in ,

Tertarik Menjadi Psikolog? Ketahui Prosesnya Untuk Menuju Kesana

Psikolog
Punya cita-cita menjadi Psikolog?

Psikolog merupakan salah satu profesi yang cukup terkenal saat ini.

Pernahkah anda melihat seorang psikolog di televisi atau di mana pun yang sedang dimintai pendapat mengenai suatu fenomena dari tingkah laku seseorang?.

Jika ya, tentu anda merasa bahwa sepertinya seru sekali menjadi seorang psikolog yang bisa “membaca” pikiran orang lain dan hadir untuk dimintai pendapat seperti yang saat ini sudah banyak dilakukan oleh media.

Tetapi tahukah anda untuk bisa sampai kesana seseorang harus melampaui rangkaian proses panjang yang tidak mudah?

Psikolog adalah orang yang ahli dalam bidang psikologi dengan bidang mulai dari psikolog klinis, psikolog pendidikan, psikolog sosial, psikolog dalam industri dan organisasi hingga psikolog forensik yang mungkin masih belum banyak terdengar kiprahnya.

Namun sebutan psikolog lebih akrab untuk psikolog klinis.

Apakah anda penasaran bagaimana caranya untuk menjadi seorang psikolog?

Jika ya, maka artikel ini dapat berguna untuk anda yang sedang memikirkan profesi yang tepat baik untuk diri sendiri maupun kerabat anda yang akan menempuh jenjang mahasiswa.

1. Kuliah Jurusan Psikologi

Kuliah Jujuran Psikologi
Kuliah Jujuran Psikologi

Hal pertama yang bisa anda lakukan untuk menjadi seorang psikolog adalah dengan memilih jurusan psikologi setelah lulus dari SMA.

Hal ini menjadi bagian yang penting untuk menjadi psikolog karena diperlukan basic psikologi terlebih dahulu.

Salah satunya dengan menjalani akademis dengan jurusan psikologi pada jenjang Strata-1 atau S1.

Anda dapat memilih perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang menyediakan jurusan psikologi.

Masing-masing kampus memiliki karakteristiknya masing-masing meski jurusan tersebut sama-sama psikologi.

Jadi pastikan anda memilih jurusan psikologi di universitas yang sudah anda cari tahu terlebih dahulu sebelumnya.

Kemudian selesaikan jenjang S1 psikologi anda agar benar-benar menjamin bahwa anda bisa melanjutkan ke tahap selanjutnya untuk menjadi psikolog.

Untuk menjadi seorang psikolog tidak dapat dilakukan dari jurusan S1 lain yang kemudian melanjutkan studi S2 psikologi ya.

Pada perkuliahan psikologi yang dilakukan pada tahun 90-an, perkuliahannya dilakukan selama 6 tahun langsung sehingga lulusannya sudah otomatis menjadi psikolog.

Sedangkan di masa sekarang ini sudah berubah menjadi harus melanjutkan ke jenjang S2 untuk dapat menjadi psikolog.

2. Melanjutkan Studi Pada Psikologi Profesi

Studi Psikologi Profesi
Studi Psikologi Profesi

Proses selanjutnya setelah menyelesaikan studi S1 psikologi, anda harus meneruskan pada jenjang S2 magister psikologi profesi.

Perlu ketelitian untuk mencari S2 psikologi profesi ini karena jika anda hanya mendaftar pada magister psikologi saja anda tidak bisa menjadi seorang psikolog.

Anda wajib memilih jurusan yang menempatkan “profesi” pada pilihannya untuk menjadi seorang psikolog.

Dalam jenjang ini anda akan belajar mengenai ilmu psikologi, teknik terapi berdasarkan teori yang tepat dan praktek secara lebih mendalam.

Kemudian anda akan dihadapkan pada praktek kerja psikologi profesi.

Praktek kerja psikologi profesi ini dapat dikenal dengan masing-masing sebutan yang berbeda tiap kampus.

Pada penulis praktek kerja ini disebut dengan PKPP di mana wajib untuk dilakukan pada semester dua terakhir untuk mendapatkan gelar psikolog pada belakang title nantinya.

Umumnya praktek kerja ini berjalan selama satu semester. Nantinya anda kan menangani beberapa kasus di beberapa tempat.

Banyaknya kasus dan tempat praktik tergantung pada kebijakan masing-masing kampus dan disesuaikan dengan peminatan anda misalnya klinis anak, dewasa, PIO dan pendidikan.

Kurikulum yang berlaku juga terdapat perubahan sehingga mungkin pada beberapa orang ada yang sudah praktek kerja namun belum menjalani tesis ada pula yang menjalani tesis terlebih dahulu baru praktek kerja.

Untuk masa sekarang kurikulumnya mengharuskan mahasiswanya untuk tesis terlebih dahulu dan di akhiri dengan praktek kerja.

