Alasan Kenapa Pengguna Internet Bisa Jadi Jahat Ketimbang Aslinya

Pernah nggak sih kalian berpikir kenapa ada pengguna internet yang bisa melakukan

Novia Kartikasari Novia Kartikasari · 4 min read >
Efek Buruk Penggunaan Internet Bagi Psikologis

Pernah nggak sih kalian berpikir kenapa ada pengguna internet yang bisa melakukan sesuatu hal yang jahat banget ke orang lain? Baca-baca komentar saja deh di akun-akun selebritis, pasti ada saja komentar kebencian yang kata-katanya sangat kasar dan merendahkan si artis itu.

Atau mungkin komentar atau postingan kontroversial yang berseliweran di timeline kalian, yang isi tulisannya itu jahat atau kasar banget dan ditujukan buat memancing emosi orang lain.

Tidak jarang hal-hal kayak gini akhirnya masuk ke meja hijau, gara-gara netter yang bisa dibilang nggak tahu adab yang tiba-tiba mancing emosi orang yang kemudian tidak terima dan melaporkannya ke polisi.

Setelah itu ada saja yang komen “Dia beda banget ya aslinya, kelihatan alim tapi kok komentarnya bisa jahat banget sih”.  Nah kalau misal semua ini ada di dunia nyata, apakah masih mungkin mereka-mereka bisa sejahat itu?

Ada sebuah fenomena online yang diteliti oleh profesor Suler (2004) yang akhirnya menemukan jawaban kenapa seseorang ketika ada dunia maya bisa jadi sangat berbeda dengan apa yang dia tunjukkan di dunia nyata.

Dinamakan sebagai efek disinhibisi online (disinhibition effect online), adalah suatu fenomena yang terjadi pada pengguna internet yang bertingkah laku berbeda ketika dirinya sedang berada di dunia maya, mereka jadi terlihat lebih terbuka mengekspresikan diri, lebih melonggarkan dirinya, dan merasa tidak perlu terlalu menahan dirinya.

Namun ketimbang menyebut fenomena keterbukaan diri ini sebagai “memang begini sih diriku yang asli”, ada faktor-faktor yang mendorong semua hal itu menjadi mungkin.

 A. Toxic Disinhibition VS Benign Disinhibition

Toxic Disinhibition VS Benign Disinhibition
Toxic Disinhibition VS Benign Disinhibition

Fenomena ini tidak selalu negatif ya konotasinya, karena hasil dari efek disinhibisi online ini ada 2, yakni toxic disinhibition yaitu ketika kelakuan seorang netter penuh dengan kebencian untuk memancing orang lain, selalu mengkritik dengan kasar, suka menyindir.

Hingga kelakuan seseorang yang suka mengunjungi tempat-tempat “terlarang” di dunia maya seperti konten pornografi, kekerasan, dimana hal ini tidak mungkin mereka lakukan di dunia nyata.

Kemudian yang positif disebut dengan benign disinhibition yaitu ketika kelakuan seorang netter diniliai lebih positif dengan tujuan mencoba memahami dirinya sendiri dan mengembangkan pribadinya menjadi orang yang lebih baik melalui berbagai usaha, misal dengan mencoba menyelesaikan suatu masalah interpersonal, menyebarkan pesan positif atau dengan memahami emosi baru dari orang lain.

Namun perbedaan dua kategori ini bisa sangat ambigu untuk banyak kasus, misal dalam sebuah subkultur online tertentu perilaku antisosial tertentu (seperti misal mengintimidasi satu sama lain dengan kata-kata kasar) dianggap normal.

Seseorang bisa mengalami disinhibisi positif ataupun negatif secara bersama-sama. Terlepas dari itu semua sebenarnya faktor apa yang mendorong fenomena ini bisa terjadi?

B. Faktor-faktor Yang Mendorong Fenomena Efek Disinhibisi Terjadi

Faktor Pendorong Efek Disinhibisi
Faktor Pendorong Efek Disinhibisi

Profesor Suler (2004) mengatakan ada 6 hal yang menyebabkan seseorang bisa mengalami fenomena efek disinhibisi online ini.

1. Disosiatif Anonimitas – “Kamu kan nggak kenal aku”

Di dunia internet seseorang bisa bebas berinteraksi, mengomentari postingan orang lain atau menjelajah internet tanpa perlu dikenali identitasnya atau anonimitas. Akibatnya ketika seseorang merasa dirinya lebih tidak mudah dikenali dan merasa bahwa seolah-olah dirinya lebih terlindungi.

Selain itu seseorang juga merasa tidak harus bertingkah sebagaimana dia berperilaku di dunia nyata.

Anonimitas membuat seseorang merasa tidak mudah diserang secara pribadinya langsung dan lebih mungkin melibatkan dirinya dalam perilaku-perilaku yang merugikan atau membahayakan dirinya sendiri ataupun orang lain.

2. Invisibel – “Kamu tidak bisa melihatku”

Cara komunikasi di internet adalah melalui komunikasi tidak langsung yang membuat penggunanya berhadapan langsung secara fisik.

Hambatan dalam berkomunikasi juga secara langsung  akan menurun, karena seseorang tidak harus khawatir dengan nada bicara atau bahasa tubuh ketika dia sedang komunikasi dengan orang lain.

Efek invisibel juga membuat seseorang bisa menunjukkan dirinya sesuai apa yang dia mau, seperti dalam sebuah kasus seorang laki-laki yang menunjukkan dirinya sebagai perempuan di dunia maya, dsb.

3. Ketidaksinkronan – “Sampai jumpa lain waktu”

Pesan apapun yang kita bagikan di dunia maya bisa terjadi tidak sesuai dengan waktu yang berlaku di dunia nyata saat itu.

