in , ,

Motivasi Beribadah yang Salah, Penyebab Kita Tidak Bahagia

Motivasi Beribadah yang Salah

Meskipun doktrin ketuhanan, kehidupan setelah kematian, surga dan neraka yang dianut agama-agama di dunia ini (Hindu, Kristen dan Islam) berbeda-beda, tetapi esensi dan tujuan ibadah (worship) agama-agama tersebut bisa dikatakan sama.

Esensi ibadah menurut ajaran Hindu adalah mengintegrasikan tubuh, pikiran dan jiwa, supaya bisa menjalani kehidupan yang murni agar kelak bisa bereinkarnasi menjadi makhluk yang lebih tinggi derajatnya. Hakikat ibadah dalam perspektif Kristen adalah mengingat Tuhan, memuliakan, menghormati, memuji, meninggikan, dan menyenangkan Tuhan.

Tujuannya adalah untuk berhubungan dan menghadirkan Roh Tuhan dalam diri. Sedangkan menurut Islam ibadah adalah sarana penyucian jiwa dan jalan untuk mendapat ridho Allah. Sholat, zakat, puasa, berhaji adalah jenis-jenis ibadah dalam Islam untuk membuat Allah senang dan ridho.

Mengacu ajaran tiga agama besar dunia tersebut, jelaslah bahwa esensi ibadah adalah sarana manusia berhubungan secara spiritual dengan Tuhan. Meskipun semua peribadatan itu dilakukan secara fisik-jasmaniah (melibatkan kata dan gerak) tetapi dampak atau hasil yang ingin dicapai adalah kepuasan rohani (spiritual)—merasa dekat, diterima, diakui, dikasihi, disenangi dan disayangi Tuhan.

Jadi, nothing to do ibadah itu dengan imbalan duniawi dari Tuhan berupa kepintaran, kesehatan, kekayaan atau kekuasaan. Tetapi anehnya, kebanyakan orang justru berpandangan terbalik.

Motivasi Salah

Motivasi Salah
Motivasi Salah

Ibadah yang dikiaskan sebagai sarana untuk mendekatkan diri, mengambil hati, dan menyenangkan Tuhan melalui pujian dan sanjungan itu oleh kebanyakan orang dimaknai sebagai cara ‘menyogok’ Tuhan.

Berbekal pemahaman seperti itulah yang menyebabkan banyak orang dalam ibadahnya mengajukan beragam permintaan (do’a) agar Tuhan memenuhi keinginan-keinginan materialistik-nya sebagai imbalan atas peribadatan yang dilakukannya.

Ada yang minta panjang umur, minta kesembuhan dari penyakit, enteng jodoh, sukses menuntut ilmu, sukses dalam karir, sukses dalam bisnis, dan kaya raya.

Salahkah berdoa kepada Tuhan ketika beribadah? Tentu saja tidak jika yang diharap dalam doa itu adalah bisa ‘mewarisi’ sifat-sifat ilahiah seperti: terbebas dari kecemburuan, ketamakan, kebencian dan dendam; bisa lebih berempati, berwelas asih, dan bijaksana.

Tetapi jika peribadatan yang sejatinya masuk ranah spiritual itu dimaknai sebagai usaha jasmaniah yang layak mendapat imbalan material, maka pemahaman seperti itu, menurut saya, adalah pemahaman yang salah.

Jika seseorang menganggap doa adalah cara dan sarana untuk menuntut atau menagih imbalan dari Tuhan atas ‘jerih-payahnya’ memuji dan menyenangkan Tuhan dalam ibadahnya, maka motivasi beribadah seperti ini adalah motivasi ibadah yang keliru.

Pemahaman dan motivasi ibadah yang salah itu membuat kita sulit membebaskan diri dari penderitaan. Sebab, berharap mendapatkan kenikmatan duniawi melalui ibadah (doa) itu bisa diibaratkan orang menabur bunga ilalang berharap menuai padi, menanam talas berharap memanen pisang.

Ketika kita sudah beribadah disertai doa dengan harapan bisa hidup sukses, kaya, terkenal tetapi fakta kehidupan kita tidak banyak berubah, ketika itulah kita menjadi galau lalu bertanya-tanya: ”apa yang salah dengan ibadah kita?”

Pertanyaan-pertanyaan tak berjawab itu membuat kita makin larut beribadah dengan motivasi keliru tadi, lalu mengabaikan karunia Tuhan atas diri kita berupa tubuh yang sehat sempurna serta akal dan pikiran.

Padahal, tubuh dan akal-pikiran yang kita miliki itulah yang mestinya kita berdaya-fungsikan untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah-duniawi kita. Makanan dan minuman adalah kebutuhan mutlak kita untuk bertahan hidup, tetapi untuk menghadirkan dan memasukkan makanan dan minuman ke dalam tubuh kita, kita perlu usaha mekanis berupa gerakan tangan dan mulut, tidak bisa dengan ibadah dan/atau doa.

