in , ,

5 Jenis Gangguan Psikologis Pada Anak Yang Wajib Diketahui

Gangguan psikologis pada anak sering kali tidak dapat dibedakan. Pernahkah anda menemui atau melihat baik secara langsung maupun melalui media tentang anak berkebutuhan khusus? Bisakah anda membedakan gangguan yang diderita oleh anak? Bagi sebagian orang pasti sangat familiar dengan kata autisme dan idiot. Pasalnya apapun gangguan yang dialami oleh anak yang terlihat dari fisik, pasti orang awam akan menyebutkan 2 hal tersebut.

Padahal gangguan psikologis pada anak ini tidak hanya sekedar berputar pada autisme saja. Masih banyak sekali jenis gangguan yang dapat dialami oleh anak. Rata-rata gangguan yang terjadi pada anak ini memiliki faktor penyebab ketika anak berada dalam kandungan ibunya. Mengapa bisa begitu? Kembali lagi kepada kebiasaan orang tua ketika mengandung.

Meski tidak hanya seputar kebiasaan orang tua saja, tetapi faktor lingkungan juga memengaruhi. Faktor penyebabnya bisa berasal dari makanan dan minuman yang dikonsumi, adanya konsumsi obat-obatan selama hamil tanpa seizin dokter, memakai narkoba, merokok hingga minum-minuman keras ketika hamil. Untuk merokok, meski ibu saat hamil tidak merokok, tetapi terkena paparan asap rokok dari orang lain juga berbahaya bagi janin.

Tidak disangka ternyata ketika hamil ibu harus sangat berhati-hati dalam memilih makanan dan merubah kebiasaan buruknya. Pasalnya tidak ada cara mengobati gangguan psikologis pada anak yang diderita sejak lahir. Yang bisa dilakukan hanya membantunya agar dapat tumbuh seperti anak lainnya.

Lalu apa saja macam-macam gangguan psikologis pada anak?

1. Down Syndrome

Down Syndrome
Down Syndrome

Gangguan yang satu ini tentu anda sudah sering melihat dari tanda fisiknya. Down syndrome atau sindrom down adalah gangguan genetic yang menyebabkan individu memiliki kemampuan belajar yang berbeda dan ciri fisik yang tidak dapat disembuhkan.

Mereka memerlukan dukungan dan perhatian yang ekstra agar dapat tumbuh bahagia seperti anak lainnya.

Gejala dari down syndrome ini adalah adanya fisik yang berbeda karena faktor keturunan dari orang tua dan keluarga misalnya telapak tangan dengan satu lipatan, mata miring keatas dan ke luar, berat dan panjang lahir dibawah rata-rata, mulut kecil, hidung kecil dengan tulang hidung rata, tangan lebar dengan jari pendek, bertubuh pendek, kepala cenderung kecil, lidah menonjol keluar dan ada jarak yang luas antara jari kaki pertama dan kedua.

Mereka memiliki kemampuan belajar yang kurang sehingga dapat menghambat pertumbuhan. Down syndrome juga memiliki tipe yakni translocation di mana tipe ini terjadi karena diturunkan dari orang tua namun jarang terjadi.

Mosaicism adalah tipe dengan kondisi tingan dan hambatan pertumbuhan yang sedikit. Sedangkan trisomy adalah yang paling sering terjadi yakni tipe trisomy 21.

Gangguan down syndrome tidak dapat disembuhkan, hanya bisa diberikan dukungan ekstra dan fasilitas yang menunjang pertumbuhan individunya.

Baca dulu : 8 Cara Menghadapi dan Mengasuh Anak Down Syndrome

2. Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD)

Adhd
Adhd

Gangguan psikologis pada anak selanjutnya adalah ADHD. Gangguan ini merupakan gangguan jangka panjang yang menyasar anak-anak dengan ciri perilaku impulsif, hiperaktif dan kurang perhatian.

Jadi jangan lagi sebut anak anda yang normal dan banyak bergerak dengan hiperaktif, karena hiperaktif adalah gangguan di mana anak tidak bisa mengendalikan gerakannya meski ia ingin.

Gejalanya bisa menetap hingga ia dewasa dengan 3 jenis ADHD yakni dominan hiperaktif-impulsif di mana masalahnya pada hiperaktivitas dan perilaku impulsif, dominan inatentif di mana anak tidak dapat memperhatikan dengan baik dan kombinasi hiperaktif-impulsif serta inatentif di mana anak mengalami 3 gejalanya.

Dugaan penyebabnya karena adanya senyawa kimia di otak (neurotransmitter) yang tidak seimbang.

