Tenangkan Hatimu, Jangan Biarkan Dunia Melemahkanmu

Semua orang punya masalah tapi tidak semua tahu cara mengatasinya. Saat pikiranmu

Ilham Damanik Ilham Damanik · 4 min read >
Tenangkan Hatimu, Jangan Biarkan Dunia Melemahkanmu

Semua orang punya masalah tapi tidak semua tahu cara mengatasinya.

Saat pikiranmu kacau, tampaknya mencari pelarian akan menyenangkan. Dan melupakan masalah adalah jalan keluar. Tapi akhirnya kamu sadar, setelah terlalu jauh menyimpang.

Dan pada akhirnya tertinggal satu keyakinan,

“Tak ada kata terlambat!”

Masa kecil memang indah, penuh dengan kemungkinan, peluang dan pilihan, tapi juga membingungkan. Dalam kebingungan itu tak kamu sadari sudah remaja.

Menemukan tujuan, kamu rasa menyenangkan, tapi lama-lama kembali dibingungkan,

“Jika aku memilih begini, bagaimana dengan yang itu?”

Semakin kamu jalani, tekanan seperti datang dari segala arah. Teman-teman, keluarga bahkan orang-orang tercinta! Semua ingin kamu jadi seperti apa yang mereka pikirkan.

Semua omongan orang kamu telan karena saat itu belum ada filter untuk membedakan positif dan negatif.

Pertentangan dan Perbedaan Sudut Pandang

Perbedaan Sudut Pandang
Perbedaan Sudut Pandang

Waktu terlalu cepat berjalan sebelum kita menemukan pilihan. Maka jadilah kita manusia lemah yang berjalan terseok-seok ditengah keramaian.

Lebih menyedihkan lagi, kita merasa di dunia ini tak punya teman.

Setiap perbincangan selalu menyeretmu pada pertentangan dan perbedaan sudut pandang. Semua orang tampak salah di matamu, hanya dirimu sendiri yang benar.

Dan lingkungan pun sudah berubah sebelum kamu berpindah. Orang-orang yang kamu temui sudah berbeda. Mereka tidak lagi memperlakukanmu seperti dulu. Semua seperti tempat baru dengan orang-orang yang baru atau kamu anggap semuanya adalah musuh.

Lalu, kamu mulai mengamati pemikiran baru muncul di benak kita. Memahami bahwa kamu sedang bertumbuh, semangat itu pun muncul lagi.

Memikirkan Kehidupan Yang Kamu Inginkan

Impian Dalam Hidup
Impian Dalam Hidup

Semua orang menginginkan kehidupan yang baik. Tapi apakah yang kita pandang baik itu benar-benar baik? Banyak waktu yang habis untuk memikirkan kehidupan yang kita ingin. Hingga membawamu sampai pada kesimpulan,

“Harus ku kejar mimpiku..Sudah saatnya untuk menghabiskan waktu tanpa teman dan keluarga”

Ketika kita dewasa, kita mulai menyelesaikan semua. Belajar mengambil komitmen dan berjalan di satu jalur yang sudah kita tentukan. Memulai karir, dan menetap.

Namun semua itu tak berlangsung lama, sebab niat baikmu teralihkan oleh orang-orang. Jatuh, bangun lagi. Lalu mulai belajar mengabaikan pikiran yang membingungkan.

Kita pun sadar bahwa dunia ini terlalu luas.

Kita hanya perlu mengambil secuil dan berkata “Inilah duniaku!”

Tapi itu malah membuat kita mengabaikan bagian yang tidak kita ambil, dan lebih merugi lagi kita meremehkannya.

Pengendalian Diri

Pengendalian Diri
Pengendalian Diri

Tamparan dari omongan orang yang sudah-sudah, kini kamu lihat sebagai pelajaran berharga.

Tanpa terasa, kini kamu sudah dewasa. Masalah yang kamu hadapi sebelumnya sudah berlalu. Hidupmu kini tenang dan seimbang.

