Saat Hatimu Hancur, Cemas, Galau, Kamu Mungkin Lupa 6 Hal Ini

Berapa lama lagi kamu harus terpuruk? Jika kesulitan adalah penyakit, mungkin kita

Ilham Damanik Ilham Damanik · 3 min read >
Saat Hatimu Cemas, Galau, Sedih

Berapa lama lagi kamu harus terpuruk?

Jika kesulitan adalah penyakit, mungkin kita bisa minta saran dokter atau untuk sekedar mengetahui berapa lama lagi harus mengkonsumsi obat.

Tapi tak ada seorang pun yang dapat menjawab berapa lama kita akan berada di masa-masa yang sulit. Begitu juga di masa yang indah, tak tahu kapan itu akan berganti.

Berpisah dengan orang tercinta, dipecat dari pekerjaan, dijauhi teman, bisnis rugi, kehilangan atau berbagai macam masalah lainnya. Itu terasa seperti tamparan yang sangat keras!

Tapi kita hidup ditempat yang belum memiliki peta. Tak ada petunjuk arah, tak ada aba-aba dan tak ada skenario tertulis.

Kita seperti binatang buas yang merajai hutan, namun tersesat di tengah keramaian kota. Hidup sungguh tidak bisa ditebak.

Semakin memikirnya, hati semakin terasa susah. Berikut adalah beberapa pengingat yang mungkin kita lupakan.

1. Semua Orang Pernah Merasakan Kesulitan

Semua Orang Pernah Merasakan Kesulitan
Semua Orang Pernah Merasakan Kesulitan

Apakah semua orang merasa kisah hidupnya layak menjadi sebuah novel?

Setiap saat, sulit maupun senang, kita merasa seolah rencana Tuhan hanya tertuju pada diri kita saja. Seolah kita adalah tokoh utama dari drama kehidupan ini. Seolah hanya kita yang berperan sebagai orang yang tersakiti atau kehilangan.

Namun kenyataannya, semua orang mengalami kesulitan dan kita semua merasakan hal yang sama.

Hanya saja kita memiliki cara berpikir yang berbeda ketika baik-baik saja dan ketika sedang stress. Gejala emosi yang timbul saat mengalami stress bisa membuat kita merasa rendah diri dan tidak berguna. Hal itulah yang membuat kita semakin sulit untuk menyelesaikan masalah.

Coba tenangkan diri. Rilekskan tubuhmu. Tutup mata, tarik napas dalam dan lepaskan pelan-pelan. Setelahnya barulah kita bisa berpikir dengan jernih.

Ini seperti, ketika kamu santai sembari menikmati kopi. Lalu memikirkan sesuatu seperti “Ah, ternyata begini.” “Ah, ternyata mudah! Apa yang ku pikirkan selama ini?”

Baca Juga : 5 Hal Positif Yang Bisa Kamu Dapatkan Dari Sebuah Kegagalan

2. Masalah Selalu Memiliki Jalan Keluar

Setiap Masalah Memiliki Jalan Keluar
Setiap Masalah Memiliki Jalan Keluar

“Langit abu-abu hanya awan lewat. Akan datang lagi sinar matahari kedalam jiwa kita!” – Frank Gifford

Semua ini hanya perkara waktu. Ada saatnya sedih, ada saatnya senang, tapi semua itu ibarat seperti awan yang lewat. Terkadang mendung, terkadang cerah. Begitulah kehidupan, nikmati saja.

Terimalah.

Penerimaan memang tak selalu indah, terkadang ia berwujud kegagalan, patah hati, kekecewaan dan kehilangan, tapi setelah semua itu penerimaan akan mengarahkan kita pada kebebasan, kemudahan, dan pertumbuhan.

Memang yang tersulit dari semuanya adalah menerima kenyataan. Terlebih lagi kebanyakan dari kita adalah pemimpi yang ambisius, sehingga semua ini pasti sulit diterima.

Tapi, percayalah, menerima semua masalah yang datang dengan lapang dada akan membantu kamu menjadi lebih kuat untuk mengatasinya.

Baca Juga : 5 Tips untuk Hidup yang Bahagia dan Sukses dalam Segala Hal

3. Wajar Untuk Marah, Bersedih atau Menangis

Menangis Itu Normal
Menangis Itu Normal

Penelitian psikologis terbaru menunjukkan, menerima emosi negatif kamu sebagai sesuatu yang pedih akan membuat mental menjadi lebih sehat daripada tersenyum atau menyangkal bahwa kau sedang baik-baik saja padahal tidak.

Sangat disarankan untuk tidak menilai diri sendiri ketika kamu merasakan pengalaman emosional yang mendalam. Disisi lain, kamu hanya perlu sadar bahwa semua keadaan emosi bersifat sementara.

Dalam arti, emosi negatif yang kamu alami tidak dapat menjadi patokan untuk menilai dirimu sendiri. Marah, bersedih dan menangis adalah hal yang wajar. Namun semua itu adalah tentang bagaimana kita menyalurkannya dengan tepat dan akurat.

