Ketahui Kapan Waktu dan Usia Menikah yang Baik Bagi Seseorang

Kita hidup di-era dimana tingkat perceraian semakin tinggi, sementara generasi lainnya sedang

Ilham Damanik Ilham Damanik · 3 min read >
Waktu yang wajib untuk menikah

Kita hidup di-era dimana tingkat perceraian semakin tinggi, sementara generasi lainnya sedang semangat-semangatnya mempersiapkan diri untuk menikah.

Setia dan bahagia selamanya, sebuah tujuan yang patut diapresiasi. Namun sebelumnya kita perlu mempertimbangkan variasi dalam usia serta tahap-tahap yang berbeda, yang dilalui oleh para lajang di era modern ini.

Berbeda dengan cerita-cerita dulu dimana pernikahan itu tampak sangat sederhana. Hanya perkenalan, tumbuh cinta, memohon izin orang tua lalu menikah.

Namun di era modern saat ini kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkencan dengan pasangan, mengeluarkan cukup banyak biaya untuk liburan dan makan malam, bahkan ada beberapa yang sudah memiliki bayi sebelum pernikahan namun ujung-ujungnya tidak hidup bersama juga.

Tak dapat dipungkiri bahwa di era yang serba instan ini segalanya malah menjadi lebih rumit. Lantas, kapan waktu menikah menjadi wajib bagi seseorang?

Waktu adalah Segalanya

Kapan Waktu Menikah Menjadi Wajib Bagi Seseorang?

Para penulis pada tahun 1960-an mencatat bahwa usia orang-orang menikah pada masa itu adalah 20-23 tahun. Berbeda dengan masyarakat modern, yang menurut catatan rata-rata menikah usia 27-30 bagi laki-laki, dan usia 23-27 bagi perempuan.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa masyarakat modern lebih lambat menentukan pernikahan daripada orang-orang dulu. Mengapa?

Ada banyak alasan mengapa usia akhir 20-an sampai awal 30-an menjadi waktu yang tepat untuk menikah. Secara akal sehat orang-orang diusia tersebut sudah cukup tua untuk menyadari apakah mereka benar-benar menjalin hubungan serius atau hanya sekedar tuntutan hormon.

Selain sudah siap untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab, mereka juga mungkin sudah siap secara finansial untuk mencukupi kebutuhan.

Lebih cepat lebih baik atau lebih baik lambat asal pasti?

Lebih cepat lebih baik atau lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Matthew D. Johnson meneliti bagaimana usia mempengaruhi kesejahteraan dalam pernikahan. Mereka yang menikah di usia yang “tepat” atau terlambat lebih sedikit mengalami tekanan dalam rumah tangga ketimbang mereka yang memilih pernikahan dini.

Bahkan yang lebih unik lagi pada temuan lainnya, pasangan yang lebih memilih menabung dan menunda waktu liburannya, cenderung hidup dalam kesejahteraan dibandingkan pasangan yang senang berfoya-foya sebelum menikah.

Artinya kita sendirilah yang menentukan seperti apa kehidupan pernikahan nantinya. Waktu-waktu yang kita susun dan terstruktur lebih jelas menggambarkan bagaimana hidup dalam kesejahteraan kedepannya. Maka berbeda dengan cara hidup pada umumnya, dalam pernikahan kita disarankan untuk lebih condong memikirkan masa depan daripada masa kini.

Alih-alih berfokus pada berapa lama kamu berkencan dengan pasangan, mari pertimbangkan cara-cara lain untuk mengevaluasi apakah kamu siap menikah.

Baca Juga: 7 Hal Yang Wajib Dipertimbangkan Sebelum Menerima Lamaran

Merencanakan Keseriusan Hubungan Kedepannya

Seperti apa pernikahan yang kamu bayangkan?

Jika kamu sudah bisa membayangkan seperti apa kehidupan pernikahan yang akan dijalani, maka kamu akan tahu kapan kamu siap untuk menikah.

Banyak orang memilih menikah tetapi tidak mendapatkan kepuasan. Tentu hal itu dikarenakan pernikahan yang ia jalani tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan. Maka persiapkanlah dirimu, pantaskan diri dan perbaiki diri jika kamu ingin pernikahan itu seperti apa yang kamu bayangkan.

Apakah kamu siap menerima kekuragan pasanganmu?

Jika kamu bertanya kapan waktu yang baik untuk menikah maka harus dipastikan bahwa saat ini kamu sudah memiliki calonnya.

