in

Obsessive Compulsive Disorder, Kenali Penyebab Dan Gejalanya

Obsessive Compulsive Disorder

Obsessive-compulsive disorder merupakan gangguan dalam psikologi yang mungkin sering anda lakukan tetapi anda belum mengetahui bahwa hal tersebut adalah tanda dari OCD. Sering kali ada rasa ketidapuasan dalam diri jika anda tidak melakukan sesuatu berulang-ulang kali. Rasanya seperti masih ada yang kurang terus. Hal ini mungkin awalnya sepele namun dapat berbahaya jika tidak segera ditangani.

Fenomena corona yang sedang muncul saat ini memiliki kecenderungan untuk menimbulkan obsessive-compulsive disorder pada individu khususnya pada kebersihan. Jika diamati fenomena yang ada sekarang ini mulai dari panic buying, stok tisu, masker dan hand sanitizer yang habis terjual di mana-mana membuat banyak orang tidak mendapatkannya untuk turut menjaga kebersihan diri.

Gangguan OCD dapat dialami oleh siapa saja tanpa mengenal usia dan jenis kelamin. Awalnya mereka melakukan hal yang berulang hanya untuk make sure bahwa mereka telah betul-betul melakukannya. Namun lambat laun kebiasaan ini justru diperparah dengan adanya rasa tidak puas dan tidak aman jika tidak menuruti kebiasaan ini.

Sebetulnya penderita obsessive-compulsive disorder sudah mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan ini berlebihan. Namun mereka merasa harus tetap melakukannya dan kadang tidak bisa dihindari. Obsessive-compulsive disorder sendiri adalah gangguan yang dapat membuat individu berada pada siklus pikiran dan perilaku berulang. Kondisinya terdiri atas pikiran (obsession) dan keharusan melakukan sesuatu (compulsion).

Mari kenali obsessive-compulsive disorder secara lebih detail.

Mengenali Gejala Obsesif Dari OCD

Mengenali Gelaja OCD
Mengenali Gelaja OCD

Gangguan obsesif kompulsif atau ICD memiliki gejala yang dapat muncul berupa perilaku obsesif dan kompulsif tanpa adanya efek dari konsumsi obat atau adanya kondisi lain. Gejala yang pertama adalah adanya pemikiran yang tidak diinginkan seperti merasa bertanggung jawab terhadap hal buruk yang kemungkinan akan atau sudah terjadi.

Gejala lainnya adalah adanya kekhawatiran yang berlebihan terhadap kebersihan tubuh dan lingkungannya. Gejala yang muncul bisa saja berbeda-beda pada tiap individu. Seperti adanya tuntutan akan ketepatan dan kesempurnaan, rasa takut akan terjadi musibah dan masih banyak yang lainnya.

Obsesif sendiri merupakan gangguan pikiran yang terjadi secara terus menerus dan menimbulkan rasa cemas atau takut. Pikirannya dapat muncul ketika individu yang memiliki obsessive-compulsive disorder sedang memikirkan atau melakukan hal lain.

Pemikiran ini akan mengganggu pikirannya dan dapat membuat seseorang menjadi sangat cemas. Itu adalah contoh dari bentuk obsesifnya.

Gejala Compulsif Dari OCD

Gejala OCD
Gejala OCD

Obsessive-compulsive disorder tidak hanya memiliki gejala obsesif saja. Tetapi juga memiliki gejala compulsive untuk dapat disebut dengan OCD. Sedangkan bentuk compulsionnya misalnya terlalu sering mencuci tangan, terlalu sering bersih-bersih, mengulang-ulang aktivitas rutin sampai bolak-balik untuk mengecek sesuatu hingga anda harus terbangun beberapa kali di tengah malam.

Compulsive sendiri adalah perilaku yang dilakukan berulang-ulang untuk membantu mengurangi rasa cemas atau takut karena pikiran yang obsesif. Mereka akan merasakan kelegaan tersendiri sesaat setelah melakukan perilaku compulsive. Tetapi gejalanya akan dengan mudah muncul kembali dan membuat penderitanya mengulanginya.

Mereka mungkin tidak ingin berperilaku demikian, namun mereka cenderung tidak dapat mengendalikannya. Perilaku ini biasanya mendominasi kegiatan sehari-hari sehingga membuat aktivitas terganggu.

Penyebab OCD

Penyebab OCD
Penyebab OCD

Obsessive-compulsive disorder belum memiliki penyebab secara pasti. Namun OCD dapat muncul karena beberapa faktor pemicu. Kondisi obsessive-compulsive disorder ada dugaan memiliki kaitan dengan faktor genetik, lingkungan hingga adanya perubahan paa senyawa kimia di otak.

