in

Mengenal Stigma Terhadap ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa)

Stigma Terhadap ODGJ

Hah kamu depresi? Halah drama! paling cuma sedih bentar doang!

Eh jangan dideketin dia itu gila!

Kamu tuh kaya gini karena iman kamu lemah!, sujudmu kurang lama. Sama coba deh kamu banyakin bersyukur…

Sering dengar ucapan di atas? itulah beberapa contoh dari sekian banyak bentuk stigma yang sering dihadapi oleh orang yang sedang menderita gangguan kesehatan mental atau biasa disingkat ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).

Dalam penelitian yang lakukan oleh (Setiawati, E. M, 2012) mengungkapkan bahwa orang dengan gangguan jiwa masih saja banyak mengalami stigma (labeling, stereotipe, pengucilan, dan diskriminasi) sehingga mempersulit proses kesembuhan dan kesejahteraan hidupnya. Stigma yang diberikan oleh masyarakat adalah menganggap ODGJ berbeda, tidak kompeten, hingga dikucilkan.

Apa sih Stigma itu?

Apa Itu Stigma?
Apa Itu Stigma?

Stigma merupakan tanda atau persepsi negatif tekait suatu isu atau masalah tertentu.

Apa saja bentuk stigma?

Social stigma : yakni stereotipe-stereotipe yang ada di masyarakat, atau persepsi negatif publik terkait masalah kesehatan jiwa.

Self stigma : adalah bentuk internalisasi stigma sosial terhadap diri sendiri. Orang yang distigma, akhirnya meng-aminkan persepsi negatif publik itu kepada diri penderita. Atau sebuah keadaan dimana seseorang yang memiliki gangguan kesehatan mental mengglorify segala stereotipe yang ada.

Apa Saja Komponen Stigma?

  1. Stereotipe : bukan hanya melekat pada stigma terkait ODGJ saja tetapi juga lebih kepada kepercayaan negatif (negative belief) terhadap satu kelompok. Contoh stereotipe yang sering terjadi pada kasus ODGJ adalah:
    • Menganggap bahwa orang yang memiliki gangguan kejiwaan berbahaya
    • Tidak kompeten
    • Kurang iman/berdoa
    • Kepribadian lemah

Dan dari stereotipe lama-lama bisa berkembang menjadi prejudice.

  1. Prejudice : merupakan komponen yang menimbulkan reaksi emosional, prejudis timbul sebagai bentuk persetujuan terhadap stereotipe sehingga timbul reaksi emosional. Contoh prejudis terhadap orang dengan masalah kesehatan mental :
    • Takut/jijik
    • Tidak percaya
    • Marah
  1. Diskriminasi : adalah bentuk atau suatu tindakan yang lahir akibat respon dari prejudis yang sudah terjadi di masyarakat. Contoh tindakan diskriminasi terhadap orang dengan masalah kesehatan mental :
    • Tindakan mengucilkan
    • Tidak memberikan kesempatan untuk berkarya
    • Dipasung

Apa saja akibat dari sosial stigma terhadap self stigma?

  • Akibat dari stigma tersebut, ODGJ menanggung konsekuensi kesehatan dan sosio-kultural, seperti: penanganan yang tidak maksimal, drop-out penggunan obat, pemasungan, dan pemahaman yang berbeda terhadap gangguan jiwa.
  • Stigma keluarga, stigma yang dialami oleh anggota keluarga berdampak negatif terhadap kesembuhan ODGJ karena menyebabkan sedih, kasihan, malu, kaget, jengkel, merasa terpukul, tidak tenang, dan saling menyalahkan (Subandi & Utami, M. S, 1996). Yang pada akhirnya akan mempengaruhi kualitas pengobatan yang diberikan kepada ODGJ.
  • Jika sudah terbentuk suatu stigma atau stereotipe yang salah di masyarakat, secara otomatis kemungkinan kita juga bisa bereaksi secara salah. Menganggap bahwa orang yang memiliki gangguan kesehatan mental itu tidak kompeten, tidak stabil, tidak kuat iman, hidupnya kacau, serta mengaitkan segala sesuatu hal yang jelek dengan kondisinya. Padahal sejatinya yang seperti ini bisa saja tidak akurat. Kita cenderung menjadi jijik, marah, tidak mau bergaul, atau bahkan tidak ingin memberikan tanggung jawab/pekerjaan, yang berakhir kepada tindakan diskriminatif.

