in

Menghadapi Baby Shaming, Ini 5 Pesan Penting Bagi Orang Tua

Menghadapi Baby Shaming

Menghadapi baby shaming saat sekarang ini memang dirasakan cukup penting. Masalahnya di zaman yang serba online sekarang ini sangat mudah bagi seseorang untuk melontarkan komentar yang tidak dipikirkan dengan matang terlebih dahulu. Akibatnya, banyak sekali yang terkena dampak negatifnya. Tidak terkecuali pada bayi Anda.

Fenomena shaming ini kian merambah ke berbagai aspek dan sudut. Salah sedikit saja, maka perilaku shaming ini bisa muncul pada Anda. Terlepas dari apakah seseorang tersebut memang berniat untuk melontarkan kalimat shaming atau tidak, banyak faktor yang menyebabkan hal ini muncul. Salah satunya adalah faktor budaya yang masih kaku. Misalnya saja melihat seseorang di usia 30 tahun belum menikah, bisa terkena shaming lho.

Apalagi terhadap bayi yang dirasa tidak tumbuh secara normal. Tunggu dulu, normal ini sendiri definisinya seperti apa?. Karena berbeda kondisi orang tua pastinya akan berbeda pula anak yang dilahirkan. Yang diinginkan hanyalah bayi yang tumbuh dengan sehat dan bahagia. Bukan tumbuh karena ekspektasi orang lain yang tidak ikut andil dalam pola asuh dan biaya dari anak-anak Anda.

Menghadapi baby shaming ini memang susah-susah gampang. Karena peristiwa ini baru bermunculan pada masa sekarang-sekarang ini. Jadi bisa saja Anda belum terbiasa untuk merespon dengan baik situasi ini.

Shaming sendiri mengacu pada jenis bullying di mana perilakunya berasal dari verbal. Caranya dengan berkomentar tentang sesuatu hal pada orang lain. Meski intonasi yang digunakan dan gesture dari seseorang tersebut cenderung seperti candaan, namun efek pada mental bisa lebih dari itu.

Sedangkan Baby shaming adalah perilaku mengomentari kondisi dari bayi seseorang. Lalu bagaimana cara menghadapinya?

Hindari Merespon

Hindari Merespon
Hindari Merespon

Segala sesuatu yang menyerang diri kita sudah pasti akan menimbulkan respon terhadap kondisi tersebut. Namun, ada kalanya kita harus menahan diri dan membiarkan kondisi tersebut tidak direspon. Salah satunya adalah ketika mendapatkan shaming dari lingkungan.

Terutama jika shaming ini ditujukan untuk bayi Anda. Menghadapi baby shaming dengan tidak merespon adalah cara pertama yang paling ampuh dan mudah untuk dilakukan.

Contoh dari baby shaming ini adalah “kok bayinya kurus banget, kurang makan ya?” dan sejenisnya. Tentu sebagai orang tua kita akan terasa geram bukan mendengarnya. Namun berespon marah juga tidak dibenarkan.

Cukup biarkan mereka pusing dengan kehidupan Anda yang sebenarnya Anda sendiri tidak pusing-pusing amat menjalaninya. Biarkan diri Anda dan keluarga serta bayi bahagia tanpa terpengaruh kalimat yang tidak semestinya didengar.

Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri
Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri

Jika kalimat shaming dari orang lain tersebut memengaruhi diri Anda, maka Anda akan mencari pembenaran dari kalimat tersebut. Sehingga Anda akan cenderung menyalahkan diri sendiri. Apalagi jika Anda belum lama melahirkan, baby blues syndrome Anda akan semakin memburuk jika kalimat yang masuk dari lingkungan tidak disaring dengan baik.

Setiap orang memiliki caranya masing-masing dengan kondisinya sendiri. Jangan jadikan standar orang lain sebagai cara hidup Anda. Dengan begitu Anda akan menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Jika Anda memang sudah memberikan yang terbaik untuk anak dan ia sehat serta bahagia, maka Anda sudah menjadi orang tua yang baik. Diabaikan saja ya komentar negatifnya demi kesehatan mental Anda.

Hindari Ekspektasi

Menghindari Ekspektasi
Menghindari Ekspektasi

Sebenarnya yang membuat seseorang berkomentar semaunya kepada orang lain adalah karena adanya faktor ekspektasi. Entah itu karena ekspektasi mereka yang belum tercapai atau karena sudah tercapai semua jadi mereka mengharapkan hal itu terjadi pada semua orang yang ada di sekitarnya.

