in

Mengenal Teknik Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dalam Psikoterapi

Teknik Cognitive Behavioral Therapy

Pada hakikatnya manusia merupakan makhluk yang holistik. Artinya ia tidak hanya terbentuk dari sebuah proses biologis semata, melainkan gabungan dari proses biologis-psikologis-sosial-spiritual-budaya. Akibatnya, kerentanan manusia dalam terkena suatu penyakit bisa saja meliputi berbagai macam faktor.

Sama halnya ketika terkena penyakit fisik, manusia juga punya kerentanan terhadap penyakit mental. Dibalik keberagaman penyakit mental yang sudah banyak dibahas oleh pakar-pakar psikologis, mereka juga banyak berinovasi dalam mengembangkan metode terapi psikologis dalam mencegah parahnya kekambuhan dalam proses penyakit mental.

Salah satunya adalah Cognitive Behavioral Therapy.

Apa itu Cognitive Behavioral Therapy (CBT) ?

Cognitive Behavioral Therapy yang selanjutnya disingkat CBT, merupakan sebuah proses terapi psikologis yang menggabungkan antara terapi kognitif dengan terapi perilaku (behavior). CBT ditemukan oleh Aaron Beck pada tahun 1950-an.

Karakteristik dari CBT yakni tidak hanya menekankan pada perubahan individu dari sisi kognitif saja, tetapi juga fokus kepada perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Selain itu dalam (Yusuf dkk., 2011), CBT bertujuan untuk membantu seseorang dalam memecahkan permasalahan mengenai disfungsi emosional, perilaku dan kognisi secara sistematis.

CBT percaya bahwa klien akan berubah bila mereka belajar untuk berpikir secara berbeda. Oleh karena itu, terapis lebih memfokuskan diri pada upaya mengajarkan keterampilan self-counseling yang rasional.

Prinsip Dasar dari CBT

  • Mensederhanakan masalah : Hal terpenting dari CBT sendiri adalah dengan mensederhanakan masalah. Seringkali individu merasa bahwa permasalahan yang dideritanya merupakan hal yang sangat berat dan rumit. Disini, terapis mencoba untuk memilah dan memecahkan masalah berdasarkan fokus kepada permasalahan saat ini.
  • Here and Now : Terapis akan menuntun klien untuk fokus kepada masalah “saat ini” dan momen sekarang. Seperti “apa yang bisa klien lakukan sekarang?”. Klien tidak lagi membicarakan tentang permasalahan masa lalu, seperti halnya peristiwa traumatik di masa kecil.
  • Persistent to Do it : Klien akan diajak untuk memusatkan perhatiannya kepada tugas-tugas yang diberikan oleh terapis serta konsisten dan persisten dalam melakukan perubahan. Seperti mencoba/mengubah kebiasaan buruk atau mengubah pikiran-pikiran negatif kepada pemahaman dan cara berpikir yang baru.
  • Mengedukasi : Terapis akan memberikan pemahaman terkait resistensi/keengganan klien dalam berproses. Hal terpenting dari CBT sendiri adalah berproses. Sehingga ketika klien mengalami kegagalan, ia tidak melihat itu sebagai proses akhir, melainkan karena adanya proses yang tidak sempurna. Dalam hal ini klien akan berproses secara lebih percaya diri.
  • Mempelajari dan Mencoba : Disini klien diajarkan untuk mengenali bagaimana respon emosi negatifnya, serta bagaimana respon perilaku klien dengan mengajaknya hal yang baru. Terapis akan membantu dalam mengarahkan klien kepada shortcut yang baru ketika menghadapi suatu stresor/permasalahan baru.

Apa saja Tata Laksana Terapi CBT?

CBT dalam aplikasiannya banyak dilakukan untuk kasus-kasus yang beragam. Khususnya, dalam kasus gangguan mood, distorsi kognitif, gangguan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif, serta gangguan spesifik lainnya.

Dalam kasus gejala depresi, (Butler dkk., 2006) menyebutkan bahwa CBT memiliki kefektifitasan yang tinggi dibanding dengan obat antidepresan. Selain itu, banyak penelitian lain yang mengungkapkan bahwa CBT efektif dalam menangani beberapa gangguan lain, seperti:

  • gangguan depresi
  • gangguan cemas
  • gangguan bipolar
  • gangguan makan
  • gangguan panik
  • phobia
  • PTSD (Post Traumatic Stress Disorder)
  • gangguan tidur
  • penyalahgunaan zat
  • schizophrenia
  • BPD (Borderline Personality Disorders)
  • psikosa, dan masih banyak lagi.

