Sisi Lain Penggolongan Introvert dan Ekstrovert yang Perlu Kamu Tahu

Pasti sudah pada familiar dengan istilah Introvert dan Ekstrovert, hal itu karena

Novia Kartikasari Novia Kartikasari · 3 min read >
Penggolongan Introvert dan Ekstrovert

Pasti sudah pada familiar dengan istilah Introvert dan Ekstrovert, hal itu karena memang teori kepribadian milik Carl Jung ini salah satu yang paling banyak menarik perhatian khalayak dan dibahas dimana-mana, karena memang teori kepribadian Jung tidak se-kompleks seperti teori kepribadian lain sejenisnya.

Pembahasan-pembahasan yang ada tidak jarang kadang malah menimbulkan kesalahpahaman pada pembacanya ketika mencoba memahami maksud dari setiap golongan kepribadiannya. Yang alih-alih memberi pengetahuan eh jatuhnya malah memberi judge pada orang lain.

Seperti karena misal penulis atau penyampai informasi pada dasarnya tidak terlalu mencari informasi mengenai kepribadian Introvert-Ekstrovert ini. Sehingga apa yang disampaikan saklek atau seolah-olah paten.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai hal-hal yang mungkin masih salah dipahami mengenai dua tipe kepribadian ini, berikut penjelasan mengenai arti kedua tipe kepribadian ini.

Sekilas tentang Ekstrovert dan Introvert menurut Carl Gustav Jung

Ekstrovert dan Introvert menurut Carl Gustav Jung
Ekstrovert dan Introvert menurut Carl Gustav Jung

Tidak ada yang lebih buruk dan yang lebih baik dari kedua tipe kepribadian ini, keduanya memiliki posisi yang setara dan memiliki kelebihannya masing-masing.

Hal yang sangat mendasar yang membedakan keduanya adalah bagaimana “energi jiwa” masing-masing orang terhubung pada berbagai hal di luar dirinya, energi jiwa dalam istilah Jung disebut sebagai psychic energy. Energi jiwa adalah sesuatu hal yang memberikan tenaga untuk manusia bisa hidup dan menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Ada yang energi jiwanya terhubung secara kuat dengan hal-hal diluar dirinya (eksternal) ada yang energi jiwanya terhubung secara kuat dengan energi didalam dirinya (internal).

Secara harfiah pengertian sederhana Ekstrovert adalah orang-orang yang memiliki orientasi / ketertarikan kuat pada dunia diluar dirinya dan orang lain. Sementara Introvert adalah orang-orang yang memiliki orientasi / ketertarikan kuat pada pemikiran serta perasaan yang ada didalam dirinya sendiri.

Jung secara jelas juga mengatakan bahwa setiap orang memiliki perilaku kedua karakteristik kepribadian ini, namun akan ada salah satu yang mendominasi. Yang tidak mendominasi bukan berarti tidak bisa berpengaruh, di keadaan-keadaan tertentu sifat yang tidak dominan juga bisa muncul dan terlihat.

Baca Juga: Ketahui Apa Saja Perbedaan Antara Psikiater, Psikolog dan Konselor

Hal-hal yang Sering Disalahartikan Mengenai Introvert-Ekstrovert

Miskonsepsi Tentang Introvert dan Ekstrovert
Miskonsepsi Tentang Introvert dan Ekstrovert

1. Kepribadian Introvert dan Ekstrovert bukan sesuatu ketentuan yang mutlak

Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi dalam memaknai kedua tipe kepribadian ini adalah munculnya pemahaman stigmatis seperti introvert adalah orang-orang pendiam yang sukanya selalu menyendiri dan ekstrovert adalah orang-orang yang banyak bicara dan tidak bisa diam.

Tidak jarang pemahaman yang kaku mengenai dua penggolongan ini malah memunculkan masalah lain, salah satunya yakni pendiskreditan dan diskriminasi secara tidak sadar di suatu kelompok.

Misal karena seseorang menunjukkan sikap menutup diri dan dianggap Introvert dia jadi di pandang tidak pandai bergaul dan bersosialisasi  kemudian malah berakhir dijauhi.

Atau karena seseorang menunjukkan kebiasaan suka bicara, tidak bisa diam dan dia dianggap Ekstrovert kemudian dia dianggap terlalu self-center, egois dan tidak peka terhadap perasaan teman-temannya kemudian dia dibenci. Sadar atau tidak karena kesalahpahaman pada penggolongan kepribadiannya, kita jadi terprogram untuk melabeli “ini Introvert dan Ekstrovert”.

2. Kita semua adalah Ambivert

Ambivert menurut berbagai macam orang (secara awam) adalah sebuah istilah untuk menyebutkan adanya kepribadian Introvert dan Ekstrovert pada satu orang secara bersamaan. Daripada menggunakan istilah ini untuk menyebut kepribadian orang / kelompok tertentu, lebih tepat lagi jika istilah Ambivert ini digunakan untuk menggambarkan kepribadian rata-rata manusia yang kompleks.

