in

Ruminating dan Worrying, 2 Pola Pikir Penyebab Overthinking

Penyebab Overthinking

Ruminating dan worrying, apa sih itu?. Tentunya kita sudah tidak asing lagi dengan kata “Overthinking”. Ketika membaca kata tersebut apa yang ada dibenak Anda? pastinya seperti memenuhi kepala dengan semua hal. Bahkan hal kecil yang seharusnya bisa diminimalisir saja masih dipikirkan. Untuk apa sih sebenarnya overthinking ini datang?.

Manusia dikaruniai akal dan pikiran yang lebih baik dari makhluk lainnya. Namun jika Anda terlalu banyak memikirkan semua hal maka overthinking ini dikhawatirkan akan muncul. Penyebab dari overthinking bisa dari berbagai macam hal. Misalnya karena adanya ketakutan hingga karakteristik seseorang. Pola asuh dan lingkungan tempat bertumbuh juga memengaruhi hal ini.

Lalu apakah berbeda dengan worrying? Tentu saja berbeda. Overthinking yang Anda ketahui secara general tidak hanya berpaku pada pemikiran yang berlebihan saja. Tetapi overthinking ini berasal dari pola pikir yang destruktif atau sifatnya merusak.

Pola pikir ini adalah ruminating dan worrying. Jelasnya adalah ruminating ini berpikir sesuatu hal yang terlalu dalam dan rasa cemas (worrying).

Mari kita bahas kedua pola pikir ini terlebih dahulu.

A. Ruminating

Ruminating
Ruminating

Pola pikir destruktif yang pertama adalah ruminating. Pola pikir ini memiliki isi dari pikiran di mana hal tersebut adalah hasil penyesalan seseorang di masa lalu. Misalnya terhadap hal-hal yang Anda pikirkan seharusnya tidak dilakukan atau dikatakan.

Jadi jika Anda setelah berkata sesuatu atau melakukan sesuatu terhadap orang lain, setelahnya Anda akan berpikir bahwa apakah yang Anda lakukan itu benar? Atau apakah yang Anda katakan itu memang seharusnya dikatakan?. Pemikiran ini kadang akan menetap di otak Anda selama berhari-hari.

Terkadang ketika Anda sudah melupakannya, Anda bisa teringat kembali suatu saat dan merasa malu kemudian berpikir “Mengapa hal itu aku katakan?” atau “Kenapa hal itu aku lakukan”.

Hal ini jika tidak diatasi dengan baik maka akan menimbulkan pola pikir destruktif yang akan menambah beban pikiran Anda sendiri. Sebaiknya hal ini juga dipilah untuk tidak dipikirkan agar Anda tidak overthinking secara terus menerus.

B. Worrying

Worrying
Worrying

Tipe kedua adalah worrying. Pola ini datang pada saat Anda memikirkan mengenai sesuatu yang buruk akan terjadi. Belum terjadi, namun Anda tetap memikirkan akan hal ini berulang dan dapat menetap pula.

Sehingga pada situasi apapun, Anda akan memikirkan kemungkinan terburuk terus menerus terlebih dahulu. Kenyataannya? Belum tentu pikiran terburuk Anda akan betul terjadi. Pemikiran ini misalnya “ngerjain kayak gini gue ga mungkin bisalah” atau bisa juga “mana mungkin ini bisa berhasil” dan pemikiran buruk lainnya.

Dari kedua tipe pola pikir diatas apakah ada keuntungannya untuk diri Anda? tentu tidak. Pemikiran akan masa lalu baik itu ruminating dan worrying tidak akan membuat diri Anda dapat maju untuk lebih baik. Usaha dan doa Anda mungkin memang cukup kencang. Anda juga dikenal sebagai orang yang pantang menyerah. Namun jika kedua pola pikir ini sering hadir dan dipikirkan terus menerus, hal ini akan menjadi hambatan untuk dapat maju dengan maksimal.

Ada hal yang perlu Anda pahami untuk tidak membuat kedua pola pikir ini memenuhi kepala. Pertama, Anda harus memahami bahwa maklum sekali sebagai manusia memiliki kesalahan. Bahkan merasakan sebuah penyesalan pun manusiawi.

Namun terkadang, kebiasaan masa kecil dengan pola asuh seperti kesalahan kecil yang dibesar-besarkan juga bisa membuat hal ini menjadi besar meski hanya di dalam pikiran Anda sendiri.

Lalu apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegah pemikiran negatif ruminating dan worrying ini datang lalu menetap di kepala Anda?

1. Ikhlaskan Masa Lalu

Yang sudah terjadi tidak akan terulang lagi atau kembali lagi sesuai keinginan Anda. Yang Anda bisa lakukan adalah mengikhlaskan hal tersebut agar tidak terus terpikirkan oleh kepala Anda. Ini adalah langkah awal untuk dapat bergerak maju dari pemikiran Anda sendiri.

