in

Waspadai Risiko Skema Pay Later, Jangan Sampai Kebablasan

Jaman dulu banyak orang yang sangat memperhitungkan bahkan berusaha menjauhi apa yang disebut dengan hutang. Ketakutan akan tidak mampu membayar tagihan, rasa malu bila sampai dikejar debt collector, dan hal-hal lainnya yang membuat hutang menjadi salah satu hal yang sangat dihindari.

Berbeda dengan situasi saat ini, dimana semakin mudahnya teknologi melahirkan dunia keuangan digital dan menjamurnya berbagai tawaran berhutang yang ‘dikemas’ dengan sangat ciamik, memberikan ketertarikan tersendiri, terutama bagi kaum milenial.

Sebagian dari kalian mungkin tidak lagi asing dengan istilah pay later. Salah satu skema pembayaran yang secara garis besar memudahkan seseorang untuk memperoleh sesuatu saat ini, dan membayarnya dikemudian hari, atau kurang lebih sama dengan konsep berhutang itu sendiri.

E-commerce papan atas sekelas traveloka, shopee bahkan sudah menerapkan skema pembayaran ini pada aplikasi yang mereka miliki. Bahkan dompet digital seperti ovo dan aplikasi transportasi gojek pun sudah memberlakukan pilihan pembayaran ini.

—-

Sebagai informasi, skema pay later ini hampir mirip dengan sistem kerja kartu kredit. Dimana perusahaan penyedia jasa ini membayarkan terlebih dahulu sejumlah uang yang digunakan oleh pengguna untuk membeli sesuatu, lalu pengguna nantinya akan membayarkan sejumlah tagihan dengan cara mengangsur dan ditambah adanya bunga tertentu yang harus dibayar juga.

Di era digital yang sangat memudahkan saat ini, siapapun bisa dengan mudah menggunakan skema pay later hanya dengan melengkapi dokumen-dokumen pendukung seperti KTP, KK, NPWP dan lainnya.

Namun, dibalik kemudahan yang ditawarkan, ada risiko besar yang bisa jadi boomerang tersendiri bagi anda yang tidak cermat dalam menggunakannya, salah satunya adalah terlilit hutang secara terus-menerus dalam jangka panjang.

Risiko Skema Pay Later

Risiko Paylater
Risiko Paylater

1. Meningkatkan Perilaku Konsumtif dan Ketergantungan

Generasi milenial yang saat ini lekat dengan stigma perilaku yang sangat konsumtif dan seringkali melakukan pembelian yang bersifat impulsif membuat mereka menjadi sasaran utama dari skema pay later ini.

Milenial pada umumnya senang akan sesuatu hal yang bersifat praktis, mudah dan cepat, tanpa menyadari atau mempertimbangkan terlebih dahulu efek kedepannya akan seperti apa.

Dengan semakin dimudahkannya dalam memperoleh segala sesuatu dengan cepat dan bisa membayarnya di waktu lain nantinya, di khawatirkan ini akan menjadi salah satu cara praktis yang akan terus dilakukanuntuk memenuhi gaya hidup yang diterapkan oleh generasi milenial saat ini.

Mereka akan sangat mudah untuk memutuskan membeli sesuatu tanpa memikirkan apakah bisa membayarnya di kemudian hari atau tidak.

2. Adanya Biaya Tambahan yang Tidak Disadari

Tanpa disadari, banyak orang yang hanya tahu bahwa skema pay later menarik karena bisa membayar barang yang diinginkan saat ini, dan dibayarkan nantinya, tanpa memperhitungkan adanya biaya-biaya lain yang ikut terbebani juga dan semakin menggerus pendapatan mereka.

Biaya subscription, biaya angsuran, belum lagi adanya bunga yang dibebankan, mirip dengan skema kartu kredit inilah yang pada akhirnya baru diketahui di belakang pada saat tagihan datang. Belum lagi bila ada biaya keterlambatan yang harus dibayar, apabila pengguna tidak bisa membayar angsuran tepat waktu.

Masing-masing aplikasi yang menerapkan skema pembayaran ini memiliki nominal biaya yang berbeda-beda.

Sebagai contoh, untuk aplikasi gojek sendiri, menetapkan biaya subscription atau biaya bulanan sebesar Rp 25,000 per bulannya. Ini dibebankan apabila pengguna menggunakan skema transaksi pembayaran tersebut dalam 1 bulan tertentu. Namun, bila dalam 1 bulan tidak ada transaksi, maka biaya ini tidak akan muncul.

Selain itu, gojek juga memberikan batas waktu pelunasan selama rentang waktu 30 hari, apabila dapat melunasi tagihan dalam 30 hari, maka pengguna tidak akan dikenakan biaya tambahan lain, sedangkan apabila lewat dari 30 hari, maka akan muncul biaya keterlambatan dimana nominal yang harus dibayarkan adalah tergantung hari keterlambatannya dimana sebesar Rp 2,000 per harinya.

