in

6 Tips Agar Kamu Menjadi Single Parent Yang Tangguh

Tips Single Parent
Tips Single Parent

Menjadi single parent tentu bukan hal yang mudah. Apalagi jika anda harus mengalami hal ini di waktu yang cukup cepat sedangkan anak masih berusia dini. Sosok yang hilang seperti ibu atau ayah bagi anak yang masih kecil merupakan hal penting yang harus kita antisipasi.

Karena permasalahan rumah tangga tentu tidak semudah yang dibayangkan ketika sebelum menikah. Bisa saja ada hal-hal di luar kehendak kita sehingga mengharuskan untuk berpisah dengan pasangan tanpa kita duga sebelumnya.

Penyebab menjadi single parent entah itu karena kematian atau perceraian sama-sama membuat kesedihan tersendiri bagi anda. Terlebih lagi jika pasangan yang berpisah ini tidak tinggal dengan akses yang cukup mudah untuk anak dapat bertemu.

Itulah mengapa menjadi single parent adalah tantangan tersendiri bagi orang tua dalam membesarkan anak seorang diri.

Anda tentunya membutuhkan orang lain untuk dukungan sebagai single parent.

Misalnya dari orang tua, kerabat atau sahabat dekat yang bisa membantu anda untuk mengurus anak atau sekedar mencurahkan segala hal yang ada dipikiran anda.

Awalnya memang terasa berat, tetapi anda harus tetap semangat demi anak kesayangan anda bertumbuh dengan baik. Proses menjalani hidup sebagai single parent juga tidak mudah. Namun anda tetap harus mencoba bersemangat seperti sedia kala meski kini sendiri.

Untuk itu pengalaman ini sebaiknya anda gunakan untuk belajar mandiri bersama anak dan tips berikut ini bisa anda simak agar dapat menjadi orang tua yang tetap utuh bagi anak meski hanya seorang diri.

1. Adaptasi

Adaptasi
Adaptasi

Hal paling dasar ketika baru menjadi single parent adalah penyesuaian diri dengan kehidupan yang baru. Beradaptasi dengan hidup baru sebagai single parent memang tidak mudah.

Akan ada banyak pertanyaan dari orang di lingkungan sekitar mengapa hal ini bisa terjadi.

Entah itu positif atau negatif, anda tidak perlu sibuk memikirkan apa yang dikatakan orang lain terhadap anda. Apalagi jika anda berpisah karena bercerai.

Selain itu anak juga akan mendapatkan akibatnya. Faktor eksternal ini akan memengaruhi konflik pada diri anda.

Jika tidak ditangani dengan baik maka anak anda akan ikut merasakan akibat dari konflik diri ini. Untuk itu anda harus tetap fokus dan berpikir positif terhadap apapun yang terjadi dalam hidup anda setelah perpisahan terjadi.

Memang tidak mudah, tetapi mencegah konflik diri yang muncul dapat bermanfaat untuk menenangkan diri dan memiliki harapan ke depan yang lebih baik baik bagi anda dan anak.

2. Fokus Pada Anak

Fokus Pada Anak
Fokus Pada Anak

Kehidupan sebelumnya yang segala halnya terbiasa dilakukan berdua tentu membuat anda merasa down ketika perpisahan terjadi. Karena memang hal ini merupakan kejadian yang berat sekali untuk dihadapi.

Tetapi cobalah kita lihat sisi positifnya dengan memfokuskan diri terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak anda.

Meski sudah berpisah dan menjadi single parent, anak anda tetaplah satu kesatuan utuh yang membutuhkan kasih sayang, perhatian dan kehadiran peran anda sebagai orang tua walaupun sendiri.

Justru pada tahap ini anak membutuhkan lebih banyak afeksi dari anda. Karena meski belum mengerti sepenuhnya apa yang sedang terjadi, anak akan tetap dapat merasakan jika terjadi sesuatu yang tidak beres pada orang tua.

Prioritaskan anak anda terlebih dahulu agar anda semakin termotivasi untuk menjalani kehidupan mulai dari sekarang.

Trauma tetap ada dan itu menjadi tugas anda untuk menyelesaikan.

Trauma yang tidak diselesaikan dengan baik akan berakibat kurang baik bagi orang lain khususnya anak.

Anak adalah refleksi dari orang tua. Sehingga jika anda terus menerus tenggelam dalam kesedihan anak akan ikut merasakan hal tersebut.

Sebaliknya jika anda semangat, bahagia dan kuat anak pun akan bertumbuh dengan bahagia pula.

3. Luangkan Me Time

Me Time
Me Time

Mungkin anda tidak akan pernah bisa melupakan kejadian perpisahan ini seumur hidup anda.

Tetapi anda bisa mencari cara agar anda tetap dapat menjadi single parent yang bijak dan bahagia ketika teringat akan momen tersebut.

