Sosial Media Membawa Dampak Negatif, Ini Alasan untuk Berhenti

Kita telah tumbuh dan sangat melekat dengan sosial media. Terlebih generasi-generasi yang

Ilham Damanik Ilham Damanik · 3 min read >
Sosial Media Membawa Dampak Negatif

Kita telah tumbuh dan sangat melekat dengan sosial media. Terlebih generasi-generasi yang kini dalam pertumbuhan menuju dewasa, tampaknya secara bersamaan tumbuh dengan semakin berkembangnya sosial media.

Tentu tergantung dengan siapa kamu berbicara, sebagian orang akan berkata media sosial adalah berkah sementara sebagian lagi akan menganggapnya musibah.

Sosial media hari ini tampak seperti kebutuhan sehari-hari. Dimana kita seperti kehilangan arah jika sehari saja tidak menggunakannya.

Namun itulah masalahnya, mengapa hal ini bisa terjadi pada kita?

Sudah coba menghapus aplikasinya beberapa kali tapi tangan ini tak terkendali untuk mengunduhnya lagi.

Apa yang sebenarnya terjadi? Jadi inilah 5 alasan yang tepat untuk berhenti menggunakan sosial media.

1. Mendorongmu Pada Aktifitas Sosial Yang Palsu

Mendorongmu Pada Aktifitas Yang Palsu
Mendorongmu Pada Aktifitas Yang Palsu

Ada berapa banyak teman kamu di media sosial? Seribu? Dua Ribu?

Dan berapa banyak yang kamu kenal dari ribuan pengguna itu?

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa teman yang ada disana tidak seluruhnya kita kenal. Mungkin, Yap, benar bahwa itulah wadah untuk bersosial lewat internet, tapi dimana nilai sosialnya?

Kita tidak benar-benar melakukan aktivitas yang bersosial disana. Semua hanya teman-teman palsu yang mungkin bahkan sulit untuk diajak berkomunikasi.

Beberapa dari kita mungkin sadar akan hal ini, tetapi masih saja melakukannya. Lama kelamaan kita seperti terlihat memaksakan diri untuk bertingkah selayaknya sedang bersosial, meskipun tidak sama sekali. Akhirnya yang kita dapatkan tetap saja sosial yang palsu.

Untuk menambah referensimu, kamu juga bisa membaca artikel berikut,

2. Lebih Banyak Rugi Daripada Manfaatnya

Sosial Media Lebih Banyak Buruknya
Sosial Media Lebih Banyak Buruknya

Berapa jam kamu aktif menggunakan media sosial dalam sehari?

Mungkin separuh dari kita menghabiskan 5-7 jam dalam sehari untuk online. Tentu itu adalah waktu yang cukup panjang jika digunakan untuk membaca buku atau belajar sesuatu yang berharga. Tapi coba kita pertanyakan lagi satu hal, Apa pelajaran berharga yang kamu dapat?

Kebanyakan dari kita lebih mendapatkan kerugian daripada manfaat. Memang hidup bukanlah dagangan yang selalu memikirkan untung dan rugi, tapi apakah kita masih belum bisa menghargai waktu?

Terlebih lagi, tidak jarang kita menemukan konten-konten negatif yang dibagikan pengguna lain. Hal-hal yang bisa menjadi racun dalam pikiran dan mental kita tentunya. Jadi mengapa kita tidak juga berhenti dan mengganti aktivitas yang lebih berarti?

3. Sosial Media Bersifat Adiktif

Sosial Media Bersifat Adiktif
Sosial Media Bersifat Adiktif

Kecanduan dalam bentuk apapun itu tidak baik. Tidak terkecuali untuk media sosial yang selama ini membuat kita candu untuk terus dan terus menggunakannya.

Selama ini kita sering mendengar orang-orang kecanduan rokok, kecanduan obat-obatan, narkoba dan lain-lain. Namun hari ini dan mungkin seterusnya kecanduan media sosial akan menjadi berita buruk yang kita dengar terus menerus.

Para pakar dan para peneliti dari Universitas Michigan, Amerika, mengatakan bahwa para pecandu media sosial cenderung membuat keputusan-keputusan yang sangat beresiko, yang biasanya hal-hal seperti ini juga tampak pada pecandu narkoba.

Kita telah melampaui batas dalam penggunaan sosial media, hal itu sampai-sampai membuat para pakar berpikir tentang suatu program pengobatan dan rehabilitasi.

Sungguh luar biasa bukan?

Lantas setelah mengetahui bahaya-bahaya ini tidak juga mengubah kita? Coba periksa lagi pikiran kita masing-masing, masihkah mampu untuk berpikir jernih?

4. Sosial Media Mengubah Kepribadian Kita

Sosial Media Mengubah Kepribadian
Sosial Media Mengubah Kepribadian

Tak dapat dipungkiri lagi bahwa apapun yang kita lakukan selalu salah dimata orang lain. Terlebih di media sosial, semuanya tampak salah dan tak ada benarnya sama sekali. Apapun yang kita bagikan, selalu diterpa komentar-komentar negatif.

Bahkan saat kamu membagikan kata-kata bijak, atau kamu sedang berusaha menyebarkan pesan-pesan positif untuk orang-orang. Tetap saja yang kamu dapatkan hanyalah hujatan-hujatan kebencian.

Baik secara tertulis maupun tersirat dalam hati. Coba saja kita berkaca pada diri sendiri. Semisal ketika seseorang memposting kegiatan amal dan ibadah, apa yang terlintas dalam pikiran kita?

“Ahh dia pasti sedang pamer!”

“Ih dasar pencari perhatian!”

Jika ini terjadi padamu, maka sadarilah bahwa hal itu juga terjadi pada orang-orang. Kita sama-sama buruk dimata orang, bukan hanya dirimu. Jadi yang perlu kita hilangkan adalah penyebabnya.

Jika niat baik saja sudah tidak dipandang baik, apalagi yang bisa kita lakukan selain berhenti? Meskipun kata mereka emas tetaplah emas, Tetap saja ini seperti virus yang pelan-pelan mengubahmu menjadi emas yang tidak ada harganya.

5. Merusak Reputasi dan Harga Diri

Sosial Media Merusak Reputasi
Sosial Media Merusak Reputasi

Dapat dipastikan ketika kamu mendapatkan kenalan baru didunia nyata, ujung-ujungnya pasti akan bertukar sosial media. Nah, disini pelan-pelan kenalanmu akan menstalking atau mencari informasi tentang dirimu.

Bukan hanya kenalan saja, bahkan saat kamu melamar pekerjaan sekarang sudah bertambah kolom sosial media pada formulirnya. Dan atasanmu pasti akan mencari tahu informasi tentang dirimu.

Nah, pertanyaannya sekarang apakah aktivitas kamu semuanya positif? Tentulah kita tidak lepas dari hal-hal negatif, namun hal itu pula yang merusak reputasi dan harga diri.

Untuk menambah referensimu, kamu juga bisa membaca artikel berikut,

Penutup

Kesimpulannya sobat, setiap pilihan kembali pada diri kita sendiri. Sudah cukup banyak bukti bahwa kita dirugikan, lantas apalagi alasannya untuk tetap melanjutkannya?

Setelah kamu berhenti, mungkin kamu akan merasa tersiksa dan sangat ingin kembali setelah beberapa minggu. Ini adalah awal baru, perasaan untuk kembali itulah tantangan yang harus kamu lawan.

Ilham Damanik
Aku merasa seperti seorang penulis Read Full Profile