Sisi Gelap Dibalik Positivity, Bukannya Jadi Bahagia Malah Berbahaya

Ketika kalimat positifmu malah menjadi racun dengan mengabaikan emosi negatif

Novia Kartikasari Novia Kartikasari · 4 min read >
Sisi Negatif Positivity

“Halah gitu doang, ada orang-orang diluar sana yang jauh lebih menderita daripada kamu”

“Harusnya kamu bersyukur”

“Jangan ngeluh”

Please, berhenti buat jadi orang yang negatif”

“Ayo makanya berpikir positif terus”

“Semua akan baik-baik aja kok”

Beberapa kalimat-kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi saking seringnya mampir di telinga kita, orang-orang disekitar atau bahkan mungkin kita sendiri sering melontarkannya secara sadar maupun tidak sadar kepada orang-orang yang dirasa sedang membutuhkan dukungan psikologis.

Berfokus pada sisi positif dalam sebuah permasalahan, ya begitulah kiranya apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang mengatakan beberapa kalimat sebelumnya.

Sekilas cara ini seperti sebuah cara terbaik dan paling cocok diberikan di situasi-situasi down seseorang.

Namun kalimat-kalimat positif semacam ini bisa jadi bukannya menjadi penyemangat untuk orang yang mendengarnya namun malah menjadi kata-kata yang menyengat dan berbahaya untuk seseorang tersebut.

Lha kok bisa ya…?

Ketika Kalimat Positifmu Malah Menjadi Racun Untukku

Kalimat Positif Yang Menjadi Racun
Kalimat Positif Yang Menjadi Racun

Siapa yang tidak mau merasa bahagia di dunia ini? Rasa-rasanya tidak akan ada seorangpun yang mau merasakan perasaan sedih, sendiri, dan emosi negatif lainnya sepanjang waktu. Emosi negatif seolah selalu dianggap sebagai sebuah hambatan dalam keseharian seseorang.

Untuk sebagian dari kalian yang pernah melihat film disney kartun terkenal Inside Out (2015) mungkin masih ingat dengan dua karakter utamanya, Sadness dan Joy, yang dianggap sebagai dua karakter yang mewakili emosi berkebalikan, yakni kesedihan dan kebahagiaan yang seharusnya tidak saling bersama.

Konsep ini juga mungkin yang terus tertanam di benak kita, kalau misalkan ingin bahagia ya hindari emosi negatif, namun apakah bisa seperti itu?

Menguatkan kepositifan dalam diri seseorang seperti memberi dorongan positif sepihak sering kali malah membuat seseorang yang butuh dukungan tersebut berakhir dengan mengabaikan perasaan traumatik dan depresi yang ada di dalam dirinya.

Profesor Lukin (2019) dalam artikelnya di Psychology Today, menjelaskan mengenai toxic positivity atau kepositifitasan beracun yang mengacu pada cara penyelesaian masalah seseorang, dimana dia hanya ingin berfokus pada hal-hal positif saja dari permasalahannya tersebut, dan menolak segala sesuatu yang mungkin membangkitkan emosi negatifnya.

Toxic positivity ini sekilas terdengar sebagai sebuah cara yang bagus untuk menyelesaikan suatu permasalahan, padahal sebenarnya strategi ini bukanlah cara yang benar-benar efektif karena berbagai alasan.

Profesor Lukin (2019) menjelaskan ketika seseorang mencoba menghindarkan dirinya dari perasaan negatif seringkali dia malah membuat emosi negatif tersebut makin membesar dan menjadi-jadi. Karena sejak awal seseorang tidak pernah benar-benar menyelesaikan emosi-emosi negatif tersebut, dia hanya terus menghindarinya tanpa pernah benar-benar mengakhirinya.

Hal ini pun berlaku pada kata-kata yang mengandung toxic positivity, ketika seseorang memberikan penguatan pada orang lain atau dirinya sendiri berupa kata-kata yang maknanya untuk mengabaikan emosi negatif seseorang, proses yang sama akan terjadi juga.

Mengabaikan emosi negatif hanya akan membuat emosi tersebut pergi sejenak, ketika emosi negatif tersebut kembali tiba-tiba malah menjadi besar karena sebelumnya terus ditumpuk. Toxic positivity hanya mengaburkan akar dari permasalahan yang sebenarnya.

Healthy Positivity vs Toxic Positivity

Healthy Positivity vs Toxic Positivity
Healthy Positivity vs Toxic Positivity

Sampai disini mungkin sebagian dari kita masih berpikir mengenai apa bedanya kepositifan yang sehat dan kepositifan beracun, bukannya sama-sama mendorong seseorang untuk merasa lebih baik?

Memang benar, keduanya sama-sama bertujuan agar seseorang merasa lebih baik, hanya saja fokus keduanya berbeda.

Jika toxic positivity berusaha mengabaikan emosi negatif, healthy positivity malah sebaliknya. Healthy positivity berusaha untuk memeluk emosi negatif tersebut, karena pada dasarnya semua emosi yang kita rasakan membuat kita menjadi lebih “manusia”, tidak ada yang namanya emosi buruk maupun baik.

Ketika misal emosi negatif sedang menguasai seseorang, segera lampiaskan emosi tersebut dengan cara-cara yang positif dan dibenarkan, jika berbicara dengan orang lain membuat seseorang merasa lebih baik maka segeralah mencari orang yang sekiranya bisa mendengarkan keluh kesah anda tersebut.

