in ,

Kenali Jenis SBN Ritel, Investasi Sekaligus Membangun Negeri

SBN Ritel

Dalam melakukan investasi mungkin sebagian besar orang lebih familiar dengan instrument investasi seperti emas, deposito, saham atau bahkan property. Namun, tahu kah kalian bahwa ada lho instrument investasi yang selain memberikan keuntungan juga bisa ikut berpartisipasi dalam membangun negeri?

Ya, namanya SBN Ritel, atau biasa dikenal dengan Surat Berharga Negara Ritel.

SBN Ritel sendiri merupakan jenis investasi surat berharga yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia dimana sebagai bentuk aktivitas pendanaan pemerintah untuk menghimpun dana guna membiayai segala jenis program pemerintah di berbagai sektor.

Dana yang dikumpulkan dari masyarakat melalui produk investasi SBN Ritel ini, nantinya akan masuk ke dalam Kas Negara, dan digunakan untuk membiayai defisit dari APBN.

Jenis Produk SBN Ritel

Secara umum, ada SBN Ritel terbagi menjadi dua kategori, yakni:

  1. Surat Utang Negara (SUN), yaitu Obligasi Ritel Indonesia (ORI) dan Savings Bond Ritel (SBR)
  2. Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), yaitu Sukuk Tabungan (ST) dan Sukuk Ritel (SR)

Secara teknis, SBR dan ST memiliki mekanisme yang serupa, begitupun seperti ORI dan SR. Hal yang membedakannya hanyalah basis dari penggunaan dana tersebut.

  • SBR dan ST merupakan jenis surat berharga yang tidak dapat diperdagangkan, sedangkan
  • ORI dan SR merupakan instrument investasi yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder.

Untuk ST dan SR dananya diperuntukkan untuk program pemerintah dengan dasar syariah.

Setelah mengetahui garis besar produk SBN Ritel sebagaimana telah dijelaskan diatas, selanjutnya akan dibahas perihal karakteristik lebih detail dari masing-masing produk.

A. Obligasi Ritel Indonesia (ORI)

Obligasi Ritel Indonesia
Obligasi Ritel Indonesia

Obligasi ritel pemerintah ini memang dikeluarkan dengan tujuan agar bisa diperdagangkan di pasar sekunder, layaknya mekanisme saham dan reksadana. Beberapa karakteristik ORI diantaranya:

1. Obligasi negara tanpa warkat

ORI saat ini dapat diperdagangkan tanpa warkat (scripless) artinya tata cara perdagangannya tanpa menggunakan fisik berupa sertifikat kepemiliki obligasi.

Adanya prosedur tanpa warkat ini karena segala proses perdagangan ORI saat ini sudah dilakukan secara online atau proses elektronik.

2. Dapat diperdagangkan di pasar sekunder

Setelah masa penawaran ORI berakhir, mereka yang memiliki ORI bisa langsung menjual ORI yang mereka miliki di pasar sekunder, mereka secara aktif leluasa memperdagangkan obligasi yang mereka miliki, baik menjual maupun membeli dari pihak lain.

Biasanya mereka menetapkan keuntungan tersendiri dari transaksi perdagangan tersebut, sebab yang memegang ORI nantinya akan mendapatkan imbal hasil yang dibayarkan pemerintah secara rutin.

3. Tenor jatuh tempo 3 tahun

Bila ORI tidak diperdagangkan di pasar sekunder, maka jatuh tempo kepemilikan ORI adalah selama 3 tahun. Setelah 3 tahun tersebut, baru dana yang diinvestasikan diawal akan dicairkan.

4. Memiliki imbal hasil (kupon) bersifat tetap (fixed rate) setiap bulannya

ORI memiliki tingkat kupon yang bersifat fixed, artinya tidak mengalami perubahan hingga jatuh tempo.

Pemerintah biasanya akan memberikan informasi mengenai bunga imbalan di masa awal penawaran untuk ORI yang dikeluarkan dan akan dibayarkan secara rutin setiap bulannya.

Sebagai contoh, tahun lalu pemerintah mengeluarkan ORI015 dengan suku bunga 8,25% per tahun.

5. Memiliki nominal minimum dan maksimum pemesanan

Untuk melakukan pembelian ORI, minimum nominal pemesanan ialah satu juta rupiah dan berlaku kelipatannya. Sedangkan untuk maksimum pemesanan ialah sebesar tiga miliar rupiah.

B. Savings Bond Ritel (SBR)

Savings Bond Ritel (SBR)
Savings Bond Ritel (SBR)

Tidak berbeda dengan namanya yaitu ‘savings’. SBR ini memang hampir mirip dengan sifat tabungan atau deposito bank, dimana kita menaruh dana (dalam hal ini ke pemerintah), lalu tidak dapat diperdagangkan dan akan mendapatkan imbal hasil rutin setiap bulannya.

Beberapa karakteristik dari SBR:

1. Tidak dapat diperdagangkan

Berbeda dengan ORI, setelah masa penawaran selesai, SBR tidak akan dapat diperdagangkan dan hanya bisa di hold  hingga masa jatuh tempo tiba.

Namun investor dapat memilih fasilitas early redemption (pencairan awal).

2. Memiliki fasilitas early redemption

Fasilitas pencairan awal ini dapat dilakukan oleh investor setelah jangka waktu 1 tahun dari masa penawaran selesai.

