bipolarnya terbukti dan dia dijauhi orang disekitarnya.

Nah selain beberapa alasan tadi, ada beberapa alasan lagi mengapa sebaiknya kamu tidak mendiagnosa dirimu sendiri.

1. Memunculkan Kecemasan Yang Tidak Perlu

Mendiagnosa diri sendiri akan membuatmu berpikir dan percaya bahwa kamu menderita sakit tertentu meskipun tidak melalui prosedur medis yang benar.

Akibatnya muncul kecemasan dan kepanikan sesaat akibat kepercayaan bahwa seseorang sedang sakit sesuatu, dan ketika keadaan panik seperti ini muncul seringkali seseorang tidak berpikir panjang untuk melakukan segala cara demi segera mengatasi kepanikan sesaatnya ini.

2. Memberikan Obat Secara Sembarangan

Ketika kepanikan muncul seseorang bisa melakukan segala hal untuk mengurangi kecemasannya, karena dilakukan secara cepat kadang seseorang tidak berpikir mengenai resiko dari tindakannya.

Salah satu cara mengurangi kecemasan ini secara cepat adalah dengan memberikan obat sembarang tanpa melalui prosedur medis yang dibenarkan.

Seperti misal seorang ibu yang berasumsi bahwa anaknya mengalami gejala alergi tertentu karena sebagian tanda-tandanya mengarah kesini. Dengan cepat tanpa membawa anaknya ke dokter si ibu langsung membelikan anaknya obat alergi tertentu, tapi setelah beberapa hari kesehatan anaknya tidak juga mengalami perubahan.

Diketahui setelah di chek-up kan ke dokter ternyata anaknya tidak mengalami alergi.

Kalau kata orang – orang apa yang dilakukan si ibu istilahnya bermain “dokter – dokteran”, sangat banyak lho kasus-kasus seperti ini ditemui di sekitar kita.

Tentu melakukan hal seperti ini malah semakin membahayakan nyawa seseorang ya, padahal prosedur medis saja membutuhkan waktu tertentu untuk menegakkan suatu diagnosa.

Baca Juga : 8 Aplikasi Yang Membantu Melacak dan Menganalisa Kualitas Tidur

3. Mendapatkan Informasi dari Sumber Yang Tidak Jelas

Cara lain untuk mengatasi kepanikan sesaat seseorang yakni dengan mencari informasi sembarangan dari google meskipun sumbernya sendiri masih sangat diragukan.

Namun ya karena panik dan ingin segera mengurangi kecemasan itu seseorang langsung menyimpulkan bahwa sumber yang dia acu sudah pasti benar dan jelas. Padahal kadangkala kasusnya sumbernya benar hanya saja kemampuan seseorang dalam mengolah informasi itu yang masih diragukan.

4. Memunculkan Sakit Lain Akibat Keadaan Stres Sebelumnya, yang Sebenarnya ya Tidak Perlu

Tidak jarang keadaan stres yang kita ciptakan sendiri malah memunculkan sakit yang lain. Keadaan stres tubuh akan memicu hormon-hormon stres juga meningkat, akibatnya akan muncul gejala – gejala sakit tertentu yang biasanya mengiringi peningkatan dari keadaan stres ini.

Misalkan seseorang sangat khawatir bahwa dirinya sakit tertentu jadi terlalu memikirkan kekhawatirannya, akibat hal ini dia malah jadi sakit – sakitan karena pikiran stresnya membuatnya tidak nafsu makan.

5. Membuat Seseorang Menjadi Tidak Percaya dengan Pengobatan Medis

Mendiagnosa diri sendiri hanya dengan berpatokan dari satu hingga dua gejala tertentu kadangkala membuat seseorang percaya bahwa dirinya bisa melakukan semuanya, termasuk merasa tidak lagi membutuhkan bantuan medis yang formal seperti dokter.

Namun cara berpikir seperti ini tentunya bisa menjadi boomerang untuk diri kita di masa depan, karena tidak semua sakit bisa diobati sendiri di rumah, karena ketidakpercayaan pada pengobatan medis seperti ini seringnya seseorang jadi telat mendapatkan perawatan dan sakitnya sudah terlanjur parah.

