in

6 Hal yang Perlu Diperhatikan Menangani Anak Autis

Menangani Anak Autis
Menangani Anak Autis

Autis merupakan salah satu gangguan psikologis pada anak yang sudah tidak asing lagi di telinga kita.

Gangguan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal yakni lingkungan dan kemungkinan riwayat keturunan keluarga. Anak dengan autism harus didampingi dan ditangani dengan baik.

Sering kita mendengar gurauan sesama teman yang sedang berkumpul dan menyebut salah satu temannya dengan autis.

Hal ini disebabkan oleh perilaku orang tersebut yang mungkin tidak biasa bagi mereka namun masih dalam batas yang bisa ditolerir. Sehingga mereka menyebutnya dengan autis.

Hal ini hendaknya dihindari meskipun dalam konteks gurauan karena autisme bukanlah sekedar kata biasa.

A. Gajala Anak Autis

Gejala Anak Autis
Gejala Anak Autis

Gejala yang dapat ditemukan pada anak dengan autisme adalah terlambat bicara, adanya keterlambatan dari gerak fisik motorik, kesulitan mengucap dan memahami kata atau kalimat namun bukan disleksia, kurang konsentrasi, tidak dapat melakukan kontak mata, hingga interaksi sosial yang kurang baik.

Dilihat dari gejalanya tentu dapat dibedakan dengan orang normal yang berperilaku wajar. Kecenderungan anak dengan autisme dari gejala tersebut dapat menuntun perilaku anak pada sikap impulsif dan agresif.

Mereka sering tidak memikirkan resiko atas perbuatan yang telah dilakukan.

Sebagai orang tua dengan anak autisme tentu tidak mudah. Keseharian yang biasa lelah akan menjadi tantangan karena harus menyiapkan energi lebih banyak dari biasanya.

Dibutuhkan acceptance yang menyeluruh secara mental dan fisik untuk dapat menghadapi anak dengan autisme ini.

Dilansir dari kementerian pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Indonesia, prevalensi autisme yang terjadi sekitar 2,4 juta orang dengan pertumbuhan sebanyak 500 jiwa setahun.

Cukup banyak kasus autisme di sekitar kita namun jarang yang aware terhadap masalah serius ini.

B. Tips Menangani Anak Autis

Tips Menangani Anak Autis
Tips Menangani Anak Autis

Jika anda adalah orang tua, keluarga, saudara, atau relawan pada bidang ini tentu membutuhkan pengetahuan mengenai pendampingan dan cara menangani anak autisme yang baik.

Untuk itu, anda dapat menyimak beberapa cara penanganan autisme berikut ini.

1. Mengumpulkan Informasi

Menangani anak  austime membutuhkan informasi yang banyak, kuat, serta tepat. Sebaiknya jangan berlandaskan pengalaman otodidak orang lain dalam menangani anak autisme.

Anda dapat mencari informasi pada ahlinya seperti psikolog dan psikiater untuk kemudian mendiskusikan mengenai seluk beluk mengenai autisme.

Tak kenal maka tak sayang, sekiranya pepatah tersebut benar adanya. Anda harus mengenal terlebih dahulu mulai dari penyebab hingga penanganan terhadap anak autisme.

Jika anda telah mengenal dan mempelajari informasi yang didapatkan, maka anda akan dengan mudah berproses dalam fase acceptance.

Hal ini yang kemudian akan memudahkan anda untuk mendampingi si anak dan memberikan penanganan yang baik serta tepat. Damping anak dengan baik dan jangan ragu untuk terus belajar mengenai gangguan ini.

Anda dapat berdiskusi dengan psikolog mengenai autisme berdasarkan The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders atau DSM.

2. Memilih Terapi

Setelah anda mencari informasi terkait dengan pasti dari sumber yang tepat, anda akan dihadapkan pada penanganan anak autisme yakni terapi. Ya, anak dengan autisme membutuhkan terapi yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi diri mereka.

Ada beberapa terapi yang dapat anda pilih tentunya sesuai dengan rujukan dari ahlinya. Adapun terapi yang bertujuan untuk menangani anak autisme tersebut adalah terapi wicara, terapi okupasi, terapi perilaku dan terapi pendidikan.

Ketika anak dengan autisme terlambat bicara, anda dapat memilih terapi wicara agar anak dapat berkomunikasi dengan baik. Tentunya setelah melalui assessment terlebih dahulu. Perlunya assessment bertujuan agar terapi yang diberikan tidak asal dan tepat.

Terlepas dari terlambat bicara, anak dengan autisme memang memiliki keterlambatan dalam berbagai hal dibandingkan dengan anak pada umumnya.

Terapi okupasi berguna untuk memperbaiki perkembangan sistem motorik halus pada anak dengan autisme. Hal ini akan berpengaruh pada kegiatan sehari-hari si anak.

