7 Mindset Negatif Yang Harus Kamu Hilangkan Dalam Hidup

Apa yang dimaksud dengan pola pikir? Mengutip dari wikipedia, Pola pikir adalah

Ilham Damanik Ilham Damanik · 4 min read >
Mindset Yang Harus Dihilangkan Untuk Bahagia

Apa yang dimaksud dengan pola pikir?

Mengutip dari wikipedia, Pola pikir adalah seperangkat asumsi, metode atau gambaran yang dimiliki oleh satu orang atau lebih, atau kelompok. Pola pikir juga dapat diartikan suatu filosofi hidup.

Bicara tentang filosofi hidup, mungkin beberapa orang memiliki sudut pandang sendiri dan sebagian lagi memilih untuk berkelompok dibawah naungan yang sama.

Tapi, pernahkah kamu memikirkan bahwa terkadang apa yang kita yakini adalah kekeliruan, atau terkadang kita tak menyadari bahwa ada beberapa kekeliruan yang kita yakini.

“Fakta bahwa kita hidup di dasar sumur gravitasi yang paling bawah, di permukaan sebuah planet yang tertutup gas, mengelilingi bola api yang jauhnya 90 mil dan menganggap hal ini baik-baik saja, jelas merupakan indikasi seberapa miringnya perspektif kita!” Kata Douglas Adam.

Jelas ini bukan tentang seberapa bahagia atau sedihnya yang kita alami, tetapi ini tentang bagaimana kita seharusnya memandang dunia dan menyadari keberadaan kita yang murni.

Sepertinya, ada beberapa hal yang janggal dari kebiasaan kita dalam berpikir!

1. Tidak Mau Kalah Karena Yakin Memiliki Sekumpulan Pengetahuan

Tidak Pernah Mau Kalah
Tidak Pernah Mau Kalah

Berbagai eksperimen selama bertahun-tahun, telah membuktikan betapa mudah kita membentuk opini. Bahkan ketika orang-orang berkata data yang kita gunakan salah, kita tetap keras kepala dan tak mau mengubah apa yang sudah kita percaya.

Pikiran adalah sesuatu yang kompleks. Otak kita memanipulasi persepsi, sehingga kita kebal terhadap fakta.

Terlebih lagi otak otomatis bekerja untuk mencari jawaban yang nyaman dan mudah dimengerti. Mungkin di satu sisi hal itu membuat kita mudah menerima informasi, namun di sisi lain juga membuat kita sulit menerima fakta.

Dapat juga disebut “Konfimasi bias” adalah kecenderungan kita merangkul informasi yang sesuai keyakinan dan nyaman bagi otak, lalu menolak informasi yang berbahaya atau tidak membuat kita nyaman.

Lantas, mengapa kita tidak mencoba mencari tahu sesuatu yang berbahaya itu saat otak memberi tanda untuk mundur?

2. Bersedih Berarti Lemah dan Tidak Harus Bersyukur

Bersedih Berarti Lemah
Bersedih Berarti Lemah

Bersedih bukanlah bukti bahwa kita hancur, itu adalah bukti bahwa kita manusia. Jika kita mengelak dari perasaan sendiri, itu akan menjauhkan kita dari kesempurnaan hidup.

Sedih itu normal, hanya saja mungkin mengganggu orang lain yang sedang bahagia. Jika kamu tidak pernah bersedih, mungkin kamu perlu menemui pakar kejiwaan atau mungkin pemuka agama.

Kita terlahir untuk merasakan semua perasaan. Bukan hanya sedih atau senang, bahkan dipertengahan antara keduanya. Lalu apa hubungannya dengan bersyukur?

Sedih adalah perasaan, syukur adalah sikap. Bahkan rasa sedihlah yang paling sering mengarahkan kita untuk bersyukur.

Semisal jika kamu kehilangan suatu barang kesayangan. Dengan kejadian itu kamu merasa sedih. Tapi disisi lain kamu masih bersyukur karena memiliki kesehatan secara fisik dan mental. Dengan memanfaatkan kesehatan itu sebaik-baiknya, kamu bisa saja membeli barang lainnya bahkan yang lebih bagus.

Tapi pada prosesnya, mau tidak mau kamu harus melewati fase sedih setelah kehilangan. Tak ada yang salah dengan sedih, karena semua perasaan layak untuk dirasakan.

Baca Juga: Saat Hatimu Hancur, Cemas, Galau, Kamu Mungkin Lupa 6 Hal Ini

3. Saat Aku Punya Salah, Bukan Berarti Kamu Benar

Egois
Egois

Kemampuan kita dalam bernalar lebih cenderung untuk memenangkan argumen daripada berpikir jernih.

Julia Galef menamakan itu pola pikir prajurit. Yaitu pola pikir yang berakar dari pertahanan diri.

Tidak dapat disangkal bahwa ini terjadi pada kita semua. Sementara di sisi lain, para pakar menyebut ini “Tu Quoque Fallacy” atau bandingan kemunafikan. Dengan kata lain kita mengalihkan argumen dengan menunjukkan kemunafikan pada lawan bicara.

Semisal, katakanlah kamu sedang berdebat dengan pasangan, lantas kamu berkata “Iya, aku memang selingkuh tapi kamu juga egois, tidak perhatian dan banyak kekurangan!”

