in , ,

30 kata-kata Bijak Ali bin Abi Thalib yang Menyentuh Hati

Kata-Kata Bijak Ali Bin Abi Thalib

Ujian hidup tidak bisa diprediksi karena ia ada diluar kendali kita. Namun apa yang paling menjadi masalah sebenarnya adalah hati, jiwa dan pikiran kita sendiri sebab didalamnya banyak sekali kotoran.

Maka sebelum kita mencoba menyelesaikan masalah-masalah yang ada di kehidupan luar, ada baiknya kita menyelesaikan terlebih dahulu masalah yang ada di dalam diri masing-masing.

Satu satu caranya adalah dengan memasukkan pemikiran-pemikiran positif sehingga membersihkan pikiran negatif yang selama ini bersarang dalam benak kita. Dan cara termudah untuk memasukkan pemikiran positif adalah dengan membaca kata-kata bijak lalu memahaminya.

Berikut adalah kumpulan quotes Ali bin Abi Thalib yang menyentuh hati dan semoga saja bisa memberikan perspektif baru kepada kita!

Daftar Isi show

1. Tubuh disucikan dengan air. Ego dengan air mata. Akal disucikan oleh pengetahuan. Jiwa dengan cinta!

Jika ingin membersihkan tubuh, mungkin cukup menggunakan air saja. Namun jika kita ingin membersihkan ego, maka menangislah teteskan air mata agar sadar bahwa kita adalah makhluk yang lemah.

Jika ingin memakai akal, maka kita perlu mensucikannya dulu dengan ilmu pengetahuan yang luas. Sementara jika ingin mensucikan jiwa, maka kita perlu mengisinya dengan cinta. Intinya, setiap hal memiliki cara yang berbeda-beda dalam membuatnya menjadi lebih indah.

2. Dua hal yang menentukan kualitasmu: Kesabaranmu ketika kamu tidak memiliki apapun dan sikapmu ketika kamu memiliki segalanya!

Disini Ali bin Abi Thalib dengan jelas mengatakan bahwa kualitas seorang manusia dilihat dari kesabarannya ketika tidak memiliki apa-apa. Sebab seringkali ketika tidak memiliki apa-apa kita menjadi tidak sabar sehingga bertindak ceroboh dan berpikir pendek.

Dan demikian pula, ketika sudah memiliki segalanya yang menentukan kualitas kita adalah sikap. Seringkali saat sudah berada diatas kita menjadi sombong, angkuh dan kikir.

3. Jangan biarkan kesulitanmu menjadi cemas. Lagi pula, hanya di malam-malam paling gelap bintang-bintang bercahaya cemerlang!

Disaat kita sedang dalam kondisi yang sulit, bersabarlah. Tenangkan diri dan pergunakan akal pikiran untuk mencari jalan keluarnya. Sebab disaat-saat tersulit itu, hati dan pikiran kita dapat bekerja maksimal.

Hanya disaat kita merasakan kesedihan yang paling mendalam hati menjadi lebih halus dan fokus dalam berdoa. Demikianlah ketika malam gelap bintang bercahaya terang, hati kita menjadi lebih hidup dalam kesulitan.

4. Kesabaran itu ada dua macam: Kesabaran pada sesuatu yang tidak kamu ingini dan kesabaran pada sesuatu yang kamu inginkan.

Ali bin Abi Thalib membagi kesabaran menjadi dua macam. Pertama, kesabaran pada sesuatu yang tidak diinginkan seperti masalah hidup atau berbagai macam hal-hal buruk yang datang tanpa kita minta.

Dan yang kedua, kesabaran pada sesuatu yang diinginkan, seperti ingin menjadi orang sukses, orang berpengaruh, orang yang dicintai dan banyak lagi. Intinya, beliau ingin memberi nasihat pada kita bahwa diperlukan kesabaran dalam segala hal.

5. Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.

Setiap kita adalah cermin bagi yang lain. Jika kita berlaku buruk pada orang lain, maka keburukan juga yang akan kita dapatkan. Maka jika kita ingin diperlakukan baik, terlebih dahulu kita harus memberikan kebaikan pada orang lain.

Begitulah hukum alam ini bekerja dan akan terus seperti itu sampai akhir masa.

6. Betapa aneh dan bodohnya manusia. Dia kehilangan kesehatan untuk mendapatkan kekayaan. Kemudian untuk mendapatkan kembali kesehatannya, ia membuang kekayaan.

Kita berjuang keras untuk mendapatkan kekayaan sampai-sampai jatuh sakit. Dan akhirnya setelah berjuang keras mengumpulkan harta benda, semuanya hilang hanya untuk membeli obat-obatan atau membayar dokter agar bisa kembali sehat.

