in , , ,

Cara Menghilangkan Kepanikan Ditengah Kesulitan Hidup

Kini masyarakat bumi panik dengan wabah yang sedang menimpah seluruh dunia hingga ke pelosoknya.

Namun tahukah kamu, pada tahun 2015 saat menjadi pembicara di Ted Talks, Bill Gates pernah mengingatkan kita untuk melakukan pencegahan sebab wabah global akan muncul.

Tetapi sayangnya, kebanyakan dari kita mengabaikan perkataan orang pintar yang satu ini. Dan sekarang justru media lebih banyak menyebarkan berita ketakutan yang semakin membuat kita panik.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita bisa melewati semuanya dengan baik jika pikiran tak mampu menahan panik?

Mungkin kini kita bisa mengambil sebuah pelajaran dari Bill Gates untuk lebih berpikir ke depan dan mempersiapkan diri sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi.

Tapi semuanya sudah terjadi dan bagaimana seharusnya kita menghadapi kesulitan ini?

1. Perhatikan Cara Anda Dalam Berpikir

Perhatikan Cara Berpikir
Perhatikan Cara Berpikir

Jika ada sesuatu yang muncul dalam kepala kita baik berupa gambaran atau suara, itu disebut pikiran. Namun ketika kita mulai merenungkan dan mempertanyakannya, itulah yang disebut berpikir.

Pikiranmu ada dalam genggamanmu. Ya, kita semua memiliki kemampuan untuk mengarahkan pikiran kemana pun yang kita mau secara sengaja.

Artinya untuk berpikir kita perlu memberikan perhatian penuh kepada pikiran itu sendiri lalu merenungkan dan mempertanyakannya pada diri sendiri.

Di masa-masa yang sulit ini, penting untuk memperhatikan apa yang muncul dalam pikiran. Dengan kata lain kita perlu memilih hal-hal yang perlu dipikirkan dan menyingkirkan yang tidak perlu.

Kebanyakan dari kita sering terhanyut oleh pikirannya sendiri dan tidak berusaha sedikitpun untuk mengarahkan pikiran.

Semisal, kamu mendengar berita buruk dan menerima hal itu mentah-mentah tanpa berpikir. Jika kamu terbiasa dengan cara kerja pikiran yang seperti ini, maka wajar saja kepanikan dan ketakutan mudah muncul dalam dirimu.

Sekarang coba perhatikan bagaimana cara berpikirmu selama ini. Apakah kamu terbiasa membiarkan pikiran-pikiran masuk tanpa berpikir? Atau apakah kamu memberikan perhatian kepada pikiran sebelum mengkonsumsinya ke dalam otak?

2. Jangan Anggap Kepanikan Sebagai Musuh

Jangan Menganggap Panik Adalah Musuh
Jangan Menganggap Panik Adalah Musuh

Seorang buddha bernama Mingyur Rinpoche mengajarkan kita tentang bagaimana cara menghadapi kepanikan lewat kisahnya.

Sewaktu berusia 9 tahun Mingyur diajarkan teknik meditasi oleh ayahnya. Namun ketika bermeditasi Mingyur mengalami kepanikan, hal ini tidak masuk akal baginya karena menurut dia meditasi adalah cara menghilangkan kepanikan.

“Hai kepanikan, keluarlah, aku sedang bermeditasi!” Begitulah kalimat yang diucapkan Mingyur saat mengalami kepanikan. Tapi kepanikan semakin kuat lalu Mingyur pun menghentikan meditasi dan menemui ayahnya.

Lalu ayahnya mengatakan “Jangan katakan “Keluar!” kepada panik. Kamu harus menyambutnya. Selama meditasi kepanikan bukanlah sebuah penghalang. Kepanikan bukanlah musuh. Kepanikan tidak apa-apa.”

Mingyur pun kembali bermeditasi, ketika kepanikan datang ia pun menyambutnya dengan “selamat datang kepanikan”. Ia menerima kepanikan itu dengan penuh perhatian dan tanpa penghakiman. Tak lama kemudian kepanikan itu hilang dengan sendirinya.

Apa pelajaran yang bisa kamu petik dari kisah ini? Cobalah untuk berpikir dan temukan jawabannya sendiri.

3. Batasi Waktu Anda Untuk Mengkonsumsi Berita

Membatasi Penggunaan Smartphone
Membatasi Penggunaan Smartphone

Kita semua sudah tahu betapa bahayanya wabah covid-19 ini dan sekarang kita juga sudah cukup memiliki bekal pengetahuan tentang bagaimana melindungi diri agar tidak terinfeksi.

Namun sayangnya kita masih saja mengkonsumsi berita-berita negatif dimana hal ini membuat kita sakit sebelum benar-benar sakit. Sehingga banyak orang yang menjadi depresi dan paranoid dikarenakan hal ini.

Bukankah kita sudah cukup mempersiapkan pertahanan diri untuk kesehatan fisik dan melindungi diri agar tidak terinfeksi, sekarang masalahnya adalah seberapa kuat pertahanan diri kita dalam menjaga kesehatan mental.

Menurut penelitian, terlalu banyak melihat berita negatif bisa menjadi penyebab stress. Jika kamu stress, maka emosi-emosi negatif lainnya akan lebih mudah untuk di akses. Ini masalah kita sekarang!

Solusi yang paling masuk akal adalah mengurangi menonton berita dan menggantinya dengan tontonan yang lebih memberdayakan diri agar mental kita kembali positif.

4. Melebur Emosi Negatif Kedalam Tulisan

Menuliskan Emosi Negatif
Menuliskan Emosi Negatif

Para ilmuwan hingga para spiritualis percaya bahwa semua yang ada di alam semesta ini berasal dari energi. Bahkan apa yang kita rasakan baik positif dan negatif juga memiliki energi.

Dan seperti yang kita tahu, energi itu abadi. Ia bisa berpindah dan berubah bentuk menjadi apa saja namun energi tidak pernah hilang atau mati.

Contohnya, saat kamu bersedih lalu mencari hiburan yang menyenangkan untuk menghilangkan kesedihan, mungkin beberapa saat perasaanmu akan berubah menjadi senang.

Tetapi satu hal yang tidak kamu sadari adalah perasaan sedih yang kamu alami tidak hilang, ia hanya tertutupi oleh perasaan senang dan mengawang di alam bawah sadar. Artinya, kapan saja perasaan sedih itu bisa muncul kembali ke permukaan.

Emosi negatif yang berada di alam bawah sadar kita inilah yang menyebabkan perasaan cemas, takut dan panik.

Maka luangkan waktumu beberapa menit, ambil selembar kertas dan tuliskan semua pengalaman menyedihkan dalam hidupmu sampai hari ini.

Setelah semuanya sudah kamu tuliskan, remaslah kertas tersebut lalu bakar. Cara ini dipercaya bisa mengubah energi dari perasaan negatif kita menjadi bentuk yang berbeda.

Artinya, perasaan-perasaan negatif itu hilang dari dalam diri kita tetapi ia tidak hilang di alam semesta, ia hanya menjelma menjadi wujud yang berbeda seperti api, abu, asap dan lainnya ketika kertas itu dibakar.

Baca Juga :

Akhir Kata, jika kepanikan yang kamu alami benar-benar terasa mengganggu, maka ada baiknya untuk mencari bantuan dari orang-orang terpercaya seperti psikoterapis, pemimpin agama  atau keluarga dan teman yang menurutmu bisa berpikir bijaksana.

Written by Ilham Damanik

Menyendiri-Merenung-Hening