Atau mungkin ada cara lain yang bisa dilakukan untuk membuat kamu merasa lebih baik maka lakukanlah, jangan malah berfokus untuk segera mengesampingkan emosi negatif tersebut saja hingga lupa bahwa emosi negatif juga penting untuk menemukan akar permasalahan.

Health positivity mengajarkan pada kita bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks dengan segala emosi yang ada padanya, emosi-emosi ini tentu sangat wajar untuk kita rasakan dan tidak ada yang salah jika kita mengalaminya.

Menurut Dr. Barbara penulis buku “Stop Smiling, Start Kvetching” ketika seseorang merasakan kesulitan yang luar biasa di hidupnya dan mereka tidak mampu mengurangi rasa sakit emosional itu bagaimanapun mereka telah mencobanya, terus mengesampingkan emosi-emosi ini bisa saja malah membuat mereka berakhir makin jatuh.

Dibanding ber-positif terus, Dukungan Berikut Bisa Diberikan Untuk Mereka Yang Sedang Membutuhkan

Dukungan Untuk Orang Yang Sedih
Tips Memberikan Dukungan Untuk Orang Yang Sedang Sedih

Beberapa teman yang saya beritahu mengenai bahaya toxic positivity ini kemudian bertanya pada saya, lalu seharusnya apa yang bisa kita katakan atau lakukan untuk diri kita maupun orang lain ketika sedang dilanda masalah?.

Prinsip dasarnya kita harus ingat bahwa secara naluriah manusia tidak bisa diprogram untuk merasakan kebahagiaan saja, karena emosi yang ada pada manusia sifatnya lebih kompleks.

Adapun berikut adalah beberapa cara yang bisa kamu lakukan sebagai bentuk dukungan paling tepat ketika menghadapi suatu permasalahan.

1. Beri nama emosi itu

Dibandingkan mengatakan “jangan merasa sedih” atau “kamu tidak boleh merasa sedih” lebih baik ganti dengan kata-kata “Aku / kamu merasa (nama emosi), nggak papa kok kalau kamu ngerasa begitu” atau “Itu wajar banget kalau kamu ngerasa (nama emosi) dan nggak papa ngerasa kayak gitu”.

Memberi nama emosi tersebut membuat kita lebih memahami apa yang diri kita / orang lain rasakan, emosi yang awalnya sangat membingungkan dan kompleks rasanya jadi lebih mudah untuk dimengerti.

Sebagai misal awalnya kita merasa cemburu pada teman kita karena dia punya teman baru, lama kelamaan perasaan ini malah jadi kemarahan yang menjadi-jadi, bingung pastinya.

Kenapa perasaan awal yang merasa ditinggalkan malah tiba-tiba jadi terburamkan dengan perasaan marah, jadi kita ini merasa marah atau sedih karena ditinggalkan? Saat seperti inilah, mendefinisikan emosi kita jadi pilihan yang paling tepat untuk mengembalikan rasionalitas.

Emosi manusia memang kompleks dan sifatnya saling tumpang tindih. Dalam kasus tadi ketika kita sudah tahu bahwa kita hanya takut kehilangan teman maka permasalahan bisa menjadi lebih jelas dan bisa segera dibicarakan.

2. Emosi bukan penghalang, sebaliknya emosi adalah penuntun bagi seseorang

Tanamkan pada dirimu bahwa emosi menuntun seseorang untuk menemukan suatu makna dalam suatu peristiwa. Apa maksudnya.

Ketika seseorang merasa sedih akan kehilangan seseorang dalam hidupnya bisa jadi karena seseorang tersebut telah menempatkan orang tersebut sebagai sebuah hal yang penting dan penuh makna. Ketika seseorang merasa cemas akan wawancaranya hal itu bisa berarti seseorang memang peduli dengan apa yang akan dia berikan pada wawancara tersebut.

Dengan memahami hal-hal seperti ini, seseorang jadi lebih bisa mengerti kenapa dia merasakan emosi tertentu dan kemudian semakin menghargai dirinya sendiri maupun momen yang sudah terjadi dalam hidupnya. Semua hal di dunia ini terjadi karena ada alasannya, bukan.

3. “Don’t FEEL SAD, just BE SAD”

Beberapa pesan positif yang berseliweran di jagat maya seperti “jangan mengeluh angkat kepalamu”, “jangan bersedih”, dsb. tidak semata-mata dimaknai sebagai larangan agar kita tidak boleh merasa demikian. T

entu saja boleh merasa sedih, karena emosi membuat kita lebih manusiawi. Namun jangan pula terlalu melarutkan diri dalam emosi negatif ini.

Bisa-bisa karena emosi yang tidak tertahankan kita malah jadi sulit bangkit dari keterpurukan.  Beberapa pesan positif tersebut sebenarnya maknanya ya agar kita tidak berlarut-larut dalam emosi negatif, bukannya kita tidak boleh merasa demikian ya.

Memang penting untuk selalu melihat pada hal-hal positif dalam sebuah masalah yang terjadi dalam hidup kita, namun penting juga untuk kita bisa memahami emosi lain yang kita rasakan saat itu meskipun emosi itu rasanya tidak menyenangkan.

Namun manusia tetaplah manusia, mereka tidak bisa menjadi sebuah mesin yang tidak merasakan emosi sama sekali atau mungkin diprogram untuk merasakan satu emosi saja.

Memahami tiap jengkal emosi yang kita rasakan mungkin malah membantu kita memahami diri kita sendiri dan mensyukuri apa makna peristiwa dibalik munculnya emosi tersebut.

Novia Kartikasari
An amateur writer who inspired to be a professional writer someday. I love writing about a social phenomenon, education, environmental and lifestyle issue Read Full Profile