Artinya, marah tanpa menghakimi diri sendiri dan orang lain, bersedih tanpa menyalahkan diri sendiri dan orang lain dan menangislah secukupnya. Jangan biarkan semua itu terjadi berlarut-larut.

4. Melakukan Kesalahan Adalah Normal

Melakukan Kesalahan Adalah Normal
Melakukan Kesalahan Adalah Normal

Mungkin kamu pernah berjanji, namun sebab alasan tertentu tidak dapat menepatinya. Mungkin kamu pernah bermimpi, tapi oleh sebab alasan tertentu tidak dapat mewujudkannya. Maka, semua semua itu bukan salahmu.

Sebuah studi dari Cognitif Psychology menyatakan, “Ketika orang-orang berpikir tentang kehidupan secara khusus, mereka cenderung menyesali apa yang sudah terjadi. Namun ketika orang-orang memikirkan kehidupan secara umum, mereka cenderung menyesali apa yang belum dilakukan”

Penjelasan abstrak ini, sedikit memberi petunjuk bahwa kita semua melakukan kesalahan dan kita hidup dalam penyesalan.

Jadi, apa yang kamu rencanakan selanjutnya? Jika kita pikirkan secara mendalam, semua penyesalan itu pada akhirnya mengarahkan kita pada pilihan, yaitu penerimaan atau perubahan?

Jika kamu tidak bisa menerima itu semua, maka ubahlah sekarang. Jika kamu tidak juga bisa mengubahnya, maka terimalah.

5. Dibutuhkan Keberanian Untuk Menerima

Dibutuhkan Keberanian Untuk Menerima
Dibutuhkan Keberanian Untuk Menerima

Satu hal yang paling kita benci disaat hati sedang tidak baik-baik saja adalah bahwa kita dikendalikan oleh kekuatan besar dari luar diri. Di satu sisi kita sangat takut pada kekuatan besar itu, namun disisi lain kita berharap bisa sembunyi.

Dibutuhkan keberanian yang cukup untuk menerima bahwa semuanya memang berada diluar kendali kita. Menerima keberadaan kita di dunia, menerima aturan-aturan yang ada di dunia dan mengaplikasikan dalam tindakan yang nyata.

Terlepas dari semua tradisi atau ajaran agama apapun, bukankah memang sudah seharusnya kita berlaku baik? Atau sekurang-kurangnya berpikir positif untuk kebaikan diri sendiri.

Hanya satu kata, penerimaan, sederhana bukan?

Penerimaan adalah awal yang baik untuk mengubah semuanya menjadi lebih baik. Dan setelah semua itu, kamu bisa merasakan sendiri betapa hatimu menjadi lapang dan tenang sepanjang waktu.

Baca Juga : 7 Motivasi Positif Yang Membuatmu Bersemangat Memulai Aktifitas di Pagi Hari

6. Ketidakpastian Adalah Hal Yang Pasti

Ketidakpastian Adalah Hal Yang Pasti
Ketidakpastian Adalah Hal Yang Pasti

Ketika kamu berkata “Ini bukan salahku!” lalu selanjutnya apa? Buktikan! Bukankah kalimat itu akan membuat kamu harus mempertanggung jawabkan ucapanmu?

Kamu pasti mengingat sesuatu yang benar-benar menyudutkan dirimu, sesuatu yang sulit diterima dan terlalu sulit dimaafkan. Tapi sekarang, bukankah lebih baik jika kamu bertanya pada diri sendiri “Apakah ini benar-benar salahku?”

Dengan cara itu mungkin akan membuat dirimu lebih bijaksana dan merenungkan ulang yang sudah-sudah. Sehingga kamu mengetahui bahwa semua ini belum pasti. Dengan kata lain, semua ini belum tentu salahmu tapi bukan berarti tidak. Karena ketidakpastian adalah hal yang pasti.

Maka sangat normal jika suatu keinginan yang menggebu-gebu tiba-tiba luntur seketika. Sangat wajar jika sesuatu yang menyenangkan tiba-tiba menjelma menjadi hal yang paling membosankan. Kamu normal. Terimalah semua ketidakpastian itu untuk bertumbuh.

Baca Juga : Tuhan, Aku Sudah Menjadi Orang Baik. Kenapa Kehidupanku Tidak Berubah?

Pada akhirnya, hati yang hancur, galau dan cemas tetap tidak bisa menjelaskan siapa kita dan mengapa kita disini. Semua ini hanya proses pertumbuhan. Di atas segalanya, kebahagiaan bukanlah suatu hal yang selalu berbau kesenangan atau kemeriahan. Kebahagiaan sejati tumbuh dari pengalaman-pengalaman yang bermakna. Apapun itu, lihatlah apa hikmah dibalik semuanya!

Ilham Damanik
Aku merasa seperti seorang penulis Read Full Profile