in ,

3 Prinsip Penting Membuat Keputusan Dengan Benar dan Cepat

Membuat Keputusan Dengan Benar

Saat kamu berusaha untuk mewujudkan tujuan hidupmu, maka pengembangan diri adalah sesuatu yang tak bisa dihindari. Perkembangan ini seringnya membuatmu harus berubah dan mendapatkan kemampuan baru agar bisa menghadapi perubahan tersebut.

Tak hanya itu saja, namun kadang kamu juga harus membuat pilihan dan keputusan di tempat yang kamu belum familiar ini. Beberapa pilihan tersebut mungkin merupakan pilihan yang bisa kamu pilih dengan mudah dan mungkin sisanya merupakan pilihan yang membuatmu ketakutan–kamu merasa semua akan berjalan dengan buruk tak peduli pilihan mana yang kamu ambil.

Mungkin artikel ini memang terdengar aneh, namun kamu benar-benar bisa untuk membuat pilihan yang benar di saat-saat genting saat hati dan pikiranmu tertekan untuk memilih jalur mana yang harus kamu ambil.

Saat kamu sudah tak asing dengan caramu mengambil keputusan dan bisa mengembangkan pondasi kuat untuk mengambil keputusan, maka kamu akan berada di jalur yang benar dalam membuat keputusan. Inilah 3 prinsip penting untuk membuat keputusan:

1. Pahami Peran dari Perasaan Dalam Semua Proses Keputusan

Perasaan Dalam Semua Proses Keputusan
Perasaan Dalam Semua Proses Keputusan

Banyak penelitian yang mengungkapkan tentang peran otak dalam proses keputusan yang kita ambil. Amigdala manusia berperan penting dalam memberitahukan apa yang baik untuk kita (misal, membuat kita tetap aman, bahagia dan nyaman) serta apa yang buruk (semua hal yang membuat kita merasa terancam).

Kita menaruh berbagai emosi dan perasaan tergantung dari apa yang terjadi kepada kita. Dengan setiap kejadian mempunyai emosi dan perasaan berbeda, maka hal ini bisa menjadi petunjuk bagaimana kita menjalani hidup.

Misal, kamu pernah mengalami pengalaman buruk lewat suatu jalan, jadi kamu secara otomatis menaruh perasaan was-was setiap jalan tersebut dan berusaha menghindarinya sebisa mungkin–dan ini semua tak akan bisa terjadi tanpa amigdala yang ada di otak kita.

Apakah kamu pernah bertemu dengan orang yang mengatakan bahwa mereka selalu membuat keputusan hanya berdasarkan fakta, angka dan bukti saja? Apakah mereka juga mengatakan kalau mereka tak membiarkan perasaan ikut campur dalam keputusan mereka? Kemungkinan besar yang terjadi adalah mereka merasa nyaman dan aman jika sudah melihat fakta atau angka yang disodorkan.

Bisa dikatakan bahwa uang itu merupakan sumber khawatir nomor satu umat manusia di planet bumi. Uang membuat kita selalu pergi tidur dengan perasaan tak enak dan selalu membutuhkan berbagai keputusan penting. Walaupun kamu sudah menghitung semua pengeluaranmu dan merasa yakin kamu bisa membayar semuanya, kamu masih ragu-ragu untuk membeli tiket pesawat untuk liburan ke tempat yang sudah lama kamu impikan.

Walaupun angka-angka yang muncul dalam perhitunganmu semua masih di bawah budgetmu, kamu masih saja menahannya. Hal ini terjadi karena secara otomatis, kamu teringat dengan berbagai hal yang berhubungan dengan keuangan–kamu merasakan perasaan yang berbeda-beda tergantung dari jumlah uang yang kamu miliki.

Hasilnya, kamu akan mengembangkan suatu pemikiran yang tentu saja akan berefek kepada keputusan-keputusanmu–apakah kamu akan melakukannya atau tak melakukannya. Dan ini semua hanya contoh dari sisi uang saja!