Maksudnya seperti misal dalam sebuah kasus seseorang habis membuat sebuah postingan yang kontroversial, seseorang bisa saja sewaktu-waktu keluar dari akunnya tersebut untuk menghindari melihat komentar negatif yang ada di postingannya, kemudian seseorang coba mengisi energi emosionalnya lebih dahulu sebelum melihat postingan yang dia bagikan.

Ketidaksinkronan waktu ini juga memungkinkan seseorang untuk berpikir pelan-pelan terlebih dahulu sebelum berkata-kata dalam sebuah pesan. Hal ini sebenarnya bisa membantu seseorang yang punya masalah berhadapan langsung dengan orang lain.

Adanya faktor ketidaksinkronan ini juga membuat seseorang merasa lebih tidak tertekan dibandingkan percakapan langsung dan bisa membentuk seseorang yang sangat berbeda di dunia maya dan dunia nyata.

4. Introjeksi Solipsistik – “Semua ini terjadi di pikiranku”

Sering kali ketika seseorang berinteraksi secara online seseorang mulai membayangkan lawan bicaranya di pikiran sambil dibumbui dengan ekspektasi dan keinginan.

Selain wujud seseorang juga seolah mendengarkan suara lawan bicaranya di pikiran seseorang. Namun semua hal ini muncul di pikiran sesuai dengan apa yang seseorang ekspektasikan bukannya sesuai dengan kenyataan.

5. Disosiatif Imajinasi – “Ini kan cuma sebuah permainan”

Seseorang mungkin melihat dunia internet sebagai sebuah permainan / game dimana peraturan yang berlaku di dunia nyata dalam kesehariannya tidak berlaku.

Hal ini memunculkan perasaan seseorang untuk kabur-kaburan dan membuat orang berpikir bisa membuat pribadi berbeda hanya dengan log on ke akunnya kemudian keluar.

Internet juga membuat seseorang bertingkah sesuatu hal yang normalnya tidak dia lakukan di dunia nyata.

6. Pengecilan Status dan Kekuasaan – “Aturanmu tidak berlaku disini”

Seorang tokoh yang punya kekuasaan akan menunjukkan kekuasaannya dari cara dia berpakaian, bahasa tubuh, gelar nama bahkan dia berada di lingkungan mana.

Tanpa semua hal-hal ini seseorang bisa berkurang kekuasaannya selama berada di lingkungan maya.

Meskipun seseorang tahu tentang status orang lain di dunia nyata, tapi perasaan diintimidasi karena kekuasaan ini akan berkurang selama seseorang berjejaring di internet. Internet dianggap menawarkan tempat “bermain” untuk siapa saja.

Baca Juga : Grounding Exercise, Cara Sederhana untuk Mengurangi Kecemasanmu

B. Agar Kamu Tidak Jadi Netter “jahat”

Agar Kamu Menjadi Pengguna Internet Yang Positif
Agar Kamu Menjadi Pengguna Internet Yang Positif

Efek disinhibisi online ini sekali lagi sangat wajar terjadi pada setiap orang dan tidak ada yang salah, namun tentunya kalau bisa kita harusnya jadi netter yang positif-positif saja ya dan menyebarkan hal-hal positif ke sekitar kita. Nah bagaimana sih caranya.

1. Tempatkan Dirimu di “sepatu mereka”

Seseorang bisa dengan jahatnya menulis komentar / postingan jahat pada orang lain dengan tujuan menyakiti karena dia tidak berpikir bagaimana kalau dia yang balik disakiti dengan perlakuan yang sama.

Dengan mencoba berpikir kalau kamu juga tidak mau dikomentari sejahat itu, kamu akan lebih menimbang-nimbang sebelum membagikan apapun komentar atau pesan di dunia maya, menyakiti seseorang atau tidak.

2. Dunia Maya dan Dunia Nyata itu Tidak Terpisah, Mereka Berkaitan

Dunia maya memang membuat seseorang merasa bebas mengkomentari, membagikan atau melakukan apa saja tanpa terikat secara langsung dengan aturan yang ada di dunia nyata. Namun kata “bebas” ini jangan hanya dimaknai sebagai bebas tanpa ada yang bisa mengaturmu.

Tanamkan di pikiran kalau pada dasarnya dunia maya dan dunia nyata adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan keberadaannya. Hal jahat apapun yang dilakukan seseorang di dunia maya pada netter lain akan berimbas secara nyata ke orang yang disakiti itu.

Selain itu apapun hal jahat yang kita lakukan di dunia maya cepat atau lambat konsekuensinya akan kita rasakan juga di dunia nyata.

3. Beda Dunia Tapi Adab Tetap Sama

Meskipun seolah terpisah tapi adab dimana-mana tetap sama ya, ber-tutur sopan kepada orang lain tidak melihat perbedaan tempat komunikasi karena yang kita ajak bicara ya sama-sama manusia.

Karena dengan ber ”adab” menjadikan kita berbeda dari makhluk lain yang tidak dikaruniai akal pikiran seperti manusia, jadi sopan santun itu tetap wajib dijaga dimanapun.

Sekarang sudah tahu ya kenapa bisa seseorang bisa jadi berbeda sekali saat di dunia maya dan di dunia nyata, dengan mengetahui informasi mengenai fenomena disinhibisi kita jadi lebih bisa introspeksi diri apakah kita sebenarnya mengarah ke negatif atau ke positif.

Baca Juga : Fenomena Diagnosa Dokter Google Sedang Trend, Apakah Tepat?

Namun apapun itu kita harus tetap memegang teguh prinsip tidak menyakiti orang lain terlebih dahulu baik itu di dunia nyata atau di dunia maya.

Novia Kartikasari
An amateur writer who inspired to be a professional writer someday. I love writing about a social phenomenon, education, environmental and lifestyle issue Read Full Profile