in ,

10 Quotes ini Menggambarkan Isi Hati Seorang Istri yang Tersakiti

Quotes Istri Tersakiti

Ada yang bilang bahwa menikah adalah awal dari perjalanan panjang sepasang kekasih untuk hidup bersama. Harus saling melengkapi, saling menjaga, saling mengasihi adalah beberapa nasihat yang kerap didengar sebelum memasuki biduk rumah tangga.

Banyak kata-kata manis yang terdengar merdu di telinga. Sampai pada akhirnya seorang wanita merelakan hidupnya untuk mendampingi pria yang menurutnya akan menjaganya dengan baik layaknya apa yang dilakukan oleh orang tuanya.

Menikah, artinya harus siap untuk menjalani asam, pahit, dan manisnya berumah tangga. Akan ada kondisi yang membuat seorang istri merasa sedih, kecewa dan tak dihiraukan keberadaannya. Berikut 10 quote yang menggambarkan isi hati seorang istri yang tersakiti dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersama sang suami.

1. “Aku Masih Mampu Menebar Senyumku Saat Mengantarmu Pergi Bekerja di Pagi Hari, Meski Setelahnya Hanya Ada Air Mata yang Jatuh di Pipi.”

Sebagai seorang istri, mungkin dia terlihat baik-baik saja. Seperti hari-hari biasa, dia mampu mengantar kepergian sang suami bekerja dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Namun siapa yang menyangka bahwa terkadang ada airmata yang menanti untuk keluar dari mata indahnya.

Tidak semua istri sanggup mengungkapkan apa yang dia rasa. Selebihnya, dia hanya mampu menyimpannya rapat-rapat untuk dia ratapi sendiri tanpa ada suami yang mengusap lembut airmata yang berjatuhan di pipi.

2. “Terkadang Ingin Rasanya Aku Pergi. Namun Entah Mengapa, selalu Ada Keinginan untuk Bertahan dan Tetap Setia Menjaga Hati.”

Sudah pasti seorang istri memiliki batas kesabarannya sendiri. Sampai saat ini mungkin dia masih berada di samping suami yang dia kasihi, namun tidak ada yang tahu bahwa kemungkinan besar pernah terbersit di pikirannya untuk pergi dan mencari kebahagiaannya sendiri.

Meski telah tersakiti, masih ada saja keinginan untuk bertahan dan memperbaiki semua yang mampu diperbaiki. Masih ada kepercayaan dalam hatinya bahwa hubungan yang dia jalani tidak akan mudah dihancurkan oleh banyaknya masalah dan rintangan yang menghadang.

3. “Aku Pernah Lelah dengan Semua Hal yang Hanya Bisa Menjadi Masalah. Namun Denganmu, Aku Masih Ingin Bertahan dan Berjalan Bersama Mengarungi Bahtera Rumah Tangga.”

Semua masalah yang ada dalam kehidupan rumah tangga pastilah membuat seorang istri merasa lelah. Mungkin saja dia juga pernah merasa ingin menyerah karena pada dasarnya, sekuat apapun seorang istri dia akan tetap tumbang jika selalu didera dengan luka dan airmata.

4. “Kau Selalu Membenarkan Apa yang Kau Anggap Benar Tanpa Mempertimbangkan Pandanganku Sebagai Pasangan Hidupmu.”

Nyatanya masih saja ada sosok suami yang ingin memegang penuh kekuasaan dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Apa yang dianggapnya benar, maka adalah suatu kebenaran. Sedangkan apa yang dianggapnya salah, maka itu adalah suatu kesalahan.

5. “Apa yang Sudah Kita Jalani Bersama, Membuatku Ingin Kembali Percaya Bahwa Cintamu Memang Benar-benar Ada.”

Seiring berjalannya waktu, pasti seseorang akan mengalami perubahan. Ada beberapa hal yang bahkan jauh berbeda dari apa yang diketahui sebelumnya.