Saat kamu bingung dalam membuat keputusan, catatlah perasaan dan emosi apa yang muncul saat itu. Perhatian hal ini saat kamu memikirkan pilihan-pilihan yang bisa kamu buat. Hanya karena kamu akan merasakan perasaan takut atau cemas, bukan berarti pilihanmu itu salah–ini hanyalah cara amigdala untuk memperingatkanmu saja.

Selama kamu bisa memahami tentang bagaimana atau kenapa perasaan itu muncul, baik itu positif atau negatif, maka kamu akan bisa lebih jelas dalam menentukan berbagai pilihan yang datang.

2. Perhatikan Ekspektasimu Saat Kamu Membuat Keputusan

Ekspetasi Saat Membuat Keputusan
Ekspetasi Saat Membuat Keputusan

Kamu mungkin berpikir bahwa kita membuat keputusan berdasarkan diri kita sendiri, tapi faktanya tidak demikian. Seringnya, kita membuat keputusan yang secara tak sadar memenuhi norma sosial atau norma kebudayaan yang kita junjung. Nah, kamu harus memperhatikan hal ini dan berusaha untuk tak membuat keputusan berdasarkan hal tersebut.

Beberapa peneliti psikologis ternama mengemukakan bahwa ekspektasi sosial mempengaruhi keputusan yang diambil oleh seseorang berdasarkan riset yang telah dilakukan. Inti dari penelitian ini adalah kalau orang-orang seringnya–secara tak sadar, memiliki ekspektasi tentang hal apa–baik atau buruk, yang akan terjadi dengan mereka.

Kamu bisa mencoba sendiri riset ini dengan menawarkan seseorang Rp 100 ribu. Jangan jelaskan apapun kenapa kamu memberikannya uang itu dan katakan saja kamu hanya ingin memberikannya saja kepada mereka–tak ada alasan lain.

Kemungkinan besar orang-orang itu akan ragu dan penasaran. Beberapa orang mungkin akan bertanya,”Hmm… apakah aku harus melakukan sesuatu?” Kamu mungkin akan terkejut bahwa beberapa orang tak menggubrismu atau mereka akan menolak uang gratis itu darimu, menganggap kamu gila dan meninggalkanmu begitu saja.

Menerima dan memberikan uang secara gratis itu bukanlah hal normal yang sering terjadi di kehidupan kita. Biasanya kita mendapatkan uang apabila kita melakukan sesuatu. Maka tak heran, kalau orang-orang tadi bertanya-tanya dan ragu tentang uang gratis yang kamu berikan.

Apakah kamu akan menerima jika orang asing tiba-tiba  saja memberikanmu uang Rp 100 ribu? Ekspektasi apa yang akan lahir dari dalam alam bawah sadarmu tentang kejadian ini? Ekspektasi yang muncul di diri kita itu datang dari pengalaman serta pembelajaran yang kita ambil dari hidup kita terkait pilihan itu–dan ekspektasi ini bisa membantumu atau justru melawanmu.

Kita bisa saja menghadapi keputusan yang sulit saat kita tak punya pengalaman atau acuan untuk membantu kita memilih keputusan itu. Kuncinya adalah cobalah untuk tak menaruh ekspektasi apa-apa dan buatlah keputusan murni berdasarkan apakah keputusan itu akan membantumu atau tidak.

3. Jangan Pernah Membuat Keputusan Saat Kamu Tak Stabil

Membuat Keputusan Saat Tidak Stabil
Membuat Keputusan Saat Tidak Stabil

Tak stabil di sini adalah tak stabil dalam kondisi fisik, kondisi emosional dan tentu saja kondisi mental–jangan pernah mengambil keputusan saat kamu berada dalam kondisi seperti ini. Bisa dikatakan, kamu tak punya kekuatan yang sempurna untuk memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi atau mungkin saja kamu cenderung berpihak ke pada satu sisi karena emosimu tak stabil.

