in

Istri Wajib Tahu, 6 Penyebab Suami Tidak Bahagia Setelah Menikah

Penyebab Suami Tidak Bahagia
Penyebab Suami Tidak Bahagia

Sikap suami berubah terhadapmu, tapi setiap kali kamu bertanya adakah yang salah dia menjawab semua baik-baik saja.

Pada umumnya pria memang sulit berbicara mengenai perasaan. Jika suami tidak bahagia atau merasa kesal, mungkin dia tidak akan mengatakannya secara langsung.

Salah satu alasannya karena ia tak ingin menyinggung perasaan kamu, tapi masalahnya apa yang harus kita lakukan jika ia benar-benar tidak bahagia.

Tunggu dulu. Seperti soal matematika, sebelum menjawab tentu kita perlu menyimak dengan jelas isi soalnya. Maka sebelum mengetahui apa yang harus dilakukan, kita perlu memahami dulu apa penyebabnya.

Berikut 6 Penyebab Suami Tidak Bahagia Setelah Menikah!

1. Dia Merasa Tidak Dicintai, Apakah Benar?

Tidak Merasa Dicintai
Tidak Merasa Dicintai

Seorang suami tentu menanggung banyak beban pikiran dan tenaga, tetapi seringkali seorang istri tidak memperhatikan, justeru malah menuntut lebih dan lebih.

Lelahnya pikiran dan tenaga seseorang memengaruhi kondisi emosinya. Secara teori, saat pikiran dan tubuh lelah maka emosi yang mengambil kendali seseorang.

Meskipun lelaki dikenal lebih dominan logikanya, tetapi ada saat-saat dimana logikanya sangat lelah. Penyebabnya mungkin kamu kurang perhatian, selalu marah-marah atau tidak melayaninya dengan baik.

Perlakuan seperti ini kepada suami membuatnya merasa tidak dicintai, sehingga secara alami ia merasa tidak bahagia menikah dengan kamu.

Jika kamu ingin suami merasa bahagia dan dicintai, sangat penting memberinya perhatian kecil dan berkata-kata lembut.

2. Dia Memiliki Harapan yang Terlalu Tinggi Dalam Hidup

Memiliki Ekspetasi Terlalu Tinggi
Memiliki Ekspetasi Terlalu Tinggi

Ketidakbahagiaan seorang suami tidak selalu berkaitan dengan perlakuan istri. Tentu ada hal-hal yang bersifat pribadi dan tersimpan rapi dalam pikiran kita masing-masing.

Mungkin ia berekspektasi memberikanmu kebahagiaan yang lebih dari apa yang sudah kamu terima saat ini. Mungkin ia merasa tidak cukup baik menjadi seorang suami. Mungkin ia tidak berhasil mencapai impiannya.

Banyak hal-hal dalam pikiran yang seringkali menyiksa diri sendiri. Dan jika kamu merasa tidak menuntut lebih darinya, jika kamu merasa sudah cukup bahagia dengannya, tentu kamu tak perlu merasa bersalah dan bersedih.

Tetapi ada baiknya jika kamu mengajaknya berkomunikasi, katakan dengan lembut “Aku sudah cukup bahagia denganmu, tenanglah, tak perlu berpikir terlalu keras.”

Tenangkan hati dan pikirannya dengan perhatian, jangan lupa memberinya semangat.

3. Kamu Selalu Berusaha Untuk Mengubahnya

Kamu Berusaha Mengubahnya
Kamu Berusaha Mengubahnya

Perempuan dikenal dengan perasaannya yang dominan. Hal ini membuat perempuan bersifat penyayang, maka wajar ketika suami memiliki kebiasaan buruk, ia akan berusaha mengubahnya.

Tetapi karena terlalu mengedepankan perasaan daripada logika membuatnya buta. Seorang istri terkadang lupa bahwa ia tidak bisa mengendalikan orang lain, bahkan suami, tugas istri hanya sekedar mengingatkan.

Masalahnya kebanyakan lelaki, ingin dicintai apa adanya. Jika terus menerus dikritik mereka akan mengalami krisis identitas. Maka untuk menaikkan kembali identitasnya, ia melakukan kebiasaan buruknya dengan lebih parah.

Meskipun kamu berniat untuk kebaikannya, tetapi jika cara kamu kurang baik dalam menyampaikan kritik maka suami akan merasa tidak bahagia.

Tentu kamu perlu berhati-hati dalam bersikap. Sebab ketika seorang suami merasa tidak bahagia di dalam rumah, maka ia akan mencari kebahagiaan diluar sana tanpa sepengetahuanmu.

4. Dia Merasa Tidak Cocok Dengan Kepribadianmu

Tidak Menyukai Kepribadianmu
Tidak Menyukai Kepribadianmu

Kebanyakan orang menikah karena mencintai pasangannya. Tentu tidak ada yang salah dengan cinta, tetapi kamu perlu tahu bahwa cinta saja tidak cukup.