Komponen CBT

Dalam praktiknya CBT lebih memfokuskan kepada restrukturisasi kognitif, perilaku, emosi, dan sensasi fisik. Biasanya, pada kasus klien dengan depresi, bipolar, dan gangguan kecemasan, mereka cenderung berperilaku maladaptive atau (berperilaku dan merespon sesuatu secara salah).

Pikiran dan emosi yang salah pada akhirnya akan mempengaruhi tingkah laku individu. Oleh karena itu, pemberian terapi CBT bisa menjadi salah satu modalitas yang cocok dalam menangani kasus ini.

Kekurangan CBT

  • Berkomitmen secara penuh. Klien harus memiliki motivasi penuh dan diajarkan untuk melakukan perubahan secara konsisten dan sabar selama menjalani proses terapi.
  • CBT biasanya kurang efektif dilakukan pada kasus dengan disabilitas kognitif/intelektual.
  • Menghadapi permasalahan emosi dan kecemasan secara konfrontasi.
  • Keterbatasan waktu.
  • Pada kasus adiksi, depresi, bipolar, dan gangguan kecemasan, CBT harus disertai dengan penggunaan obat, hal ini karena CBT akan dapat berjalan ketika klien berada dalam kondisi emosi yang stabil.

Distorsi Kognitif sebagai Sasaran Terapi

Distorsi kognitif merupakan sebuah kesalahan/penyimpangan dalam proses berpikir. Perasaan individu seringkali dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan mengenai dirinya sendiri.

Hal ini dapat mengarahkan individu untuk melihat dunia dengan cara yang tidak objektif. Padahal, pikirannya tersebut belum tentu merupakan keadaan yang sebenarnya.

Contoh bentuk distorsi kognitif menurut (Burns, 1989) yaitu:

  • Over generalization: menganggap bahwa semua hal buruk yang sudah terjadi akan terus terulang. Ex : Orang yang pernah diselingkuhi menganggap bahwa semua orang yang menjadi pasangannya akan melakukan hal yang sama, sekalipun sudah menjalin hubungan dengan orang yang berbeda.
  • Personalization: menanggung kesalahan orang lain menjadi kesalahan dirinya. Merasa bahwa proses yang dilakukan tidak pernah maksimal, sehingga ia merasa seluruh proses dan tanggung jawabnya adalah gagal.
  • Dichotomous thinking: pikiran terpolarisasi, dalam hal ini baginya dunia hanyalah hitam dan putih, mutlak, sangat baik atau sangat buruk. Tidak ada istilah abu-abu, relatif, atau rata-rata.
  • Mind reading: menebak-nebak seolah bisa membaca fikiran/gesture orang lain. Ex : merasa tatapan orang lain seakan membenci, sehingga menimbulkan mispersepsi kepada orang lain terhadap dirinya sendiri.
  • Magnification or minimization: membesar-besarkan/meminimalisasikan. Merasa tidak punya kelebihan sekalipun diberikan fakta. Dalam hal ini individu cenderung sering menyangkal hal yang positif.
  • Penalaran emosional: sering merasa bahwa perasaannya adalah benar. Hal ini membuat klien menjadi tidak pernah mencapai titik maksimalnya, karena merasa selalu buruk.
  • Must statement: Pada bagian ini biasanya individu cenderung berpikir “all or nothing”/ “ya atau tidak sama sekali”. Ex : jika saya gagal di salah satu ujian, maka saya sudah jelas akan gagal di semua mata pelajaran.

Distorsi kognitif dapat menyebabkan sebuah tekanan psikologis yang dapat menganggu aktivitas dan keseharian individu. Karena sebuah kesalahan yang jika dibiarkan secara berulang akan menjadi kebiasaan yang dapat termanifestasi dalam perilaku keseharian kita.

CBT sendiri merupakan sebuah proses. Pada prosesnya, CBT tidak menawarkan hasil akhir yang instan. CBT lebih mementingkan penyelesaian masalah secara bermakna. Jika pada dasarnya perubahan tidak hanya cukup dilakukan oleh obat semata, maka perlu ada aspek lain yang perlu ditambah, yaitu motivasi dan kegigihan kita untuk berubah.

Rujukan

Burns, D. D. (1989). The Feeling Good Handbook: Using the mood Therapy in Everyday Life. W. Morrow.

Butler, A., Chapman, J., Forman, E., & Beck, A. (2006). The empirical status of cognitive-behavioral therapy: A review of meta-analyses. Clinical Psychology Review, 26(1), 17–31. https://doi.org/10.1016/j.cpr.2005.07.003

Yusuf, Umar, & Patrisia Reisa. (2011). Pengaruh Terapi Cognitive Behavior Therapy terhadap Kontrol Diri pada Residivis. Jurnal Intervensi Psikologi, 3(2).

Written by Sari Puteri Deta Larasati

Your Psychotherapist, healing you with soul.