Tetapi kamu sadar ketenangan tidak menghasilkan apa-apa. Dalam keseimbangan, kamu merasa ada sesuatu yang janggal. Pengendalian diri tampaknya hanya kebalikan dari perjuangan. Kehidupan yang terlalu nyaman membuat kamu merasa bosan. Dari sanalah, muncul masalah baru.

Bahwa kehidupan terlalu kompleks.

Semakin rumit untuk bahagia, sebab kamu selalu ingin lebih dari sebelumnya. Hingga tak ada jalan lain, kecuali keluar mencari tantangan baru.

Sebab penasaran adalah mesin pendorong terbaik, seolah tak ada yang bisa menghentikanmu.

Berperang Dengan Diri Sendiri

Berperang Dengan Diri Sendiri
Berperang Dengan Diri Sendiri

Semakin jauh, kamu menyadari bahwa pikiranmu kosong dan otak hanya segumpal darah yang tak memiliki daya. Kita hanya melihat dunia sekitar berdasarkan apa yang diketahui, semua pengalaman masa lalu pun turut membentuk sudut pandang yang menjadi realitas bagimu.

Kenyataan adalah apa yang mampu kita serap. Selebihnya, kita anggap hanya sebuah khayalan.

Namun kini lebih sulit daripada menghadapi pertentangan dan perbedaan sudut pandang dengan orang lain. Sebab kita berperang melawan hati sendiri.

Pikiran rasional mulai tidak berfungsi optimal.

“Apa tujuanku?”

Sebuah pertanyaan besar yang tak dapat dijawab dengan waktu singkat.

Anehnya, mengapa pertanyaan itu muncul setelah kamu mati-matian berjuang.

Kamu melakukan aktivitas yang sama setiap harinya, menjaga dirimu tetap seimbang, dengan anggapan bahwa jika kita tidak berjuang maka jatuh ke jurang yang dalamnya tak terbayangkan.

Apa yang kita takutkan?

Tak ada bedanya dirimu dengan kebanyakan orang diluar sana. Tak sedikitpun dapat menjelaskan mengapa kita harus begitu sibuk dari rentetan jadwal yang hiruk pikuk.

Kecuali hanya ada cara untuk mengelak, “Inilah yang ku tahu” jadi “Inilah yang harus ku lakukan!”

Bagimu, hidup dengan kesibukan yang terus menerus menjadi lencana kehormatan di pandangan sosial!

Baca Juga : Agar Tetap Semangat Menjalani Hidup, Jaga Hubunganmu dengan Orang Seperti Ini

Kita Berpikir Selalu Punya Waktu Untuk Diri Sendiri

Kamu Adalah Penulis Kebahagiaanmu
Kamu Adalah Penulis Kebahagiaanmu

Kita diberitahu bahwa usia rata-rata hidup manusia, sekitar 60-78 tahun. Tampak seperti waktu yang tak terbatas untuk berjelajah!

Kita mengumpulkan uang dan harta sebanyak-banyaknya, hingga semua usaha itu menyimpulkan alasan untuk menjaga kehormatan.

Pandangan sosial seperti kebutuhan primer yang harus dipenuhi semua orang. Berusaha memuaskan orang-orang, hingga tak ada waktu untuk mencintai diri sendiri.

Namun pada titik ini, kita mulai menyesal.

Mengetahui kita akan tua adalah hal yang menyebalkan, dan mendapati pikiran bahwa kita pasti mati mulai jadi bius yang menenangkan.

Lalu kita mulai belajar bersikap positif terhadap orang-orang. Berusaha membantu semampu yang kita bisa lakukan. Namun pada akhirnya semua menjadi lebih rumit.

Kita berusaha berkata “Iya” saat hatimu berkata “Tidak”.

Hanya untuk menjaga perasaan orang lain. Setiap tindakanmu berlandaskan pemikiran bahwa saat kamu berkata “tidak” maka orang lain akan kecewa.