Salah satu masalah umum dalam pernikahan adalah kita belum benar-benar memahami pasangan, sehingga banyak sekali hal-hal tak terduga yang tiba-tiba terjadi setelah menikah. Sangat baik jika pasangan bisa menghargai perbedaan pendapat dan lain-lain, namun bagaimana jika tidak? Siapkah kamu?

Kira-kira seberapa senang kamu nantinya?

Dari yang sudah sudah kita ketahui mungkin kesenangan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang tidak memiliki alat pengukur. Namun penelitian terbaru mengemukakan pendapat bahwa keharmonisan dalam pernikahan terletak pada bagaimana komitmen hubungan saat ini.

Jangan mengabaikan penilaian pribadimu tentang masa depan bersama, alat pengukur yang paling akurat adalah hubungan yang kamu jalani sekarang. Karena apa yang kamu lakukan sekarang akan memengaruhi masa depan hubungan.

Hubungan bergantung kepadamu, bukan sebaliknya

Pernikahan bukanlah suatu hal magis yang seketika dapat mengubah seseorang. Belum ada bukti yang valid bahwa seseorang berubah drastis setelah menikah.

Artinya pernikahan tidak akan akan mengubah karakter seseorang, dengan kata lain pernikahan itu tidak akan mengubah seorang pendosa menjadi pemuka agama.

Kita tidak bisa menggantungkan diri pada sebuah hubungan, tetapi hubungan itulah yang bergantung kepada kita. 

Lagi-lagi ini bukanlah masalah usia. Belum ada alasan yang valid apakah usia seseorang menentukan siap atau tidak untuk menikah. Tetapi kita perlu mengetahui beberapa informasi sebagai bahan perbandingan.

1. Menikah pada usia 20-25

Pasangan muda, Berkembang kearah yang sama

Kamu dan pasangan masih muda sehingga bisa bertumbuh bersama kearah yang sama.

Terlebih lagi jika kita memikirkan kedepannya, saat anak-anak mulai memasuki perguruan tinggi maka usia kamu saat itu masih sekitar 40-an. Artinya cukup banyak waktu untuk menikmati masa tua bersama keluarga.

Namun kontra yang didapatkan pada usia 22-25 adalah kamu masih terlalu naif, ditambah lagi masih terdapat sisi idealis. Menurut data statistik, orang-orang yang menikah pada usia 20-23 mengalami tingkat perceraian sampai 34%.

2. Menikah pada usia 25-30

Wanita mengasuh anak dipuncak karir

Kamu mungkin akan menemukan sosok yang sejiwa dengan dirimu di usia ini. Memiliki nilai-nilai yang sepaham serta saling bersetujuan dalam sudut pandang. Kondisi finansial pria mungkin belum sebebas burung yang terbang diudara, namun sudah lebih dari cukup.

Kabar baiknya menurut penelitan pada usia antara 25-30 kondisi keuangan wanita sedang dalam puncak tertinggi, dan kabar buruknya adalah seorang wanita akan jatuh dari puncak karirnya jika usia tersebut dihabiskan untuk mengasuh anak.

3. Menikah pada usia 30-35

Menikah diusia yang sangat matang

Menurut penelitian pernikahan untuk mereka yang menikah di usia 30-35 tingkat perceraian hanya berkisar 8%. Di usia ini kamu sangat matang dan sangat mengenal dirimu sendiri, sehingga lebih mudah untuk memilih pasangan yang cocok denganmu sebagai teman hidup.

Namun kabar buruknya adalah kesuburan wanita sudah mulai menurun pada usia 30-34. Artinya akan lebih sulit untuk mendapatkan anak.

Baca Juga: Inilah 10 Godaan Menjelang Pernikahan yang Harus Kamu Hadapi

Kesimpulannya sobat

Usia rata-rata menikah untuk wanita 23, untuk pria 27, namun itu hanyalah rata-rata yang berarti pilihan orang pada umumnya. Semua yang tertulis diatas hanyalah informasi yang semoga bisa membantu kamu memantaskan diri. Keputusan dalam menikah haruslah reflektif dan tidak bisa terburu-buru.

Untuk menghemat waktu dan keuangan alangkah baiknya kita menabung dan mengurangi waktu bersenang-senang untuk saat ini, sehingga lebih siap untuk berkomitmen dalam hubungan yang lebih serius.

Ilham Damanik
Menulis-Membaca-Bermimpi Read Full Profile