Apa saja dampak yang terjadi pada orang-orang yang di stigma?

  • Mengalami perasaan kesepian
  • Terisolasi
  • Terkucilkan

Dan ini akan membahayakan diri mereka sendiri. Yang pada akhirnya akan melahirkan kecenderungan-kecenderungan :

  • Tidak mau berobat dan mengunjungi profesional, ex : Psikolog/Psikiater (Padahal obat (farmakoterapi) dan Psikoterapi merupakan komponen terpenting dalam proses kestabilan ODGJ.
  • Self Distructive Behavior, seperti :
    • Penyalahgunaan NAPZA
    • Alkohol
    • Self harm/self cutting
    • Bunuh diri

Kenapa stigma bisa beredar luas?

Alasan Stigma Beredar Luas
Alasan Stigma Beredar Luas
  • Minimnya info/literasi terkait permasalahan kesehatan jiwa. Ketika seseorang tidak faham/tidak tahu akan sesuatu, manusia cenderung akan bereaksi secara salah. Yang mana reaksi yang timbul itu biasanya berupa rasa takut atau bingung.
  • Adanya peran dari media massa. Media massa dapat dengan mudahnya membentuk suatu opini dan persepsi masyarakat, hal ini dapat terjadi ketika media massa membawa informasi yang keliru atau membawa informasi yang tidak akurat terkait masalah kesehatan mental. Sebagai contoh : Orang yang memiliki skizofrenia biasanya dikaitkan dengan perilaku yang jahat, suka menyerang, menculik, menyiksa, yang sebenarnya ini tidaklah akurat. Adanya kepentingan sebuah penilaian dan popularitas, melahirkan persepsi yang keliru terkait orang dengan gangguan jiwa di masyarakat.
  • Selain itu dalam penelitian yang dilakukan oleh (Yohanes Kartika Herdiyanto dkk., 2017) mengungkapkan bahwa kepercayaan yang berasal dari agama dan budaya membawa pengaruh terhadap munculnya stigma terhadap ODGJ.

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah stigma yang sudah ada di masyarakat?

  • Edukasi : Para peneliti berpendapat dan setuju bahwa memberikan edukasi merupakan upaya yang sangat efektif yang bisa dilakukan untuk mengurangi stigma yang ada dimasyarakat. Masyarakat bisa menjadi lebih faham, berempati, dan secara sadar menahan diri mereka sendiri untuk tidak melakukan diskriminasi maupun stigma negatif kedepannya.
  • Kontak : Mempertemukan orang-orang yang memiliki masalah kesehatan mental dengan masyarakat/publik. Hal ini berguna sebagai testimoni. Mempertemukan orang yang tidak memiliki masalah kesehatan jiwa, dengan ODGJ. Baik itu dengan menjalin kerjasama maupun saling melihat keseharian satu sama lain. Hal ini berguna untuk melihat bahwa ketika ODGJ diberikan support, terapi dan pengobatan yang benar, mereka dapat bersosialisasi, berkarya, serta menjalankan fungsi mereka di masyarakat dengan baik.
  • Protes : Hal ini bisa ditunjukan kepada media massa dan masyarakat. Biasanya dilakukan oleh suatu komunitas/organisasi kelompok-kelompok tertentu.

Mengetahui isu terkait gangguan kesehatan mental sama urgensinya dengan mengetahui gangguan kesehatan fisik. Oleh karenanya, memahami isu terkait ODGJ merupakan langkah yang bijak dalam menurunkan stigma negatif yang ada dimasyarakat. Selain itu, dengan mengetahui isu seputar ODGJ kita juga dapat meningkatkan minimal kesadaran dalam menjaga kesehatan mental diri dan lingkungan kita.

Salam sadar.

Rujukan

Setiawati, E. M. (2012). Studi Kualitatif tentang Sikap Keluarga terhadap Pasien Gangguan Jiwa di Wilayah Kecamatan Sukoharjo. Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Subandi, & Utami, M. S. (1996). Pola Perilaku Mencari Bantuan pada Keluarga Pasien Gangguan Jiwa. Jurnal Psikologi, 2, 1–10.

Yohanes Kartika Herdiyanto, David Hizkia Tobing, & Naomi Vembriati. (2017). Stigma Terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa di Bali. INQUIRY Jurnal Ilmiah Psikologi, 8(2), 121–132.

Written by Sari Puteri Deta Larasati

Your Psychotherapist, healing you with soul.