in ,

9 Faktor Penyebab Seseorang Memiliki Perilaku Bullying

Penyebab Perilaku Bullying

Perilaku bullying yang dilakukan seseorang sering tidak dipahami terlebih dahulu. Orang lain hanya sempat untuk memberikan sanksi kepada pelaku bullying saja.

Karena melakukan bullying ini dapat terjadi sampai melayangkan nyawa seeorang. Jika tidak ditangani dengan tepat maka perilaku ini akan mendarah daging pada si pelaku.

Namun jika kita melihat dari sisi si pelaku, maka ada beberapa hal yang hendaknya diketahui lebih dulu. Hal-hal tersebut merupakan penyebab bullying yang dilakukan seseorang terhadap teman atau rekannya.

Bullying sendiri adalah perilaku berulang dengan tujuan untuk melukai seseorang baik secara fisik maupun emosional.

Bullying merupakan perilaku agresif yang tidak diinginkan, umumnya muncul pada anak-anak usia sekolah. Bullying yang dilakukan dalam jangka panjang akan memengaruhi psikis korban dan juga pelakunya.

Perilaku bullying ini dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang usia. Perlakuan dari bullying ini berupa kekerasan baik secara fisik maupun verbal.

Jika tidak ditangani dengan tepat maka akan terbawa hingga seseorang tersebut dewasa karena bullying dapat terjadi di mana saja dan kapan saja.

Parahnya, korban sering kali tidak memiliki keberanian untuk speak up atas perilaku bullying yang diterima. Maka tak jarang korban bullying cenderung berani untuk mengakhiri hidupnya.

Tetapi tahukah anda mengapa perilaku bullying ini bisa terjadi? Ada beberapa penyebab terjadinya perilaku bullying yang dilakukan oleh seseorang. Simak penjelasan berikut.

1. Adanya Perilaku Agresif

Perilaku Agresif
Perilaku Agresif

Seseorang yang memiliki perilaku agresif dapat menjadi penyebab munculnya bullying.

Karena pada diri individu tersebut terdapat dorongan untuk menyerang dan menyakiti orang lain secara agresif dan tidak terkontrol.

Apalagi terhadap orang yang terlihat lebih lemah dari si pelaku bullying.

Sehingga para pelaku bullying merasa memiliki kekuatan untuk menindas dan menyerang secara terus menerus korbannya.

Mereka juga cenderung kesulitan untuk mengendalikan emosinya seperti marah dan frustasi. Maka emosi yang berlebihan tidak dapat dikendalikan dengan baik dan muncullan perilaku bullying.

2. Mengalami Tekanan

Mengalami Tekanan Hidup
Mengalami Tekanan Hidup

Penyebab perilaku bullying lainnya adalah adanya perasaan tertekan dalam menghadapi kehidupan.

Adanya permasalahan pribadi baik itu dengan orang tua yang juga bermasalah, adanya disfungsi dalam keluarga, adanya peristiwa perceraian orang tua, perkelahian dalam keluarga hingga adanya anggota keluarga yang mengonsumsi narkoba dan alkohol hingga merugikan keluarga lainnya.

Bisa juga karena adanya permasalahan dengan pasangan bagi seseorang yang sudah dewasa. Hal ini akan menimbulkan perasaan tidak berdaya dalam diri seseorang. Maka muncullah perilaku bullying yang dilakukan untuk menurunkan tekanan atau stres yang dimiliki.

Bullying yang dilakukan dengan cara apapun bertujuan untuk menunjukkan bahwa si pelaku memiliki kekuatan yang lebih guna menutupi kekurangan diri.

3. Self-Esteem Rendah

Self-Esteem Rendah
Self-Esteem Rendah

Penyebab perilaku bullying selanjutnya adalah adanya self-esteem ( harga diri ) yang rendah pada diri pelaku.

Self-esteem yang rendah dapat menyebabkan seseorang menjadi insecure dan inferior pada hal-hal yang ada di diri mereka.

Untuk itu mereka melakukan bullying sebagai cara agar pelaku merasa lebih baik.

Caranya adalah dengan merendahkan harga diri orang lain melalui kekerasan verbal misalnya menghina dan mencaci.

Bisa juga karena pelaku memiliki rasa iri pada korban. Rasa iri dapat muncul karena pengaruh insecure sebagai pemikiran bahwa ia tidak semenonjol korbannya.

Untuk itu pelaku berusaha agar orang tersebut tidak lebih tinggi darinya dengan cara melakukan bullying terhadap orang tersebut.

4. Korban Bullying

Korban Bullying
Korban Bullying

Pelaku bullying melakukan tindakan tersebut karena pada masa lalu pernah menjadi korban bullying juga.