Terapi lain yakni terapi perilaku yang bertujuan untuk membantu memberikan solusi pada perilaku anak karena pada umumnya anak dengan gangguan autisme memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap cahaya, suara dan sentuhan.

Terapi pendidikan juga dibutuhkan untuk melengkapi bagian akademik mereka. Karena anak dengan autisme juga bisa hidup dan berkegiatan seperti anak pada umumnya hanya saja mereka membutuhkan waktu dan proses yang lebih panjang.

Baca Juga : Ketahui Apa Saja Perbedaan Antara Psikiater, Psikolog dan Konselor

3. Hindari Membandingkan Anak

Seringkali ketika orang tua mengetahui bahwa anaknya menderita gangguan autisme, secara otomatis mereka akan membedakan si anak dari segi sekolah dan lingkungannya. Di sini lah peran assessment dibutuhkan.

Jika hasilnya menunjukkan bahwa anak masih mampu mengikuti pendidikan di sekolah umum, maka sebaiknya berikan mereka kesempatan untuk bersekolah layaknya anak pada umumnya.

Pada beberapa kasus hal ini justru dapat membantu anak menyempurnakan terapi yang diterima.

Jangan lupa untuk mengingat batas kemampuan anak ya. Hindari juga membandingkan anak dengan anak lain. Ingat, mereka lebih perasa dibandingkan anak lain. Hal kecil saja kadang dapat melukai hati mereka sehingga tidak jarang mereka tantrum tidak pada tempatnya.

4. Mencari Dukungan

Anda sebaiknya mencari dukungan untuk diri dan juga anak. Dukungan dari orang-orang terdekat sangat penting untuk kesehatan mental anda dan anak. Anda yang dengan siap siaga 24/7 mendukung anak, membutuhkan dukungan pula dari pihak lain.

Diskusikan kondisi ini dengan pasangan, keluarga, dan juga sahabat yang anda percayai. Memang sekilas terlihat kecil namun memiliki efek yang luar biasa besar.

Jangan lupa untuk tidak segan meminta pertolongan kepada mereka. Karena itu lah gunanya dukungan dari orang-orang sekitar anda mengingat proses menangani anak autisme bukanlah hal mudah dan cepat.

Baca Juga : Tantrum Pada Anak: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

5. Alternatif Pengobatan

Selain terapi dari segi psikologis, anda juga dapat mencari informasi mengenai alternatif pengobatan. Ada beberapa hal yang membarengi gangguan autisme ini. Umumnya anak dengan gangguan autisme mudah sekali cemas hingga depresi.

Selain itu mereka juga sering susah tidur dan perilakunya cenderung agresif. Beberapa kasus bahkan ada yang dibarengi dengan epilepsy. Jika memang terjadi hal-hal tersebut, anda dapat mencari bantuan pengobatan untuk mengurangi komplikasi di atas terjadi.

Ada pula yang melakukan akupuntur kepada anak meski belum terbukti efektif sebagai penunjang terapi. Penanganan ini harus dibarengi dengan pola makan dan contoh perilaku dari orang tua yang baik karena mereka akan dengan mudah meniru anda.

Pikirkan matang-matang mengenai perkataan yang akan anda ucapkan dan perilaku yang akan anda contohkan ketika menangani anak dengan autisme ini.

6. Bergabung Dengan Komunitas

Anda dapat mencari informasi mengenai kelompok atau komunitas penyandang autisme. Hal ini dilakukan untuk menambah wawasan dan dukungan bagi anda, anak dan keluarga.

Karena didalam komunitas ini tentu terdapat banyak orang tua yang mengalami hal yang sama yakni menangani anak autisme.

Di Indonesia sendiri sudah banyak komunitas autisme yang dapat anda ikuti. Anda juga dapat ikut serta memperingati hari autisme sedunia yang dilakukan pada tanggal 2 April setiap tahunnya.

Anda dapat bertukar informasi mengenai anak anda dan belajar tentang pengetahuan baru mengenai gangguan autisme. Hal yang tidak disadari terjadi ketika anda bergabung dengan komunitas ini adalah anda dapat menjadi lebih percaya diri dan bersemangat untuk mendampingi anak.

Semangat dan motivasi kuat sangat dibutuhkan sebagai pendamping anak dengan autisme. Nantinya anda akan dengan mudah beradaptasi dengan kebiasaan merawat anak dengan gangguan autisme ini.

Persiapkan diri anda baik dari segi mental maupun fisik agar lebih siap dan cepat dalam proses acceptance.

Baca Juga : Cara Mengatasi Kesulitan Belajar Menulis Pada Anak Usia Dini

Jangan berkecil hati jika anda memiliki anak dengan gangguan autisme karena anda tidak sendirian. Begitu banyak lingkup yang bisa anda raih dan mendukung anda menjadi bagian dari mereka. Perjuangan bersama tentu menjadi lebih semangat bukan.

Written by Rima Mustika

Adult clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.