Ketahui Apa Saja Perbedaan Antara Psikiater, Psikolog dan Konselor

Permasalahan dalam hidup akan terus ada menemui kita sehari-hari. Mulai dari permasalahan

Rima Mustika Rima Mustika · 4 min read >
Perbedan Antara Psikiater, Psikolog dan Konselor

Permasalahan dalam hidup akan terus ada menemui kita sehari-hari. Mulai dari permasalahan pekerjaan, akademik bagi yang sedang sekolah atau kuliah, hingga permasalahan dalam situasi lingkungan rumah. Tidak jarang kita merasakan lelah dan penat setelah berperang menghadapi permasalahan tersebut.

Tentu sebagai manusia yang utuh dan sadar akan kesehatan mental, kita berusaha mencari cara bagaimana agar dapat terlepas dari lelah dan penat yang dapat berujung pada stres atau parahnya lagi pada depresi.

Entah itu dengan refreshing seperti berjalan-jalan, liburan, berbelanja, kulineran hingga olahraga, anda dapat memilih cara yang sesuai dengan diri anda untuk dapat melepaskan stres.

Selain dapat berdampak pada fisik, hal tersebut juga dapat berdampak pada sisi psikologis seseorang. Jika kita observasi lebih lanjut lagi mengenai hal ini, tentu bidang ini masuk ke dalam ranah kesehatan mental. Apa yang sudah terlintas di pikiran anda mengenai kesehatan mental ? ada kah yang berpikir bahwa tidak sehat secara mental itu gila?.

Jika dicermati lebih dalam, masih banyak yang mengaitkan bahwa urusan mental pada seseorang erat hubungannya dengan seseorang yang gila.

Padahal tidak hanya itu saja urusan dalam kesehatan mental. Sering kali ketika anda datang ke psikolog terdekat, anda akan langsung mendapatkan social punishment berupa labeling bahwa anda gila.

Hey, bukan begitu lho ternyata. Rupanya ketika anda memang membutuhkan bantuan dari seorang ahli dalam bidang kesehatan mental, anda wajib datang ke psikolog atau psikiater.

Atau anda hanya ingin curhat dengan ada lawan bicara yang mendengarkan ? hal ini juga dapat dilakukan dengan datang ke psikolog. Ternyata tidak hanya hubungan dengan orang gila bukan ranah ini. Ada ahli yang disebut dengan psikiater, psikolog dan konselor.

Namun sebelum anda memutuskan untuk datang ke ahli di bidang kesehatan mental ini, anda perlu ketahui terlebih dahulu perbedaannya antara psikiater, psikolog, dan juga konselor.

1. Psikiater

Psikiater
Psikiater

Psikiater adalah profesi yang dipelajari seseorang dengan latar belakang pendidikan kedokteran untuk program strata 1 atau S1. Ternyata awalan Psi pada kata Psikiater bukan berarti mereka menempuh pendidikan di psikologi lho.

Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan kedokteran yang bergelar dokter umum, akan melanjutkan residensi selama kurang lebih 4 tahun lamanya.

Tentu residensi ini dengan bidang psikiatri. Ketika seseorang telah menyelesaikan residensi dengan bidang psikiatri, maka akan lulus dengan gelar dokter dan Sp. KJ. Nah di sini baru deh bisa dikatakan sebagai psikiater.

Yang membedakan antara psikiater dengan psikolog adalah psikiater harus dapat mengetahui penyebab gangguan kejiwaan dari sisi medis dan kelainan sistem syarafnya. Mereka harus bisa mendiagnosis gangguan tersebut seperti skizofrenia, bipolar atau gangguan psikologis lainnya.

Perbedaan yang utama adalah mereka dapat meresepkan obat kepada pasiennya setelah memberikan diagnosa dengan tepat.

Seorang psikiater dapat memberikan obat kepada pasiennya karena belajar dengan latar belakang dokter membuat mereka mengetahui mengenai hal kimia pada otak manusia yang tidak seimbang.

Jadi terapi pada psikiater cenderung pada terapi dengan menggunakan obat-obatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.

Fokus psikiater cenderung pada perubahan biologis dan fisiologis pada pasien. Seorang psikiater yang kompeten biasanya juga dapat memberikan tes psikologi yang berkaitan dengan neurologi kepada pasien-pasiennya.

Karena psikiater erat kaitannya dengan pemeriksaan status mental berdasarkan neurologi. Psikiater umumnya dapat bekerja pada rumah sakit umum, rumah sakit jiwa atau membuka praktek sendiri.

Baca Juga : 6 Kegiatan Ini Ternyata Bagian dari Art Therapy, Yuk Kenali Lebih Jauh

2. Psikolog

Psikolog
Psikolog

Psikolog memiliki latar belakang pendidikan dengan menempuh program psikologi dalam strata 1 atau S1. Kemudian kamu harus menempuh program magister profesi psikologi untuk mendapatkan gelar sebagai seorang psikolog.

Psikolog memiliki bidangnya masing-masing. Ada psikolog klinis, psikolog industri dan organisasi, psikolog perkembangan, psikolog sosial dan psikolog pendidikan.

Psikolog klinis dapat bekerja di rumah sakit, klinik, biro psikologi yang memberikan layanan konsultasi dan tes psikologi atau dapat membuka praktek individu sendiri.