Mereka memiliki perasaan ingin aman dan terlindungi dari tindakan bullying yang pernah dialami seperti di masa lalu.

Ya, mereka ingin membalas dendam atas apa yang pernah mereka rasakan sebelumnya kepada orang lain.

5. Kurang Empati

Kurang Empati
Kurang Empati

Penyebab seseorang perilaku bullying karena kurangnya rasa empati dalam diri seseorang tersebut.

Ketika pelaku melihat korbannya, ia tidak merasakan empati atas apa yang telah ia lakukan pada korban. Malah pada beberapa orang sebagai pelaku justru merasa senang ketika melihat orang lain mengalami peristiwa bullying.

Justru pelaku bullying akan semakin senang melakukan perbuatannya ketika reaksi yang diinginkan dari korban terus menerus muncul sesuai harapan.

Ini disebabkan oleh matinya rasa empati yang ada pada diri individu tersebut selaku pelaku.

6. Mencari Perhatian

Mencari Perhatian
Mencari Perhatian

Bullying juga dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan perhatian dari seseorang yang diinginkan.

Awalnya mungkin si pelaku hanya iseng dan mendapatkan perhatian dari orang yang diharapkan. Namun lambat laun pelaku tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk dari perilaku bullying.

Mereka tidak menyadarinya karena awalnya hanya untuk mencari perhatian saja.

Anda bisa mengatasinya dengan memberikan perhatian kepada anak ketika memunculkan perilaku positif. Hindari merespon pada perilaku negatifnya.

Cara ini akan membuat anak berpikir bahwa perhatian akan datang jika perilaku yang ditunjukkan baik.

7. Merasa Diuntungkan Dari Bullying

Mendapatkan Keuntungan
Mendapatkan Keuntungan

Penyebab dari perilaku bullying adalah adanya keuntungan yang didapatkan darinya.

Pelaku bullying bisa saja tanpa sengaja meneruskan bullying misalnya mereka melakukan bullying untuk mendapatkan uang, makanan atau hal yang mereka inginkan secara cuma-cuma.

Karena mereka tidak bisa mendapatkannya secara baik, maka mereka melakukan bullying untuk mendapatkannya.

Selain itu keuntungan lainnya adalah adanya kemungkinan untuk lebih ditakuti dan diakui orang lain karena perilaku bullying ini.

Mereka akan dianggap lebih punya power dan banyak temannya. Namun pertemanan mereka hanya untuk kemudahan agar tidak menjadi korban semata.

8. Tidak Memahami Perbedaan

Tidak Memahami Perbedaan
Tidak Memahami Perbedaan

Pelaku bullying umumnya melakukan tindakan tersebut karena tidak memahami perbedaan yang ada antara dirinya dengan teman-temannya.

Anak belum memahami mengapa temannya memakai kacamata tebal, berjalan pincang atau mengapa temannya memiliki postur tubuh yang aneh.

Ketidakpahaman ini akan membuat anak tidak mampu untuk menunjukkan empati terhadap sesamanya yang memiliki perbedaan. Maka perilaku bullying yang dilakukan adalah karena ingin mendapatkan hiburan semata.

Seringnya mereka melakukan bullying secara verbal dengan menghina, mengolok-olok hingga memberikan julukan pada korban bullying.

9. Ikut-Ikutan

Ikut-Ikutan
Ikut-Ikutan

Ada pula yang melakukan bullying karena ikut-ikutan dengan kelompok pertemanan yang dianggap keren.

Pada satu lingkungan pasti ada kelompok yang paling menonjol dan terlihat keren meski memiliki perilaku membuli teman-temannya.

Karena perilaku bullying oleh si kelompok keren malah dianggap hal yang keren pula.

Untuk itu ia berusaha mengikuti apa yang kelompok ini lakukan termasuk melakukan bullying. Agar ia juga terlihat sama kerennya dan sama derajatnya dengan kelompok keren tersebut.

Intinya apa yang ia lakukan adalah untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain atau kelompok lain bahwa ia juga kuat seperti mereka.

Baca Juga :

Akhir kata, Perilaku bullying ini di Indonesia sudah tidak pandang bulu. Siswa bisa membuli gurunya dan tidak menghormati guru seperti masa dahulu.

Jika hal ini tidak di atasi dengan baik maka perilaku bullying ini akan semakin tumbuh dengan subur. Apalagi dengan adanya sikap ikut-ikutan agar terlihat keren di mata orang lain.

Maka tak jarang perilaku bullying kerap terjadi dari tahun ke tahun secara turun temurun.

Written by Rima Mustika

Clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.