Untuk dompet digital ovo sendiri, tidak ada biaya bulanan, namun ada biaya administrasi sebesar 5% dari nilai transaksi yang dilakukan dan bila ada keterlambatan akan dikenakan denda keterlambatan dengan nominal 0,1 persen per harinya.

3. Terganggunya Perencanaan Keuangan Anda

Adanya biaya tagihan yang lebih besar dibandingkan harga barang yang anda beli diawal, karena timbulnya biaya-biaya lain yang mungkin tidak disadari, membuat perencanaan keuangan anda bisa saja terganggu.

Pada saat datangnya tagihan, mungkin saja anda memang tidak memiliki uang untuk pembayaran tersebut. Di awal anda berhutang, anda memang tidak dengan sengaja menyisihkan uang untuk membeli barang tersebut. Anda membelinya hanya karena keinginan impulsif saat itu.

Alhasil, dengan tidak adanya anggaran untuk barang tersebut, namun tagihan sudah datang dan harus dilunasi, anda bisa saja menggunakan alokasi anggaran lain seperti dana darurat yang akhirnya digunakan untuk membayar tagihan tersebut.

Bila hal seperti ini terus terjadi dalam jangka panjang, tentunya akan merusak perencanaan keuangan yang telah anda atur sejak lama, dan berisiko terhadap kesulitan keuangan di kemudian harinya.

4. Merusak Skoring Kredit Bila Menunggak

Dengan kemungkinan terganggunya perencanaan keuangan yang telah sedemikian rupa anda atur, hingga pada akhirnya akan ada saat dimana anda tidak mampu membayar tagihan dan menunggaknya, ini dapat membuat karakter anda menjadi buruk di pencatatan kredit.

Adanya BI checking, atau saat ini dikenal dengan Slik OJK, yang mana menjadi salah satu pertimbangan Bank ketika anda hendak mengajukan kredit seperti pengajuan KPR atau kredit konsumsi lainnya, dengan adanya keterlambatan tagihan sebelumnya, membuat catatan reputasi kredit anda menjadi buruk.

Ini tentu akan berimbas pada ditolaknya aplikasi kredit yang anda ajukan, karena tunggakan tagihan pay later tersebut. Padahal pengajuan aplikasi kredit seperti pengajuan KPR atau kendaraan itu lebih penting sifatnya.

Untuk itu, bila anda memang tidak mampu membayar harga barang tertentu, jangan coba-coba untuk menggunakan skema pembayaran ini, karena efek jangka panjangnya dapat anda rasakan, lebih baik anda mencoba menabung terlebih dahulu bila memang memiliki keinginan untuk membeli sesuatu.

5. Memungkinkan Peretasan Identitas

Bertransaksi secara digital di dunia maya tentu akan tetap memiliki risiko, salah satunya terkait peretasan indentitas yang bisa digunakan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab, meski masing-masing aplikasi telah dilengkapi dengan beragam sistem keamanan tersendiri.

Namun kejahatan dunia maya untuk menggunakan data-data pribadi anda akan tetap selalu ada, untuk itu behati-hatilah dalam menaruh informasi di berbagai aplikasi digital saat ini.

Bijaklah Menggunakan Pay Later

Bijak Menggunakan paylater

Pada hakikatnya, kemudahan keuangan yang saat ini ditawari oleh beragam institusi terkait dan semakin banyaknya financial technology (fintech) yang menawarkan seharusnya dapat memudahkan kita tanpa harus membuat kita kesulitan bila kita tahu sisi positifnya dan tahu sejauh mana kemampuan kita pribadi.

Skema pembayaran pay later ini sebenarnya salah satu cara dari penggunaan kredit yang tanpa harus memerlukan kartu lagi, atau yang selama ini kita kenal dengan kartu kredit.

Proses kartu kredit selama ini membutuhkan cukup waktu untuk dapat disetujui oleh Bank tertentu dan harus melewati beberapa tahap terlebih dahulu. Ini sebenarnya penting agar Bank juga dapat mengukur sejauh mana kemampuan orang yang menggunakan kartu kredit untuk membayar angsurannya.

Dengan adanya pay later yang memudahkan semua orang untuk bisa ‘berhutang’ layaknya memiliki kartu kredit, terkadang membuat setiap orang mengabaikan kemampuan mereka dalam membayar tagihan, mereka tidak bisa mengukur kapasitas keuangannya, yang justru akan menyulitkan mereka sendiri nantinya.

Untuk itu, gunakanlah skema pay later dengan bijak dan disesuaikan dengan kemampuan anda agar terhindar dari lilitan hutang yang bisa menjerat dalam jangka panjang.

Baca juga : Perbedaan Hutang Produktif dan Konsumtif, Kenali Dulu Sebelum Tergiur

Sekali lagi bijaklah dalam memahami sebuah skema pembayaran agar tidak terjebak didalanya. Semoga artikel ini bermanfaat.

Written by Dinny Amalia

Lifetime learner. An independent woman who live her life to the fullest.