Anda harus dan wajib memiliki waktu untuk diri anda sendiri untuk berbahagia. Atau bisa disebut dengan me time.

Me time ini sangat diperlukan untuk menumbuhkan dan menjaga psikis seseorang tetap berada pada state yang stabil.

Karena menjadi seseorang yang harus mengurus segala sesuatunya sendirian dapat membuat anda kurang istirahat karena memikirkan tentang anak tidak akan ada habisnya.

Anda bisa mencoba menitipkan anak pada orang tua atau kakek dan nenek dari anak ketika ingin melakukan me time.

Anda bisa melakukan hal-hal yang anda sukai misalnya pergi bersama teman-teman, traveling, perawatan di salon, berolahraga hingga bermeditasi misalnya.

Selepas me time anda akan menjadi lebih berenergi dan segar sehingga anda dapat terus bersemangat dan termotivasi untuk menjadi single parent yang tangguh.

Masih bingung? Coba simak 5 Kegiatan Ini Patut Dicoba Untuk Me Time, Yuk Para Ibu Kita Terapkan.

4. Membuat List Harian

Membuat List Harian
Membuat List Harian

Mengurus segala hal sendiri tentu membuat anda terkadang melewatkan dan melupakan sesuatu. Untuk itu anda sebaiknya membuat jadwal rutinintas harian yang dapat membantu anda lebih fokus pada apa yang anda lakukan dengan konsisten.

Konsisten adalah hal yang penting dalam mengasuh anak agar ia lebih disiplin dan teratur. Tidak hanya anak, ini berlaku bagi anda juga. Jadwal harian tersebut berisi kegiatan anak dan juga kegiatan anda sendiri.

Jalani rutininas ini sesuai dengan jadwal anda. Tidak lupa untuk menjalaninya dengan santai dan tidak ambisius. Menjadi single parent tidak mengharuskan anda untuk menjadi seorang yang super. Anda juga manusia yang memiliki keterbatasan.

Untuk itu sebaiknya jangan terlalu keras pada diri sendiri untuk menjadi orang tua yang sempurna dan hebat. Menjadi orang tua yang kuat dan bahagia justru membuat anda menjadi sosok yang hebat bagi anak anda.

Umumnya, single parent akan cenderung mengalami situasi Baby Blues. Belum tahu? Coba baca Gejala Baby Blues, Para Ibu Harus Paham Cara Menyikapinya.

5. Hadirkan Sosok Yang Hilang

Menghadirkan Sosok Yang Hilang
Menghadirkan Sosok Yang Hilang

Maksudnya bukan harus menghadirkan sosok dari orang tua yang hilang dengan segera. Tetapi hadirkan sosok yang hilang misalnya dengan kakek, nenek atau anggota keluarga yang lainnya kepada anak.

Misalnya yang hilang adalah sosok ayah, maka dekatkan anak dengan kakek atau kerabat laki-laki yang memiliki afeksi dan peran sebagai seorang ayah. Jika yang hilang adalah sosok ibu maka dekatkan anak dengan nenek atau kerabat lain yang dapat memberikan afeksi layaknya seorang ibu.

Hal ini dilakukan agar anak tidak melupakan sosok orang tua yang hilang dan tetap mendapatkan kehangatan kasih sayang orang tua. Sehingga anak tidak membenci sosok hilang tersebut.

Jika anak yang kehilangan satu sosok orang tua dan tidak mendapatkan haknya sebagai anak dari sosk tersebut, dikhawatirkan kelak ia akan membenci sosok tersebut.

Percaya atau tidak, hal ini akan memengaruhi anak untuk memilih pasangan hidupnya ketika dewasa nanti. Jika anda memang sudah memiliki pengganti, tidak ada salahnya untuk mengenalkan kepada anak dan biarkan mereka akrab dengan sendirinya.

6. Support System

Support System Untuk Single Parent
Support System Untuk Single Parent

Terakhir anda membutuhkan support system yang dapat memberikan anda bantuan kapanpun anda membutuhkan. Menjadi single parent tidak serta merta untuk memaksakan diri melakukan segala sesuatunya sendiri.

Ketika anda memang membutuhkan bantuan mintalah kepada orang yang dapat membantu. Tidak hanya membantu untuk mengurus anak atau hal lain.

Tetapi juga ketika anda membutuhkan seseorang yang dapat anda utarakan keluh kesah agar bersemangat kembali juga penting.

Support system ini bisa berasal dari keluarga dan sahabat yang anda percayai. Jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada mereka. Tetaplah bersemangat sehingga anda dapat menjadi dua sosok sekaligus yang tangguh bagi anak anda.

Written by Rima Mustika

Clinical psychologist, art enthusiast. A traditional dancer who can't live without coffee.