in

6 Tips Menghadapi Orang Tua Toxic, Biar Gak Dicap Durhaka

Orang Tua Toxic
Orang Tua Toxic

Orang tua toxic mungkin kerap membuat anda merasa jengah dan stres. Apalagi kita tinggal di kawasan Asia di mana muncul taglineasian parents can’t relate”.

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa pola asuh orang tua asia cukup berbeda dengan yang lainnya. Mereka masih dipengaruhi oleh adat dan mungkin faktor religiusitas yang kental.

Bukan tidak bagus, tetapi jika dilakukan terlalu menuntut dan harus sesuai ekspektasi orang tua, maka tidak mungkin akan timbul adanya toxic parents dalam parenting.

Hal ini karena kerap kali melekat pemikiran bahwa orang tua selalu benar karena sudah hidup lebih lama dari anak-anaknya.

Padahal setiap anak memiliki hak atas dilahirkannya mereka ke dunia. Tidak sedikit yang dibesarkan oleh orang tua yang dektruktif dan kasar.

Toxic Parents

Bahaya Toxic Parents
Bahaya Toxic Parents

Berbahayanya pola parenting seperti ini adalah dapat meracuni psikologis anak. Inilah yang disebut dengan toxic parents atau orang tua toxic.

Luka yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak sehat dari toxic parents ini dapat terbawa terbawa hingga ia dewasa.

Ternyata tidak hanya dalam hubungan romantis saja yang bisa terjadi toxic. Namun dalam lingkup pola asuh juga bisa terjadi.

Ciri yang terlihat dari orang tua toxic misalnya sulit diajak berdiskusi dan menolak kompromi, overprotektif, sering menyalahkan dan terkadang sering menyindir. Namun kadarnya memang berbeda-beda pada tiap orang tua.

Anda tentu bingung dan pusing dalam menghadapi orang tua toxic ini. Untuk itu anda perlu mengetahui bagaimana cara menghadapi orang tua toxic agar tidak terjadi trauma dalam diri anda nantinya.

Karena luka tersebut bisa secara tidak sadar anda terapkan pada pola asuh anak anda nantinya. Berikut tips cara menghadapi orang tua yang toxic.

1. Menetapkan Space Untuk Diri

Memberi Ruang
Memberi Ruang

Setiap orang memiliki kebutuhan untuk menyendiri. Bisa juga disebut dengan me time.

Jika anda termasuk dalam kategori yang dibesarkan oleh orang tua toxic, anda bisa menyiasatinya dengan membuat ruang bagi diri anda sendiri tanpa ada yang boleh masuk, termasuk orang tua.

Hal ini berkaitan dengan cara recharge energi seseorang untuk melepaskan energi negatif dan siap untuk menghadapi hari. Apalagi jika anda sedang dihadapkan suat situasi yang mengharuskan anda untuk konsentrasi penuh.

Misalnya ujian penting atau harus presentasi pekerjaan pada klien penting. Anda bisa “menyingkir” sementara dari lingkungan anda yang toxic untuk menyelesaikan kebutuhan momen penting tersebut.

Jika tidak anda akan kesulitan untuk bisa memberikan diri anda penyegaran demi kesehatan mental anda. Tentu anda tahu bahwa untuk pergi ke psikolog memerlukan dana yang tidak sedikit.

2. Mencari Media Peluapan Emosi ( Katarsis )

Media Peluapan Emosi
Media Peluapan Emosi

Pada lingkungan dengan orang tua toxic tentu ada saatnya anda kewalahan dengan sikap mereka. Ambang batas toleransi seseorang berbeda-beda.

Jika anda merasa sudah merasa mencapai puncaknya dan sering merasa tidak bisa menolerirnya, anda bisa mencari media peluapan emosi.

Hal ini disebut katarsis. Katarsis adalah pelepasan emosi untuk melepaskan ketegangan yang dirasakan. Misalnya dengan melakukan hobi atau hal-hal yang anda sukai. Tentunya yang positif ya.

Anda bisa memilih untuk melakukan hobi seperti berolahraga, membaca buku, melukis, menggambar, mendengarkan musik atau sekedar berjalan-jalan santai.

Bisa juga dengan menyendiri hingga tidur. Dengan begitu, jika anda sudah menemukan katarsis yang tepat, anda tidak perlu menunggu sampai ambang batas anda berada di puncaknya.

3. Pahami Keinginan Anda

Pahami Keinginanmu
Pahami Keinginanmu

Berada dalam lingkungan yang tidak sehat secara terus menerus tidak baik bagi kesehatan mental anda. Untuk itu anda bisa berupaya untuk mencari jalan keluar dari kondisi ini.