Psikolog industri dan organisasi biasanya bekerja pada perusahaan dan ditempatkan di HRD. Sedangkan psikolog pendidikan umumnya bekerja di lembaga-lembaga yang terkait dengan pendidikan. Untuk dapat menyelesaikan pendidikan ini, kamu akan dihadapkan pada praktek kerja psikologi yang nantinya akan diujikan.

Ujian ini lah yang kemudian akan menentukan apakah kamu layak atau tidak menjadi seorang psikolog. Dengan ujian ini maka kamu juga akan mendapatkan license sebagai seorang psikolog.

Perlu diingat ya, untuk menjadi seorang psikolog anda harus berasal dari S1 psikologi juga. Jika bukan berasal dari S1 psikologi, maka anda bergelar magister science.

Psikolog harus dapat mencari penyebab non medis dari suatu gangguan psikologis. Mulai dari seseorang tersebut lahir, bagaimana pola asuh oleh orang tua, apa saja yang kejadian yang dialami oleh individu sepanjang hidupnya sampai pada masa sekarang.

Hal tersebut penting untuk dapat menelusuri penyebab dari gangguan yang ditimbulkan. Jadi psikolog tidak bisa membaca wajah kamu ya. Perlu observasi dan catatan detail agar dapat ditentukan diagnosanya, tidak hanya sekedar duduk dan mendengarkan anda bercerita.

Psikolog memiliki kemampuan yang kompeten untuk dapat memberikan tes-tes psikologi seperti tes IQ, tes kepribadian dan tes-tes yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan kliennya. Diantara sekian banyak bidang psikolog, yang paling mirip dengan psikiater adalah psikolog klinis.

Psikolog klinis dapat menangani kasus kejiwaan, memberikan diagnosa psikologis, dan memberikan psikoterapi. Disebut juga dengan kasus klinis maka disebut dengan psikolog klinis.

Baca juga : 10 Arti Warna Dalam Psikologi, Ketahui Biar Gak Salah Kostum Lagi

3. Konselor

Konselor
Konselor

Konselor menempuh pendidikan yang merujuk pada program pendidikan berupa S.Pd atau M. Pd yang kemudian melanjutkan spesialisasi ke bidang konselor. Gelar konselor ini umumnya M.K atau M.A. jurusan tersebut biasanya juga didapatkan dari jurusan bimbingan dan konseling.

Konselor bekerja dengan menggunakan pendekatan yang hampir mirip dengan psikologi. Namun fokus mereka adalah pada seseorang yang normal bermasalah. Maksudnya adalah mereka mengalami masalah dan tantangan dalam hidup tetapi tidak mengganggu kesehatan mental sampai pada taraf gangguan jiwa.

Peran seorang konselor lebih kepada bagaimana memposisikan diri sesuai dengan klien. Seperti mampu menjadi seorang teman, mentor, pendengar yang baik bahkan mungkin memposisikan diri sebagai orang tua jika kliennya masih dibawah umur.

Perbedaan yang lain adalah konselor tidak memiliki kompetensi yang dipelajari lebih jauh untuk dapat menangani seseorang yang mengalami gangguan kejiwaan.

Yang sering salah kaprah adalah konselor sering disamakan dengan psikolog sehingga ada juga kasus yang seharusnya ditangani oleh psikolog tetapi justru ditangani oleh konselor.

Tes psikologi mungkin dapat diberikan oleh konselor namun tidak semua dan hanya konselor yang sudah mendapatkan pelatihan di bidang tes tersebut saja yang boleh memberikan tes itu.

Umumnya pekerjaan konselor banyak diperlukan di sekolah. Baik itu dari sekolah TK, SD, SMP hingga SMA. Sekolah banyak membutuhkan konselor karena umumnya yang memerlukan konseling adalah anak sekolah yang segi fisik masih sehat namun sedang mengalami hambatan.

Hambatan tersebut tidak sampai membuat individu tersebut mengalami gangguan jiwa. Itu sebabnya konselor biasa ditempatkan di sekolah karena kasus yang ada biasanya kasus normal bermasalah.

Ternyata sedikit rumit ya perbedaan dari ketiga profesi ini. Rata-rata membacanya saja serasa hampir banyak sekali kemiripan. Tetapi jelas jauh berbeda dari segi pendidikan hingga lapangan pekerjaan yang dapat mereka jalani.

Tidak menutup kemungkinan pula jika dari profesi psikiater, psikolog dan konselor ini dapat menjalin kerjasama yang baik. Ketika ada seseorang yang datang ke psikiater padahal mereka hanya butuh konseling dan psikoterapi tanpa obat, psikiater dapat merujuknya ke psikolog.

Begitu juga jika dirasa kasus yang dipegang oleh psikolog harus mendapatkan bantuan obat-obatan, psikolog dapat merujuknya ke psikiater.

Baca Juga : Fenomena Diagnosa Dokter Google Sedang Trend, Apakah Tepat?

Konselor yang memiliki klien sudah lebih dari normal bermasalah pun juga harus mengetahui apakah kebutuhan klien ini bisa dirujuk ke psikolog atau ke psikiater. Nah itu tadi pembahasan mengenai 3 profesi yang masih sering salah memahaminya. Luas juga ya ternyata bidang kesehatan mental ini.

Jadi pastikan dulu kebutuhan diri anda. Jika anda sudah tidak lagi merasa lingkup terdekat membantu anda, maka anda harus segera meminta pertolongan kepada salah satu ahli diatas. Sesuaikan dengan kebutuhan nyata dari diri anda ya.

Rima Mustika
Psychology and art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee. Read Full Profile