Cinta memang buta. Ketika mencintai seseorang, seburuk apapun dirinya kita akan tetap menerimanya. Karena cinta, kita percaya bahwa seseorang bisa berubah seiring waktu, namun ternyata cintalah yang pudar seiring waktu.

Setelah cinta pudar, logika pun terbuka. Akhirnya kita bisa melihat dengan jelas kepribadian pasangan. Mungkin ada beberapa hal yang ia tidak sukai dari dirimu. Sesuatu yang tak ia lihat darimu sebelum pernikahan ini terjadi.

Benar saja, kebanyakan pasangan menyesal setelah menikah. Hal ini terjadi karena sedari awal kita lebih mengedepankan cinta daripada logika. Kita lupa bahwa cinta bisa pudar!

Jika benar ini penyebabnya. maka bukan hanya suami saja yang tidak bahagia tetapi istri juga. Bahkan anak-anak juga terkena imbasnya sebab sering melihat ayah ibu bertengkar.

Baca Juga : 6 Hal yang Kerap Menjadi Ujian dalam Hubungan Pernikahan

5. Tidak Mampu Berkomunikasi Dengan Jelas

Komunikasi Yang Buruk
Komunikasi Yang Buruk

Komunikasi dan kepribadian memiliki keterkaitan, seorang introvert kebanyakan tidak mampu berkomunikasi dengan jelas.

Di fase sekarang ini mungkin kamu sudah mengenal jelas kepribadian pasangan. Jika ia adalah seorang ekstrovert, lalu tiba-tiba sulit diajak berkomunikasi, maka ada sesuatu yang salah dalam hubungan.

Tetapi jika kamu adalah seorang ekstrovert juga, tentu bukan masalah untuk memulai pembicaraan sehingga komunikasi pun dapat berjalan.

Ketika pintu komunikasi tertutup, tidak ada cela lagi untuk menjelaskan keluhan dan kebutuhan masing-masing, maka sudah jelas ini akhir dari pernikahan.

Maka jika kamu merasa tidak bahagia atau kamu menduga pasangan tidak bahagia, lihat saja dari cara kamu dan dia dalam berkomunikasi.

Itulah mengapa seorang introvert tidak cocok dengan introvert, sebab jika kamu diam maka pasangan juga diam. Akhirnya komunikasi tertutup dan keduanya sama-sama tidak menemukan titik terang.

Baca Juga : 3 Tips Memilih Suami yang Baik Untuk Wanita Masa Kini

6. Kurang Memiliki Waktu yang Berkualitas Bersama Keluarga

Tidak Memiliki Waktu Dengan Keluarga
Tidak Memiliki Waktu Dengan Keluarga

Setelah kita sibuk bekerja seharian, setelah kita kesulitan untuk berkumpul bersama keluarga dan pasangan, saat itulah kita mengerti betapa berharganya waktu.

Namun dalam pernikahan, waktu yang berkualitas bersama keluarga bukan hanya disebabkan karena masalah karir. Bisa jadi penyebabnya karena kita terlalu asyik dengan dunia masing-masing.

Saat seseorang mulai maju dalam karirnya, maka waktu untuk keluarga akan semakin berkurang. Disinilah kita paham bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Tetapi untuk apa menyalahkan keadaan, toh hidup ini pilihan. Sebelum kita menjadi seperti sekarang ini, di masa lalu pasti kita sudah mengetahui bahwa resikonya akan seperti ini.

Jika masalah waktu adalah penyebabnya, maka sering-seringlah berkomunikasi lewat pesan singkat atau telepon. Jika hal itu pun tidak memungkinkan juga, maka bersabarlah menanggung resikonya sementara ini.

Setelah semuanya sudah cukup terpenuhi, kehidupan pasangan dan keluarga akan kembali normal. Jangan lelah mengingatkan hal-hal seperti ini kepada suami dan teruslah memberinya semangat dalam bekerja!

Baca Juga : 5 Ciri-Ciri Awal Istri yang Buruk ‘Durhaka’ Terhadap Suami

Akhir kata

Ketidakbahagiaan suami tidak selalu disebabkan istri. Dan kebahagiaan suami pun tidak selalu bergantung pada istri. Kita perlu mengerti bahwa semua orang punya kehidupan pribadi.

Tetapi ada kalanya ketika bersama dua orang menjadi satu. Berbagi tentang hal-hal yang sudah kamu lewati seharian dan berkomunikasi dengan suami adalah kunci keharmonisan hubungan.

Demikianlah artikel tentang 7 Penyebab Suami Tidak Bahagia Setelah Menikah. Semoga bermanfaat!