in , ,

7 Penyebab Anak Milenial Rawan Alami Depresi di Tempat Kerja

Milenial Rawan Depresi di Tempat Kerja

Generasi milenial dianggap oleh beberapa orang sebagai generasi yang manja. Mereka menganggap bahwa generasi milenial termasuk generasi yang terbiasa hidup dengan nyaman dan dimanjakan oleh kemajuan teknologi zaman sekarang.

Anggapan tersebut melahirkan persepsi bahwa anak milenial lebih rawan alami depresi saat sudah memasuki dunia kerja. Padahal sebenarnya tidak hanya generasi milenial saja yang rawan alami depresi, generasi lainnya pun pasti juga merasakan hal yang sama.

Ada banyak tantangan baru di dunia kerja yang dapat menyebabkan generasi milenial ini merasa tertekan dan berakhir dengan depresi saat berada di tempat kerja. Misalnya jumlah tekanan hidup sebelum bekerja yang tak sebanyak setelah memasuki dunia kerja.

Depresi ini dapat muncul dari perasaan sedih, marah, khawatir, takut, dan perasaan negatif lainnya. Kondisi ini dapat menyebabkan turunnya produktivitas dalam bekerja karena minimnya semangat dan motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan di tempat kerjanya.

Depresi yang dibiarkan begitu saja dapat berdampak buruk pada kesehatan mental dan juga fisik seseorang. Hal paling ekstrim yang dapat dilakukan oleh seseorang adalah merasa dirinya tak lagi berharga dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Dampak buruk yang begitu banyak dari depresi ini membuat kamu sebagai generasi milenial harus lebih berhati-hati. Ketahui dengan jelas tanda depresi dan cari tahu penyebab depresi yang kamu alami sehingga kamu pun lebih mudah dalam menentukan cara yang tepat untuk menanganinya.

Untuk lebih jelasnya, berikut 7 penyebab depresi yang harus kamu ketahui sebagai generasi milenial.

1. Pekerjaan yang Tidak Sesuai dengan Kemampuan dan Passion

Pekerjaan Tidak Sesuai Passion
Pekerjaan Tidak Sesuai Passion

Pekerjaan yang tak sesuai dengan kemampuan dan passion yang kamu miliki tentu akan menciptakan tekanan yang lebih besar. Kamu tidak memiliki pengalaman yang cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaanmu dengan baik.

Hal semacam ini merupakan hasil dari minimnya peluang kerja yang ada. Sehingga mau tidak mau, kamu pun dalam tanda kutip menerima semua pekerjaan yang tersedia. Kamu tidak bisa memilih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan dan passion -mu dengan mudah.

Kamu yang tidak memiliki kemampuan mumpuni dalam hal “A” harus bisa menyelesaikan pekerjaan “A” dengan baik dan tepat waktu. Belum lagi jika mood -mu pada saat mengerjakan pekerjaan itu sedang tak baik, bukan hal yang aneh jika kamu mengalami depresi akibat tekanan semacam ini.

2. Kesibukan di Kantor Terlalu Padat Sehingga Tak Memiliki Waktu yang Cukup Bersama Keluarga

Kesibukan di Kantor Terlalu Padat
Kesibukan di Kantor Terlalu Padat

Di zaman sekarang sangat sulit ditemukan pekerjaan yang tidak terlalu menyita banyak waktumu. Kebanyakan pekerjaan pasti akan membuatmu sangat sibuk sehingga tak memiliki waktu banyak untuk me time atau berkumpul bersama keluarga dan sahabat.

Kesibukan yang sangat padat akhirnya berimbas pada waktumu bersama keluarga. Kondisi seperti ini pasti tidak ada dalam list harapanmu. Kamu yang terpaksa harus mengorbankan waktu bersama keluarga untuk menyelesaikan pekerjaanmu pasti membuatmu merasa tertekan. Kondisi ini pun menjadi salah satu pemicu depresi loh.

3. Merasa Terjebak dengan Pekerjaan yang Tidak Menyenangkan

Terjebak Dengan Pekerjaan Tidak Menyenangkan
Terjebak Dengan Pekerjaan Tidak Menyenangkan

Tidak ada pilihan lain kecuali menerima pekerjaan yang tak menyenangkan untukmu. Desakan kebutuhan yang harus dipenuhi membuatmu mau melakukan pekerjaan apapun asal dapat menghasilkan rupiah.