Faktor lain yang dapat menjadi penyebab OCD seperti adanya anggota keluarga yang juga memiliki OCD. Adanya gangguan lain yang diderita misalnya anxiety disorder, bipolar disorder, depresi hingga tourette syndrome. Seseorang yang mengalami obsessive-compulsive disorder juga dapat dipengaruhi oleh faktor adanya trauma masa lalu yang dialami misalnya bullying hingga pelecehan seksual. Bisa juga disebabkan oleh kepribadian seseorang yang ketat dan sangat disiplin, terlalu teliti dan ingin semuanya terlihat rapi setiap saat.

Pada anak-anak yang mengalami obsessive-compulsive disorder cenderung memiliki faktor infeksi oleh bakteri streptococcus yang dapat membuat gejala OCD nya mendadak muncul atau justru memburuk secara mendadak.

Mendiagnosis OCD

Untuk dapat mendiagnosis obsessive-compulsive disorder ini dibutuhkan pemeriksaan baik psikologis maupun pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang dilakukan untuk membantu menghindari masalah lain yang dapat menyebabkan gejala atau adanya komplikasi lain bersama dengan OCD. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan tes laboratorium seperti tes darah lengkap (CBC), fungsi tiroid, screening alkohol dan obat-obatan untuk mengetahui adanya konsumsi dua hal tersebut.

Kemudian pemeriksaan psikologis dilakukan berdasarkan adanya kriteria diagnostik dari DSM pada seseorang yang diduga memiliki obsessive-compulsive disorder.

Pengobatan OCD

Pengobatan OCD
Pengobatan OCD

Berbicara mengenai pengobatan untuk OCD sendiri memang tidak ada yang dapat menyembuhkannya 100% seperti sedia kala. Tetapi pengobatan yang dilakukan dapat meredakan gejala yang muncul sehingga tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Pengobatannya sendiri bisa diperoleh dari psikoterapi, farmakologi atau menggabungkan keduanya agar lebih maksimal.

Umunya cara pengobatan tersebut membuat penderitanya membaik setelah mengalami gejala yang disebutkan. Adanya komplikasi gangguan mental lainnya pada seseorang membuat individu dan ahlinya harus berhati-hati dalam memberikan penanganan yang tepat. Obat yang diberikan biasanya adalah serotonin reuptake inhibitor (SRI) dan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs).

Kedua jenis obat tersebut fungsinya untuk membantu meredakan atau mengurangi gejala OCD. Obat lain yang digunakan selain SRI dan SSRIs adalah clomipramine yang merupakan jenis antidepresan. Jenis SSRI baru juga dapat digunakan untuk pengobatan obsessive-compulsive disorder seperti fluoxetine, fluvoxamine dan sertraline. Obat lain yang umum untuk OCD adalah antipsikotropika misalnya risperidone.

Pengobatan secara psikoterapi dapat diberikan misalnya cognitive behavior therapy (CBT) dan activity therapy dapat membantu untuk meredakan atau mengurangi gejala obsessive-compulsive disorder ini. Seseorang dengan OCD dapat menyeimbangkan pengobatan dengan aktivitas di luar terapi. Misalnya dengan melakukan olahraga ringan agar tercipta kegiatan, Sebaiknya hindari untuk berhenti konsumsi obat yang diberikan ketika anda merasa lebih baik dari sebelumnya.

Hal ini akan membuat gejala dari OCD kembali muncul. Jika anda ingin mengonsumsi obat lain atau makanan tertentu konsultasikanlah dengan dokter yang menangani anda.

Cara Pencegahan OCD

Pencegahan OCD
Pencegahan OCD

Cara mencegah OCD sebenarnya hampir sama dengan pengobatannya, tidak ada cara pasti untuk mencegahnya. Tetapi dengan menyadari sedari dini dari gejala yang ditunjukkan akan lebih mudah untuk membantu penanganan yang tepat agar obsessive-compulsive disorder tidak semakin parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Perlu diketahui bahwa OCD tidak dapat sembuh dengan pengobatan dan pencegahan di atas. Namun dapat membantu individu yang mengalami OCD untuk mengendalikan dirinya atas gejala yang ditimbulkan. Itulah mengapa individu dengan obsessive-compulsif disorder tidak dapat sembuh total dan beberapa membutuhkan pengobatan seumur hidup.

Aware terhadap diri sendiri itu sangat penting agar anda tahu kapan membutuhkan pertolongan ahli. Sehingga dapat ditangani dengan tepat dan cepat. Aware terhadap mental health juga tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada orang lain di sekitar anda. Anda bisa menjadi support system bagi kerabat, keluarga atau orang terdekat agar dapat bersama-sama mencegah dan mengobati gangguan mental yang muncul.

Coba pelajari juga,

Demikian penjelasan tentan Obsessive-compulsive disorder yang perlu kamu ketahui. Dengan mempelajari sejak dini, kita dapat mengetahui penanganannya dengan tepat. Semoga artikel ini bermanfaat.

Written by Rima Mustika

Clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.