Investor dapat mengambil dana awal yang mereka investasikan dengan maksimum pengambilan setengah dari dana yang diinvestasikan di awal.

Sebagai contoh, investor menginvestasikan dananya di SBR sebesar 20 juta.

Setelah tahun pertama berlalu, ada fasilitas early redemption yang akan mereka pilih, maka dari dana awal 20 juta tersebut, maksimum dana yang boleh dicairkan adalah 10 juta di tahun pertama tersebut, sisanya akan di hold sampai waktu jatuh tempo setahun kemudian.

3. Tenor jatuh tempo 2 tahun

Berbeda dengan ORI, SBR memiliki jatuh tempo hanya 2 tahun.

4. Memiliki kupon floating with floor

Untuk imbal hasil (kupon) SBR ialah bersifat mengambang dengan tingkat kupon minimal (floating with floor).

Tingkat kupon ini akan dilakukan penyesuaian setiap 3 bulan yang mana mengacu pada suku bunga BI 7-Days Reverse Repo Rate pada saat itu ditambah dengan spread rate tetap 2,15%.

Jadi bila suku bunga penyesuaian lebih kecil dari suku bunga minimal, maka yang akan digunakan adalah tetap suku bunga minimal.

Sebagai contoh, tahun lalu pemerintah mengeluarkan SBR005 dengan penetapan kupon 8,15% (BI 7-Days Reverse Repo Rate 6% + spread rate tetap 2,15%). Bila 3 bulan kemudian suku bunga penyesuaiannya dibawah 8,15% maka imbal hasil yang dibayarkan akan tetap mengacu pada angka 8,15%, kecuali suku bunga penyesuaian lebih tinggi.

5. Memiliki nominal minimum dan maksimum pemesanan

Untuk pemesanan SBR, jumlah minimum dan maksimumnya sama dengan ORI, yaitu minimum nominal pemesanan ialah satu juta rupiah dan berlaku kelipatannya. Untuk maksimum pemesanan ialah sebesar tiga miliar rupiah.

C. Sukuk Ritel (SR)

Secara keseluruhan, karakteristik sukuk ritel hampir sama dengan ORI, hanya saja SR berbasis syariah dalam penggunaan dananya, dan minimum pembelian untuk SR adalah 1 juta rupiah.

Karakteristik lainnya seperti dapat diperdagangkan, imbal hasil fixed, dibayar setiap bulan, serupa dengan karakteristik ORI

D. Sukuk Tabungan (ST)

Sebagaimana yang pernah disebutkan diatas, karakteristik ST pun sama dengan SBR, yakni tidak dapat diperjualbelikan, imbal hasil dengan rate floating with floor, tenor 2 tahun, juga memiliki fasilitas early redemption.

Namun untuk minimum pemesanan ST ialah 2 juta rupiah. Karakteristik dan mekanismenya serupa dengan SBR, hanya peruntukan dananya berbasis syariah.

Penggunaan Dana SBN Ritel

Penggunaan Dana SBN Ritel
Penggunaan Dana SBN Ritel

Telah disebutkan diatas bahwa yang membedakan SUN dan SBSN adalah peruntukkan dananya.

Untuk ST dan SR alokasi dananya terkait dengan dasar syariah. Dikutip dari DJPPR Kemenkeu yang menangani SBN Ritel, salah contoh alokasi dana yang berasal dari Sukuk Tabungan adalah untuk:

  • Pembangunan KUA untuk meningkatkan layanan terkait pernikahan
  • Pembangunan PTKN (Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri)
  • Revitalisasi asrama haji

Sedangkan untuk ORI dan SBR, penggunaan dananya lebih cenderung untuk program-program pembangunan pemerintah secara umum, yang memang sudah menjadi target pembangunan ke depan.

Buat kalian yang baru mengenal SBN Ritel, jangan khawatir.

Di tahun ini, DJPPR Kementerian keuangan, sebagai direktorat yang mengelola SBN Ritel, berencana untuk menerbitkan banyak instrument ini di sepanjang tahun 2020.

Di bulan januari lalu bahkan masa penawaran SBR009 baru selesai. Selanjutnya akan ada SR seri 012 yang akan dikeluarkan dalam waktu dekat. Pantau terus linimasa kemekeu untuk tidak ketinggalan informasinya.

Coba baca Juga : 

Kesimpulan

Sesuai dengan namanya, SBN Ritel ini memang merupakan instrument investasi yang ditawarkan secara ritel dan diperuntukan bagi individu warga negara Indonesia.

Hal ini tentu sebagai salah satu upaya pemerintah untuk mendorong terciptanya masyarakat investasi dan mendukung pembangunan negeri yang bersifat mandiri.

Tujuan pemerintah ini kenyataanya bukan hanya keinginan semata.

Dari keseluruhan investor SBN Ritel seluruh generasi, secara komposisi, khususnya generasi millennial mengalami peningkatan dalam keikutsertaannya untuk berinvestasi di SBN Ritel bila dibandingkan dengan generasi lainnya, dimana dari yang semula 33,3% di tahun 2018 menjadi 43,1% di tahun 2019.

Artinya, memang semakin banyak masyarakat Indonesia yang melek akan investasi, terutama anak-anak muda. Bukan hanya memikirkan keuntungan semata, namun mereka ikut serta dalam berkontribusi membangun negeri.

So, tunggu apalagi?

Written by Dinny Amalia

Lifetime learner. An independent woman who live her life to the fullest.