Pekerjaan yang tak menyenangkan juga akan menghadirkan rasa tertekan. Hal ini akan menjadi bibit munculnya depresi di tempat kerja. Jika kamu tak mampu mengatasinya dengan baik, produktivitasmu dalam bekerja pasti akan sangat terpengaruh.

4. Ketidaksesuaian Penghasilan dengan Kebutuhan

Ketidaksesuaian Penghasilan
Ketidaksesuaian Penghasilan

Kebutuhan hidup generasi milenial tidaklah sedikit. Ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Terlebih dengan kebiasaan anak generasi milenial yang cenderung lebih konsumtif dibanding generasi sebelumnya.

Standar hidup yang lebih tinggi menuntut mereka untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang juga tinggi. Jika kenyataannya penghasilan mereka tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka, tentu saja kondisi tersebut dapat menyebabkan depresi.

Untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang tinggi tentu tidaklah mudah. Mengingat peluang kerja di masa sekarang yang cukup sempit. Kamu tidak akan bisa mudah dalam memilih dan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keinginanmu.

5. Bullying di Tempat Kerja

Bullying di Tempat Kerja
Bullying di Tempat Kerja

Bullying tidak hanya di sekolah atau perguruan tinggi, di tempat kerja pun hal ini seringkali terjadi. Bukan teman biasa yang akan membully-mu, tetapi rekan kerja dan bisa jadi atasanmu juga melakukannya. Entah kenapa, hal ini sudah menjadi hal yang lumrah dalam dunia kerja.

Perlakuan bullying ini kadarnya pun akan berbeda antara satu tempat kerja dengan tempat kerja lainnya. Kamu yang tidak terbiasa ter-bully pasti akan merasa sangat tertekan dengan kondisi tersebut.

Tindakan bullying ini menjadi salah satu pemicu depresi yang dialami oleh anak generasi milenial. Jika mentalnya tidak kuat, sudah bisa dipastikan tingkat depresi yang bisa dialami pun akan semakin besar.

6. Peraturan di Tempat Kerja yang Terlalu Rumit

Peraturan di Tempat Kerja Ketat
Peraturan di Tempat Kerja Ketat

Setiap tempat kerja pasti memiliki peraturannya masing-masing. Nah, bagaimana jika peraturan itu sangat memberatkan karyawan yang bekerja di sana? Pasti hal ini akan memicu depresi bagi karyawan yang bekerja di tempat kerja tersebut.

Peraturan di tempat kerja yang menurutmu cukup memberatkan dan rumit tidak akan membuatmu nyaman bekerja. Inilah yang menjadi salah satu faktor pemicu depresi di tempat kerja. Kamu merasa tertekan dan akhirnya mengalami depresi di tempat kerja tersebut.

7. Lingkungan Kerja Tergolong Toxic

Lingkungan Kerja Toxic
Lingkungan Kerja Toxic

Kondisi lingkungan kerja juga sangat berpengaruh dengan kondisi kesehatan mental seseorang loh. Jika kamu berada di lingkungan yang tergolong toxic, pasti kamu akan mendapatkan lebih banyak tekanan dibandingkan jika kamu berada di lingkungan kerja yang sehat.

Adanya tekanan di tempat kerja yang tinggi, pekerjaan yang selalu menumpuk dan tidak ada habisnya, serta rekan kerja dan atasan yang tidak bisa bersikap kooperatif pasti akan membuatmu sangat tertekan dan tak nyaman. Inilah yang dapat membuatmu mengalami depresi di tempat kerja.

Kehidupan di tempat kerja tentu berbeda dengan kehidupan saat masih mengenyam pendidikan. Ada lebih banyak tekanan yang akan kamu terima. Meski terasa berat di awal, namun secara perlahan pasti kamu bisa beradaptasi dengan kondisi semacam itu. Semua hanya tentang waktu dan pengalamanmu.

Baca Juga :

Written by Dina Novia

Punya hobi travelling dan fotografi. Masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan bahasa Indonesia di Malang.