Meski demikian, masih ada kepercayaan di hati seorang istri bahwa suaminya adalah pasangan terbaik yang dikirim Tuhan untuknya. Itulah yang membuatnya mampu bertahan dan membuktikan bahwa cinta di hati suaminya untuknya masih ada dan masih dapat bersemi meski saat ini mungkin banyak yang berguguran.

6. “Jangan Diamkan Aku Terlalu Lama, Jika Aku Salah Tegurlah Aku dan Tunjukkan Mana yang Benar di Matamu.”

Beberapa suami memilih mendiamkan istrinya saat dia sedang marah. Hal ini tentu membuat hati seorang istri menderita. Hal yang diharapkan seorang istri adalah ditegur ketika melakukan sebuah kesalahan dan ditunjukkan mana tindakan yang harusnya dia lakukan.

Suami sebagai kepala rumah tangga sudah seharusnya mengingatkan istrinya ketika ada hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Mendiamkan seorang istri hanya akan membuat hatinya terluka tanpa tahu apa yang seharusnya dia lakukan untuk memperbaiki keadaan tersebut.

7. “Selama Ini Aku Berusaha Menerimamu Sepenuhnya Tanpa Mengharapkan Hal yang Sama Kau Lakukan Juga Terhadapku.”

Cinta bukan hanya tentang menerima tetapi juga memberi. Meski begitu, banyak orang yang tulus mencintai bersedia untuk memberi segalanya tanpa meminta hal yang sama dari orang yang dia kasihi. Hal ini jugalah yang dilakukan oleh seorang istri yang tulus mencintai suaminya.

Seorang istri sibuk untuk menerima segala kurang lebihnya seorang suami. Dia pun tidak pernah mengharapkan hal yang sama dilakukan oleh suaminya terhadap dirinya. Dia bersedia memberi tanpa berharap menerima hal yang sama.

8. “Ada yang Bilang Setia Itu Berat, Tapi Bagiku Setiaku Cukup Menyakitkan Karena Balasan yang Kudapatkan Hanyalah Pengkhianatan.”

Setia bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak orang yang hanya mampu menjanjikan sebuah kesetiaan tanpa mampu membuktikannya.

Pastilah sangat sakit bagi seorang istri yang selalu berusaha untuk menjaga kesetiaannya, namun yang dia dapati hanyalah penghianatan dari suaminya.

9. “Sadarilah Sayang, Akulah yang Selalu Ada untuk Menemanimu Saat Kamu Lebih Memilih untuk Menemani yang Lain.”

Tidak tahu seberapa kuat hati seorang istri yang masih tetap sabar menghadapi suaminya yang selalu menyakiti. Saat dia setia menunggu di rumah, justru suaminya asyik mencari kesenangan lain bersama dengan wanita simpanannya.

Meski demikian, masih saja ada istri yang mampu bertahan. Dia hanya bisa meratapi kehidupan rumah tangganya yang entah akan bertahan sampai kapan. Dia masih tetap berusaha menjadi istri terbaik ketika suaminya tidak lagi memperdulikan keberadaannya.

10. “Semoga Tawaku Lekas Kembali, Tanpa Adanya Sakit Hati yang Kini Selalu Kamu Beri.”

Sabarnya seorang istri itu ada batasnya. Dia tidak akan terus-menerus membiarkan hatinya terluka. Dia tidak akan terus memaksakan dirinya bertahan untuk orang yang tidak menginginkan kehadirannya.

Seorang istri tetaplah manusia biasa. Jika terus disakiti, lambat laun dia juga akan pergi. Dia pun akan menyadari bahwa bahagianya ada di tangannya sendiri, bukan di tangan suaminya yang hanya bisa menghianati.

Coba baca Juga :

Menjadi seorang istri bukanlah hal yang mudah. Ketika seorang pria datang untuk melamar, dia janjikan kesetiaan dan kebahagiaan. Namun sayangnya, janji itu tak melulu dapat ditepatinya. Bahagia yang dijanjikan mungkin hanya akan jadi impian semata ketika yang lebih banyak didapati hanyalah luka.

Written by Dina Novia

Punya hobi travelling dan fotografi. Masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan bahasa Indonesia di Malang.