Hukuman Pada Anak, Perlukah Diberikan Oleh Orang Tua?

Dalam lingkup kehidupan akan selalu ada batasan-batasan yang apabila dilanggar akan mendapatkan hukuman

Rima Mustika Rima Mustika · 4 min read >
Hukuman Pada Anak

Pernah kah kalian terkena hukuman? Tentu nya kita semua pernah merasakan terkena hukuman karena melanggar sesuatu. Jika melihat kembali pada masa lalu tentu teringat dengan beberapa hukuman yang pernah kita dapat. Misalnya di hukum orang tua karena bermain tidak kenal waktu.

Di hukum karena memporak poranda kan kamar yang sudah dibersihkan. Atau ketika pulang lebih dari batas yang ditentukan. Berbagai macam situasi yang jika tidak dapat mengendalikan diri maka kita akan mendapatkan hukuman sebagai ganti nya.

Belum lagi hukuman yang didapatkan dari sekolah karena telat masuk sekolah, tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Dalam lingkup kehidupan akan selalu ada batasan-batasan yang apabila dilanggar akan mendapatkan hukuman.

Dari batasan-batasan tersebut kita belajar akan resiko yang diterima atas dilakukannya suatu tindakan. Batasan tersebut akan mengajarkan kita untuk memilah tindakan yang baik maupun buruk.

Ini juga berlaku ketika memberikan hukuman pada anak-anak kita. Hukuman atau punishment yang di maksud di sini bukan merujuk pada hukuman bagi kriminal yang melakukan tindak kejahatan.

Bagaimana Memberikan Punishment/Hukuman Yang Tepat Buat Anak?

Namun punishment di sini merujuk pada  konsekuensi dari sebuah tingkah laku yang diharapkan dapat menghasilkan tindakan yang lebih baik. Berbicara mengenai punishment pada anak.

Setiap orang tua memiliki gaya pola asuh nya masing-masing. Pola asuh ini ditujukan untuk merawat tumbuh kembang anak dari kecil agar menjadi pribadi yang baik kelak.

Tidak jarang dalam pola asuh terdapat beberapa punishment yang diberikan kepada anak melebihi batas kemampuan anak. Ada pula yang tidak konsisten dalam memberikan punishment tersebut.

Sebagai contoh misalnya meminta anak untuk tidur tidak larut malam, tetapi anda juga tidak menerpakan pada diri anda sebagai orang tua. Hal kecil yang dapat memberikan dampak besar bagi perkembangan anak.

Konsistensi dalam pola asuh sangat penting mengingat anak-anak yang sedang tumbuh berkembang akan melihat konsistensi sebagai bagian dari pembelajaran. Anak-anak belajar dengan melihat apa yang dilakukan orang-orang yang berada di lingkungan sekitar nya.

Tindakan orang tua yang tidak konsisten akan membuat anak-anak menjadi bingung. Mereka akan bingung akan mana yang benar dan mana yang baik.

Kemampuan berpikir analitik mereka masih belum berkembang dengan baik. Pola pikir mereka masih sedikit kaku dan belum mampu memilah dari pemikiran abstrak layaknya orang dewasa.

Punishment yang diberikan secara tidak konsisten ini akan membuat anak-anak menjadi bingung dan tidak jarang menimbulkan ketidak percayaan pada orang tua.

Akibatnya anak-anak akan menjadi sulit untuk diajak bekerja sama dan kurang mendengarkan nasihat dari orang tua. Kira-kira seperti apa bentuk punishment yang baik dan bagaimana sih cara menerapkan dengan tepat ?.

1. Berikan Sesuai dengan Kemampuan Anak dan Perlahan

Memberikan Hukuman Sesuai Kemampuan Anak
Memberikan Hukuman Sesuai Kemampuan Anak

Punishment ditujukan untuk memperbaiki tindakan, sikap serta tingkah laku anak. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, berikan sesuai dengan kemampuan anak dan orang tua secara perlahan.

Contohnya ketika anak terlalu asik bermain hingga lupa waktu dan anda merasa hal tersebut sudah berulang kali dan anak tidak dapat dinasehati lagi, anda dapat mengatakan misalnya “uang jajan dipotong dua ribu ya, selama satu minggu!”.

Contoh kalimat di atas harus benar-benar diterapkan pada anak yakni memotong uang jajan sebesar dua ribu.

Lalu penggunaan jangka waktu selama satu minggu adalah batas waktu yang harus anda berikan secara bertahap agar anak dapat berpikir bahwa “oh iya ya, main itu boleh tetapi kalau sudah malam harus pulang”. Hal ini juga sekaligus melatih pola pikir anak agar tahu resiko dari apa yang bisa dia lakukan.

Ketika dalam waktu satu minggu tingkah laku anak tidak berubah, anda dapat kembali berdiskusi dengan anak dan menjelaskan bahwa dalam waktu satu minggu tersebut anda tidak melihat usaha anak untuk mengurangi bermain sampai lupa waktu. Anda dapat memberikan pilihan untuk memperpanjang masa potongan uang jajan atau menambah potongan uang jajan.

Tentu nya hal ini harus dibicarakan terlebih dahulu dengan anak dan disepakati bersama antara orang tua dengan anak. Anak harus diberikan penjelasan mengapa ia menerima potongan uang jajan tersebut.

2. Dengarkan Alasan Anak Ketika Ia Melakukan Kesalahan

Mendengarkan Anak Sebelum Memberi Hukuman
Mendengarkan Anak Sebelum Memberi Hukuman

Dalam bertindak tentu nya tiap individu memiliki alasannya masing-masing.