Namun, kamu juga harus berhat-hati dengan pilihan yang membuatmu untung tanpa pikir panjang–karena jika kamu benar-benar bisa memperhatikannya, mungkin saja pilihan itu adalah pilihan jebakan yang justru merugikanmu.

Anggap saja kamu sangat bersemangat untuk membangun bisnis berbasis digital. Kamu selalu menganggap bahwa bisnis digital ini adalah bisnis yang menjanjikan di era modern serba digital ini, sehingga kamu dan keluargamu nanti tak usah pusing dengan masalah uang.

Dikarenakan kamu tak punya banyak pengalaman dengan bisnis digital, maka kamu mendatangi seminar bisnis digital gratis yang diadakan di kota sebelah. Para pembicaranya adalah orang-orang top yang merupakan CEO dari perusahaan mereka sendiri. Topik pembicaraan juga untungnya tepat seperti yang kamu butuhkan.

Di sana, kamu mendapatkan berbagai informasi yang berharga hingga membuatmu berpikir kenapa kamu tak datang ke seminar seperti ini sejak dulu. Para pembicaranya sangat bersahabat dan baik hati. Kamu merasa tersanjung saat mereka dengan senang hati menjawab pertanyaanmu.

Mereka juga punya program latihan khusus untuk mengajarimu berbagai hal lain tentang bisnis digital yang jarang diketahui dan kamu harus membayar Rp 2,5 juta untuk menikmatinya. Tak hanya itu, bagi 15 pendaftar pertama akan mendapatkan bingkisan khusus seharga Rp 150 ribu. Wow! Penawaran yang bagus, kan? Apa yang akan kamu lakukan?

Yang kamu lakukan adalah jangan keluarkan uang sepeserpun!

Akan ada banyak seminar ataupun konferensi seperti ini di mana mereka menggunakan taktik psikologis yang pintar untuk membuat orang-orang mendaftar dan membayar. Beberapa jam terakhir ini, kamu secara tak sadar telah dipengaruhi oleh mereka sehingga kamu tak ragu untuk mengatakan “Ya!” kepada apapun yang mereka katakan.

Kamu mungkin tak mempercayainya, namun emosimu telah dipermainkan agar bisa mengeluarkan Rp 2,5 juta. Kamu merasa senang, penuh dengan energi positif dan tak sabar merasakan berbagai keuntungan yang datang. Namun, kamu tak sadar bahwa kamu bisa saja mengeluarkan uang Rp 2,5 juta untuk sesuatu yang tak benar-benar berguna atau yang tak cocok untukmu.

Apakah mereka mengatakan semuanya saat seminar? Apakah mereka mengatakan tentang kegagalan? Tentang risiko dalam bisnis digital ini? Lalu, bagaimana dengan berapa besarnya kemungkinan kamu akan menjadi milyarder dari bisnis digital ini? Kamu sengaja diposisikan untuk mendengar hal-hal yang baik dan membuatmu bahagia saja.

Jika kamu dihadapkan pada kondisi seperti ini, agar kamu bisa membuat keputusan tepat, maka kamu harus menunggu. Setelah itu, tanyalah kepada dirimu sendiri apakah kamu masih merasakan perasaan yang sama? Tanyalah kepada dirimu apakah ini benar-benar hal yang kamu butuhkan? Jika jawabannya “Ya!” maka kamu bisa melakukannya.

Hal ini berlaku juga untuk keputusan yang kamu buat saat sedang bertengkar dengan sang pacar atau berdebat dengan bosmu. Intinya adalah berikan waktu untuk membuat kondisimu menjadi stabil terlebih dahulu sebelum membuat keputusan agar kamu tak menyesalinya dikemudian hari nanti.

Written by Mirza M. Haekal

Mirza is a Digital Nomad that tries to live a healthy and productive lifestyle.