Baca dulu : 5 Faktor Penyebab ADHD Pada Anak, Orang Tua Wajib Baca

3. Autism

Autism
Autism

Autism adalah gangguan psikologis pada anak di mana perkembangannya terganggu sehingga kemampuan komunikasi dan sosialisasi anak juga turut terhambat. Penyebab dari autism sendiri sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti.

Autism disebut juga dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) di mana tingkat keparahannya dapat bervariasi pada tiap individu.

Gejalanya sendiri sudah terlihat dari bayi seperti jarang melakukan kontak mata dan kurang responsif jika dipanggil. Dan gejalanya mulai jelas pada usia 2 hingga 4 tahun.

Pada tahap ringan anak masih dapat beraktivitas biasa namun dalam taraf parah anak akan membutuhkan bantuan untuk beraktivitas. Terdapat gejala lain yakni tidak peka terhadap orang lain, sering mengulang kata (echolalia), menghindari kontak fisik, menyendiri hinga nada bicara yang tidak biasa.

Sedangkan gejala dari perilaku misalnya sensitif pada cahaya, suaram sentuhan dan tidak merespon pada rasa sakit. Tidak hanya sampai disitu saja, gejala lain seperti tidak menerima perubahan pada rutinitias dalam aktivitas, adanya kelainan pola gerakan tubuh, gerakan yang repetitif, memilih-memilih makanan.

Autism juga dapat memiliki komplikasi dengan gangguan psikologis lainnya dan dapat bertahan hingga dewasa. Misalnya ADHD, epilepsi, tourette syndrome, dyspraxia, gangguan kecemasan dan OCD. Namun tidak ada hubungannya antara vaksinasi anak dengan autism. Vaksin yang diberikan justru akan menghindarkan anak dari infeksi.

4. Asperger Syndrome

Asperger Syndrome
Asperger Syndrome

Asperger syndrome adalah gangguan psikologis pada anak di mana saraf pada anak terganggu. Asperger sendiri merupakan jenis dari autism. Gejala yang ditimbulkan misalnya sulit berinteraksi sehingga ada rasa canggung baik ke keluarga maupun lingkungan.

Gejala lainnya seperti tidak ekspresif, kurang memiliki kepekaan terhadap lingkungannya, obsesif, repetitif, tidak menyukai perubahan, adanya gangguan motorik sehingga perkembangannya terhambat dan gangguan fisik yang cenderung lemah.

Penyebab dari asperger syndrome belum diketahui dengan pasti, namun ada indikasi faktor genetik. Faktor pemicunya sendiri bisa berasal dari infeksi saat kehamilan dan adanya paparan zat yang menyebabkan perubahan bentuk pada janin yang dikandung.

5. Mental Retardation

Mental Retardation
Mental Retardation

Mental retardation atau retardasi mental merupakan gangguan psikologis pada anak di mana intelektualnya terganggu dengan ciri intelegensi anak di bawah rata-rata. Mereka bisa belajar sesuatu hal yang baru namun membutuhkan waktu yang lebih lama.

Kategori retardasi mental ini juga beragam dari ringan hingga sangat berat. Skor IQ yang dibutuhkan untuk mengkategorikan individu mengalami MR adalah dibawah 70.

Gejala yang ditimbulkan dari gangguan ini tergantung dari tingkat keparahan yang diderita. Seperti sering duduk lalu berdiri, terlambat berjalan, merangkak, sering memutar-mutar tubuh, telat berbicara, lambat belajar hal yang sederhana, sulit mengingat, sulit berinteraksi dengan orang lain,  adanya gangguan perilaku misalnya tantrum dan sulit berpikir logis.

Biasanya MR disertai dengan masalah kesehatan seperti kejang, gangguan mood, kelainan motorik, gangguan penglihatan dan pendengaran. Penyebab dari gangguan psikologis pada anak ini selain gangguan perkembangan otak adalah kelainan genetik, adanya masalah saat kehamilan, adanya masalah saat bayi dan adanya cedera atau penyakit yang cukup serius.

Kelima gangguan psikologis pada anak ini tidak bisa disembuhkan 100% dan dapat menetap hingga individu dewasa. Yang dapat dilakukan adalah dengan penanganan baik secara medis maupun psikologis. Untuk penanganan psikologis anda bisa berkonsultasi dengan psikolog agar dapat diberikan terapi yang tepat untuk anak.

Terapi yang dilakukan misalnya terapi perilaku dengan teknik-teknik yang beragam, melakukan modifikasi perilaku hingga art therapy.

Written by Rima Mustika

Adult clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.