Berlaku juga pada anak.

Ketika anak berbuat sesuatu baik yang benar ataupun yang salah, mereka memiliki alasan atas tindakan nya masing-masing. Bahkan saking unik nya anak-anak, tingkah laku yang sama pada beberapa anak terkadang memiliki alasan yang berbeda.

Daripada anda memarahi anak atas kesalahannya, ada baiknya tanyakan terlebih dahulu pada anak alasan dari perilaku nya tersebut. Baru anda dapat memutuskan bentuk punishment seperti apa yang baiknya diterapkan pada anak.

Mengulik alasan anak ketika melakukan sesuatu akan melatih anak untuk dapat mengekspresikan diri nya sekaligus melatih kejujuran anak. Kamu bisa juga membaca tentang: 3 Jenis Tahapan Perkembangan Pada Anak, Orang Tua Harus Paham .

Anak yang merasa diapresiasi oleh orang tua nya ketika melakukan kesalahan atas kejujuran yang dia utarakan, secara tidak langsung ia akan merasakan bahwa kejujuran itu perlu untuk diterapkan.

3. Hindari Memberikan Punishment Secara Fisik

Hindari Memberikan Hukuman Fisik Kepada Anak
Hindari Memberikan Hukuman Fisik Kepada Anak

Sebaiknya hindari memberikan punishment kepada anak secara fisik. Misalnya memukul, menampar atau menyenggol kepala nya. Hal ini sia-sia karena bukannya membuat anak jera tetapi justru membuat anak menjauh dari anda.

Ada juga punishment fisik seperti menyuruh anak berolahraga, atau membantu memperbaiki sepeda misalnya. Berolahraga adalah contoh fisik yang baik untuk dilakukan daripada anda memukul anak.

Memberikan punishment berupa olahraga atau bentuk kegiatan seperti nya sangat seru untuk dilakukan. Selain badan menjadi lebih sehat, hal ini tentu menyenangkan.

Bentuk punishment yang akan dirasakan fun oleh anak. Tentu nya kondisi ini disesuaikan dengan kondisi anak saat itu ya. Jika anak sedang dalam kondisi tidak fit ya jangan disuruh olahraga dong yah.

4. Diskusikan Segala Sesuatu dengan Anak

Pendekatan Diskusi Dengan Anak
Pendekatan Diskusi Dengan Anak

Berikan anak pemahaman akan tindakannya. Berikan pengetahuan pada anak mengenai sebab akibat dari adanya tindakan yang dilakukan. Namun, tidak semata hanya diberikan pemahaman dan pengetahuan, tetapi juga dipraktekan dalam kehidupan nyata.

Ketika hanya diberikan pengetahuan dan pemahaman saja tanpa adanya contoh nyata, kebingungan atas apa tindakan yang dilakukan akan meliputi diri nya. Penerapan nya dapat dilakukan secara perlahan namun pasti. Konsistensi berulang akan membuat anak yakin atas apa yang ia lakukan.

Anda juga harus mendiskusikan mulai dari tindakan anak, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh, batasan-batasan nya sampai mana. Kamu juga bisa membaca tentang, 5 Kebiasaan Ini Harus Diperhatikan Orang Tua Dalam Berkomunikasi dengan Anak .

Ketika pemahaman ini diberikan, maka secara tidak langsung anak akan belajar tentang norma yang berlaku di dalam kehidupannya sekarang dan nanti. Merupakan salah satu bekal hidup yang berguna bukan.

5. Anak Berhak untuk Bahagia

Anak Berhak Mendapatkan Kebahagiaan
Anak Berhak Mendapatkan Kebahagiaan

Terlepas dari pembelajaran mengenai punishment kepada anak oleh orang tua, yang harus di ingat juga adalah anak memiliki hak untuk memilih. Mereka memiliki hak untuk mengeksplor berbagai macam hal yang didasari dengan batasan yang diberikan sebelumnya. Mereka berhak untuk bahagia dengan pilihannya.

Pro dan kontra antara orang tua dan anak akan selalu ada bukan. Ketidak cocokan pemikiran antara suami dan istri saja selalu ada, apalagi dengan anak yang kita tidak akan pernah tahu apa yang anak-anak pikirkan.

Hindari merasa paling tahu mengenai anak anda.

Anak anda tetap manusia utuh yang memiliki karakter masing-masing. Untuk itu, penting untuk menerapkan komunikasi dan batasan seputar punishment dengan baik. Agar anak tidak malah menjadi menjauh dari anda nanti nya.

Memiliki anak memang membutuhkan kesiapan diri yang matang antara suami dan istri ketika memutuskan untuk mempunyai anak. Merawat anak dan membimbing nya untuk menjadi pribadi yang baik di masa depan memang tidak mudah. Namun menjadi momen yang menyenangkan sekaligus menantang.

Hal lain yang tidak kalah penting nya adalah anda sebagai support system pertama dari segi orang tua. Anak memerlukan support dari anda sebagai orang tua atas pilihannya. Kamu juga bisa membaca tentang,

Ketika anak merasa dukungan orang tua selalu tersedia, anak akan mampu untuk menghadapi dan merespon kegagalan nya dengan baik. Juga tidak mudah putus asa. Tetap lah mendukung anak semampu anda. Dukungan sekecil apapun akan tetap berarti bagi anak.

Rima Mustika
Psychology and art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee. Read Full Profile