Pola pikir seperti ini pada akhirnya semakin memperkeruh suasana. Membuat kita semakin meninggikan ego dan tak mau belajar dari kesalahan masing-masing.

4. Tidak Mempertanyakan Kembali Apa Yang Diyakini

Mempertanyakan Kembali Apa Yang Diyakini
Mempertanyakan Kembali Apa Yang Diyakini

Mengutip kata-kata Pen Jilette, “Suatu hal yang paling kamu yakini adalah sesuatu yang harusnya kamu pertanyakan.”

Sangat banyak pikiran yang keliru ditengah-tengah kita sekarang. Kita cenderung berpikir bahwa tidak ada yang bisa mengubah keyakinan jika kita sudah yakin.

Tapi sayangnya, kita lebih suka mempertahankan posisi itu meskipun kita tahu bahwa itu salah. Ada sesuatu yang mengambil alih diri kita, yang disebut dengan ego. Alasan mengapa semua ini terjadi adalah kepercayaan kita lebih besar daripada pengetahuan.

Kita semua percaya bahwa kita tahu lebih banyak dari apa yang bisa dilakukan. Sloman dan Fernbach menyebut ini sebagai “Ilusi Kedalaman Penjelasan”.

Dengan alasan yakin, kita membiarkan ego mengambil alih seluruhnya. Membakar jembatan yang menghubungkan kasih sayang di antara umat manusia. Menghanguskan ikatan emosi yang sangat penting dalam komunikasi.

Baca Juga: Dampak Buruk Dari Kebiasaan Tidak Berpikir Kritis Dalam Hidup

5. Bersikap Tenang dan Tidak Perlu Terlalu Berusaha

Bersikap Tenang Dan Tidak Berusaha
Bersikap Tenang Dan Tidak Berusaha

Katakanlah kamu seorang pekerja keras, lalu istrimu berkata “Tenanglah, semua akan baik-baik saja

Sepertinya kita sangat mudah mengurangi pergerakan tanpa menurunkan ambisi.

Ketika orang-orang berkata tenanglah, kita meresponnya dengan mengurangi apa yang kita lakukan”. Lantas kamu mengurangi porsi dalam bekerja atau dengan kata lain, jika biasanya kamu bekerja 9 jam, setelah mendengar kalimat itu kamu menguranginya jadi 7 jam.

Atau bahkan kamu mengartikan kata “Tenang” dengan membiarkan semua mengalir dengan sendirinya. Entah kita mengucapkan doa, mantra atau afirmasi dan sebagainya, tetap saja kita perlu berusaha.

Entah kamu meyakini Tuhan mengatur semuanya atau Alam semesta akan bekerja dengan sendirinya, pada intinya bersikap tenang ada dalam pikiran bukan tindakan. Tetaplah bekerja 9 jam seperti biasa, karena yang perlu di ubah adalah pikiran kita.

6. Takut Dianggap Egois Karena Fokus Pada Satu Hal

Fokus Adalah Keegoisan
Fokus Adalah Keegoisan

Apakah seekor singa yang berlari mengejar sepuluh domba akan menerkam semuanya? Singa hanya akan menerkam satu dan mengatakan “Ini milikku!” lalu membiarkan sembilan domba lainnya pergi.

Saat kamu melihat seseorang bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya itu bukan berarti ingin cepat kaya dan menguasai semuanya, dia hanya sedang berkata “Ini duniaku. Tolong jangan ganggu”

Saat kamu melihat seseorang bersungguh-sungguh dalam agamanya itu bukan berarti inginkan surga dan semuanya, dia hanya sedang berkata “Hanya ini yang ku miliki. Tolong jangan ganggu”

Dengan kata lain, kita telah memilih jalan hidup masing-masing. Mengambil secuil dari jutaan keindahan di dunia ini, dan hanya itu saja. Sehingga wajar jika kita bersungguh-sungguh menjaga dan merawat apa yang sudah kita pilih.

7. Bersikap Lembut Berarti Lemah, Keras Berarti Kuat

Lemah Lembut Bukan Berarti Lemah
Lemah Lembut Bukan Berarti Lemah

Sangat mudah untuk melihat titik hitam pada kertas putih. Tapi sayangnya, memahami orang-orang tidak sesederhana itu.

Katakanlah sikap itu warna. Lembut itu biru mudah, dan keras itu biru tua. Lalu dengan apa kita menilainya untuk menentukan mana yang lebih baik di antara keduanya?

Tak ada cara atau rumus-rumus pasti untuk menjelaskan, kecuali kembali pada selera kita masing-masing.

Bahwa sikap bukanlah sesuatu yang bisa kita nilai, karena memang bukan untuk di nilai. Tetapi perlu kita terima sebagaimana adanya saja tanpa harus berspekulasi akan hal itu.

Baca juga: Memahami Belas Kasih, Ini 5 Manfaat Yang Akan Kamu Dapatkan

Kesimpulan,

Akhirnya tidak perlu penjelasan panjang, sebab ini dapat kita pahami dengan sederhana. Pola pikir bukan hanya sekedar mengandalkan kecerdasan logika tapi juga menggunakan kecerdasan emosi, dengan menjadi rendah diri agar kita dapat menggunakan “Pola Pikir Pengintai” dengan baik.

Ilham Damanik
Aku merasa seperti seorang penulis Read Full Profile