B. Tips Agar Kamu Tidak Melakukan Diagnosa Pada Diri Sendiri

Menghindari Diagnosa Diri Sendiri
Menghindari Diagnosa Diri Sendiri

Kecemasan sesaat pada kesehatan kita mungkin akan menyebabkan sebagian dari kita berpikir bahwa itu adalah sebuah hal yang akan membantu kita menyadari bahwa ada sesuatu hal yang salah yang terjadi didalam tubuh kita. Sehingga harapannya akan segera pergi ke tenaga medis tertentu.

Namun sayangnya kenyataannya ya tidak selalu seperti itu, kepanikan sesaat malah akan membuat seseorang melakukan berbagai hal yang dianggap tidak rasional, harapan sih ya cara-cara ini bisa segera mengurangi kecemasan sesaatnya ini.

Berikut ini ada beberapa tips yang bisa  kamu lakukan agar bisa terhindar dari aktivitas mendiagnosa diri sendiri.

1. Selalu tanamkan di pikiran bahwa hanya tenaga ahli saja yang bisa mendiagnosa kita terkena sakit apa

Dengan selalu menanamkan pada pikiran bahwa yang bisa mendiagnosa kita ya hanya tenaga ahli, secara tidak langsung mendorong kita untuk tidak pernah menelan informasi mentah-mentah dari internet terutama tentang gejala sakit tertentu karena kita pasti akan meng crosscheck informasi yang kita temukan pada ahlinya.

Untuk gangguan kesehatan fisik segeralah pergi ke dokter atau ke tenaga medis lainnya untuk memastikan apakah asumsi seseorang benar mengenai keadaan tubuhnya, biasanya setelah dilakukan pemeriksaan fisik dasar tidak akan lama diagnosanya akan keluar kecuali jika memang diperlukan check-up lebih mendalam.

Untuk gangguan kesehatan mental memang sedikit berbeda dengan gangguan kesehatan fisik, seorang profesional kesehatan mental akan membutuhkan waktu tertentu sebelum menegakkan diagnosa.

Gangguan mental sulit sekali dikenali hanya dalam sekali lihat hal ini karena gejalanya bisa saling tumpang tindih dan mirip – mirip satu sama lain, oleh karenanya seseorang juga tidak bisa berasumsi dia sakit gangguan mental tertentu hanya dengan berpatokan pada satu hingga dua gejala tanpa pergi ke profesional kesehatan mental terlebih dahulu.

2. Selalu tanamkan bahwa dokter saja tidak bisa mengobati sakitnya sendiri

Dokter sebagai seorang ahli medis saja masih membutuhkan bantuan dokter lain untuk menyembuhkan sakit pada dirinya, apalagi kita yang hanya orang awam.

Kita sebagai seseorang yang mendiagnosa diri sendiri tidak akan bisa menangkap semua gejala yang muncul pada diri kita, oleh karenanya kita pasti membutuhkan bantuan orang lain yang sekiranya lebih tahu untuk melihat secara keseluruhan apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita.

Internet dengan segala kecanggihannya memang akan selalu memberikan banyak informasi tanpa saringan sedikitpun, terutama jika kita berbicara mengenai informasi akan gangguan kesehatan tertentu. Karena saking banyaknya informasi, ada banyak informasi mentah yang perlu kita saring sendiri.

Mendapatkan informasi tentang sakit tertentu mungkin akan menambah pengetahuan agar kita lebih menjaga gaya hidup yang sehat.  Namun hanya sebatas itu saja ya, jika sudah sampai memunculkan rasa cemas dan panik tentu kita perlu mewaspadainya.

Baca Juga : 10 Pilihan Aromaterapi Untuk Rileksasi, Cara Ampuh Hilangkan Stres

Tidak ada yang salah dengan merasa cemas pada kesehatan sendiri, namun alangkah baiknya ketika mengalami kekhawatiran segeralah pergi ke ahlinya. Karena bermain “dokter-dokteran” resikonya juga sangat besar termasuk membahayakan kesehatan diri sendiri hingga orang lain.

Novia Kartikasari
An amateur writer who inspired to be a professional writer someday. I love writing about a social phenomenon, education, environmental and lifestyle issue Read Full Profile