Bagaimana cara menghadirkan dan mengolah bahan-bahan di sekitar kita agar bisa dimanfaatkan dan dinikmati, kita perlu dan harus memfungsikan akal-pikiran kita, bukan ibadah dan doa.

Jalan Tuhan yang sebaiknya harus kita tempuh untuk mendapat kenikmatan fisik-material dalam hidup

Belajar

Belajar Untuk Mensyukuri Nikmat Tuhan
Belajar Untuk Mensyukuri Nikmat Tuhan

Belajar adalah jalan Tuhan yang harus kita tempuh agar kita menjadi manusia cerdas dan pintar, memiliki banyak ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Kesuksesan belajar atau menuntut ilmu itu sangat bergantung pada determinasi, ketekunan dan disiplin diri kita dalam mendaya-fungsikan tubuh dan akal pikiran kita.

Dalam proses belajar itu kita mengerahkan indera fisik kita: penglihatan, pendengaran, penciuman, indera pengecap, indera peraba untuk menangkap dan mempersepsi beragam stimulus dan informasi dari lingkungan.

Kita perlu memfungsikan akal kita dalam memilah dan mengolah informasi yang relevan sesuai dengan kebutuhan hidup kita. Adalah keliru jika ada orang yang berharap bisa menguasai ilmu-pengetahuan dan ketrampilan tertentu dengan cara beribadah dan berdoa.

Itu adalah cara pandang dan sikap yang tidak sejalan dengan sunnatullah, hukum alam, hukum sebab-akibat.

Bekerja

Bekerja
Bekerja

Alam sudah menyediakan semua materi (bahan) yang manusia butuhkan untuk melangsungkan hidup di dunia ini.

Tetapi semua materi yang sudah disediakan Tuhan itu baru bisa kita manfaatkan dan kita nikmati jika kita berusaha mencari, mengumpulkan, mengolah , meracik, atatu merangkainya menggunakan tenaga dan pikiran kita. Itulah yang dimaksud dengan (hakikat) bekerja.

Tidak akan ada satu pun materi kebutuhan kita itu (mulai dari sandang, pangan, papan) yang akan jatuh ke pangkuan kita dan bisa kita nikmati hanya dengan beribadah dan berdo’a.

Menjalin Hubungan

Bersosial
Bersosial

Meskipun kebutuhan hidup manusia sama tetapi manusia terlahir dengan kekuatan tubuh, bakat, kreativitas, kecerdasan, dan keberanian yang beragam. Ada yang terlahir dengan postur tubuh besar-tinggi, memiliki kekuatan otot yang besar, tetapi ada yang terlahir dengan postur dan kekuatan otot yang terbatas.

Ada yang terlahir dengan tingkat kecerdasan, kreativitas dan keberanian yang tinggi, tetapi ada juga yang terlahir sebaliknya. Meskipun semua materi yang dibutuhkan manusia sudah tersedia di alam, tetapi tidak semua manusia bisa menemukan, menghadirkan, mengolah dan meracik/merangkai bahan-bahan tadi sendirian tanpa batuan orang lain.

Dalam hidup ini banyak sekali kebutuhan kita yang hanya bisa dipenuhi dengan bekerjasama. Agar mendapat kawan/mitra kerjasama itulah setiap manusia perlu menjalin hubungan baik dengan manusia lain.

Hubungan baik itu hanya bisa terjalin jika kita mau berbagi dengan sesama, bukan dengan komat-kamit membaca doa.

Berbuat Baik

Berbuat Baik
Berbuat Baik

Belajar, bekerja, dan menjalin hubungan adalah aktivitas sosial manusia yang di dalamnya meniscayakan interaksi antar manusia—interaksi sosial. Melalui interaksi sosial itulah manusia saling berbagi rasa, pengetahuan, pengalaman, atau kepemilikan.

Itu sebabnya, interaksi sosial itu sangat besar pengaruhnya pada kesehatan jiwa dan fisik manusia. Kriteria atau ukuran interaksi sosial yang menyehatkan jiwa dan raga itu umumnya sama antara satu bangsa dengan bangsa lain, antara satu komunitas dengan komunitas lain, yaitu interaksi yang disertai perbuatan baik.

Perbuatan baik itu dapat berupa: ramah dan santun, murah hati, dermawan, suka menolong. Perbuatan baik itulah yang membuat seseorang diterima, diakui, dan dihargai di dalam komunitasnya yang membuat dirinya bisa mendapat kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Jadi, perbuatan baik terhadap sesama manusia itulah jalan Tuhan yang harus kita tempuh agar sukses dalam hidup, bukan dengan rajin beribadah atau berdoa.
————

Written by Mohammad Kanedi