Sedangkan penulis masih mengalami kurikulum lama yakni praktek kerja terlebih dahulu baru di akhiri dengan tesis untuk meraih gelar magisternya.

3. Ujian HIMPSI

Ujian HIMPSI
Ujian HIMPSI

Langkah selanjutnya yang anda harus lakukan setelah menjalani praktek kerja psikologi profesi adalah menghadapi ujian HIMPSI.

HIMPSI adalah singkatan dari Himpunan Psikologi Indonesia.

Dari himpunan ini lah nantinya anda akan ditentukan layak atau tidak menjadi seorang psikolog berdasarkan dari kasus-kasus yang anda tangani selama masa praktek.

Pada ujiannya anda akan dihadapkan pada penguji dari HIMPSI dan juga penguji dari dosen anda sendiri.

Berbeda penguji tentu berbeda pula karakteristiknya.

Ada yang hanya meminta beberapa kasus saja yang diujikan ada pula yang menginginkan untuk anda jabarkan semua kasusnya.

Intinya anda harus menguasai semua kasus yang ditangani.

Jika tidak bagaimana penguji bisa tahu bahwa anda dapat menangani kasus tersebut dengan baik dan tepat?

Kemudian jika anda telah lulus ujian sidang HIMPSI dan dinyatakan layak, maka akan dikeluarkan SIPP atau Surat Izin Praktek Psikolog oleh HIMPSI.

4. Mengurus SIPP

Mengurus SIPP
Mengurus SIPP

Jika anda telah memiliki SIPP dari siding HIMPSI maka anda bisa melakukan registrasi keanggotaan HIMPSI dan bisa memulai untuk mengurus surat izin praktek di daerah anda berada.

Jika sudah maka anda sudah bisa melakukan praktek baik individu maupun bergabung dengan psikolog lain dalam sebuah biro psikologi.

Perlu diingat sidang HIMPSI dan sidang tesis adalah dua hal yang berbeda. Sidang HIMPSI adalah untuk mendapatkan kelayakan psikolog dengan gelar psikolog.

Sedangkan sidang tesis untuk mendapatkan gelar magister psikologinya. Anda harus mendapatkan dua-duanya sebelum bisa melakukan praktek psikolog.

5. Realita Jurusan Psikologi

Realita Jurusan Psikologi
Realita Jurusan Psikologi

Untuk menjadi psikolog anda tentu telah membaca prosedur di atas yang sepertinya panjang. Maka sebaiknya jika ingin menjadi psikolog pastikan memang karena kemauan dan minat anda pada bidang ini.

Jika anda memilih bidang psikologi hanya untuk menghindari hitung-hitungan dalam kuliah, anda salah besar.

Realita dalam psikologi selama perkuliahan adalah anda akan dihadapkan pada mata kuliah statistik, psikodiagnostik, metodologi penelitian.

Nanti dulu masih ada satu lagi yang wajib bahkan ketika jenjang S2 pun mata kuliah ini tetap dipelajari.

Yak, mata kuliah ini adalah psikometri.

Gampangnya adalah hitung-hitungannya psikologi.

Lalu untuk apa ada hitung-hitungan dalam psikologi? Pertama jelas untuk mengolah data pengukuran pada tugas akhir seperti skripsi dan tesis. Kedua adalah untuk perhitungan tes psikologi.

Jangan dikira ketika psikolog mengolah data psikotes anda hanya ada benar dan salah. Dalam psikotes tidak ada benar dan salahnya.

Yang ada hanyalah berapa skor awal anda yang kemudian akan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan skor akhir dengan analisisnya.

Proses penilaian atau pemberian skor ini juga tidak hanya memberikan skor dan selesai.

Tetapi hampir semua alat tes psikologi membutuhkan konversi skor awal untuk dapat dilihat kategorinya dan kemudian dibuat analisisnya berbentuk paragraf yang akan menjadi laporan untuk anda.

Bahkan tes yang berbentuk gambar saja ada yang proses analisisnya membutuhkan skoring dan proses coding terlebih dahulu.

Akhir Kata

Persiapkan diri anda dengan matang jika memilih bidang untuk masa depan anda. Sebaiknya anda memilih jurusan lain jika masuk bidang psikologi hanya untuk menghindari hitung-hitungan.

Meski terlihat sepele dan hanya duduk mendengarkan klien, namun pekerjaan psikolog lebih dari itu. Masing-masing pekerjaan memiliki kesulitannya masing-masing. Tetapi yang perlu anda ketahui tentang psikolog adalah, mereka tidak hanya duduk mendengarkan klien berbicara.

Tetapi psikolog harus cepat merekam percakapan yan terjadi guna membuat timeline anda yang nantinya akan membantu psikolog untuk dapat memberikan bantuan treatment yang tepat untuk kliennya. Bagaimana? Tertarik untuk menjadi psikolog?

Written by Rima Mustika

Clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.