Terutama orang-orang yang kita sayangi. Melihat kekecewaan di wajah mereka adalah penyebab rasa bersalah di hatimu. Sungguh drama.

Kata lain dari hasrat adalah waktu. Saat kita rela menghabiskan waktu untuk seseorang, itu berlandaskan apa?

Saat kita rela menghabiskan waktu untuk bekerja, berjuang, berusaha, itu berlandaskan apa?

Baca Juga : Prinsip Hidup Yang Harus Kamu Miliki Sebelum Usia 20-an

Keajaiban Dari Merasa Cukup

Keajaiban Dari Merasa Cukup
Keajaiban Dari Merasa Cukup

Kita mulai mengamati dirimu, pikiranmu dan membandingkannya dengan masa lalumu..

Dulu, memandang orang yang jauh lebih kaya darimu membuat kita merasa sedih. Sekarang, kita berada diatas, melihat orang-orang yang berada di bawahmu juga membuat kita merasa sedih. Tampaknya, kebahagiaan hanya ilusi namun ini tak sesederhana itu.

Lalu kita putuskan cukup untuk semua perjuangan..

Setelah itu, bertemulah kita dengan seseorang yang lebih baik dari dirimu secara fisik, harta dan segalanya.

Tapi tampaknya ia memiliki sifat “Tak pernah cukup”, mengeluh tentang kehidupannya seolah ia hampir tak memiliki apa-apa. Hingga empati, perhatian dan telinga yang sepenuhnya kita tuju untuknya juga tak cukup membendung keluhan yang keluar dari mulutnya.

Tak ada yang mencapai keunggulan tanpa keinginan menjadi lebih baik.

Rumitnya, keinginan yang menggebu-gebu mulai bertentangan dengan kebahagiaan. Betapa keinginan itu mulai menjadi parasit yang menghisap energi positif tuannya, membuat kita menjadi pengeluh yang handal.

Hadirlah satu jawaban bahwa,, Jika kita tak berdaya untuk mengubah duniamu, tak apa, karena kita masih punya pilihan untuk mengubah pemikiran itu. Kita bisa menghargai apa yang menjadi milikmu, atau menggerutu sepanjang waktu.

Teringat pula pada satu kata-kata bijak, “Jika kamu menyadari tidak ada yang kurang, maka seluruh dunia ini milikmu!”

Baca Juga : 7 Motivasi Positif Yang Membuatmu Bersemangat Memulai Aktifitas di Pagi Hari

Menjadi Hening, Tenang, dan Damai

Tenangkan Hatimu
Tenangkan Hatimu

Kita percaya kehidupan saat ini masih lebih baik dari jaman peperangan dahulu. Hanya saja orang-orang di generasi ini lebih banyak bicara dan mengeluh.

Uniknya, pasar melihat itu sebagai kesempatan. Stress yang kita alami dibombardir dengan perhatian kecil seperti “Kamu butuh piknik” “Manjakan dirimu” “Beli produk ini untuk menghilangkan stresmu”.

Terlalu banyak yang mengaku-ngaku sebagai penunjuk jalan, tapi hatimu mampu melihat bahwa ada sesuatu yang janggal.

Apa bedanya mereka kini, dengan mereka yang dulu ada di masa kecilmu. Mereka selalu ingin kita jadi seperti apa yang mereka pikirkan. Tak akan pernah berubah.

Pada akhirnya, satu hal yang kita cari dan tak pernah ada ditengah-tengah keramaian, tak pernah ada dalam perbincangan dan canda tawa,

keheningan.

Diluar sana bisa menjadi kebisingan, tapi tidak di dalam sini. Di hatimu.

Dalam hening pikiran rasionalmu kembali hidup,

Tapi keheningan pun tak ada, kecuali kita menjadi hening itu sendiri..

Ilham Damanik
Aku merasa seperti seorang penulis Read Full Profile