in

Self-Diagnose, Apakah Berbahaya Jika Dilakukan?

Self-Diagnose
Self-Diagnose

Self-diagnose ?  Pernahkah anda mendengar sebutan tersebut? atau pernah membaca di suatu media elektronik ?. Sekarang ini banyak yang melakukan self-diagnose terhadap diri sendiri dan orang lain.

Berbekal gadget dan internet, anda sudah sangat mudah untuk menemukan berbagai informasi yang anda inginkan.

Self-diagnose sering dilakukan ketika anda merasakan ada yang tidak beres pada diri sendiri seperti fisik dan mental yang terasa sakit. Misalnya ketika anda tiba-tiba merasa sakit kepala hebat yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Atau bisa juga ketika anda sedang merasa sedih dengan perasaan mendalam, yang kemudian anda mencari tahu di dunia maya.

Namun tahukah anda bahwa hal-hal seperti ini jika dilakukan secara berlebihan justru akan menimbulkan dampak yang tidak baik pada diri anda ?

Self-Diagnosis

Self Diagnosis
Self Diagnosis

Sering kali pada saat kita merasakan hal yang sekiranya baru, kita cenderung mencari tahu apakah kita jangan-jangan mengidap penyakit ini atau penyakit itu.

Hal ini akan menimbulkan kecemasan pada diri sendiri, parahnya lagi dapat mengubah sikap kita baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita pahami terlebih dahulu apa itu self-diagnose.

Self-diagnose adalah perilaku mendiagnosa diri sendiri yang diyakini menderita gangguan atau penyakit berdasarkan pengetahuan diri tanpa adanya bantuan dari ahlinya dengan pemeriksaan yang tepat.

Menelaah definisi dari self-diagnose, terdapat kata “perilaku mendiagnosa diri sendiri” dan “tanpa adanya bantuan dari ahli dengan pemeriksaan”.

Jadi bisa dikatakan jika anda bukanlah ahli dalam bidang tersebut dan mendiagnosa diri sendiri berdasarkan apa yang anda dapat dari media saja, maka anda telah melakukan self-diagnose.

Self-diagnose ini berbahaya dilakukan, apalagi jika anda memiliki kecenderungan kecemasan yang lebih daripada orang normal pada umumnya. Apa saja kira-kira yang menjadi alasan self-diagnose ini berbahaya untuk dilakukan ?.

1. Kesalahan Diagnosis

Kesalahan Diagnosa
Kesalahan Diagnosa

Beberapa gejala gangguan atau penyakit memang terkadang memiliki kecenderungan untuk muncul yang hampir sama. Pihak yang ahli dalam bidangnya pun memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk dapat mengetahui dengan pasti apakah gejala tersebut merupakan tanda dari adanya suatu gangguan atau penyakit.

Bahkan sakit kepala saja ada berbagai jenisnya. Untuk memastikan jenis sakit kepala yang tepat diperlukan pemeriksaan dan observasi lanjutan. Hal ini untuk menghindari kesalahan diagnosis agar dapat diberikan penanganan yang tepat.

Terbayang bukan jika para ahli salah memberikan pengobatan atau perawatan ? apalagi jika anda mendiagnosa diri sendiri dengan dasar pengetahuan semata.

Kesalahan diagnosa dari diri sendiri akan menimbulkan dampak salah penanganan. Dampak secara psikologisnya anda menjadi mudah cemas jika sedang merasa sakit.

Seram ya, jadi lebih baik periksakan ke ahlinya jika anda merasakan ada yang tidak beres baik secara fisik maupun mental.

2. Memicu Stres Dan Depresi

Memicu Stress dan Depresi
Memicu Stress dan Depresi

Sering kali self-diagnose yang dilakukan justru tidak memberikan efek baik bagi anda. Anda akan merasa sakitnya tidak kunjung sembuh. Jika sembuh, memerlukan waktu yang cukup lama dibandingkan jika anda pergi ke dokter.

Sama halnya untuk urusan mental. Jika anda sedang mengalami suatu peristiwa yang membuat diri anda tidak seperti diri anda sendiri, misalnya karena galau, mudah berubah sikap, sebaiknya hindari untuk melakukan self-diagnose.

Belakangan ini marak yang melakukan self-diagnose dan tidak sedikit yang memberikan cap pada dirinya sendiri bahwa ia bipolar, skizofrenia dan sebagainya. Yakin anda bipolar ? atau cuma perubahan mood semata ?.