Karena jika pemikiran ini tidak dipilah-pilah, maka akan memengaruhi kehidupan Anda kedepannya. Tanpa sadar pola pikir ruminating dan worrying ini akan masuk dan memenuhi kepala Anda.

3. Tanamkan Sugesti Positif

Setelah Anda benar-benar mengikhlaskan masa lalu, ada lagi cara penting agar tidak terpengaruhi pikiran negatif. Pasalnya pikiran negatif ini bisa kembali muncul karena adanya faktor eksternal. Misalnya dari perkataan orang-orang yang ada disekitar Anda.

Hal ini akan memicu ruminating dan worrying pada pikiran Anda. Memang, apa yang orang lain pikirkan belum tentu dapat kita kendalikan hanya yang baik-baik saja menurut hemat kita. Karena belum tentu orang tersebut menyadari bahwa perkataannya tersebut melukai dan membuat kita overthinking.

Untuk itu, Anda bisa mengendalikan apa yang bisa masuk ke dalam pikiran. Misalnya jika ada seseorang mengatakan Anda tidak akan sukses, cobalah untuk memberikan sugesti positif terhadap diri sendiri misalnya dengan berkata “aku pasti bisa sukses jika berusaha”. Lagi pula masa depan Anda ditentukan dengan seberapa besar usaha dari diri Anda sendiri untuk lebih baik lagi.

3. Kenali Cara Anda Sendiri

Semua manusia yang hidup di bumi ini memiliki karakteristiknya sendiri dan juga cara berpikirnya sendiri. Untuk itu, Anda bisa mengenali cara untuk bergerak menuju goals penting dalam hidup. Karena tidak semua orang yang sukses itu berada pada jalan yang sama.

Ada yang sukses dengan berdagang, ada yang sukses dengan menulis bahkan ada yang sukses menjalankan bisnis online. Lihat, tujuannya sama, tetapi caranya berbeda-beda.

Jadi jangan berkecil hati jika ada kalimat dari lingkungan yang membuat Anda ruminating dan worrying sekarang ini. Hal tersebut belum tentu akan terjadi sesuai dengan apa yang Anda pikirkan bahwa hanya hal buruk yang akan terjadi.

Jika memang sudah terjadi, maka Anda sudah lebih pandai untuk memilih jalan menuju goals dengan sangat hati-hati bukan.

4. Tekuni Pilihan

Jika Anda sudah menemukan jalan sendiri, selanjutnya Anda harus menekuni pilihan tersebut. Tekun tidak hanya menunggu hasil dari ketekunan saja. Tetapi juga harus dibarengi dengan proses pembelajaran di dalamnya.

Dengan begitu, Anda bisa menemukan hal baru untuk mendukung jalan Anda menuju goals yang diinginkan.

Setiap manusia itu unik. Mengapa begitu? Karena berbeda usia, memiliki lingkungan dan kondisi zaman yang berbeda pula. Sehingga pola pikir dan jalan menuju goals yang akan dicapai pun juga berbeda.

Tidak menutup kemungkinan bahwa yang usianya sama pun punya perbedaan sudut pandang dan jalan ya. Sering kali, seseorang menjadi ragu saat menekuni pilihannya. Di sinilah ruminating dan worrying dapat muncul pada pikiran.

5. Memberanikan Diri

Untuk bisa melengkapi 4 langkah diatas, Anda perlu langkah kelima. Yakni memberanikan diri. Dalam hal ini adalah memberanikan diri mengambil risiko setelah mempelajari risk factor yang dibutuhkan. Semua konsekuensi yang didapatkan nantinya dari suatu tindakan bisa Anda pelajari dan tanamkan untuk memberanikan diri mengambil risiko.

Anda tidak akan tahu sebelum mencoba. Jadi jangan gunakan omongan orang lain yang justru membuat Anda semakin worry dengan jalan yang akan ditempuh. Karena mungkin saja orang tersebut memang tidak sesuai dengan jalan itu. Namun tetap berhati-hati dan jangan salah langkah. Ambil sisi positifnya dari kalimat orang lain.

Baca Juga : Kenali Jenis Gangguan Kecemasan Dan Cara Penanganannya

Intinya, overhtinking ini akan menjadi fatal jika Anda terlalu terbelenggu dengan pola pikir buruk seperti ruminating dan worrying ini. Anda bisa kok untuk mengambil time out dari aktivitas sejenak. Hal ini perlu untuk menenangkan kembali pikiran sehingga tidak dipenuhi dengan pemikiran buruk pada diri sendiri.

Written by Rima Mustika

Clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.