in ,

8 Tips Menjadi Pendengar yang Baik Bagi Teman, Pasangan, atau Keluarga

Tips Menjadi Pendengar Yang Baik

Menjadi pendengar yang baik mungkin belum semua orang dapat melakukannya. Kita mungkin dapat menerima sesi curhat yang diajukan oleh teman, pasangan bahkan keluarga.

Tetapi apakah kita menerima curahan hati mereka dengan intense untuk mendengarkan? Atau hanya ingin mengetahui ceritanya kemudian membandingkan dengan cerita diri Anda? Meskipun rasanya mudah, namun mendengarkan ini cukup sulit dilakukan oleh orang yang kurang memiliki empati.

Seringkali Anda mendengarkan seseorang bercerita namun sibuk sendiri dengan gadget Anda. Gestur ini tentu dapat membuat lawan bicara merasa tidak dihargai waktunya dan juga tidak didengarkan.

Jika Anda yang melakukan curahan hati ini pastinya tidak ingin direspon seperti itu bukan. Jangan salah, menjadi pendengar yang baik juga salah satu bagian dari komunikasi lho.

Komunikasi merupakan sebuah proses yang dilakukan yang dilakukan oleh 2 orang atau lebih. Di mana salah satunya menjadi pendengar.

Untuk dapat mendengarkan dengan baik, Anda perlu mengetahui beberapa cara berikut ini.

Hindari Merespon Di Tengah Pembicaraan

Memotong Pembicaraan
Memotong Pembicaraan

Mengapa seseorang sering kesulitan untuk menjadi pendengar yang baik? hal ini penyebabnya adalah karena kita cenderung sulit untuk menunggu orang lain menyelesaikan ceritanya untuk memberikan respon.

Padahal ini akan membuat lawan bicara Anda justru terganggu dan akhirnya enggan untuk menyelesaikan curhat tersebut.

Informasi yang disampaikan oleh lawan bicara akan kurang lengkap dan Anda akan terkesan kurang menghargai emosi lawan bicara dalam menyampaikan pesan pada informasi tersebut. Pasalnya tidak semua orang ingin diberikan masukan ketika curhat. Mereka cenderung hanya ingin didengarkan tanpa adanya masukan dari Anda.

Interupsi yang Anda lakukan juga akan menimbulkan kesan bahwa pesan yang disampaikan tidak penting untuk Anda. Bahkan lawan bicara juga dapat melihat Anda sebagai orang yang sombong di mana tidak memedulikan perkataan orang lain.

Mengulangi Apa yang Disampaikan

Mengulangi Yang Disampaikan
Mengulangi Yang Disampaikan

Mungkin Anda menganggap bahwa menjadi pendengar yang baik itu membosankan. Hal ini wajar dirasakan karena kesan dari mendengarkan adalah aktivitas yang pasif. Tetapi mendengarkan lawan bicara mengungkapkan perasaannya tidak sepasif yang dilihat.

Orang yang dituju harus mampu untuk menyerap pesan dari lawan bicaranya. Ini disebut juga dengan active listening.

Untuk dapat mempraktekkan active listening ini adalah dengan mengulangi apa yang disampaikan oleh lawan bicara Anda. Jika lawan bicara merespon positif, maka pesan yang disampaikan pada Anda benar seperti apa yang Anda tangkap.

Kemudian Anda dapat melanjutkan prosesnya agar maksud dari komunikasi ini tersampaikan dengan baik dan lawan bicara merasa dihargai. Anda dapat meminta penjelasan kembali jika apa yang Anda ulangi belum tepat dari apa yang lawan bicara sampaikan.

Tanyakan Lebih Lanjut yang Belum Jelas, Hindari Asumsi

Tanyakan Yang Belum Jelas
Tanyakan Yang Belum Jelas

Manusia dianugerahi dengan pikiran untuk memproses berbagai macam informasi. Begitu pula dengan persepsi, masing-masing individu memiliki persepsinya sendiri dan jelas dapat berbeda satu sama lain.

Ketika Anda menjadi pendengar yang baik, mungkin persepsi Anda akan pesan yang disampaikan bisa saja berbeda dengan cerita aslinya. Ini dipengaruhi dengan frame of reference dan filed of experience yang berbeda tergantung bagaimana Anda dibesarkan.

Perbedaan ini akan muncul juga pada saat Anda mendengarkan pesan dari lawan bicara. Jadi jika Anda merasa ada yang tidak jelas dan membutuhkan penjelasan lebih lanjut, sebaiknya hindari berasumsi.

Anda dapat menanyakan langsung kepada lawan bicara setelah ia selesai mencurahkan isi hatinya pada Anda. Hal ini lebih baik daripada Anda menduga-duga dan menyimpulkan hal yang belum tentu sesuai dengan asumsi Anda sendiri.

Barengi dengan Gestur Positif

Barengi Dengan Gestur Positif
Barengi Dengan Gestur Positif

Komunikasi akan semakin baik dengan adanya gestur tubuh yang positif. Gestur tubuh yang positif ini dilakukan agar lawan bicara Anda melihat bahwa Anda tertarik dengan pesan yang disampaikan.