Hal ini akan menimbulkan sugesti untuk memercayai diagnosa anda sendiri. Yang kemudian akan memicu stres hingga depresi jika tidak kunjung membaik. Perlu diperhatikan stres dan depresi adalah dua hal yang berbeda. Yang dua-duanya jika sudah parah akan mengganggu aktivitas harian anda.

Jika anda merasakan ada yang aneh, segera hubungi dan periksakan ke ahlinya ya. Jangan tunggu sampai parah baru sadar akan bahaya self-diagnose.

Baca Juga : Serangan Panik: Ketahui Penyebab, Gejala, dan Penanganan

3. Kesalahan Konsumsi Obat

Kesalahan Konsumsi Obat
Kesalahan Konsumsi Obat

Umumnya, setelah anda mencari informasi mengenai diri anda dan melakukan self-diagnose, anda akan berusaha mencari obatnya. Jika anda sakit fisik seperti sakit kepala misalnya, anda akan mencari obat yang sesuai dengan diagnosa dari diri anda sendiri.

Tahukah anda bahwa kesalahan mengonsumsi obat bisa membahayakan diri anda ?. Misalnya jika self-diagnose anda sakit kepala menekan pada area mata, padahal sakit kepala yang anda rasakan adalah sakit kepala menyeluruh.

Tentu bisa saja berbeda obat meskipun sama-sama bertujuan untuk menghilangkan sakit kepala.

Dari segi dosis pun anda tidak dianjurkan untuk mengonsumsi dosis yang besar sekaligus. Begitu pula dengan gangguan mental. Bisa saja anda hanya gangguan mood yang biasa, bukan bipolar yang memerlukan obat.

Disini lah pentingnya untuk memeriksakan diri kepada ahlinya dan mendiskusikan mengenai penanganannya. Kesalahan konsumsi obat baik sakit fisik maupun mental akan memengaruhi fisik dan juga mental anda.

Karena jika terjadi kesalahan konsumsi obat untuk gangguan mental padahal orang tersebut normal, anda akan merasakan diri menjadi tidak berdaya karena pada umumnya obat-obatan tersebut memiliki efek menenangkan dengan melemaskan syaraf-syaraf pada tubuh secara perlahan.

Terbayang ya jika sampai salah konsumsi obat.

4. Tersebarnya Informasi Yang Salah

Tersebarnya Informasi Yang Salah
Tersebarnya Informasi Yang Salah

Self-diagnose juga cukup berbahaya jika informasi yang salah tersebut disebarkan. Misalnya anda sedang sakit kepala dan mengonsumsi suatu obat dengan dosis yang mungkin tidak semua orang cocok. Hal ini berbahaya karena akan menimbulkan trial and error bagi orang lain yang belum pernah mencobanya dan tidak berhasil.

Hal ini juga akan memunculkan banyak “katanya” pada informasi yang disebar. Misalnya, katanya jika anda mengonsumsi air es setelah berolahraga bisa menghilangkan lemak tubuh. Dan berbagai kalimat dengan kata “katanya” lainnya.

Informasi yang salah ini bisa dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab yang mungkin kemudian menjual obat-obatan yang belum teruji hasilnya. Hati-hati dalam menyebarkan informasi apalagi untuk kesehatan fisik dan mental anda.

Cari tahu terlebih dahulu kebenarannya dengan mendiskusikan dengan para ahli, tidak hanya berdasarkan pengetahuan dari hasil gugling saja. Rasanya saat ini sudah cukup banyak dan mudah untuk dapat berkonsultasi dengan dokter maupun psikolog.

Anda cukup menelepon atau buat perjanjian, bisa juga secara online untuk langsung berkomunikasi dengan ahlinya.

Jika mencari informasi mengenai yang terjadi pada diri anda sekedar untuk pengetahuan saja tidak akan jadi masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika anda menerapkan dan melabeli diri anda sendiri dengan self-diagnose dan anda percaya akan hal itu tanpa adanya pemeriksaan lanjutan dari ahlinya.

Sebaiknya konsultasikan kepada ahlinya agar anda dapat diberikan penanganan dengan baik dan tepat. Penanganan yang tepat akan membantu anda recovery dengan lebih baik dengan waktu prosesnya sesuai dengan kemampuan diri masing-masing.

Juga tidak ada yang instan untuk mencapai kesembuhan. Semuanya membutuhkan waktu untuk prosesnya di mana dapat berbeda-beda pada masing-masing individu. Tentu kita akan lebih tenang jika ditangani langsung oleh ahlinya.

Baca Juga : Fenomena Diagnosa Dokter Google Sedang Trend, Apakah Tepat?

Tidak perlu khawatir berlebihan hingga cemas karena self-diagnose.

Written by Rima Mustika

Clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.