in ,

4 Kesalahan Pola Asuh Yang Menurunkan Kepercayaan Diri Anak

Kesalahan Pola Asuh
Kesalahan Pola Asuh

Kepercayaan diri pada anak dapat ditumbuhkan dengan pola asuh yang tepat. Pasalnya tanpa disadari banyak sikap orang tua yang dapat membuat kepercayaan diri anak menciut. Tentu anda tidak menginginkan anak menjadi tertutup dari anda dan lingkungannya bukan.

Menjalani peran sebagai orang tua memang tidak mudah. Salah sedikit saja dari sikap anda kepada anak akan terbawa dan teringat oleh anak seumur hidupnya. Apalagi jika hal tersebut merupakan hal negatif dari pola asuh.

Maka ini akan memengaruhi sisi psikologisnya baik di masa sekarang maupun di masa mendatang. Psikis anak yang terganggu pada masa depan adalah akibat dari sikap yang ia terima di masa kecil.

Untuk itu sebagai orang tua diharapkan sangat berhati-hati menyikapi dan menyampaikan kata-kata kepada anak. Karena pola asuh tidak hanya membantu anak bertumbuh dengan hal-hal duniawi saja. Tetapi juga termasuk mengajari anak untuk mengenal berbagai jenis emosi yang ada dan cara mengendalikannya.

Termasuk juga dengan kepercayaan diri dan self-esteem anak. Dua hal ini akan terbentuk berdasarkan bagaimana cara orang tua dan keluarga menyikapi anak dalam kehidupan sehari-hari. Jika kedua hal ini terbentuk secara tepat dan kuat maka anak akan dengan mudah menyelesaikan dan menghadapi permasalahannya dengan baik.

Nah, jika kita tida hati-hati bisa saja perlakuan dan perkataan kepada anak justru akan menyakitinya. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang sedang mereka pikirkan dan bagaimana batasan diri dari anak. Karena anak-anak memiliki karakteristiknya masing-masing.

Lalu sikap apa saja yang sekiranya dapat menyakiti harga diri anak sehingga kepercayaan dirinya tidak terbentuk dengan baik?.

1. Membentak Anak

Membentak Anak
Membentak Anak Via Brightside.me

Berbicara pada anak menggunakan intonasi tinggi dan bahasa tubuh yang menunjukkan kemarahan akan membuat psikis anak terganggu.

Bentakan dan teriakan pada anak akan diproses oleh sistem syaraf lho.

Anak akan dibuat ketakutan akan hal tersebut sehingga rasa takut akan memicu peningkatan produksi hormon kortisol pada otak anak.

Ketika hormon ini meningkat, maka sambungan neuron akan putus. Kemudian akan terjadi kematian apoptosis yang menyebabkan proses berpikir anak terganggu.

Akibatnya anak akan sulit mengambil keputusan, sulit konsentrasi dan akhirnya anak akan kehilangan kepercayaan dirinya.

Hal ini akan melemahkan anak anda.

Meski dengan bentakan ini anak akan cenderung mengikuti kemauan orang tua, tetapi hal ini hanya akan berlaku dalam jangka waktu yang singkat.

Anak melakukannya karena takut, bukan akrena mereka menyadari bahwa perilaku A akan menyebabkan konsekuensi B.

Terlebih lagi ketakutan karena dibentak ini akan membuat anak menjadi tidak berani dan cenderung menghindari masalah.

2. Mengungkit Kesalahan Anak

Mengungkit Kesalahan Anak
Mengungkit Kesalahan Anak

Anak merupakan individu yang akan terus belajar.

Bagaimana caranya? Mereka akan melakukan kesalahan terlebih dahulu dan memperbaikinya dengan perilaku, respon dan sikap yang baru.

Ketika anak melakukan kesalahan dan menyelesaikan permasalahan tersebut sebaiknya jangan diungkit di kemudian hari.

Karena hal ini justru akan membuat anak mempelajari untuk mengingat semua hal negatif dari seseorang. Akibatnya anak akan menjadi pribadi yang pendendam pada orang lain yang berbuat kesalahan padanya.

Efeknya tidak main-main. Bisa terjadi untuk jangka waktu yang lama. Sebaiknya ketika anak melakukan kesalahan berikan ia nasehat dan motivasi di mana semua kalimat dan gesture dari anda adalah positif.

Bukan untuk mentolerir kesalahannya. Namun untuk mengajarkannya bahwa kesalahan bisa diperbaiki dan tidak untuk diulang. Sehingga anak akan merasa berharga dan kepercayaan diri mereka terbentuk dengan baik.