Gestur tubuh yang positif dapat membantu Anda untuk menunjukkan bahwa Anda mampu menjadi pendengar yang baik. Anda dapat melakukannya dengan mengarahkan tubuh ke arah lawan bicara sebagai sinyal bahwa Anda mendengarkan ungkapan dari mereka.

Tetapi bukan berarti Anda harus mendekatkan tubuh Anda ke lawan bicara demikian dekat ya. Usahakan untuk tetap memberikan ruang atau personal space antara Anda dan lawan bicara. Posisi Anda dan lawan bicara saat bercerita sebaiknya setara.

Misalnya saja lawan bicara duduk di sofa, Anda pun duduk pada sofa yang sama atau kursi lain yang tingginya sama.

Lakukan Kontak Mata

Kontak Mata
Kontak Mata

Selain gestur, kontak mata juga salah satu hal penting untuk dapat menjadi pendengar yang baik. Hindari mendengarkan cerita lawan bicara tetapi Anda masih sibuk dengan urusan pribadi. Hal ini akan membuat lawan bicara merasa tidak didengarkan sepenuhnya.

Kontak mata yang dilakukan dengan fokus dan baik dapat membantu Anda untuk lebih konsentrasi terhadap apa yang disampaikan oleh lawan bicara.

Karena kerap kali ketika mendengarkan konsentrasi Anda terganggu dan akhirnya Anda tidak dapat menangkap dengan baik pesan dari lawan bicara. Meskipun Anda multitasking, ada baiknya jika sedang menjadi pendengar, fokus terhadap informasi dari lawan bicara. Hal ini akan membantu meningkatkan konsentrasi Anda dalam komunikasi yang dilakukan.

Dengan kontak mata yang baik, Anda tidak hanya fokus mendengarkan pesannya saja. Tetapi juga dapat memahami kalimat yang dilontarkan, bagaimana ekspresi wajah dari lawan bicara dan gestur yang ditunjukkan olehnya.

Hindari Mengalihkan Pembicaraan

Mengalihkan Pembicaraan
Mengalihkan Pembicaraan

Seperti yang disebutkan sebelumnya, aktivitas mendengarkan ini dapat menjadi membosankan. Alasannya dapat berasal dari berbagai hal. Seringkali topik pembicaraan yang disampaikan oleh lawan bicara ini membuat Anda mudah bosan.

Kebosanan ini akan membuat Anda untuk cenderung mengalihkan pembicaraan secara mendadak.

Hal ini sebaiknya dihindari karena akan membuat lawan bicara kecewa dengan Anda sebagai pendengarnya.

Jika memang situasi lawan bicara tidak sedang genting, Anda dapat mengarahkan pembicaraan perlahan dan berproses untuk berganti topik.

Catat Pesan yang Disampaikan

Mencatat Pesan Yang Disampaikan
Mencatat Pesan Yang Disampaikan

Tidak semua orang dapat mencerna dengan mudah dan cepat dalam mendengarkan. Maka untuk tetap menjadi pendengar yang baik Anda harus mengakali hal ini. Anda dapat mencatat setiap pesan yang disampaikan oleh lawan bicara jika memang perlu.

Tetapi berikan pengertian terlebih dahulu pada lawan bicara di awal percakapan agar ia paham bahwa Anda perlu sesekali mencatatnya.

Dengan mencatat Anda tidak akan lupa jika ada hal yang ingin ditanyakan pada akhir percakapan. Selain itu menulis juga tidak akan mengganggu lawan bicara karena di interupsi.

Simpan Rahasia dengan Baik

Menyimpan Rahasia Pembicaraan
Menyimpan Rahasia Pembicaraan

Jika diminta untuk menjaga kerahasiaan dari informasi yang disampaikan, maka lakukan. Baik itu sifatnya personal atau tidak, sebaiknya Anda tidak menceritakannya kepada orang lain meski tidak diminta. Hal ini menjadi faktor penting bagi Anda untuk menjadi pendengar yang baik.

Apalagi jika Anda telah dipercayai oleh orang tersebut untuk mencurahkan segala macam perasaan.

Sebaiknya jagalah kepercayaan yang telah diberikan dengan tidak mengumbar cerita lawan bicara kepada siapapun. Maka Anda akan lebih dihormati oleh orang lain.

Bukankah menyenangkan jika Anda dapat menjadi pendengar yang baik untuk orang lain dan sebaliknya.

Coba Pelajari Juga : 8 Cara Membaca Karakter Seseorang Yang Perlu Diketahui

Akhir Kata

Demikian beberapa tips yang bisa anda terapkan untuk menjadi seorang pendengar yang baik bagi teman, pasangan atau keluarga. Menjadi pendengar yang bai tidak sesulit yang dibayangkan bukan? Semoga artiel ini bermanfaat untuk anda.

Written by Rima Mustika

Adult clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.