Dalam buku “Theory of Personality” milik Schultz, Jung tidak menyebutkan secara jelas istilah mengenai golongan orang-orang Ambivert ini, tapi dia mengatakan bahwa memang manusia pasti memiliki kedua kepribadian ini hanya saja ada salah satu tipe yang dominan, entah itu Introvertnya atau Ekstrovertnya.

Karena kembali lagi, kepribadian ini adalah spektrum yang luas jadi orang Introvert juga bisa jadi Ekstrovert di situasi tertentu dan Ekstrovert bisa jadi Introvert di situasi tertentu yang lain.

Sehingga lebih tepat ketika menggunakan istilah Ambivert ini untuk menggambarkan betapa kompleksnya kepribadian manusia yang bisa punya dua hal sifat ini secara bersamaan.

3. Tidak ada yang lebih baik maupun lebih buruk

Tidak ada seorangpun manusia didunia yang tidak memiliki sifat buruk dalam dirinya, meskipun kadarnya pun berbeda-beda. Hal ini berlaku pula seperti ketika salah seorang memiliki kepribadian dominan tipe tertentu bukan berarti dia lebih buruk dan yang lain lebih baik dari dirinya, atau sebaliknya.

Karena setiap spektrum kepribadian ini (buruk atau baik) akan saling melengkapi kemudian membentuk kepribadian seseorang secara utuh, selain itu tiap kepribadian bisa menjadi kelebihan di keadaan-keadaan tertentu.

4. Mengunakan tipe kepribadian tertentu untuk mencari pembenar atas sebuah kesalahan / kekurangan yang merugikan orang lain

Salah satu hal yang sangat tidak boleh dilakukan ketika mengetahui tipe kepribadian kita adalah mencari pembenar atas ketidak kompetenan seseorang dengan alasan bahwa dia bukan tipe kepribadian yang cocok atas sesuatu hal itu.

Misalkan seseorang gagal menjadi pemimpin karena dia tidak mampu merangkul seluruh angota timnya, kemudian dia menggunakan alasan “Maaf ya karena aku memang Introvert jadi aku nggak bisa berhubungan dengan seluruh anggota”.

Tidak. Ini sangat salah. Kedua hal ini tentu sangat berlawanan jika kita mengacu pada spektrum kepribadian yang diungkapkan Jung sebelumnya.

Bahwa setiap orang bisa memunculkan tipe kepribadian tidak dominannya ketika di keadaan-keadaan tertentu. Tentunya tidak bijak jika menyalahkan bahwa dirinya adalah Introvert, padahal Introvert pun juga bisa menjadi Ekstrovert jika dibutuhkan dan begitupula sealiknya.

5. Terlalu mengkotakkan kepribadian kedalam kategori tertentu bisa memunculkan efek self-fulfilling prophecy

Perlu diketahui self-fulfilling prophecy adalah suatu fenomena psikologi yang muncul ketika seseorang terlalu mempercayai sesuatu hal karena sebelumnya telah berekspektasi atau memikirkannya secara konstan, kemudian secara tidak sadar seseorang melakukan suatu tindakan dibawah kesadarannya yang mengarahkannya untuk memenuhi prediksi tersebut. Sehingga sesuatu yang awalnya hanya ekspektasi lalu jadi kenyataan.

Dalam kaitannya dengan pengotakkan tipe kepribadian seseorang, fenomena ini bisa saja terjadi seperti misal seseorang terlanjur percaya bahwa dia adalah seorang introvert yang tidak terbuka dengan orang disekitarnya dan tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain, karena kepercayaan negatif semacam ini kemudian seseorang beranggapan secara terus-menerus bahwa dia memang seperti ekspektasi tadi.

Tanpa disadarinya lalu dia benar-benar pasrah dengan kepercayaan / biasnya tadi dan malah semua tindakannya mengarah ke sifat-sifat negatif tadi.

Baca Juga: Grounding Exercise, Cara Sederhana untuk Mengurangi Kecemasanmu

Membaca segala hal di dunia ini dibutuhkan yang namanya sikap skeptis (tidak mudah percaya) dan ingin tahu yang bear, karena tentunya ilmu itu luas dan bisa jadi disampaikan secara terpisah-pisah.

Ketika seseorang hanya membaca secuil kemudian menyimpulkan langsung sesuatu hal dan kesimpulan itu bukan sesuatu yang positif maka seseorang itu juga yang akan merugi dikemudian hari.

Hal ini juga berlaku ketika kita mencoba memahami karakter manusia melalui bacaan seputar kepribadian manusia, kita tidak boleh hanya berhanti pada satu hal saja kemudian langsung percaya. Karena seberapa hebatpun sebuah teori, teori tersebut yang merumuskan juga seorang manusia yang pasti ada saja kekurangannya.

Novia Kartikasari
An amateur writer who inspired to be a professional writer someday. I love writing about a social phenomenon, education, environmental and lifestyle issue Read Full Profile