Demikianlah kesehatan sebagai kekayaan yang paling berharga dan harus kita jaga. Apa yang kita butuhkan adalah kesehatan, bukan kekayaan. Dan artinya, jika kita sehat maka sudah kaya, hanya saja kurang bersyukur.

7. Kesalahan terburuk adalah ketertarikan kita pada kesalahan orang lain

Ketika orang lain melakukan hal-hal yang salah, kita begitu tertarik untuk mengorek-ngorek ceritanya. Bahkan kita mengingat hal itu dan fokus pada kesalahan orang lain, padahal tanpa disadari ketertarikan semacam itu adalah kesalahan yang terburuk.

8. Obatmu ada dalam dirimu, tapi kamu tidak menyadarinya. Penyakitmu berasal dari dirimu, tapi kamu tidak merasakannya.

Obat yang paling manjur adalah kesadaran kita. Yaitu menyadari bahwa penyakit berasal dari perbuatan kita sendiri, misalnya beberapa kebiasaan seperti gaya hidup, pola makan, dan pola tidur.

Maka untuk sembuh dari segala penyakit kita perlu menjaga kesadaran pula. Yaitu kesadaran bahwa kesembuhan berasal dari pikiran positif, hati yang bahagia dan bersyukur.

Inilah mengapa saat kita sakit butuh sekali seorang teman atau siapapun untuk mendampingi agar semangat tetap terjaga.

9. Kau mengira dirimu adalah entitas kecil. Namun dalam dirimu telah terengkuh alam semesta. Kau adalah buku yang jelas, dengan alfabet tersembunyi yang mana menjadi manifestasi. Karena itu, kau tak perlu mencari keluar dirimu. Apa yang kau cari sudah ada dalam dirimu, jika saja kau merenung.

Jangan menilai dirimu dari fisik. Jika kita menilai diri ini hanya sebatas fisik, maka terlalu kecil kita jika dibandingkan alam semesta yang begitu luas ini.

Kita lebih besar dan lebih kuat dari sekedar raga yang kecil dan lemah ini. Jika kita menyelaraskan pikiran dan hati, maka seluruh alam semesta akan tertunduk pada kita.

10. Keheningan terkadang bisa menjadi jawaban yang paling fasih

Terlalu ramai membuat semuanya tidak jelas dan pastinya kita akan sulit mendengar jika terlalu banyak yang berbicara, hingga akhirnya tak menemukan jawaban apapun.

Namun disaat-saat hening, jika kita coba bertanya pada hati masing-masing maka jawaban itu akan terucap dengan fasih. Jawaban tentang apa yang sering kita pertanyakan selama ini.

11. Angin tidak berhembus untuk menggoyahkan pepohonan, tetapi untuk menguji seberapa kuat akarnya.

Segala yang terjadi dalam hidup kita tidak pernah bertujuan untuk membuat kita bersedih, sengsara atau menderita. Tapi bertujuan untuk menguji seberapa kuat kita menghadapi segala cobaan hidup.

Maka janganlah bersedih atau merasa bahwa dirimu adalah korban dari kekejaman hidup, sebab hidup ingin memberi kebaikan pada kita, hanya saja caranya terkadang memang diluar nalar dan tak sesuai apa yang kita harapkan.

12. Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.

Dalam quotes ini Ali bin Thalib ingin menceritakan bahwa ia sudah berkali-kali merasakan kepahitan dalam hidup, semua cobaan sudah ia hadapi tapi baginya yang pahit adalah berharap kepada manusia atau orang lain.

Benar saja, sebab orang lain ada diluar kendali kita dan mereka bebas bertindak sesuai kemauannya. Maka saat kita berharap kepada orang lain, kita juga harus bersiap-siap untuk kecewa.

13. Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang kau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengatakannya kepadamu

Kita perlu simpati pada orang lain. Menghargai orang lain sebagaimana kita ingin dihargai. Memposisikan diri di posisi orang lain agar kita paham apa yang ia rasakan.

Begitu pun sebelum kita mengucapkan suatu perkataan, ada baiknya kita berpikir dahulu apakah kita akan senang atau sedih jika perkataan yang diucapkan itu ditujukan pada diri kita?

14. Jangan menjelaskan dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu.

Menurut Ali bin Abi Thalib kita tidak perlu menjelaskan tentang diri kita kepada siapapun. Jadilah diri sendiri dan jalani saja, biarkan orang-orang yang menilai sendiri.

Karena kalau orang sudah menyukai kita, maka mereka tak butuh penjelasan lagi. Dan sebaliknya, orang yang tidak menyukai kita, mereka tidak akan percaya meskipun kita menjelaskannya sampai mulut berbusah.