Percaya atau tidak, hal ini akan melelahkan diri mereka sendiri, bukan Anda. Maka komentar yang diucapkan pada Anda harus dipilih yang baiknya saja agar Anda tidak ikut-ikutan memiliki ekspektasi yang hanya akan menyakitkan diri Anda sendiri.

Punya tujuan itu harus, tetapi jika harapan tidak terpenuhi jangan lantas kecewa berlebihan. Karena memang ada kalanya bahwa semua hal yang diinginkan tidak terpenuhi sebagaimana dibayangkan. Hal tersebut mungkin memang bukan yang terbaik untuk diri Anda, jadi jangan patah semangat.

Pelajari juga tentang Menjadi Sahabat Anak: Tips Jadi Orang Tua Bijak Yang Selalu Dirindukan

Tetapkan Tujuan Pada Anak

Tetapkan Tujuan Pada Anak
Tetapkan Tujuan Pada Anak

Maksudnya adalah, untuk menghadapi baby shaming ini Anda jangan sampai terhenti dan stres sendiri mendengar kalimat orang lain yang terkesan menuntut. Anda perlu mencurahkan fokus untuk pola asuh anak sesuai dengan karakter anak Anda. Karena standar seseorang yang melontarkan baby shaming ini belum tentu cocok pada Anda dan anak.

Fokus pada anak akan membuat Anda lebih bahagia karena hanya Anda dan anak sendiri yang tahu bagaimana caranya untuk tetap menjaga kesehatan fisik dan mental serta tumbuh kembang anak. Bukan orang lain. Saringlah positifnya, buang jauh negatifnya.

Jika Anda terlalu sibuk memikirkan dengan komentar orang lain, bagaimana anak Anda akan dapat tumbuh dengan semestinya? Untuk itu, lebih baik fokus saja pada tujuan menjadi orang tua, yakni membesarkan anak dengan sebaik-baiknya sesuai kondisi masing-masing.

Hindari Toxic

Menghindari Potensi Baby Shaming
Menghindari Potensi Baby Shaming

Menghindari toxic atau racun dari shaming ini juga diperlukan untuk menghadapi baby shaming. Apalagi sekarang ini sudah sangat mudah dan cepat seseorang memberikan komentar hanya dari ketikan kalimat oleh jari dari gadgetnya.

Dengan kata lain, toxic secara online ini lebih cepat menyerang dan cukup ngeri jika tidak pintar menyaringnya. Anda bisa mencegahnya dengan cara tidak selalu aktif di media sosial. Anda bisa membukanya kapan saja, namun jangan terpaku pada komentar negatif yang ada.

Jika memang Anda membutuhkan informasi yang penting seputar parenting, cukup cari seperlunya dan update tentang informasi dan perkembangan terkini dunia. Selebihnya, jaga agar diri Anda tetap sehat secara mental dengan tidak terus menerus melihat baby shaming tersebut.

Bagi Anda yang sering membagikan momen di media sosial bersama anak, mungkin sebaiknya dikurangi dan dipilah yang betul-betul memang ingin diposting. Mengurangi aktivitas online di media sosial akan membuat Anda lebih banyak memiliki waktu untuk anak.

Sehingga Anda akan lebih mudah untuk membangun kelekatan antar orang tua dan anak. Jika Anda benar-benar tidak bisa berhenti dari sosial media, sebaiknya non-aktifkan saja. Bukankah lebih mudah begitu? Coba pelajari juga : 7 Tips Membangun Kelekatan Anak Perempuan Dengan Ibu

Namun semua tips ini kembali pada diri Anda masing-masing. Jika memang hal tersebut tidak mengganggu, Anda bisa tetap menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Namun jika sudah terasa tidak nyaman hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya cari pertolongan dengan berkonsultasi pada ahlinya.

Karena kembali lagi, kita tidak bisa mengontrol perilaku dan sikap orang lain baik secara verbal maupun non-verbal terhadap diri kita sendiri. Akan sulit sekali mengomunikasikan hal yang ingin disampaikan agar orang tersebut tidak berbuat demikian. Hal ini karena masing-masing orang memiliki pola pikir yang berbeda-beda. Yang bisa Anda lakukan adalah lebih terbuka pada hal apapun dan respon dengan positif.

Jangan lupa untuk menyaringnya terlebih dahulu. Menghadapi baby shaming memang dibutuhkan kesabaran, namun tetap worth it untuk dilakukan.

Written by Rima Mustika

Adult clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.