3. Menyudutkan Anak

Menyudutkan Anak
Menyudutkan Anak

Kita sebagai orang dewasa tentu tidak menyukai ketika sedang merasa disudutkan oleh orang lain. Tidak terkecuali dengan anak.

Mereka juga individu utuh yang pernah melakukan kesalahan. Terkadang ada sikap kita sebagai orang tua yang dapat menyudutkan anak.

Contoh sederhananya adalah ketika anak tidak sengaja menumpahkan makanan di meja karena tersenggol ketika bermain.

Alih-alih mengajarkannya untuk membersihkan makanan yang tumpah tersebut. Anda justru mengoceh dan mungkin tidak sengaja mengatakan hal yang tidak ingin didengar oleh anak.

Misalnya “lihat nih mama capek-capek masak makanannya ditumpahin, piringnya pecah pula”.

Dengan mengatakan hal tersebut, anak yang sudah menyadari kesalahannya justru akan merasa semakin bersalah dan memilih diam.

Hal ini akan membuat anak menjadi pribadi yang kurang memiliki kepercayaan diri untuk mengeksplor sesuatu. Ketika anak melakukan kesalahan, berikan pemahaman pada anak untuk memperbaiki kesalahannya.

Dengan kata lain dibutuhkan validasi perasaan pada anak yang melakukan kesalahan.

Jika anda hanya marah-marah tanpa mengajarkan untuk memperbaikinya anak akan takut untuk mendekati anda dan mereka justru akan menjauh karena orang tua tidak pernah merasa puas dan anak juga akan merasa tidak becus dalam melakukan sesuatu.

Efeknya ia akan memilih diam, tertutup dan menjauh daripada harus melakukan kesalahan lagi. Pasti anak merasa tertekan dan stres jika sudah masuk dalam fase ini.

Jadi, sebaiknya tetap dukung anak dan ajari ia untuk memperbaiki kesalahannya. Dengan demikian anak juga akan belajar tanggung jawab dan risiko dari perilakunya.

Hal ini penting untuk bekalnya di masa depan nanti.

4. Menyindir

Menyindir Anak
Menyindir Anak

Ada pola asuh membentak, ada pula pola asuh yang tidak membentak namun menyindir anak. Hal ini berkaitan dengan perilaku passive-aggressive dari orang tua terhadap anak.

Mungkin orang tua tidak tega untuk membentak namun merasa kesal sekali dengan anak.

Sehingga orang tua tidak sadar justru menyindir anak ketika melakukan kesalahan. Biasanya sindirian ini bisa dilakukan dengan dua cara verbal.

Yang pertama menyindir dengan kalimat yang tepat seperti “gelas dipecahin terus” ketika mereka memecahkan gelas.

Kedua menyindir dengan kalimat berkebalikan seperti “kamu pinter banget ngurangin gelas mama di rumah”. Hati-hati ya moms, dua kalimat ini negatif untuk anak apalagi disampaikan dengan cara menyindir.

Anak tidak akan peka jika anda sindir. Jika hal ini terjadi secara continue, dikhawatirkan anak akan menjadi pendiam dan terhambat komunikasi antar orang tua dan anak.

Karena anak sebenarnya mengetahui bahwa mereka melakukan kesalahan.

Hanya saja mungkin mereka belum mengetahui bagaimana berespon terhadap kesalahannya dan bagaimana memperbaikinya.

Kemudian anda datang dan berespon dengan sindiran-sindiran yang tidak perlu. Hal ini akan lebih menyakitkan anak lho.

Apalagi jika ia berespon terhadap sindiran anda tetapi anda justru merespon sebaliknya atas tanggappannya pada sindiran anda.

Di sinilah perilaku passive-aggressive orang tua muncul. Anak akan kehilangan kepercayaan dirinya karena merasa tidak dihargai.

Selain itu sindiran tidak akan membuat anak menjadi penurut. Tetapi justru membuat anak menjadi lebih tertutup.

Apalagi jika sindiran dan kemarahan anda dilakukan di hadapan orang lain. Anak akan merasa malu dan menganggap anda tidak menyayanginya lagi.

Tidak mudah menjadi orang tua karena kita perlu belajar terus menerus untuk kesehatan anak baik fisik maupun psikis. Karakteristik anak yang unik dan berbeda-beda membuat kita harus terus belajar untuk dapat menerapkan pola asuh yang tepat sasaran.

Sehingga anak akan dapat bertumbuh dengan lebih baik dan memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk menghadapi kehidupan di masa depan nanti. Hindari kalimat negatif, perbanyak kalimat positif. Hindari passive-aggressive, buatlah diskusi secara langsung dengan anak. Hal ini akan memudahkan orang tua untuk memahami anak dengan baik.

Written by Rima Mustika

Adult clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.