15. Apabila akal tidak sempurna maka kurangilah berbicara!

Kalau kita tidak paham ada baiknya diam. Sebab saat kita bertemu pada suatu pembahasan yang agak rumit, tak ada indera apapun yang butuh dipergunakan pada tubuh kita kecuali telinga.

Maka belajarlah dengan mendengar dan biarkan saja orang-orang yang paham yang berbicara. Begitulah sikap yang bijak jika kita ingin menjadi orang yang berilmu.

16. Buatlah tujuan untuk hidup di dunia tanpa membiarkan dunia hidup di dalam dirimu. Karena ketika sebuah kapal duduk di atas air, Ia berlayar dengan sempurna. Tetapi ketika air masuk ke dalam kapal, ia tenggelam.

Di dunia yang begitu luas ini kita harus memiliki tujuan yang jelas, tapi jangan sampai tujuan-tujuan duniawi yang kita buat masuk ke dalam hati dan menguasai diri kita.

Sebab hal itu ibaratkan air yang masuk ke dalam kapal, bukankah kapalnya akan tenggelam? Begitu pun kita, jika hati dipenuhi oleh nafsu dunia maka kita akan tenggelam dan sulit untuk merasakan arti hidup yang sebenarnya.

17. Apabila yang kau senangi tidak terjadi maka senangilah apa yang terjadi

Jika yang kita inginkan tidak juga tercapai, jika kebahagian yang kita harapkan tidak juga menjadi kenyataan, jika kesenangan yang kita tunggu tak juga hadir maka bersyukurlah.

Sebab hanya dengan bersyukur kita bisa menjadi senang atas segala yang terjadi, meskipun tidak sesuai apa yang kita inginkan.

18. “Orang yang berdoa tanpa beramal sama halnya seperti memanah tanpa busur”

Bagaimana kita bisa memanah sesuai sasaran jika tak ada busur? Mustahil! Begitu pula saat kita berdoa, bagaimana doa bisa menjadi nyata jika tidak dibarengi dengan usaha?

Ali bin Abi Thalib ingin mengingatkan bahwa doa kita mungkin bisa sampai ke langit, tapi apa yang kita doakan tidak serta merta langsung turun dari langit pula. Semuanya sudah tersedia di bumi, doa hanyalah alat untuk memudahkan kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

19. “Orang yang terlalu memikirkan akibat dari suatu keputusan atau tindakan, maka Ia tidak akan pernah menjadi orang berani”

Jika kita ingin mengerjakan sesuatu, lalu berpikir panjang dan berulang-ulang, maka semakin lama kita akan merasa takut untuk mengerjakannya.

Sebab pikiran kita sangatlah acak dan selalu menghadirkan begitu banyak opsi yang tidak ketebak. Maka dari itu, ambil saja keputusan yang sudah kita yakini sejak awal. Jangan terlalu banyak mikir, kalau salah nanti bisa diperbaiki.

20. “Kesempatan datang bagai awan yang berlalu. Pergunakanlah ketika Ia nampak dihadapanmu”

Kesempatan yang kita miliki akan segera hilang, maka ketika ia datang jangan pernah sia-siakan. Ali bin Abi Thalib mengibaratkannya seperti awan yang berlalu, jika saja kita perhatikan awan dilangit, ia mungkin bergerak lambat tapi pasti dan kita tidak bisa menghentikannya.

21. “Tetaplah berhubungan orang-orang yang melupakanmu, dan ampuni yang bersalah padamu”

Kita perlu tetap menjaga hubungan dengan orang-orang, bahkan dengan orang yang sudah melupakan kita. Selain itu, maafkanlah kesalahan orang lain dan tetaplah jalin kebersamaan.

22. “Sebagian obat justru menjadi penyebab datangnya penyakit, sebagaimana sesuatu yang menyakitkan adakalanya menjadi obat penyembuh”

Kadang-kadang sesuatu yang kita anggap bisa mengobati rasa sakit justru malah membawa penyakit baru. Sesuatu yang kita anggap sebagai solusi terkadang justru menjadi awal mula suatu masalah,

Hal itu sama saja seperti ketika hidup memberikan kita cobaan, memang terasa menyakitkan namun justru karena itu kita jadilah kuat.

23. “Kemarahan dimulai dengan kegilaan dan diakhiri dengan penyesalan”

Kegilaan dari orang yang marah adalah mengucapkan kata-kata yang kasar dan tidak sepantasnya, terkadang juga diikuti dengan tindakan yang tidak biasa juga berbahaya.

Sementara setelah kemarahan reda, biasanya penyesalan mulai muncul. Menyesal karena sudah berkata-kata dan melakukan tindakan yang tidak baik. Maka jika kita ingin marah, tahanlah, sebab semua itu hanya tipu daya setan.