Sebaiknya pahami betul keinginan anda ke depannya.

Semakin anda dewasa anda akan semakin memiliki hak untuk menyatakan pendapat pada orang tua toxic sekalipun.

Anda bisa menyampaikan apa yang anda inginkan, apa yang ada dipikiran anda secara baik dengan pilihan kalimat yang tepat.

Karena orang tua juga harus mengetahui bahwa anak-anaknya memiliki hak untuk hidup dengan pilihannya.

4. Diskusikan Bersama Secara Baik

Diskusi Dengan Orang Tua
Diskusi Dengan Orang Tua

Untuk dapat mengutarakan keinginan anda pada orang tua toxic pada poin 3, anda harus paham bahwa anda bisa menyampaikannya dengan diskusi secara baik-baik dengan mereka.

Menjalin hubungan yang baik dengan orang tua toxic memang tidak mudah. Salah sedikit saja anda bisa dianggap tidak menghormati mereka.

Namun tidak ada salahnya dicoba untuk berdiskusi secara baik-baik dengan orang tua. Pahami juga kondisi orang tua hingga menyebabkan mereka berperilaku demikian.

Apakah ada masalah yang sedang dihadapi sehingga mereka membuat anda sebagai pelampiasan dari permasalahannya.

Jika anda ingin orang tua memahami diri anda, anda juga harus memahami mereka terlebih dahulu. Karena jika saling memahami satu sama lain, akan lebih mudah untuk mendiskusikan apapun dengan orang tua.

5. Buat Kesepakatan dan Batasan

Membuat Kesepakatan dan Batasan
Membuat Kesepakatan dan Batasan

Sebagai anak tentu anda tetap harus menghormati orang tua meskipun toxic. Karena orang tua masih memiliki hak untuk mendoakan dan mengetahui apa yang anda lakukan.

Anda masih membutuhkan restu orang tua ketika ingin diterima pada suatu pekerjaan misalnya.

Hal ini juga berlaku ketika anda menghadapi kegagalan. Orang tua toxic akan cenderung menyalahkan anda dan menganggap tidak menurutinya karena anda gagal.

Daripada saling bertengkar dan marah-marah lebih baik anda berikan pengertian kepada orang tua bahwa itu adalah pilihan yang anda sendiri sudah siap dengan segala bentuk hasilnya.

Jika gagal anda sudah siap menerima dan berespon seperti apa atas kegagalan tersebut. Terlepas dari pilihan anda, anda masih membutuhkan masukan dari orang tua yang tepat.

Bukan masukan aturan yang ketat. Maka orang tua juga pasti akan berpikir bahwa mereka masih dihargai oleh anak-anaknya meski menjalani pilihan hidupnya sendiri.

Awalnya mungkin memang sulit memberikan batasan pada orang tua terhadap permasalahan anak, namun lambat laun mereka akan paham akan hal ini.

Niat orang tua terkadang baik, tetapi sering kali niatan tersebut justru memberikan dampak yang buruk bagi anak.

Hal ini dikenal dengan istilah positivity. Baru tahu? Coba baca Sisi Gelap Dibalik Positivity, Bukannya Jadi Bahagia Malah Berbahaya .

6. Hubungi Ahli

Menghubungi Ahli
Menghubungi Ahli

Jika anda merasa 5 langkah di atas sudah tidak bisa lagi anda lakukan, maka anda memerlukan bantuan seorang ahli yakni psikolog. Anda bisa mencurahkan segala isi kepala dan hati anda kepada seorang psikolog.

Mereka akan membantu kita mengatasi permasalahan ini dari akarnya perlahan-lahan dan berproses.

Karena semuanya membutuhkan proses, dan masing-masing individu memiliki penyelesainan dan proses yang berbeda-beda. Bisa cepat dan juga bisa lambat sesi dilakukan.

Namun perlu diingat bahwa psikolog hanya membantu anda “menyeberangi jembatan” hidup anda dengan segala keperluannya. Untuk keputusannya, psikolog hanya membantu anda untuk memilih keputusan yang paling tepat untuk diri anda.

Meski toxic, mereka tetap orang tua kita yang telah melahirkan kita ke dunia. Untuk itu sebaiknya jaga hubungan dengan orang tua kita dengan baik. Memang kita harus pintar-pintar mengatur jarak dengan orang tua toxic jika keadaan tidak bisa kita akali dengan baik.

Memang diri kita sendiri yang harus memutar otak agar tidak terpengaruh secara mental agar tetap sehat dan bahagia.

Written by Rima Mustika

Adult clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.