24. “Orang yang cantik tidak selalu baik, tapi orang yang baik selalu terlihat cantik”

Orang yang fisiknya menarik, wajahnya enak dipandang mata dan penampilannya bagus tidak selalu mencerminkan bahwa hatinya sebaik apa yang terlihat diluarnya.

Tapi orang yang hatinya baik, meskipun penampilannya biasa saja ia tetap indah dipandang mata.

25. “Seorang teman belum dianggap teman kecuali setelah diuji 3 perkara: Saat kamu membutuhkan, Saat Ia dibelakangmu. dan Setelah kematian.

Dalam pertemanan ada level kedekatan yang berbeda-beda. Menurut Ali bin Abi Thalib, sebenar-benarnya teman adalah mereka yang ada saat kita butuh, mereka yang menjaga nama baik kita di belakang, dan mereka yang mendoakan kita setelah mati.

Maka bisa di artikan bahwa teman sejati adalah mereka yang tidak hanya baik di depan kita, tetapi juga dibelakang. Bahkan tetap menemani kita dengan doa-doanya saat kita telah tiada.

26. “Lihatlah yang buruk dalam dirimu dan lihatlah yang baik dalam diri orang lain”

Kita terlalu fokus pada kelebihan dan sisi baik yang kita miliki, sampai lupa bahwa kita masih memiliki banyak sekali kekurangan. Maka sesekali lihatlah sisi buruk pada diri sendiri agar kita tahu apa yang perlu diperbaiki dan tidak menjadi sombong.

Sementara dalam menilai orang lain, jangan melihat sisi buruknya tetapi lihatlah kebaikannya agar tak ada benci dan cinta kasih tetap terjaga.

27. “Tidak ada yang lebih menyakitkan jiwa dan hati selain hidup diantara orang-orang yang tidak memahami kita”

Jika yang paling pahit dalam hidup adalah berharap pada manusia, maka yang paling menyakitkan jiwa dan hati adalah hidup diantara orang-orang yang tidak memahami kita.

Kamu sendiri pasti pernah merasakannya ditengah keluarga atau pertemanan. Bagaimana dirimu memikirkan sesuatu dan ingin melakukan suatu hal besar, tapi banyak orang yang tidak setuju karena mereka tidak memahami kamu.

28. “Seorang yang riyaa (suka pamer) memiliki tiga karakteristik: Dia malas ketika sedang sendirian, energik ketika di keramaian, dan bertindak lebih banyak ketika dipuji tapi berkurang ketika di kritik.”

Orang yang suka pamer biasanya sangat senang mendengar pujian dari orang lain, sehingga ia menjadi lebih energik ketika berada di keramaian. Tapi kekurangannya mereka akan menjadi malas ketika sendirian karena tak akan ada orang yang memuji.

Maka kita jangan seperti mereka yang suka pamer, jangan melakukan sesuatu untuk mendapatkan pujian, tapi kerjakanlah karena dorongan dari dalam jiwa kita sendiri sehingga dipuji atau dicaci kita tetap semangat untuk mengerjakannya.

29. “Dua hal yang menyebabkan kehancuran: Takut akan kemiskinan dan mencari keunggulan dari kesombongan”

Kita akan hancur jika takut miskin. Sebab orang-orang yang takut miskin biasanya memilih jalan pintas untuk menjadi kaya dan melakukan hal-hal bodoh demi menghindari ketakutan.

Lantas demikian pula orang yang mencari keunggulan dari kesombongan, yaitu mereka yang menjatuhkan harga diri orang lain agar dirinya terlihat lebih unggul. Mereka akan hancur, tinggal menunggu waktunya saja!

30. “Jangan melibatkan hatimu atas kesedihan masa lalu atau Kamu tidak akan siap dengan apa yang akan datang”

Jangan bersedih mengenang masa lalu, karena masa lalu tidak dapat diubah. Fokus lah pada hidup yang sekarang, yang saat ini dijalani; lakukan yang terbaik agar kita siap menghadapi hari yang akan datang.

Jika kita terus bersedih karena masa lalu, maka waktu yang kita miliki sekarang akan terbuang percuma, sementara hari esok sudah menunggu kita dengan segala hal yang tidak terduga. Apakah kita akan siap?

Baca Juga :

Jika kita terlalu gegabah dan sembrono dalam berpikir, kita akan mudah sekali dihancurkan dalam hidup. Inilah pentingnya belajar dan memetik hikmah dari petuah-petuah yang diberikan oleh orang-orang terdahulu seperti Ali bin Abi Thalib.

Sekianlah kumpulan quotes bijak Ali bin Abi Thalib yang menyentuh hati. Semoga bermanfaat!